Proses pewarnaan kain batik umumnya dilakukan dengan menggunakan pewarna kimia. Namun kini semakin populer pula proses pewarnaan yang menggunakan bahan baku dari alam. Dengan menggunakan pewarna alam ini, proses pembuatan batik tentunya menjadi lebih ramah lingkungan.
Untuk memperkenalkan proses pewarnaan alam ini, Komunitas Klasik Indonesia mengadakan workshop “Ikat Celup dengan Pewarna Alam” di Museum Tekstil Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam workshop yang merupakan salah satu rangkaian program bertema “Dari Wanita untuk Karya dan Alam Indonesia” ini dijelaskan pula berbagai kelebihan dari zat pewarna alam.
Bahan pewarna alami umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti kayu, kulit kayu, akar, kulit akar, biji, kulit biji, daun, maupun bunga. Proses pewarnaan dengan menggunakan zat warna alam memang lebih rumit jika dibandingkan dengan menggunakan zat pewarna sintetis. Sebab, prosesnya harus dilakukan berulang kali untuk mendapatkan warna seperti yang diinginkan. Namun warna-warna yang dihasilkan memang cenderung menjadi lembut serta bersifat unik dan eksklusif. Karakteristik dari tumbuhan dan faktor lingkungan lah yang mempengaruhinya.
Masalahnya, tak semua bahan tekstil bisa diwarnai dengan zat pewarna alam. Bahan yang bisa digunakan adalah yang berasal dari serat alam seperti sutera, wol, dan kapas (katun). Sedangkan bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester atau nilon tidak memiliki afinitas, atau daya tarik, terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit diwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera umumnya memiliki afinitas paling baik terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.
Benny Gratha, volunteer Museum Tekstil Indonesia, lalu membeberkan pula tahap-tahap pewarnaan alam tersebut:
1. Mordant
Agar warna dapat menempel dengan baik, kain yang akan diwarnai harus di-mordant terlebih dahulu. Proses mirdant dilakukan dengan merendam bahan ke dalam garam-garam logam seperti tawas. Zar-zat mordant ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga afinitas (daya tarik) zat warna meningkat terhadap serat, dan berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Sebelum dilakukan proses mordant, kain terlebih dahulu dicuci dan direndam dalam air sabun selama 12 jam, kemudian dibilas dan dikeringkan.
2. Ekstraksi dan pewarnaan
Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen-pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan, baik yang terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji, maupun akar. Proses pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ektraksi, dilakukan dengan cara merebus bahan dengan air.
3. Fiksasi
Fiksasi merupakan proses untuk memperkuat warna agar tidak luntur. Fiksasi dapat dilakukan dengan beberapa bahan seperti tawas, kapus, atau tanjung. Masing-masing bahan mempunyai karakteristik yang berbeda terhadap warna.
Rabu, 25 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Warna-warni Batik Tasikmalaya
asikmalaya memiliki batik khasnya sendiri. Sayangnya, batik Tasikmalaya kalah pamor dibanding batik asal Pekalongan dan Solo. Padahal, keelokan batik Tasikmalaya tak bisa dianggap sebelah mata.
Lihat saja sekilas dan Anda pasti jatuh hati. Bagaimana tidak, warna-warna mencolok seperti merah, biru, dan hijau merupakan warna khas dari batik Tasikmalaya. Menurut Deden, perajin batik Tasikmalaya, ketiga warna cerah tersebut sejak lama menjadi ciri khas batik Tasikmalaya. Deden merupakan salah satu perajin di sentra batik Tasikmalaya yang terletak di Jalan Cigeureung, Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Kita juga produksi warna juga sesuai permintaan pasar. Tapi kalau merah, biru, dan hijau ini ciri khas dari dulu, jadi selalu ada. Sekarang trennya itu warna ungu," ujarnya.
Deden adalah pemain lama di industri batik Tasikmalaya. Ia terkenal sebagai produsen terbesar di Cigeureung. Deden merupakan generasi kedua dari keluarga perajin batik Tasikmalaya.
"Ini sejak tahun 1950-an. Awalnya usaha bapak saya, Haji Asep. Masih rumahan lalu punya satu pabrik. Sekarang kita ada dua pabrik," tuturnya.
