Jumat, 19 Oktober 2012

Upah Pembatik Tak Setara Hasil Karyanya

Maulvia (20) tersenyum cerah. Hari itu adalah hari gajiannya. Setelah mengantongi Rp 105.000 sebagai upahnya membatik selama enam hari, perempuan yang akrab disapa Mia ini juga menerima tas bingkisan dari PT Kao Indonesia. Isi tas itu macam-macam, dari sabun, shampo, pembalut, hingga cairan pencuci batik.

Mia adalah salah satu pembatik di Rumah Batik Cahyo di Desa Setono, Pekalongan, yang antara lain membuat batik pesanan dari Edward Hutabarat. Desainer ini banyak melakukan perjalanan eksplorasi ke kota-kota batik atas biaya PT Kao Indonesia, sebagai bagian dari kampanye "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".

Tak banyak perempuan muda yang masih bersedia menggeluti dunia batik seperti Mia. Mereka bukannya sama sekali tak paham tentang batik, karena kesibukan membatik sudah biasa terlihat di tiap-tiap rumah tangga. Namun membatik memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh ketelitian, kesabaran, dan ketahanan fisik untuk menciptakan sehelai kain batik tulis. Bayangkan, mereka harus duduk selama 8-12 jam sehari, tanpa bersandar.

Selain itu, upah membatik juga kurang begitu menggembirakan. Mia, misalnya, setelah empat tahun membatik, upahnya Rp 17.500 per hari. Jumlah ini bisa naik seiring dengan meningkatnya kemampuannya membatik. Sedangkan di Rumah Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni menerima antara Rp 15.000, Rp 20.000, hingga Rp 25.000 per hari, tergantung kemampuannya.

"Dulu di kampung (sebelum bergabung di Batik Cahyo, RED), upah saya Rp 11.000," ujar Mia, yang saat ini bekerja mulai pukul 04.00 - 16.00.

Pembatik umumnya masih menerima tunjangan berupa uang makan dan THR. "Uang makannya Rp 2.500 per hari, tapi saya kumpulkan dulu, dan baru dibagikan bersamaan dengan pembagian THR. Soalnya mereka itu tidak bisa menabung," ujar Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie yang mempekerjakan sekitar 30 pembatik. Agar pembatik disiplin, Hien menerapkan aturan lain. "Mereka masuk mulai pukul 08.00 atau 08.30. Di atas jam itu, uang makan tidak diberikan."

Sulitnya regenerasi
Oleh karena itu, meskipun batik kini terangkat lagi pamornya, daya tarik sebagai pembatik -dalam hal ini batik tulis- tak otomatis terangkat. Apalagi, kota Pekalongan kini sudah makin berkembang. Mini market-mini market bermunculan di segala penjuru jalan, menawarkan lapangan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Nur Cahyo, pemilik Batik Cahyo, memahami betul hal ini.

"Orang Pekalongan cinta batik, tapi juga butuh nafkah. Bagi mereka, kalau tidak bertahan jadi pembatik, lebih baik kerja di mini market," katanya.


Situasi ini bertambah sulit karena perempuan umumnya juga terjebak dalam siklus hidup yang sama. Begitu mereka menikah, lalu hamil, banyak di antara mereka yang memutuskan berhenti membatik. "Akhirnya harus regenerasi lagi, cari pembatik yang lain, entah teman-teman atau saudara-saudaranya," papar Cahyo.

Demi mempertahankan kelestarian batik dan kesejahteraan para pembatiknya, bapak dua anak ini berusaha menjaga hubungan yang baik dengan para pembatiknya. Ia sadar, batik adalah suatu kerja tim, sehingga tidak ada satu pihak yang lebih berperan daripada yang lain. "Batik itu kayak main layangan, harus tarik-ulur. Sifatnya ngemong. Kita butuh satu sama lain. Jadi saat memperlakukan pembatik, saya tidak bisa terlalu keras, juga tidak terlalu lunak."

Dusun Pegandon, Desa Pegandon Kidul, Karang Dadap, Pekalongan timur, yang dulu menghasilkan banyak pembatik andal, kini juga kesulitan meregenerasi. Dusun ini hanya menyisakan pembatik yang kini sudah mulai renta. Mereka bekerja sendiri-sendiri atau berkelompok, di rumah-rumah yang sempit berlantai tanah dan umumnya tanpa pembatas ruang. Penerangan pun hanya mengandalkan cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding atau jendela.



