Ina Indayanti tampaknya berhasil melepaskan statusnya sekadar sebagai istri aktor Jeremy Thomas, menjadi seorang perancang pakaian yang cukup berbakat. Karier barunya saat itu diawali dengan merancang pakaian muslim yang diberi label Valisya pada tahun 2005, dan menjualnya ke Dubai, Brunei Darussalam, dan Singapura. Responsnya cukup baik, sehingga Ina (kini dikenal sebagai Ina Thomas) mencoba merancang berbagai lini pakaian lainnya.
Tahun 2006, misalnya, Ina mulai mendesain pakaian dari bahan batik. Ia terjun sendiri mencari kain batik ke berbagai kota, melihat proses pembuatannya, hingga memutuskan untuk membeli dan mendesainnya menjadi pakaian sehari-hari yang nyaman digunakan. Ia juga menambahkan unsur batu-batuan dalam desain batiknya. Ciri khas koleksi pakaiannya adalah boho chic dengan potongan seksi yang elegan.
Koleksi batiknya ini juga menggunakan label Valisya. Baru pada 2009, sang suami memiliki ide untuk mengembangkan bisnis fashion Ina.
"Saya ingin mendukung istri saya agar bisnis fashion-nya bisa digeluti dengan serius. Akhirnya saya mendirikan line fashion di bawah naungan perusahaan saya, VMT Creative, dengan nama Ina Thomas," papar Jeremy pada Kompas Female, saat berbincang mengenai lini busana Ina Thomas di Luna Negra Resto, Plaza Bapindo, Jakarta.
Setelah dua tahun berdiri, kini Ina Thomas telah memiliki tiga jenis second line, yaitu Rock Darling, Patih, dan Nyai. Ketiga label ini memiliki ciri khas masing-masing. Rock Darling, misalnya, memadukan unsur rocker dan bohemian. Koleksinya terdiri atas gaun koktil, jaket kulit dengan aksen manik-manik, vest, t-shirt vintage, jeans yang robek-robek, dan banyak lagi. Aksesorinya banyak menggunakan rantai, kulit, dan tengkorak.
Label Nyai, yang juga dipasarkan di Malaysia dan Paris, menampilkan rancangan busana muslim yang tetap fashionable. Koleksinya dibuat dari bahan sutera sifon dengan bordir emas, hingga bahan print yang lebih simpel dengan warna-warna neon. Hampir semua rancangannya dilengkapi dengan perhiasan emas, kuningan, atau manik-manik yang unik.
Untuk koleksi batiknya, kini Ina menggunakan nama Patih. Ia tidak merancang motif batik, melainkan hanya memesan warna yang diinginkannya pada perajin batik di Yogyakarta, Solo, dan Garut. Ia mengagumi batik Jogja dan Solo karena desain dan warnanya yang terkesan antik dan kuno. Sedangkan batik Garut disukainya karena memiliki warna yang lebih beragam.
Ina cenderung memilih motif batik yang besar-besar, agar motifnya lebih terlihat. Dengan demikian, unsur batiknya jadi menonjol.
"Saat memesan, biasanya saya lihat dulu contoh motif dari perajin seperti apa. Lalu kalau saya suka, saya biarkan mereka berkreasi dengan motif-motif khas mereka sendiri. Saya tidak pernah ikut mendesain motif karena karya mereka unik-unik. Biasanya saya hanya minta warnanya disesuaikan dengan keinginan saya," ujar perempuan kelahiran 7 Juni 1975 ini.
Ina selalu membeli batik dalam jumlah banyak, namun tiap lembarnya memiliki motif yang berbeda. "Misalnya saya pesan 200 lembar batik, berarti ada 200 motif batik yang saya pesan, tidak ada yang sama. Semuanya saya desain jadi berbagai macam model, seperti gaun panjang, bolero, kemeja, sampai baju anak. Satu kain, satu motif, satu model, semuanya limited edition, tidak bisa diulang produksinya," ungkapnya bersemangat.
Perempuan berkulit putih ini mengaku tak punya langganan batik khusus atau kontrak kerja sama dengan pengusaha batik tertentu. "Dari tiga kota itu saya bisa memesan dari beberapa pengusaha batik yang berbeda, tergantung kebutuhan," tambah Ina, yang usia pernikahannya sudah 14 tahun.
Koleksi batik Patih ini menawarkan kombinasi warna dan tabrak motif yang berani. Ia menampilkan gaun-gaun stylish dengan model one shoulder atau kemben. Ada pula beragam blazer dan bolero yang memberikan sentuhan dramatis untuk penampilan keseluruhannya. Patih juga memiliki koleksi kemeja pria yang bergaya slim fit maupun loose fit, sehingga memenuhi selera pria mana saja.
Perbedaan menonjol lainnya dari label Patih milik Ina Thomas adalah pada aksesori berupa batu-batuan dan koin yang ditambahkan pada beberapa pakaiannya. "Selain tetap harus ada ciri khas gaun panjang pada line batik saya, unsur batu-batuan dari berbagai daerah di Indonesia juga membuat desain batik saya berbeda. Saya kombinasikan batu-batu alam tersebut dalam desain batik saya," jelas Ina.
Koleksi busana Ina Thomas saat ini bisa diperoleh di butik Gaya di Plaza Indonesia, sedangkan tiga label dari second line-nya bisa dipesan langsung melalui website www.inathomas.com. Tak lama lagi, label Ina Thomas juga akan segera hadir di Grand Palace, Surabaya.