Beberapa ornamen klasik khas batik Tasikmalaya adalah lereng suling, sekar jagat, dan serat kayu. Ada pula ornamen-ornamen lainnya. Sebut saja ornamen bilik yang berbentuk seperti garis-garis berjejer dalam posisi horizontal berselingan dengan posisi vertikal.
Deden memproduksi batik dengan dua cara, yaitu batik tulis dan batik cap. Ia menceritakan perlu waktu dua minggu untuk menghasilkan batik tulis. Sementara batik cap hanya perlu sekitar dua hari. Oleh karena itu, batik tulis tentu saja lebih mahal harganya.
Deden biasa mengikuti pameran di Jakarta sehingga para pelanggannya pun tersebar di berbagai daerah. Jika Anda warga Jakarta, tenang saja ketika Anda mampir ke galeri Deden di Tasikmalaya, tetapi merasa tak menemukan apa yang Anda cari. Anda bisa memesan untuk model baju dengan kain tertentu yang Anda inginkan. Lalu ambillah pesanan saat Deden ikut serta pameran di Jakarta.
Memang, sering kali pelanggan menginginkan suatu model, tetapi tak merasa cocok dengan warnanya. Ada pula pelanggan yang naksir dengan suatu kain, tetapi tak tersedia dalam suatu bentuk baju jadi. Jangan lupa untuk mampir ke pabrik Deden. Mintalah pegawai di galeri untuk mengantarkan Anda ke pabrik sehingga Anda bisa melihat proses pembuatannya. Selain itu, Anda juga bisa minta diajarkan pembuatan batik.
"Gratis, kami tidak pungut bayaran untuk yang ingin coba belajar singkat. Kami sediakan kain seukuran sapu tangan untuk belajar membatik. Banyak rombongan yang datang kemari untuk berwisata batik. Ada juga yang individu," katanya.
Beberapa orang mengaku harga batik Tasikmalaya lebih mahal dibanding batik asal Pekalongan dan Solo.
"Bahan baku untuk batik Tasikmalaya masih ambil dari Pekalongan. Dulu di Tasikmalaya ada pabrik tekstil tapi lalu tutup," ujar Deden. Salah satu pegawainya, Bapak Aki, adalah mantan pekerja di pabrik tekstil tersebut. Sejak pabrik itu tutup, ia pun bekerja di usaha batik milik Deden.
"Saya sudah kerja di sini sejak tahun 1976, dari masih dipegang Haji Asep," kata Bapak Aki sambil sibuk mengecap batik.
Ia memang bertugas membuat batik cap. Bapak Aki mengaku di usianya yang sudah tua, matanya mulai lemah. "Jadinya oleh Pak Deden saya ditugaskan untuk mengecap motif yang besar-besar saja. Kalau yang motif kecil saya susah lihatnya," ujarnya.
Sementara itu, di sudut lain pabrik batik milik Deden, tangan-tangan terampil ibu-ibu tua bagaikan menari di atas kain. Canting bergesekan dengan kain dan aroma lilin mengudara. Deden menjelaskan, ia sengaja mempekerjakan para ibu sepuh itu karena memang mereka ini yang terampil dalam membatik. "Mereka sangat teliti dan rapi," ujarnya. Sesekali terdengar riuh tawa para ibu yang saling bercanda. Dalam dekapan kain warna-warni, ibu-ibu sepuh itu laksana sedang bermain dalam taman batik.
Lihat saja sekilas dan Anda pasti jatuh hati. Bagaimana tidak, warna-warna mencolok seperti merah, biru, dan hijau merupakan warna khas dari batik Tasikmalaya. Menurut Deden, perajin batik Tasikmalaya, ketiga warna cerah tersebut sejak lama menjadi ciri khas batik Tasikmalaya. Deden merupakan salah satu perajin di sentra batik Tasikmalaya yang terletak di Jalan Cigeureung, Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Kita juga produksi warna juga sesuai permintaan pasar. Tapi kalau merah, biru, dan hijau ini ciri khas dari dulu, jadi selalu ada. Sekarang trennya itu warna ungu," ujarnya.
Deden adalah pemain lama di industri batik Tasikmalaya. Ia terkenal sebagai produsen terbesar di Cigeureung. Deden merupakan generasi kedua dari keluarga perajin batik Tasikmalaya.
"Ini sejak tahun 1950-an. Awalnya usaha bapak saya, Haji Asep. Masih rumahan lalu punya satu pabrik. Sekarang kita ada dua pabrik," tuturnya.