Para perempuan ini umumnya tak tahu pasti berapa usianya. Saripi, Jasnoah, Wasni, dan Wasmi, misalnya, rata-rata merasa umurnya sudah 70-an tahun. Untuk membatik, mereka mendapat modal berupa kain mori atau cairan malam dari pengepul seperti Zakiah (45). Pengepul adalah orang yang akan mengumpulkan kain-kain batik yang sudah jadi, dan menjualnya ke buyer. Namun, untuk proses melorod atau mewarnai, pembatik menyerahkannya ke pengepul dengan dikenai biaya Rp 60.000 - Rp 70.000, tergantung warnanya.

Mereka mengaku, upah mereka hanya sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per hari. Namun ketika kami menanyakan siapa yang memberi mereka upah, tak seorang pun mampu menjawab. Cahyo menduga, angka tersebut hanya perkiraan para pembatik dari penghasilan yang mereka dapatkan dari pengepul. Jadi, jika sehelai kain batik halus sudah jadi, pengepul membelinya dengan harga sekitar Rp 300.000 (kain ini lalu dijual Zakiah seharga Rp 600.000 - Rp 1 juta).

Para pembatik ini memang hanya paham soal membatik. Mereka tidak tahu bagaimana jalur distribusi atau bisnis batik itu sendiri. Repotnya, karena sudah terikat pada pengepul, mereka juga tak bisa menjual batik langsung kepada orang yang berminat.

Karena diri sendiri dan keluarga harus dinafkahi, sementara sehelai kain baru jadi setelah sekitar tiga bulan, beberapa pembatik berusaha mencari "side job". Jasnoah, misalnya, pagi hari berjualan jajanan untuk anak-anak yang tak seberapa jumlahnya. Sore, ia baru membatik. Barangkali ini bisa disebut sisi positifnya, dimana para pembatik di sini memang tidak terikat waktu dalam bekerja.

Dengan berbagai kesulitan yang dialami pembatik tersebut, sudah sepantasnya profesi pembatik ini lebih kita hargai. Mereka, termasuk Mia yang tergolong paling muda, tidak pernah menyesal menjadi pembatik. Perempuan lulusan SMP ini bertekat untuk terus membatik. "Saya tidak menyesal meninggalkan sekolah, karena ini sudah keputusan saya sendiri. Saya ingin bisa terus berkarya, bisa meneruskan batik Pekalongan," katanya lirih.

Rabu, 19 September 2012

Edward Hutabarat: Batik Bukan Sembarang Kain!

Tahun 2009 lalu batik Indonesia diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Hal itu kemudian ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Hari Batik Nasional. Dalam acara peluncuran Attack Batik Cleaner dari PT KAO, yang juga membiayai perjalanannya ke kota-kota batik, desainer yang sudah bergelut dengan batik sejak lama, Edward Hutabarat bercerita mengenai batik kepada Kompas Female.

Menurut Edward, sejak dikukuhkan oleh PBB sebagai warisan tak benda dari Indonesia, batik mengalami kemajuan yang pesat dan baik. Hingga kini, batik sudah menjadi bagian sehari-hari. Bisa terlihat, sudah muncul sentra-sentra batik di kota besar, diharuskannya pemakaian batik di hari tertentu oleh instansi tertentu, dan bahkan menjadi aksesori sehari-hari. Menurut Edward, dengan sudah makin terbiasanya masyarakat akan batik, sekarang saatnya batik dipertahankan dan dilihat sebagai sesuatu yang berbeda. Batik patut dipertahankan dan digunakan untuk mengangkat sesuatu yang lainnya, yakni bagian backstage-nya.

"Batik tidak menghidupi saya dari segi bisnis. Tetapi dari segi kenikmatan hidup, batik memberikan saya spirit. Untuk saya, uang tak akan pernah cukup. Jadi, kalau Anda ke kota batik, jangan berpikir bisnis dulu, kalau seperti itu, berarti juragan. Tolong dicatat, saya bukan juragan batik yang mengaku pembatik. Saya hanya bagian dari batik," papar Edward usai konferensi pers yang berlangsung di Museum Nasional, Jumat.