Label Ina Thomas sudah ditampilkan dalam Jakarta Fashion Week 2010/2011, November lalu. Ina bermimpi bisa ikut memperkenalkan batik secara internasional. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah bisa ikut andil memfasilitasi desainer-desainer batik untuk bisa menggelar peragaan busana di luar negeri.
Kamis, 07 Juni 2012
Kamis, 10 Mei 2012
Merawat Batik supaya Tetap Cantik
Kain batik menyimpan begitu banyak hal yang patut dibanggakan. Pembuatan dan proses hingga terciptanya sebuah kain batik tidak mudah. Batik sendiri merupakan sebuah karya seni yang unik. Penting untuk merawat batik agar selalu cantik dan terawat. Berikut tips dari desainer Edward Hutabarat untuk menjaga batik agar tetap cantik:
1. Jika ingin mencuci kain batik, siapkan empat ember. Isi ember pertama dengan air hangat yang sudah ditambahkan cairan pencuci kain batik khusus untuk mengeluarkan debu dan kotorannya. Jika kainnya antik, jangan pernah mengucek, tetapi kalau kain baru tak masalah. Hindari pencucian kain batik di dalam mesin cuci.
2. Bilas dengan air dingin pada ember kedua, ketiga, dan keempat.
3. Jangan diperas. Letakkan kain di dalam handuk kering. Tepuk-tepuk kain dengan handuk tersebut.
4. Untuk menjemur, gunakan pipa pralon atau batang bambu melintang agar kain tidak berlipat dan kehilangan bentuk. Jangan menarik kain hingga terlalu datar, biarkan bagian tengahnya mengerut sedikit.
5. Saat menjemur, pastikan tidak terkena paparan matahari langsung karena bisa merusak warnanya. Paling bagus adalah menjemurnya di bawah pohon rindang.
6. Saat menyetrika, gunakan kain paris di antara setrika dan kain untuk meredam panas. Gunakan seterika panas.
7. Untuk penyimpanan, lipat seperti melipat bendera, dengan bentuk memanjang sekitar 4 kali lipatan. Jepit kain dengan penjepit yang sudah diberikan spons agar kain tidak terluka. Simpan dengan posisi tergantung. Untuk batik yang sudah berbentuk busana, berikan spons pada hanger supaya kainnya tidak berubah bentuk.
8. Siapkan kain tile kecil, buat kantong berisi lada putih, letakkan di sudut-sudut lemari untuk mengusir ngengat. Jangan gunakan kapur barus karena terlalu keras.
9. Hindari penyemprotan parfum ke kain batik. Setiap tiga bulan sekali, keluarkan dari kain batik dari lemari untuk diangin-anginkan.
1. Jika ingin mencuci kain batik, siapkan empat ember. Isi ember pertama dengan air hangat yang sudah ditambahkan cairan pencuci kain batik khusus untuk mengeluarkan debu dan kotorannya. Jika kainnya antik, jangan pernah mengucek, tetapi kalau kain baru tak masalah. Hindari pencucian kain batik di dalam mesin cuci.
2. Bilas dengan air dingin pada ember kedua, ketiga, dan keempat.
3. Jangan diperas. Letakkan kain di dalam handuk kering. Tepuk-tepuk kain dengan handuk tersebut.
4. Untuk menjemur, gunakan pipa pralon atau batang bambu melintang agar kain tidak berlipat dan kehilangan bentuk. Jangan menarik kain hingga terlalu datar, biarkan bagian tengahnya mengerut sedikit.
5. Saat menjemur, pastikan tidak terkena paparan matahari langsung karena bisa merusak warnanya. Paling bagus adalah menjemurnya di bawah pohon rindang.
6. Saat menyetrika, gunakan kain paris di antara setrika dan kain untuk meredam panas. Gunakan seterika panas.
7. Untuk penyimpanan, lipat seperti melipat bendera, dengan bentuk memanjang sekitar 4 kali lipatan. Jepit kain dengan penjepit yang sudah diberikan spons agar kain tidak terluka. Simpan dengan posisi tergantung. Untuk batik yang sudah berbentuk busana, berikan spons pada hanger supaya kainnya tidak berubah bentuk.
8. Siapkan kain tile kecil, buat kantong berisi lada putih, letakkan di sudut-sudut lemari untuk mengusir ngengat. Jangan gunakan kapur barus karena terlalu keras.
9. Hindari penyemprotan parfum ke kain batik. Setiap tiga bulan sekali, keluarkan dari kain batik dari lemari untuk diangin-anginkan.
Kamis, 19 April 2012
Sabun Khusus Pencuci Batik
Seperti Anda ketahui, batik adalah kain yang spesial. Umumnya, kain batik dikenakan untuk acara-acara khusus. Seperti pada saat upacara pernikahan, upacara keluarga, dan lainnya. Supaya tidak cepat rusak atau pudar, kain batik harus dirawat dengan baik dan benar.
Menyadari arti penting batik bagi bangsa Indonesia, PT KAO yang berdiri sejak 25 tahun di Indonesia berusaha mengembangkan cairan pencuci khusus untuk batik.
Perusahaan Jepang ini mengeluarkan cairan pencuci batik yang diberi nama Attack Batik Cleaner. "Kami sering mendapatkan telepon dari pelanggan yang menanyakan apakah kami memiliki produk pencuci khusus untuk batik," terang Diana Laksmono, Category Manager, Marketing Division pada acara peluncuran di Museum Nasional.