Beberapa ornamen klasik khas batik Tasikmalaya adalah lereng suling, sekar jagat, dan serat kayu. Ada pula ornamen-ornamen lainnya. Sebut saja ornamen bilik yang berbentuk seperti garis-garis berjejer dalam posisi horizontal berselingan dengan posisi vertikal.
Deden memproduksi batik dengan dua cara, yaitu batik tulis dan batik cap. Ia menceritakan perlu waktu dua minggu untuk menghasilkan batik tulis. Sementara batik cap hanya perlu sekitar dua hari. Oleh karena itu, batik tulis tentu saja lebih mahal harganya.
Deden biasa mengikuti pameran di Jakarta sehingga para pelanggannya pun tersebar di berbagai daerah. Jika Anda warga Jakarta, tenang saja ketika Anda mampir ke galeri Deden di Tasikmalaya, tetapi merasa tak menemukan apa yang Anda cari. Anda bisa memesan untuk model baju dengan kain tertentu yang Anda inginkan. Lalu ambillah pesanan saat Deden ikut serta pameran di Jakarta.
Memang, sering kali pelanggan menginginkan suatu model, tetapi tak merasa cocok dengan warnanya. Ada pula pelanggan yang naksir dengan suatu kain, tetapi tak tersedia dalam suatu bentuk baju jadi. Jangan lupa untuk mampir ke pabrik Deden. Mintalah pegawai di galeri untuk mengantarkan Anda ke pabrik sehingga Anda bisa melihat proses pembuatannya. Selain itu, Anda juga bisa minta diajarkan pembuatan batik.
"Gratis, kami tidak pungut bayaran untuk yang ingin coba belajar singkat. Kami sediakan kain seukuran sapu tangan untuk belajar membatik. Banyak rombongan yang datang kemari untuk berwisata batik. Ada juga yang individu," katanya.
Beberapa orang mengaku harga batik Tasikmalaya lebih mahal dibanding batik asal Pekalongan dan Solo.
"Bahan baku untuk batik Tasikmalaya masih ambil dari Pekalongan. Dulu di Tasikmalaya ada pabrik tekstil tapi lalu tutup," ujar Deden. Salah satu pegawainya, Bapak Aki, adalah mantan pekerja di pabrik tekstil tersebut. Sejak pabrik itu tutup, ia pun bekerja di usaha batik milik Deden.
"Saya sudah kerja di sini sejak tahun 1976, dari masih dipegang Haji Asep," kata Bapak Aki sambil sibuk mengecap batik.
Ia memang bertugas membuat batik cap. Bapak Aki mengaku di usianya yang sudah tua, matanya mulai lemah. "Jadinya oleh Pak Deden saya ditugaskan untuk mengecap motif yang besar-besar saja. Kalau yang motif kecil saya susah lihatnya," ujarnya.
Sementara itu, di sudut lain pabrik batik milik Deden, tangan-tangan terampil ibu-ibu tua bagaikan menari di atas kain. Canting bergesekan dengan kain dan aroma lilin mengudara. Deden menjelaskan, ia sengaja mempekerjakan para ibu sepuh itu karena memang mereka ini yang terampil dalam membatik. "Mereka sangat teliti dan rapi," ujarnya. Sesekali terdengar riuh tawa para ibu yang saling bercanda. Dalam dekapan kain warna-warni, ibu-ibu sepuh itu laksana sedang bermain dalam taman batik.
Senin, 19 Desember 2011
Tips dan Trik Merawat Batik
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana, kain batik atau seragam batik Anda tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.
2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.
1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.
2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.
Sabtu, 19 November 2011
Apa perbedaan Batik Pekalongan dengan batik daerah lain
Batik Pekalongan yang sering dikenal dengan batik pesisiran mempunyai karakter dinamis dan kaya warna, sehingga Batik Pekalongan lebih mudah dirancang menjadi berbagai jenis sandang yang tidak hanya cocok untuk acara resepsi, tapi juga untuk seragam batik antara lain untuk sekolah, organisasi, perkantoran, acara hiburan, dan lain-lain. Dalam menentukan bentuk motif lebih bebas dan tidak terpaku pakem, dan biasanya dihubungkan dengan kondisi sosial kultural masyarakat Pekalongan.