"Batik itu harus dilihat dari sejarahnya. Jangan hanya mengenal fisik atau jadinya saja. Karena hanya bisa mengetahui apa jenis dan motifnya saja tidak cukup. Tidak cukup untuk menghargai karya seni hanya dengan melihat hasil jadinya. Anda harus tahu cara pembuatannya, harus tahu backstage-nya. Harus mengerti mengapa motifnya seperti itu," ujar Edward berapi-api.

"Kini, batik sudah makin dikenal, sudah makin menjadi bagian sehari-hari. Sudah bukan lagi kita cuma tahu batik sebagai bagian warisan negara. Tetapi kita harus mulai membangun orang-orang yang ada di balik layarnya. Apalagi para perajin batik di kota-kota batik," jelas pria yang sering disapa Edo ini.

Menurutnya, seharusnya kita sudah mulai mengenal batik hingga ke akarnya. Untuk memahami arti dari motif-motif yang tergambar dalam batik itu sendiri. Misal, batik Madura yang warna-warni, yang memiliki gambar sapi, karena ada budaya karapan sapinya di sana, ada pula matahari terbenam di Madura yang cantik, kulinernya, dan lain-lainnya. Atau Batik Cirebonan yang inspirasi si pembatik datang dari kulturnya, dari Tari Topeng yang penuh mistis dan eksotis, dari wayang kulitnya, wayang golek, atau nikmat kulinernya, seperti nasi Jamblang, cantik alamnya, kuatnya wanita pekerja di daerah sana, dan lain sebagainya.

"Batik itu bukan dilukis, tetapi dibuat dengan hati. Batik itu pada zaman dulu, saking menggugahnya, akhirnya masuk ke keraton, kemudian dikenakan dalam acara-acara bermakna, seperti pernikahan, nujuhbulanan, kelahiran, dan sebagainya, hal-hal semacam ini yang penting untuk dimengerti. Tak ada maknanya jika Anda hanya memiliki tetapi tidak mengerti isinya," ujar Edo.

"Batik bukan cuma sembarang kain! Jadi, saat batik itu diberi harga mahal, jangan marah. Cobalah untuk mengerti kulturnya, latar belakangnya, cara pembuatannya. Lalu mengerti mengapa kain batik itu punya makna lebih dan menjadi mahal. Untuk mengerti kultur, kita pun harus smart, kita harus membuka mata, datanglah ke kota-kota itu, berbicaralah dengan masyarakat sana, dan ketahui negerimu sendiri. Ini baru batik, ya, belum lagi kain tenunan Indonesia yang sangat banyak," pungkas pria pemilik label Part One ini.

Supaya batik tidak hilang, Edo menekankan pentingnya untuk menaruh perhatian pada kota-kota penghasil batik, "Supaya batik tidak pudar, kita harus aware. Kita harus mulai mempromosikan kota-kota batik. Dari kulinernya, agamanya, kulturnya, budayanya, kecantikan alamnya, dan lain-lainnya yang merupakan inspirasi dari motif-motif batik tersebut. Dengan begini, kita akan menunjang kehidupan ekonomi mereka, turisme mereka, dan membantu batik tetap hidup lebih lama."

Selasa, 14 Agustus 2012

Mengapa Batik Bisa Begitu Mahal?

Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, dan peringatannya setiap tanggal 2 Oktober, seharusnya membuat kita semakin memahami apa yang disebut sebagai batik. Yang dijadikan warisan budaya tersebut adalah proses membatiknya, bukan kain dengan motif batik seperti yang kerap dipersepsikan orang kebanyakan. Proses membatik akan menghasilkan batik dengan jenis tulis, yang harganya berkali-kali lipat dibandingkan dengan batik yang melalui proses cap atau printing. Mengapa pula harga selembar kain batik tulis bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah?