Peluncuran Attack Batik Cleaner ini dikemas dengan kerjasama bersama desainer Edward Hutabarat untuk mengkampanyekan keindahan dan nilai luhur dari batik itu kepada masyarakat. Kampanye tersebut diberi nama "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
"Banyak konsumen memisahkan batik dari pencucian baju lain. Kain batik itu pun dirawat dengan sungguh-sungguh, tidak dikucek, tidak diperas, dan tidak dijemur langsung di bawah matahari. Bahkan ada yang mencuci baju batik dengan shampo bayi atau sabun badan yang dikira lebih lembut. Kini, kami berupaya membuat sabun yang cukup lembut untuk batik tanpa merusak kainnya," ujar Seiji Kikuta, Senior Manager Product Development PT KAO Indonesia.
Produk yang hanya diciptakan untuk konsumen Indonesia ini dikeluarkan dalam bentuk botolan dengan isi 270 ml. Tersedia di toko-toko besar dengan harga sekitar Rp 20.000. Untuk kain batik baru, cara pencuciannya mirip pencucian baju biasa, namun untuk kain batik antik, perhatikan cara pencuciannya.
Ketika ditanyakan apakah produk ini seperti lerak yang dipercaya bisa menjaga warna batik dan apakah akan bersifat keras seperti deterjen lain, Diana menjawab, "Produk ini tidak mengandung banyak fosfat, sehingga lebih lembut ketimbang pencucian dengan deterjen biasa. Lebih ramah lingkungan ketimbang deterjen biasa juga. Produk ini sifatnya untuk membersihkan, bukan untuk mengeluarkan warna dari batik itu."
Menyadari arti penting batik bagi bangsa Indonesia, PT KAO yang berdiri sejak 25 tahun di Indonesia berusaha mengembangkan cairan pencuci khusus untuk batik.
Perusahaan Jepang ini mengeluarkan cairan pencuci batik yang diberi nama Attack Batik Cleaner. "Kami sering mendapatkan telepon dari pelanggan yang menanyakan apakah kami memiliki produk pencuci khusus untuk batik," terang Diana Laksmono, Category Manager, Marketing Division pada acara peluncuran di Museum Nasional.
Peluncuran Attack Batik Cleaner ini dikemas dengan kerjasama bersama desainer Edward Hutabarat untuk mengkampanyekan keindahan dan nilai luhur dari batik itu kepada masyarakat. Kampanye tersebut diberi nama "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
"Banyak konsumen memisahkan batik dari pencucian baju lain. Kain batik itu pun dirawat dengan sungguh-sungguh, tidak dikucek, tidak diperas, dan tidak dijemur langsung di bawah matahari. Bahkan ada yang mencuci baju batik dengan shampo bayi atau sabun badan yang dikira lebih lembut. Kini, kami berupaya membuat sabun yang cukup lembut untuk batik tanpa merusak kainnya," ujar Seiji Kikuta, Senior Manager Product Development PT KAO Indonesia.
Produk yang hanya diciptakan untuk konsumen Indonesia ini dikeluarkan dalam bentuk botolan dengan isi 270 ml. Tersedia di toko-toko besar dengan harga sekitar Rp 20.000. Untuk kain batik baru, cara pencuciannya mirip pencucian baju biasa, namun untuk kain batik antik, perhatikan cara pencuciannya.
Ketika ditanyakan apakah produk ini seperti lerak yang dipercaya bisa menjaga warna batik dan apakah akan bersifat keras seperti deterjen lain, Diana menjawab, "Produk ini tidak mengandung banyak fosfat, sehingga lebih lembut ketimbang pencucian dengan deterjen biasa. Lebih ramah lingkungan ketimbang deterjen biasa juga. Produk ini sifatnya untuk membersihkan, bukan untuk mengeluarkan warna dari batik itu."
Selasa, 06 Maret 2012
Liem Ping Wie, Cikal Bakal Batik China Peranakan
Perjalanan batik di Kota Pekalongan tak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Eropa, China, dan Arab. Dulu, orang-orang China datang ke Pekalongan sebagai pedagang dan melihat peluang yang besar untuk berbisnis batik. Mereka lalu menikahi orang-orang lokal (keturunannya kemudian disebut sebagai China peranakan), dan kelak menjadi kelompok pembuat batik yang paling sukses.
Salah satu nama yang populer sebagai cikal bakal batik China peranakan di Pekalongan adalah Oey Kiem Boen. Batik China Peranakan ini masih bertahan hingga sekarang, membuktikan bahwa keluarga ini bertekad untuk terus melestarikan batik China peranakan. Pusat pembuatan batiknya menggunakan nama Liem Ping Wie, yang merupakan keturunannya yang ketiga. Kini, Rumah Batik Liem Ping Wie dikelola oleh putri keenamnya, atau keturunan keempat Oey Kiem Boen, yaitu Liem Poo Hien.
Mengamati koleksi rumah batik Liem Ping Wie akan terasa betul pengaruh China yang dulu dibawa dari negara tersebut. Motif-motifnya kebanyakan berupa gambar burung, ikan, dan kupu-kupu. Namun, motif bunga, yang merupakan motif khas batik pekalongan dan dipengaruhi oleh orang-orang Eropa, juga tetap terlihat dalam koleksi mereka. Flora dan fauna lalu menjadi salah satu bentuk motif yang baru.
Liem Ping Wie juga memproduksi apa yang disebut sebagai batik Hokokai. Ciri khas Hokokai ada pada konsep pagi dan sore, yaitu satu kain yang menampilkan dua warna (atau dua motif), gelap dan terang. Karya batik Hokokai ini menyimpan cerita yang menarik.