Sedangkan Batik Solo maupun Yogyakarta yang sering dikenal dengan Batik Mataram itu sangat sederhana dalam pewarnaan. Warna yang sering dipakai adalah biru, kuning muda dan putih. Motif Batik Solo maupun Yogyakarta banyak mengandung arti filosofi dan sarat dengan makna kehidupan.
Sedangkan Batik Solo maupun Yogyakarta yang sering dikenal dengan Batik Mataram itu sangat sederhana dalam pewarnaan. Warna yang sering dipakai adalah biru, kuning muda dan putih. Motif Batik Solo maupun Yogyakarta banyak mengandung arti filosofi dan sarat dengan makna kehidupan.
Rabu, 19 Oktober 2011
Cara Membuat Batik
Untuk membuat batik, peralatan yang diperlukan adalah : kain mori (bisa terbuat dari sutra, katun atau campuran kain polyester), pensil untuk membuat desain batik, canting yang terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen. Canting dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), lilin, panci dan kompor kecil untuk memanaskan.
Langkah - langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Langkah pertama kita membuat desain batik diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
2. Langkah kedua adalah menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.
3. Proses terakhir adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur).
Maka hasilnya adalah kain batik yang dikenal dengan kain batik tulis. Penamaan itu diberikan, karena disamping batik tulis, ada juga batik cap, batik printing, batik painting dan sablon.
Langkah - langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Langkah pertama kita membuat desain batik diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
2. Langkah kedua adalah menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.
3. Proses terakhir adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur).
Maka hasilnya adalah kain batik yang dikenal dengan kain batik tulis. Penamaan itu diberikan, karena disamping batik tulis, ada juga batik cap, batik printing, batik painting dan sablon.
Senin, 19 September 2011
Cara Membedakan Batik
Masyarakat mengenal batik sebagai kain yang bergambar atau bercorak unik untuk kemudian dijadikan pakaian. Lebih dari itu, batik merupakan kreasi seni kuno yang bernilai tinggi, yang mana teknik mebuat batik telah ditemukan di Mesir pada abad ke-4 SM sebagai kain pembungkus mumi yang dilapisi malam (lilin cair) yang membentuk pola.
Di Indonesia sendiri, batik telah diperkenalkan pada jaman kerajaan Majapahit di awal abad 19 di tanah Jawa. Oleh sebab itu batik Jawa lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia karena keahlian membatik dikuasai oleh penduduk Jawa secara turun-temurun. Batik Jawa banyak berkembang di daerah Solo yang kemudian diikuti di beberapa dariah lain di Jawa seperti Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Madura hingga luar pulau Jawa.
Sedari awal, motif-motif batik selalu berbeda-beda, hal tersebut diilhami oleh para leluhur yang menganut agama animism, dinamisme, hindu dan budha yang diyakini memiliki makna tersendiri. Cara pembuatannyapun menggunakan tangan dengan bantuan alat bernama canting, batik ini yang disebut dengan batik tulis.
Sekarang batik telah berkembang, proses pembuatannyapun berbeda-beda yang menjadi dasar jenis batik. Batik cap merupakan kain yang digambar dangan motif dan corak batik yang menggunakan cap atau stempel yang terbuat dari tembaga. Proses pembuatan batik cap sangat cepat hanya memerlukan waktu 2 hingga 3 hari, jauh lebih cepat dibandingkan dengan batik tulis yang memerlukan waktu 2 hingga 3 bulan.
Ada lagi jenis batik berdasarkan cara pembuatannya yaitu batik printing. Ini adalah teknik pembuatan batik yang terbaru. Namun menurut saya batik printing bukan batik yang sebenarnya, melainkan hanya tekstil yang bermotif batik. Pembuatan batik printing dengan cara mencetak motif batik diatas kain yang kemudian dilanjukan dengan pewarnaan seperti proses sablon. Karena demikian, batik printing juga disebut batik sablon.
Ada hal penting yang membedakan antara batik tulis, batik cap dan batik printing. Batik tulis dapat dipastikan tidak ada perulangan bentuk dan ukuran motif yang sama persis karena pengerjaan menggambar memakai tangan, warna yang dihasilkan tembus di sisi lainnya hingga jika dibolak-balik warnanya tetap sama. Batik tulis juga memliki aroma yang khas, sulit untuk mengungkapkannya.