Bayangkan saja, sehelai kain ukuran 2,5 m yang menampilkan suatu karya batik, ternyata membutuhkan waktu pembuatan hingga tiga bulan. Proses pembuatan yang begitu lama jelas menuntut kesabaran, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi. Bagaimanapun, nilai batik akan meningkat bila pembatik mampu menghasilkan batik dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

"Nilai jualnya tergantung dari keunikan kainnya, batikan, dan warnanya. Kalau desainnya langka, dan tak bisa ditiru, itu akan menentukan harganya," jelas Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo, saat menemani wartawan menyaksikan berbagai tahapan pembuatan batik di tempat workshop-nya di Desa Setono, Pekalongan.

Proses pembuatan batik juga melibatkan banyak orang dengan keahliannya masing-masing. Dari tahap awal, yaitu pembuat pola yang membuat desain batik (molani), pembatik -yang memindahkan pola ke atas kain, dan melukisnya dengan menggunakan canting, lalu menutup bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam), pewarnaan, nglorod (proses membilas atau meluruhkan lapisan malam), hingga mencuci dan kemudian menjemurnya hingga siap dipakai.

Seorang yang menguasai pembuatan batik tentu mampu melakukan seluruh tahapan ini. Termasuk, dos & don'ts dalam melakukan setiap tahapan tersebut.

Cahyo, misalnya, sudah 15 tahun ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melanjutkan usaha batik milik ayahnya. Cahyo mampu mengolah desain batik, menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami seperti kayu tingi, secang, mahoni, jambal, tegeran, atau jelawe. Ia lah yang bertindak dalam membuat komposisi yang pas antara kayu satu dengan kayu lainnya, hingga tercipta suatu warna yang diinginkannya.

Cahyo adalah salah satu contoh pembatik yang mengutamakan kualitas, mengejar kesempurnaan hingga semaksimal mungkin. "Saya pernah ditawari untuk menitipkan batik buatan saya (Cahyo menyebutkan outlet besar produk-produk budaya di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, RED), tapi saya tolak. Karena, saya ini dasarnya pembatik," katanya.

Cahyo mengejar kepuasan batin dengan menghasilkan batik yang berkualitas tinggi. Selembar kain batik karyanya yang berukuran 2,5 m dari bahan katun bisa dihargai hingga Rp 3 juta. Sedangkan batik dari bahan sutera nilainya bisa mencapai Rp 15 juta.

Cahyo tidak memungkiri, ia tetap membutuhkan keuntungan dalam waktu cepat untuk memberi nafkah bagi 50-an pembatik yang menjadi karyawannya, sekaligus untuk biaya operasional pembuatan batiknya. Oleh karena itu, Cahyo juga memproduksi batik sebagai second line dengan merek Norma, yang lebih cepat pengerjaannya.

"Batik yang ini harganya lebih terjangkau, menggunakan bahan pewarna kimia. Tidak semuanya batik cap, ada juga yang tulis," paparnya. Batik tulis yang harganya lebih terjangkau ini umumnya menggunakan katun.

Banyak hal yang bisa menghambat pengerjaan sehelai batik, dan mengharuskan pembatik mengulangi pembuatannya dari awal. Misalnya, pelukisan dengan lilin yang blobor akibat cairan lilin yang tidak pas kekentalannya. Atau, kegagalan saat proses pewarnaan. Kalau sudah begini, pembatik tentu mengalami kerugian seperti hilangnya lembaran kain berbahan sutera yang nilainya mencapai jutaan.

"Itu sering terjadi, dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Anda harus membayar kegagalan itu dengan menikmati seluruh prosesnya. Enjoy the process, enjoy the moment. Kita tidak akan menjadi pembatik yang andal jika tidak melalui proses kegagalan itu," tutur desainer Edward Hutabarat, dalam kesempatan yang sama.

Di luar urusan teknis, masih ada kendala sosial yang menghambat proses pembuatan batik. Banyak pembatiknya yang menikah, mempunyai anak, dan memutuskan berhenti bekerja. "Padahal regenerasi kan harus terus berlangsung. Akhirnya saya harus mencari pembatik lagi, entah dari keluarga atau teman-temannya," kata Cahyo.

Kamis, 19 Juli 2012

Batik Sarung Pekalongan Tembus Abu Dhabi

Kain sarung batik Pekalongan, kini mampu menembus pasar Abu Dhabi dan Yaman.