"Dulu, waktu zaman perang (pendudukan tentara Jepang), orang kan pada takut keluar rumah. Mereka tidak bisa membeli bahan (katun) dan alat untuk membatik. Karena enggak ada kerjaan, akhirnya mereka menggunakan bahan yang sudah ada, dan menghabiskan waktu dengan membatik. Mereka memenuhi seluruh kain dengan gambar batik. Anda lihat kan, motif batik ini penuh menutupi kain," ungkap Liem Poo Hien, saat menemani wartawan yang berkunjung ke rumah batiknya atas undangan PT Kao Indonesia, di kawasan Kedungwuni, Pekalongan.
Jadi sebenarnya, selembar kain yang menampilkan dua warna itu karena pembatik harus menghemat bahan. Pagi hari, kaum ibu petani menggunakan sisi kain yang berwarna terang. Untuk acara sore hari, digunakan sisi kain yang berwarna gelap. Bila ingin dikenakan sebagai sarung, kain dipakai secara horisontal. Untuk kain panjang atau jarik, kain dikenakan secara vertikal. Kekosongan bahan katun ternyata bisa "memaksa" para pembatik untuk kreatif dan justru menghasilkan batik yang sangat berkualitas. Siapa sangka, tekanan keadaan justru melahirkan satu aliran batik tersendiri, bukan?
Ketika itu, kain-kain batik produksi mereka juga hanya dikenakan sendiri, untuk hantaran, atau perkawinan. Tetapi sekarang, batik tulis China peranakan menjadi produk budaya yang nilainya jutaan rupiah. Batik yang lama pengerjaannya mencapai delapan bulan ini (karena motif tanahannya yang sangat halus dan detail, dan dikerjakan pada kedua sisi kain) bisa dihargai hingga jutaan rupiah.
Nama besar Liem Ping Wie juga menyebabkan pelanggannya tak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga Jepang dan Singapura. Mereka datang langsung ke rumah batik Kedungwuni ini jika ingin membeli batik. Hingga sekarang, Liem Ping Wie tidak membuka toko.
Namun, Hien menolak menerima orderan dari pelanggan di Jepang atau Singapura karena umumnya mereka hanya memberikan uang muka saat memesan. Padahal, proses pembuatan batik sangat rumit dan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hien tentunya juga membutuhkan dana untuk biaya operasional dan menggaji karyawan secara mingguan.
"Sekarang, kalau memang butuh, pelanggan datang saja mengambil stok yang ada. Seperti tadi, kan, ada tamu dari Jepang yang datang. Mereka terima jadi aja," tutur Hien yang kini bekerja sama dengan Edward Hutabarat untuk memproduksi batik dengan desain dari desainer tersebut.
Untuk menghidupi diri dan karyawannya, Hien juga memproduksi batik cap yang pengerjaannya lebih cepat, dan cepat pula lakunya. "Kalau saya mengerjakan pesanan semua, saya bisa sinting," katanya terkekeh.
Salah satu nama yang populer sebagai cikal bakal batik China peranakan di Pekalongan adalah Oey Kiem Boen. Batik China Peranakan ini masih bertahan hingga sekarang, membuktikan bahwa keluarga ini bertekad untuk terus melestarikan batik China peranakan. Pusat pembuatan batiknya menggunakan nama Liem Ping Wie, yang merupakan keturunannya yang ketiga. Kini, Rumah Batik Liem Ping Wie dikelola oleh putri keenamnya, atau keturunan keempat Oey Kiem Boen, yaitu Liem Poo Hien.
Mengamati koleksi rumah batik Liem Ping Wie akan terasa betul pengaruh China yang dulu dibawa dari negara tersebut. Motif-motifnya kebanyakan berupa gambar burung, ikan, dan kupu-kupu. Namun, motif bunga, yang merupakan motif khas batik pekalongan dan dipengaruhi oleh orang-orang Eropa, juga tetap terlihat dalam koleksi mereka. Flora dan fauna lalu menjadi salah satu bentuk motif yang baru.
Liem Ping Wie juga memproduksi apa yang disebut sebagai batik Hokokai. Ciri khas Hokokai ada pada konsep pagi dan sore, yaitu satu kain yang menampilkan dua warna (atau dua motif), gelap dan terang. Karya batik Hokokai ini menyimpan cerita yang menarik.
"Dulu, waktu zaman perang (pendudukan tentara Jepang), orang kan pada takut keluar rumah. Mereka tidak bisa membeli bahan (katun) dan alat untuk membatik. Karena enggak ada kerjaan, akhirnya mereka menggunakan bahan yang sudah ada, dan menghabiskan waktu dengan membatik. Mereka memenuhi seluruh kain dengan gambar batik. Anda lihat kan, motif batik ini penuh menutupi kain," ungkap Liem Poo Hien, saat menemani wartawan yang berkunjung ke rumah batiknya atas undangan PT Kao Indonesia, di kawasan Kedungwuni, Pekalongan.
Jadi sebenarnya, selembar kain yang menampilkan dua warna itu karena pembatik harus menghemat bahan. Pagi hari, kaum ibu petani menggunakan sisi kain yang berwarna terang. Untuk acara sore hari, digunakan sisi kain yang berwarna gelap. Bila ingin dikenakan sebagai sarung, kain dipakai secara horisontal. Untuk kain panjang atau jarik, kain dikenakan secara vertikal. Kekosongan bahan katun ternyata bisa "memaksa" para pembatik untuk kreatif dan justru menghasilkan batik yang sangat berkualitas. Siapa sangka, tekanan keadaan justru melahirkan satu aliran batik tersendiri, bukan?