Batik cap memiliki motif yang simetris dan teratur, warna yang dihasilkan juga tembus namun sedikit buram. Sedangkan batik printing motifnya lebih rapi dan tidak tembus karena proses pewarnaanya hanya sekali di satu sisi kain. Bagi orang awam hal tersebut adalah cara identifikasi awal termudah yang dapat dilakukan untuk membedakannya.
Batik tulis diproduksi sangat terbatas, dikerjakan pada selembar kain dengan ukuran ± 1,2 meter X 2 meter saja, orang-orang mengenalnya dengan sebutan "jarik". Batik printing diproduksi dengan jumlah banyak karena menggunakan mesin modern, sehingga lebih mirip produksi tekstil. Sedangkan batik cap juga dapat diproduksi dengan jumlah banyak, namun tidak sebanyak batik printing. Pengerjaannya pada kain dengan ukuran yang sama dengan batik tulis.
Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik Indonesia sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan seni dan budaya asli Indonesia.
Di Indonesia sendiri, batik telah diperkenalkan pada jaman kerajaan Majapahit di awal abad 19 di tanah Jawa. Oleh sebab itu batik Jawa lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia karena keahlian membatik dikuasai oleh penduduk Jawa secara turun-temurun. Batik Jawa banyak berkembang di daerah Solo yang kemudian diikuti di beberapa dariah lain di Jawa seperti Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Madura hingga luar pulau Jawa.
Sedari awal, motif-motif batik selalu berbeda-beda, hal tersebut diilhami oleh para leluhur yang menganut agama animism, dinamisme, hindu dan budha yang diyakini memiliki makna tersendiri. Cara pembuatannyapun menggunakan tangan dengan bantuan alat bernama canting, batik ini yang disebut dengan batik tulis.
Sekarang batik telah berkembang, proses pembuatannyapun berbeda-beda yang menjadi dasar jenis batik. Batik cap merupakan kain yang digambar dangan motif dan corak batik yang menggunakan cap atau stempel yang terbuat dari tembaga. Proses pembuatan batik cap sangat cepat hanya memerlukan waktu 2 hingga 3 hari, jauh lebih cepat dibandingkan dengan batik tulis yang memerlukan waktu 2 hingga 3 bulan.
Ada lagi jenis batik berdasarkan cara pembuatannya yaitu batik printing. Ini adalah teknik pembuatan batik yang terbaru. Namun menurut saya batik printing bukan batik yang sebenarnya, melainkan hanya tekstil yang bermotif batik. Pembuatan batik printing dengan cara mencetak motif batik diatas kain yang kemudian dilanjukan dengan pewarnaan seperti proses sablon. Karena demikian, batik printing juga disebut batik sablon.
Ada hal penting yang membedakan antara batik tulis, batik cap dan batik printing. Batik tulis dapat dipastikan tidak ada perulangan bentuk dan ukuran motif yang sama persis karena pengerjaan menggambar memakai tangan, warna yang dihasilkan tembus di sisi lainnya hingga jika dibolak-balik warnanya tetap sama. Batik tulis juga memliki aroma yang khas, sulit untuk mengungkapkannya.
Batik cap memiliki motif yang simetris dan teratur, warna yang dihasilkan juga tembus namun sedikit buram. Sedangkan batik printing motifnya lebih rapi dan tidak tembus karena proses pewarnaanya hanya sekali di satu sisi kain. Bagi orang awam hal tersebut adalah cara identifikasi awal termudah yang dapat dilakukan untuk membedakannya.
Batik tulis diproduksi sangat terbatas, dikerjakan pada selembar kain dengan ukuran ± 1,2 meter X 2 meter saja, orang-orang mengenalnya dengan sebutan "jarik". Batik printing diproduksi dengan jumlah banyak karena menggunakan mesin modern, sehingga lebih mirip produksi tekstil. Sedangkan batik cap juga dapat diproduksi dengan jumlah banyak, namun tidak sebanyak batik printing. Pengerjaannya pada kain dengan ukuran yang sama dengan batik tulis.
Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik Indonesia sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan seni dan budaya asli Indonesia.
Jumat, 19 Agustus 2011
Jenis Batik Menurut Cara Pengerjaannya
Jenis batik
Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar. Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.
Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:
Batik Tulis
Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.
Batik Cap
Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:
Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar. Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.
Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:
Batik Tulis
Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.
Batik Cap
Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:
Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)