Salah seorang pengusaha sarung batik di Pekalongan, Fahrudin mengatakan, pemasaran kain sarung batik bermotif bunga ke Abu Dhabi dan Yaman masih dilakukan melalui jasa perantara.

"Ekspor kerajinan kain sarung batik ini memang masih menggunakan jasa perantara dan belum bisa kami pasarkan ke Abu Dhabi dan Yaman secara langsung, karena berbagai faktor," katanya.

Produk yang diekspor ke Abu Dhabi dan Yaman masih dalam bentuk lembaran kain batik bermotif bunga, dan selanjutnya di kedua negara tersebut barang kerajinan tersebut dibuat sarung.

"Pengiriman barang ke Abu Dhabi dan Yaman kami lakukan dua kali dalam sepekan sesuai dengan permintaan," katanya.

Menurut dia, dengan jumlah karyawan 100 orang, usaha yang dikelolanya mampu memproduksi kerajinan kain sarung batik sebanyak 10 kodi atau 200 lembar kain per hari.

Harga kain sarung batik ukuran 200 cm X 115 cm antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per potong.

"Mahal dan tidaknya kain sarung batik bermotif bunga tergantung dari bahan baku serta motifnya. Kain sarung batik yang dibuat dengan cara dicap, tentu harganya lebih murah daripada kain batik tulis," katanya.

Jumat, 22 Juni 2012

A Heart for Batik

ika ada budaya tradisional Indonesia yang tetap bisa dibawa ke era modern, maka itu adalah batik. Batik adalah kain tradisional khas Indonesia yang berhasil bertahan hingga saat ini. Batik memiliki nilai estetika dan sarat akan makna simbolis yang berhubungan erat dengan filosofi kehidupan manusia.
Jika dulunya batik identik dengan pakaian tradisional Indonesia, khususnya Jawa, maka sekarang batik sudah bertransformasi menjadi beragam bentuk pakaian yang disesuaikan dengan tren saat ini. Kini sudah banyak disainer Indonesia yang kembali menghidupkan batik dalam berbagai bentuk fesyen yang stylish namun tetap mempertahankan keanggunannya.

Awalnya, batik merupakan pakaian keluarga keraton, namun kemudian berkembang menjadi pakaian yang digemari oleh seluruh rakyat. Lalu akibat adanya peperangan, maka banyak keluarga raja yang mengungsi atau menetap di daerah-daerah baru antara lain Banyumas, Pekalongan, dan daerah-daerah lainnya. Itulah yang kemudian membuat batik berkembang ke seluruh pelosok Jawa dan menyesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing.

Batik Solo, misalnya, dikenal dengan corak dan pola yang masih mempertahankan unsur tradisional, dengan pewarnaan yang masih memakai bahan-bahan asli seperti Soga Jawa. 'Sidomukti' dan 'Sidoluruh' adalah pola yang sangat terkenal dari batik Solo.

Pada tahun 1840 sampai 1910, batik mengalami akulturasi dengan budaya Belanda pada motif dan warnanya. Cerita-cerita yang berasal dari barat seperti, Putri Salju, Si Topi Merah, menjadi favorit di zaman itu. Batik Belanda ini berakhir menjelang era kekuasaan Jepang, tahun 1940. Batik Jepang kemudian menyusul dengan motif aneka bunga bergaya Jepang yang dipadukan dengan motif tradisional. Warna-warna batik jenis ini cenderung cerah sehingga menimbulkan kesan ceria.

Di wilayah barat, batik berkembang ke daerah Bayumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon. Motif-motif di daerah inipun telah dipengaruhi juga oleh berbagai budaya bangsa lain, seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang. Misalnya saja Batik Encim, yang mungkin cukup sering kita dengar saat ini, dipengaruhi oleh peranakan Cina, begitu pula dengan Batik Klenengan. Batik Jlamprang dengan motif yang dipengaruhi oleh budaya India dan Arab.

Di kota Semarang, batik yang berkembang juga banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dengan motif naturalis seperti ikan, kupu-kupu, pohon, bunga, dan sebagainya. Motif-motif naturalis juga dimiliki oleh batik asal Pekalongan. Dari Cirebon, motif-motif khas seperti hutan dan binatang yang lebih banyak muncul, sedangkan motif laut muncul karena pengaruh budaya Cina. Dan jika Anda pernah melihat batik dengan motif burung garuda, maka itu adalah batik dari Yogyakarta dan Solo.