Ketika itu, kain-kain batik produksi mereka juga hanya dikenakan sendiri, untuk hantaran, atau perkawinan. Tetapi sekarang, batik tulis China peranakan menjadi produk budaya yang nilainya jutaan rupiah. Batik yang lama pengerjaannya mencapai delapan bulan ini (karena motif tanahannya yang sangat halus dan detail, dan dikerjakan pada kedua sisi kain) bisa dihargai hingga jutaan rupiah.
Nama besar Liem Ping Wie juga menyebabkan pelanggannya tak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga Jepang dan Singapura. Mereka datang langsung ke rumah batik Kedungwuni ini jika ingin membeli batik. Hingga sekarang, Liem Ping Wie tidak membuka toko.
Namun, Hien menolak menerima orderan dari pelanggan di Jepang atau Singapura karena umumnya mereka hanya memberikan uang muka saat memesan. Padahal, proses pembuatan batik sangat rumit dan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hien tentunya juga membutuhkan dana untuk biaya operasional dan menggaji karyawan secara mingguan.
"Sekarang, kalau memang butuh, pelanggan datang saja mengambil stok yang ada. Seperti tadi, kan, ada tamu dari Jepang yang datang. Mereka terima jadi aja," tutur Hien yang kini bekerja sama dengan Edward Hutabarat untuk memproduksi batik dengan desain dari desainer tersebut.
Untuk menghidupi diri dan karyawannya, Hien juga memproduksi batik cap yang pengerjaannya lebih cepat, dan cepat pula lakunya. "Kalau saya mengerjakan pesanan semua, saya bisa sinting," katanya terkekeh.
Minggu, 04 Maret 2012
Bikin Batik Cap Pun Harus Pakai "Feeling"
Industri batik sedang berkembang pesat saat ini. Untuk memenuhi permintaan para penggemar motif batik, pelaku industri memproduksi kain batik yang proses pembuatannya lebih instan. Pembatik tidak harus melukisnya dengan canting setitik demi setitik seperti pada batik tulis, melainkan dengan semacam cetakan yang sudah bermotif batik. Kain batik pun lebih cepat jadi, dan harganya juga jadi lebih terjangkau. Batik semacam ini disebut batik cap.
Tidak seperti batik tulis yang proses pelukisan malamnya umumnya dikerjakan oleh kaum wanita, batik cap justru lebih sering dilakukan kaum pria. "Soalnya laki-laki itu tidak telaten kalau harus membatik (tulis). Lagipula canting cap itu berat, jadi lebih cocok dikerjakan laki-laki," kata Nur Cahyo, pemilik Batik Cahyo, saat menerima kunjungan wartawan dan PT Kao Indonesia di workshop batik capnya di kawasan Sampang, Pekalongan, Desember lalu.
Selain proses pelukisan motif batik yang menggunakan cetakan, atau canting cap, proses selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti saat membuat batik tulis. Misalnya dari proses pewarnaannya (bisa dengan pewarna alami atau pewarna kimia) yang harus berulang-ulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan, atau dari proses nglorodnya.
Ketika kami berkunjung ke balai kerja Cahyo tersebut, aktivitas pencapan pada kain tengah berlangsung. Hanya tiga pekerja pria yang tampak sedang mengerjakan proses membatik ini. Ada dua tahap yang dilakukan untuk menghasilkan motif batik pada kain, yaitu membuat motif dasar dengan canting cap, dan menjaplak atau memindahkan motif bunga dari cetakan kertas ke kain. Motif bunga ini nanti hanya muncul di sana-sini.
Sepintas, canting cap itu bentuknya seperti setrika arang. Cahyo memiliki ratusan canting cap beraneka motif di balai kerjanya. Canting cap harus dipesan ke pengrajin dengan memberikan motif yang diinginkan. Sebuah canting cap harganya sekitar Rp 300.000 - Rp 500.000, tergantung motifnya.
Canting yang dibuat dari tembaga ini ukurannya juga berbeda-beda, tergantung besar kecilnya motif, dan apakah juga berisi isen-isen (bidang kosong yang harus diisi dengan guratan-guratan kecil). Canting yang rata-rata berukuran sekitar 15 x 25 cm ini lalu dicelup ke cairan malam, lalu dicapkan di atas kain, setapak demi setapak.
Meskipun kesannya lebih praktis dan cepat (satu hari bisa jadi 10 helai kain batik), membuat batik cap tetap membutuhkan ketelitian yang tinggi. Batik cap milik Cahyo, misalnya, tetap dikenal dengan kehalusannya. Kehalusan ini tampak dari presisi peletakan canting cap di sekujur bidang kain. Tidak ada garis sambungan yang meleset, semuanya pas.
"Tukang cap harus memastikan agar nyambungnya pas. Kalau tukang capnya tidak profesional, lilinnya bisa menempel di cantingnya," tukas Cahyo. Kalau sudah begitu, seperti ada garis-garis yang menebal atau menggumpal di kain. Repotnya, ketidaksempurnaan ini seringkali baru terlihat setelah proses pewarnaan.
Agar tidak terjadi hal semacam ini, tukang cap harus mampu membuat komposisi malam yang tepat. Itu bisa diperoleh dengan memerhatikan tingkat panas dan kekentalan malamnya. Pendek kata, batik cap pun membutuhkan satu feeling dalam pengerjaannya. Hanya dengan komitmen untuk mendapatkan yang terbaik lah, tercipta karya batik cap yang berkualitas.
Tidak seperti batik tulis yang proses pelukisan malamnya umumnya dikerjakan oleh kaum wanita, batik cap justru lebih sering dilakukan kaum pria. "Soalnya laki-laki itu tidak telaten kalau harus membatik (tulis). Lagipula canting cap itu berat, jadi lebih cocok dikerjakan laki-laki," kata Nur Cahyo, pemilik Batik Cahyo, saat menerima kunjungan wartawan dan PT Kao Indonesia di workshop batik capnya di kawasan Sampang, Pekalongan, Desember lalu.