Hingga kini, batik telah diekspor ke berbagai penjuru dunia seperti Malaysia, Jepang, Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika, dan sebagainya. Ekspor produk batik dari industri kecil dan menengah secara nasional pada tahun 2003 mencapai US$ 460,43 juta. Dan khusus untuk batik Pekalongan, ekspornya pada tahun 2006 mencapai US$ 2,087 miliar!

Dengan motif kain yang indah dan anggun, kita dapat menghasilkan berbagai macam model busana yang anggun namun tetap stylish. Nah, punya rencana seru untuk batik Anda?

Selasa, 12 Juni 2012

Jangan Marah Kalau Ada Batik Mahal

Ketenaran batik seakan tak pernah pudar. Warisan budaya bangsa ini terus menunjukkan peningkatan, mulai dari makin berkembangnya usaha-usaha batik, makin banyak pula desainer mancanegara yang melirik batik, seperti Dries Van Noten pada koleksi Spring 2010-nya. Namun, saking makin umumnya batik, kita bisa tergoda untuk berpikir bahwa batik itu pasti sudah menjadi semacam industri besar. Saat industri sudah besar, makin mudah didapat, maka untuk urusan harga, harusnya makin murah. Tetapi kenyataannya tidak begitu. Sehelai kain batik yang cantik bisa mencapai jutaan rupiah di pasaran.

Kain batik ada berbagai tipe, ada yang dicap, ditulis, atau pun kombinasi keduanya, serta printing. Teknik pembuatan tersulit adalah batik tulis yang membutuhkan keahlian khusus.

Pada acara peluncuran KAO Attack Batik Cleaner di Museum Nasional, Edward Hutabarat yang sudah berkecimpung dengan batik sejak 9 tahun lalu, mengatakan bahwa batik bisa berharga mahal karena banyak hal. Misal, dalam selembar kain sepanjang 5 meter yang perlu pembuatan 5 bulan, dibutuhkan banyak upaya, usaha, dan kesabaran yang ekstra.

"Mulai dari pengurusan mori, ada yang menggulung, ada yang mengukur, ada yang memotong. Kedua, ada yang menggambar pakai pensil. Lalu ada pula bagian menulis pakai canting, ini bagian maestro. Lalu ada yang bagian mewarna. Untuk yang melilin, melorod, dan membilas, lain lagi, lalu yang menyeterika pun lain lagi. Jadi kalau ada sepotong kain harganya Rp 5 juta yang dikerjakannya 5 bulan, berarti Rp 1 juta per bulan, dibagi tujuh orang. Terbayang, kan? Itu pun kalau harganya segitu. Kalau harganya Rp 1 juta, dibagi 7, kan lebih sedikit lagi," ujar pemilik butik Part One ini.

"Belum lagi, perlu Anda ketahui, bahwa untuk membatik, seseorang butuh waktu setidaknya 20 tahun untuk bisa dikatakan sebagai maestro. Untuk pembatik yang baru mencoba belajar hingga 5 tahun, ia baru dinamakan pemula. Untuk yang sudah belajar 6-10 tahun, baru dikatakan bisa membatik. Sementara mereka yang sudah 10-20 tahun membatik, sudah masuk dalam rank tertentu. Sementara mereka yang sudah membatik 20 tahun ke atas, barulah dinamakan maestro. Tidak mudah perjalanan untuk bisa menggambar di atas kain batik," jelas pria yang akrab dipanggil Edo ini.

Tetapi ini untuk batik tulis. Untuk batik cap dan print, tentu seharusnya tidak semahal batik tulis karena menggunakan alat dan pembuatannya bisa lebih cepat dan massal. Membedakannya bisa terlihat, bahwa batik tulis kadang warna guratannya tembus hingga ke belakang kain. Selain itu, garis-garisnya jarang ada yang persis sama. Batik tulis, karena pengerjaannya dengan tangan, garis atau bentuk motif yang serupa jarang ada yang persis sama.

Bukan hanya soal itu saja, yang perlu dihargai dan dilihat adalah craftmanship para pembatik, baik keahlian mengulik dan menulis gambar, tetapi juga ketelitian menggabungkan motif menjadi sebuah kesatuan yang indah.

"Anda tahu, di dalam motif, bisa terbuat dari berbagai macam bentuk. Dalam sebuah batik Pekalongan, misalnya, yang ada berbagai macam bentuk daun, di masing-masing daunnya memiliki motif yang berbeda-beda. Itu tidak mudah untuk mengubah desain kecil-kecil. Butuh ketelitian dan kesabaran. Contohnya batik Hokokai. Yang datang pada tahun 1940-1945an. Batik ini muncul pada zaman penjajahan Jepang. Pada saat itu, masyarakat Indonesia hidup kesusahan. Bahkan untuk pakaian pun kadang tak punya. Hingga, mereka membuat kain batik dalam dua motif, Pagi-Sore, namanya. Itu salah satu alasan datangnya batik Hokokai. Hokokai itu flora dan fauna. Colorful. Tetapi itu baru salah satunya. Masih banyak lainnya lagi," jelas pria yang dibiayai oleh PT KAO untuk melakukan perjalanan mengenal batik ke kota-kota penghasil batik di Jawa.

Di balik batik ada kehidupan anak, kehidupan perempuan, arsitektur, keindahan taman, kuliner, budaya, keindahan alam, dan masih banyak lainnya yang bersinggungan dengan si pembatik. Hal-hal semacam ini yang kemudian menginspirasi para pembatik untuk membuat motif. Namun, seringkali hal ini terlewat begitu saja oleh kita dan belum sepenuhnya mengerti mengenai esensi dan keindahan batik yang sebenarnya merupakan sebuah proses tersendiri. "Kenapa? Karena mereka yang memegang, yang berwenang, seleranya harus dibangun. Harusnya mengajak lebih banyak kaum muda untuk bekerja sama mengangkat batik dan memelihara batik," jelas Edo.

Ketika ditanyakan mengapa ia memilih batik dan tak banyak desainer yang tidak melakukannya, Edo mengatakan, "Banyak desainer Indonesia tidak percaya diri dengan kain tradisional Indonesia. Mengapa? Karena terpatok dengan desain yang berlebihan, yang miring, yang besar, yang ke sana-sini, bahkan mirip busana sirkus. Padahal, kain Indonesia harus dibuat sesimpel mungkin," jelas pria yang mengatakan bahwa dirinya tak ingin terbawa arus tren dan cenderung mendesain dengan konsep fresh, light, and simplicity in quality.

Kamis, 07 Juni 2012

Batik Patih, Unik dengan Koin dan Beads

Ina Indayanti tampaknya berhasil melepaskan statusnya sekadar sebagai istri aktor Jeremy Thomas, menjadi seorang perancang pakaian yang cukup berbakat. Karier barunya saat itu diawali dengan merancang pakaian muslim yang diberi label Valisya pada tahun 2005, dan menjualnya ke Dubai, Brunei Darussalam, dan Singapura. Responsnya cukup baik, sehingga Ina (kini dikenal sebagai Ina Thomas) mencoba merancang berbagai lini pakaian lainnya.

Tahun 2006, misalnya, Ina mulai mendesain pakaian dari bahan batik. Ia terjun sendiri mencari kain batik ke berbagai kota, melihat proses pembuatannya, hingga memutuskan untuk membeli dan mendesainnya menjadi pakaian sehari-hari yang nyaman digunakan. Ia juga menambahkan unsur batu-batuan dalam desain batiknya. Ciri khas koleksi pakaiannya adalah boho chic dengan potongan seksi yang elegan.

Koleksi batiknya ini juga menggunakan label Valisya. Baru pada 2009, sang suami memiliki ide untuk mengembangkan bisnis fashion Ina.

"Saya ingin mendukung istri saya agar bisnis fashion-nya bisa digeluti dengan serius. Akhirnya saya mendirikan line fashion di bawah naungan perusahaan saya, VMT Creative, dengan nama Ina Thomas," papar Jeremy pada Kompas Female, saat berbincang mengenai lini busana Ina Thomas di Luna Negra Resto, Plaza Bapindo, Jakarta.