Selain proses pelukisan motif batik yang menggunakan cetakan, atau canting cap, proses selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti saat membuat batik tulis. Misalnya dari proses pewarnaannya (bisa dengan pewarna alami atau pewarna kimia) yang harus berulang-ulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan, atau dari proses nglorodnya.
Ketika kami berkunjung ke balai kerja Cahyo tersebut, aktivitas pencapan pada kain tengah berlangsung. Hanya tiga pekerja pria yang tampak sedang mengerjakan proses membatik ini. Ada dua tahap yang dilakukan untuk menghasilkan motif batik pada kain, yaitu membuat motif dasar dengan canting cap, dan menjaplak atau memindahkan motif bunga dari cetakan kertas ke kain. Motif bunga ini nanti hanya muncul di sana-sini.
Sepintas, canting cap itu bentuknya seperti setrika arang. Cahyo memiliki ratusan canting cap beraneka motif di balai kerjanya. Canting cap harus dipesan ke pengrajin dengan memberikan motif yang diinginkan. Sebuah canting cap harganya sekitar Rp 300.000 - Rp 500.000, tergantung motifnya.
Canting yang dibuat dari tembaga ini ukurannya juga berbeda-beda, tergantung besar kecilnya motif, dan apakah juga berisi isen-isen (bidang kosong yang harus diisi dengan guratan-guratan kecil). Canting yang rata-rata berukuran sekitar 15 x 25 cm ini lalu dicelup ke cairan malam, lalu dicapkan di atas kain, setapak demi setapak.
Meskipun kesannya lebih praktis dan cepat (satu hari bisa jadi 10 helai kain batik), membuat batik cap tetap membutuhkan ketelitian yang tinggi. Batik cap milik Cahyo, misalnya, tetap dikenal dengan kehalusannya. Kehalusan ini tampak dari presisi peletakan canting cap di sekujur bidang kain. Tidak ada garis sambungan yang meleset, semuanya pas.
"Tukang cap harus memastikan agar nyambungnya pas. Kalau tukang capnya tidak profesional, lilinnya bisa menempel di cantingnya," tukas Cahyo. Kalau sudah begitu, seperti ada garis-garis yang menebal atau menggumpal di kain. Repotnya, ketidaksempurnaan ini seringkali baru terlihat setelah proses pewarnaan.
Agar tidak terjadi hal semacam ini, tukang cap harus mampu membuat komposisi malam yang tepat. Itu bisa diperoleh dengan memerhatikan tingkat panas dan kekentalan malamnya. Pendek kata, batik cap pun membutuhkan satu feeling dalam pengerjaannya. Hanya dengan komitmen untuk mendapatkan yang terbaik lah, tercipta karya batik cap yang berkualitas.
Minggu, 19 Februari 2012
Ramah dan Alami Lewat Batik
Batik yang menggunakan pewarna alami semakin menjadi tren. Meskipun proses pembuatannya lebih panjang dan berisiko, limbahnya ramah bagi lingkungan. Gerai batik ini selalu ramai didatangi pengunjung pada pameran Adiwastra Nusantara 2011 yang berlangsung bulan Juni lalu di Balai Sidang Jakarta. Koleksinya mengkhususkan diri pada kain batik berpewarna alami, khususnya indigo. Dengan warna abu-abu, kehijauan, dan biru yang dipadu dengan potongan trendi, koleksi berlabel Galeri Batik Jawa tersebut menyedot perhatian konsumen.
Bagi Mayasari Sekarlaranti (42), pemilik Galeri Batik Jawa, yang akrab dipanggil Nita, kecintaannya pada batik sudah tertanam sedari anak-anak. Nita yang mengendalikan bisnisnya dari kota kelahirannya, Yogyakarta, sedari kecil terbiasa mengantar ibunya mencari batik pedesaan. Pengalaman ini juga yang mendorongnya untuk membantu para pembatik di desa-desa di kawasan Imogiri ketika Yogyakarta terkena gempa tahun 2006.
”Waktu itu industri batik di kawasan ini hancur. Saya bersama teman-teman ingin memberdayakan kembali para pembatik Imogiri. Masalahnya, bila membangun kembali pembatikan dengan pewarnaan kimiawi, kawasan Imogiri yang belum pulih dari kerusakan akan semakin rusak lingkungannya oleh limbah kimia. Jadi, saya memutuskan untuk menggunakan bahan alami, yaitu dari pohon indigo (Indigofera tinctoria),” kata Nita pekan lalu.
Pencarian pohon indigo dilakukan sampai ke Tuban, Ambarawa, Krakal, dan Jember. Bahan baku itu kemudian diolah menjadi pasta indigo. Kegiatan pembatikan yang melibatkan sekitar 50 ibu di Imogiri itu pun bisa berlanjut kembali. ”Saya memang berniat untuk kembali ke bahan alami karena semakin ke depan kita dituntut untuk mengembangkan usaha yang ramah lingkungan. Lagipula, pewarnaan dengan bahan alami ini sudah dilakukan nenek moyang kita,” kata Nita.
Hanya saja, proses pengerjaannya menjadi lebih lama. Menurut Nita, untuk menjaga agar (gambar) motif batik tidak rontok, dibutuhkan pencelupan sampai 15-20 kali. Bandingkan dengan pembatikan dengan bahan kimia yang membutuhkan proses pencelupan sekitar 1-3 kali saja.