Setelah dua tahun berdiri, kini Ina Thomas telah memiliki tiga jenis second line, yaitu Rock Darling, Patih, dan Nyai. Ketiga label ini memiliki ciri khas masing-masing. Rock Darling, misalnya, memadukan unsur rocker dan bohemian. Koleksinya terdiri atas gaun koktil, jaket kulit dengan aksen manik-manik, vest, t-shirt vintage, jeans yang robek-robek, dan banyak lagi. Aksesorinya banyak menggunakan rantai, kulit, dan tengkorak.

Label Nyai, yang juga dipasarkan di Malaysia dan Paris, menampilkan rancangan busana muslim yang tetap fashionable. Koleksinya dibuat dari bahan sutera sifon dengan bordir emas, hingga bahan print yang lebih simpel dengan warna-warna neon. Hampir semua rancangannya dilengkapi dengan perhiasan emas, kuningan, atau manik-manik yang unik.

Untuk koleksi batiknya, kini Ina menggunakan nama Patih. Ia tidak merancang motif batik, melainkan hanya memesan warna yang diinginkannya pada perajin batik di Yogyakarta, Solo, dan Garut. Ia mengagumi batik Jogja dan Solo karena desain dan warnanya yang terkesan antik dan kuno. Sedangkan batik Garut disukainya karena memiliki warna yang lebih beragam.

Ina cenderung memilih motif batik yang besar-besar, agar motifnya lebih terlihat. Dengan demikian, unsur batiknya jadi menonjol.

"Saat memesan, biasanya saya lihat dulu contoh motif dari perajin seperti apa. Lalu kalau saya suka, saya biarkan mereka berkreasi dengan motif-motif khas mereka sendiri. Saya tidak pernah ikut mendesain motif karena karya mereka unik-unik. Biasanya saya hanya minta warnanya disesuaikan dengan keinginan saya," ujar perempuan kelahiran 7 Juni 1975 ini.

Ina selalu membeli batik dalam jumlah banyak, namun tiap lembarnya memiliki motif yang berbeda. "Misalnya saya pesan 200 lembar batik, berarti ada 200 motif batik yang saya pesan, tidak ada yang sama. Semuanya saya desain jadi berbagai macam model, seperti gaun panjang, bolero, kemeja, sampai baju anak. Satu kain, satu motif, satu model, semuanya limited edition, tidak bisa diulang produksinya," ungkapnya bersemangat.

Perempuan berkulit putih ini mengaku tak punya langganan batik khusus atau kontrak kerja sama dengan pengusaha batik tertentu. "Dari tiga kota itu saya bisa memesan dari beberapa pengusaha batik yang berbeda, tergantung kebutuhan," tambah Ina, yang usia pernikahannya sudah 14 tahun.

Koleksi batik Patih ini menawarkan kombinasi warna dan tabrak motif yang berani. Ia menampilkan gaun-gaun stylish dengan model one shoulder atau kemben. Ada pula beragam blazer dan bolero yang memberikan sentuhan dramatis untuk penampilan keseluruhannya. Patih juga memiliki koleksi kemeja pria yang bergaya slim fit maupun loose fit, sehingga memenuhi selera pria mana saja.

Perbedaan menonjol lainnya dari label Patih milik Ina Thomas adalah pada aksesori berupa batu-batuan dan koin yang ditambahkan pada beberapa pakaiannya. "Selain tetap harus ada ciri khas gaun panjang pada line batik saya, unsur batu-batuan dari berbagai daerah di Indonesia juga membuat desain batik saya berbeda. Saya kombinasikan batu-batu alam tersebut dalam desain batik saya," jelas Ina.

Koleksi busana Ina Thomas saat ini bisa diperoleh di butik Gaya di Plaza Indonesia, sedangkan tiga label dari second line-nya bisa dipesan langsung melalui website www.inathomas.com. Tak lama lagi, label Ina Thomas juga akan segera hadir di Grand Palace, Surabaya.

Label Ina Thomas sudah ditampilkan dalam Jakarta Fashion Week 2010/2011, November lalu. Ina bermimpi bisa ikut memperkenalkan batik secara internasional. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah bisa ikut andil memfasilitasi desainer-desainer batik untuk bisa menggelar peragaan busana di luar negeri.