Selain itu, formula warna juga tidak stabil, bisa berubah-ubah tergantung spesies pohon indigo dan jenis kain. ”Yang kami budidayakan adalah indigo dengan daun yang lonjong, panjang, dan lebar, seperti yang ada di Bali, karena hasilnya bagus pada kain. Kami sekarang membudidayakannya di Yogyakarta dan Ambarawa. Tanaman setiap enam bulan sudah bisa dipotong dan bagusnya kita tidak harus mencerabut pohonnya sehingga setiap tiga bulan sudah berdaun lagi,” kata Nita
Setelah lima tahun pembatikan berjalan, kini di Imogiri mulai tumbuh generasi pelanjut. Sudah ada beberapa anak remaja yang terlibat membatik. ”Kuncinya adalah pemahaman pada generasi muda bahwa batik bisa menghasilkan income yang rutin. Memang ada batik-batik yang per helainya dikerjakan sampai berbulan-bulan, tapi untuk pemasukan rutinnya, mereka juga mengerjakan batik yang motifnya mudah dan bisa diselesaikan dalam beberapa hari,” kata Nita.
Di gerainya, Nita menjual batik tulis indigo seharga Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk kain, dan Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk baju yang sudah jadi. Selain di Jakarta, gerainya juga ada di Yogyakarta, Bekasi, Semarang, dan Bandung. ”Rata-rata kami menghasilkan 500 potong per bulan, campuran antara kain dan baju jadi,” kata Nita.
Selalu bikin penasaran
Nur Cahyo (46), pengusaha batik asal Pekalongan yang memiliki label ”Cahyo” dan ”Norma” (lapis keduanya), telah lebih dari delapan tahun bergelut dengan batik berpewarna alami. ”Kini usaha batik saya 70 persen batik alami, sisanya masih ada usaha batik dengan pewarna kimiawi,” kata Cahyo, yang batiknya dikenal memiliki corak tanahan dan isen-isen yang sangat halus.
Sebagian besar produk batik Cahyo berwarna sogan, kehijauan, kekuningan, dan kecoklatan. Warna-warna itu diperoleh dari campuran kayu tegeran, seucang, kayu tingi, dan kayu jambal. Adapun untuk larutan ”pengunci”, bahannya digunakan dari belimbing wuluh. ”Limbah pewarna alami bisa kami buang langsung ke tanah, tak masalah,” kata Cahyo
Bagi Mayasari Sekarlaranti (42), pemilik Galeri Batik Jawa, yang akrab dipanggil Nita, kecintaannya pada batik sudah tertanam sedari anak-anak. Nita yang mengendalikan bisnisnya dari kota kelahirannya, Yogyakarta, sedari kecil terbiasa mengantar ibunya mencari batik pedesaan. Pengalaman ini juga yang mendorongnya untuk membantu para pembatik di desa-desa di kawasan Imogiri ketika Yogyakarta terkena gempa tahun 2006.
”Waktu itu industri batik di kawasan ini hancur. Saya bersama teman-teman ingin memberdayakan kembali para pembatik Imogiri. Masalahnya, bila membangun kembali pembatikan dengan pewarnaan kimiawi, kawasan Imogiri yang belum pulih dari kerusakan akan semakin rusak lingkungannya oleh limbah kimia. Jadi, saya memutuskan untuk menggunakan bahan alami, yaitu dari pohon indigo (Indigofera tinctoria),” kata Nita pekan lalu.
Pencarian pohon indigo dilakukan sampai ke Tuban, Ambarawa, Krakal, dan Jember. Bahan baku itu kemudian diolah menjadi pasta indigo. Kegiatan pembatikan yang melibatkan sekitar 50 ibu di Imogiri itu pun bisa berlanjut kembali. ”Saya memang berniat untuk kembali ke bahan alami karena semakin ke depan kita dituntut untuk mengembangkan usaha yang ramah lingkungan. Lagipula, pewarnaan dengan bahan alami ini sudah dilakukan nenek moyang kita,” kata Nita.
Hanya saja, proses pengerjaannya menjadi lebih lama. Menurut Nita, untuk menjaga agar (gambar) motif batik tidak rontok, dibutuhkan pencelupan sampai 15-20 kali. Bandingkan dengan pembatikan dengan bahan kimia yang membutuhkan proses pencelupan sekitar 1-3 kali saja.
Selain itu, formula warna juga tidak stabil, bisa berubah-ubah tergantung spesies pohon indigo dan jenis kain. ”Yang kami budidayakan adalah indigo dengan daun yang lonjong, panjang, dan lebar, seperti yang ada di Bali, karena hasilnya bagus pada kain. Kami sekarang membudidayakannya di Yogyakarta dan Ambarawa. Tanaman setiap enam bulan sudah bisa dipotong dan bagusnya kita tidak harus mencerabut pohonnya sehingga setiap tiga bulan sudah berdaun lagi,” kata Nita
Setelah lima tahun pembatikan berjalan, kini di Imogiri mulai tumbuh generasi pelanjut. Sudah ada beberapa anak remaja yang terlibat membatik. ”Kuncinya adalah pemahaman pada generasi muda bahwa batik bisa menghasilkan income yang rutin. Memang ada batik-batik yang per helainya dikerjakan sampai berbulan-bulan, tapi untuk pemasukan rutinnya, mereka juga mengerjakan batik yang motifnya mudah dan bisa diselesaikan dalam beberapa hari,” kata Nita.
Di gerainya, Nita menjual batik tulis indigo seharga Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk kain, dan Rp 350.000 sampai Rp 1,5 juta untuk baju yang sudah jadi. Selain di Jakarta, gerainya juga ada di Yogyakarta, Bekasi, Semarang, dan Bandung. ”Rata-rata kami menghasilkan 500 potong per bulan, campuran antara kain dan baju jadi,” kata Nita.
Selalu bikin penasaran
Nur Cahyo (46), pengusaha batik asal Pekalongan yang memiliki label ”Cahyo” dan ”Norma” (lapis keduanya), telah lebih dari delapan tahun bergelut dengan batik berpewarna alami. ”Kini usaha batik saya 70 persen batik alami, sisanya masih ada usaha batik dengan pewarna kimiawi,” kata Cahyo, yang batiknya dikenal memiliki corak tanahan dan isen-isen yang sangat halus.
Sebagian besar produk batik Cahyo berwarna sogan, kehijauan, kekuningan, dan kecoklatan. Warna-warna itu diperoleh dari campuran kayu tegeran, seucang, kayu tingi, dan kayu jambal. Adapun untuk larutan ”pengunci”, bahannya digunakan dari belimbing wuluh. ”Limbah pewarna alami bisa kami buang langsung ke tanah, tak masalah,” kata Cahyo
Rabu, 08 Februari 2012
Habis Dicuci, Batik Kok Bisa Susut?
Paling kesal kalau Anda habis kalap berbelanja pakaian batik, dan mendapati batik tersebut susut setelah dicuci sekali saja. Mengapa bisa begitu, bahkan bentuknya pun berubah?
Menurut Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo di Pekalongan, setiap kain batik pada dasarnya akan menyusut. Susutnya tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai 5 - 10 cm! Karena itu, pembatik harus memperhitungkan ukuran kain sebelum memotongnya.
"Jadi pas memotong kain, panjangnya dilebihi sekian senti. Kain (yang sudah dilukis batik) itu sendiri tidak akan susut karena sudah melewati proses lorod dua atau tiga kali," ujar Cahyo, saat menerima kunjungan wartawan bersama desainer Edward Hutabarat dan PT Kao Indonesia di rumah batiknya.
Menurut Cahyo, batik yang menyusut setelah dicuci itu biasanya yang dijual dalam bentuk jadi (kemeja, celana pendek atau panjang), dan terbuat dari kain krayon. Sedangkan kain batik yang banyak dijual di toko atau di pameran, biasanya terbuat dari katun atau sutera.
"Kalau bentuknya kain batik, tidak mungkin susut," tegasnya. Kalau Anda membeli kain batik, ukur saja panjangnya. Setelah mencucinya, ukur kembali panjangnya. Pasti masih sama!
Agar warna batik tak cepat pudar, sebaiknya Anda juga memerhatikan cara mencucinya. Saat mencuci batik, jangan mencampur pakaian batik dengan pakaian lain. Lalu, menggunakan sabun khusus pencuci batik seperti Attack Batik Cleaner, yang kandungan deterjennya tidak terlalu keras. Setelah dibilas, bahan batik tak perlu diperas dengan cara memelintirnya.
"Setelah ditiriskan, taruh handuk, lalu hamparkan kain batik di atasnya. Kemudian batik digulung bersama dengan handuknya," demikian saran Harris Pranata Wijaya, Associate Brand Manager PT Kao Indonesia.
Pakaian yang sudah bersih lalu bisa digantung di pralon atau bambu, bukan di jemuran kawat yang bisa mengubah bentuknya. Saat menyimpan di lemari, sebaiknya jangan menggunakan kamper untuk mencegah kelembaban di dalam lemari, melainkan bubuk lada putih.
Menurut Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo di Pekalongan, setiap kain batik pada dasarnya akan menyusut. Susutnya tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai 5 - 10 cm! Karena itu, pembatik harus memperhitungkan ukuran kain sebelum memotongnya.
"Jadi pas memotong kain, panjangnya dilebihi sekian senti. Kain (yang sudah dilukis batik) itu sendiri tidak akan susut karena sudah melewati proses lorod dua atau tiga kali," ujar Cahyo, saat menerima kunjungan wartawan bersama desainer Edward Hutabarat dan PT Kao Indonesia di rumah batiknya.
Menurut Cahyo, batik yang menyusut setelah dicuci itu biasanya yang dijual dalam bentuk jadi (kemeja, celana pendek atau panjang), dan terbuat dari kain krayon. Sedangkan kain batik yang banyak dijual di toko atau di pameran, biasanya terbuat dari katun atau sutera.
"Kalau bentuknya kain batik, tidak mungkin susut," tegasnya. Kalau Anda membeli kain batik, ukur saja panjangnya. Setelah mencucinya, ukur kembali panjangnya. Pasti masih sama!
Agar warna batik tak cepat pudar, sebaiknya Anda juga memerhatikan cara mencucinya. Saat mencuci batik, jangan mencampur pakaian batik dengan pakaian lain. Lalu, menggunakan sabun khusus pencuci batik seperti Attack Batik Cleaner, yang kandungan deterjennya tidak terlalu keras. Setelah dibilas, bahan batik tak perlu diperas dengan cara memelintirnya.
"Setelah ditiriskan, taruh handuk, lalu hamparkan kain batik di atasnya. Kemudian batik digulung bersama dengan handuknya," demikian saran Harris Pranata Wijaya, Associate Brand Manager PT Kao Indonesia.
Pakaian yang sudah bersih lalu bisa digantung di pralon atau bambu, bukan di jemuran kawat yang bisa mengubah bentuknya. Saat menyimpan di lemari, sebaiknya jangan menggunakan kamper untuk mencegah kelembaban di dalam lemari, melainkan bubuk lada putih.
Langganan:
Postingan (Atom)