Senin, 15 April 2013
Makna Batik dalam Kehidupan Manusia
Pada tanggal 2 Oktober 2009 Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Batik dinilai sebagai ikon budaya yang memiliki keunikan dan filosofi mendalam, serta mencakup siklus kehidupan manusia, sehingga ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dari kemanusiaan.
keindahan kasat mata dari batik dapat dinikmati dari pada bentuk, komposisi ornamen dan warna yang dihasilkan serta dari kecermatan, ketelitian dan penjiwaan dalam proses pembuatannya. Secara makna keindahan batik dapat dilihat dari cerminan kearifan budaya pada masanya. Sebagai salah satu produk warisan budaya, penelusuran tentang sejarah, makna dari batik baik yang secara lisan dituturkan turun temurun maupun secara tertulis sangat menarik untuk dilakukan, dipelajari dan dilestarikan.
Dalam rangka memberikan pengetahuan tentang batik bagi masyarakat umum sebagai bagian dari upaya pelestarian batik, pada 12 juni-17 juni 2010 lalu paguyupan pecinta batik ‘Sekar jagad’ menyelenggarakan pameran batik beretajuk “Batik Riwayatmu Doeloe, Kini dan Esok” di Taman Budaya Yogyakarta.
Dalam pameran tersebut selain dipajang berbagai motif batik, juga disajikan batik-batik yang digunakan dalam rangkaian daur kehidupan manusia mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh, menikah hingga mati.
Batik dalam Upacara Mitoni
Disaat usia kehamilan pertama seorang ibu sudah berusia tujuh bulan, diadakan upacara mitoni dengan harapan agar sang bayi nantinya lahir dengan selamat, lancar dan dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia yang baik, berbudi luhur dan bertakwa kepada Tuhan YME, bermanfaat bagi sesama dan alam lingkungannya. batik yang digunakan dalam acara mitoni antara lain batik sidomukti, sida asih, sida luhur, sida mulya, sida dadi, babon angrem/babon ngubluk, wakyu tumurun, naga sari, grompol dan semen rama.
Batik untuk Kopohan, Gendongan, Emban-emban
Kopohan berasal dari kata kopoh yang berarti basah kuyub. batik dalam kopohan digunakan sebagak alas saat bayi lahir dari rahim ibunya. dikemudian hari, bila anak sakit atau rewel, kain tersebut digunakan untuk menggendong dengan harapan agar sehat kembali. motof kain kopohan antara lain kawung, parang, truntum dan cakar. Sedangkan untuk menggendong placenta yang sudah diletakkan dalam kendhil sebelum dikubur atau dilarung menggunakan batik motif parang rusak (lingkungan keraton), sida mukti, semen rama, sida luhur, dan wahyu tumurun. Batik untuk emban-emban atau menggendong bayi antara lain bermotif kawung, truntum, parang, semen sawat manah, sisik buntal, panji puro atau slimun.
Batik untuk acara tetesan, taraban dan Khitan
Tetesan (khitan untuk anak perempuan) dan khitan menggunakan batik bermotif kecil dan melambangkan kesegaran dan harapan menjadi orang yang berkepribadian baik, bahagia antara lain parang pamor dan parangkusumo. Untuk upacara taraban (pertama kali mendapatkan haid) setelah gadis melakukan siraman, mengenakan batik motif parang cantel atau parang kusuma.
Perkawinan
Acara perkawinan dimulai dengana cara melamar yang dilakukan oleh keluarga laki-laki mengenakan motif parang, lambang ketajaman rasa dan pikir. semen latar putih lambang kebaikan dan batik bermotif ceplok. setelah lamaran diterima dilakukan peningsetan sebagai tanda ikatan suami istri digunakan batik motif satriya manah untuk laki-laki dan semen rante untuk perempuan. sehari sebelum pernikahan diadakan upacara siraman dan malamnya midodareni . pada saat siraman digunakan batik motif wahyu tumurun, cakar , grompol. Sedangkan pada midodareni digunakan batik dengan motif semen rama, satria wibawa, truntum, wahyu tumurun. pada acara akad nikah dan panggih dikenakan batik dengan motif sida mulya, sidamukti, sida luhur, sida asih, bouket.
Batik dalam kematian.
ketika seorang jawa meninggal, sebelum dimakamkan, jenazah dilurupi/ditutup menggunakan batik kesayangan almarhum atau motif kawung (simbol balik ke alam suwung=kembali ke alam kesunyian) atau slobog ( dari kata lobok atau longgar) dengan harapan orang yang meninggal mempunyai kelapangan dan tidak menemui halangan ketika menghadap Sang Khalik.
Setelah mempelajari sedikit tentang batik dalam kehidupan manusia, rasanya tak heran bila batik menjadi warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. tetepi seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, saat ini disamping batik tulis yang memang dibuat dengan tangan (hand made) berkembang pula batik cap dan batik printing. Menurut Guide yang saya temui selama pameran batik mengatakan batik yang diakui oleh Unesco adalah batik Tulis dan Batik Cap, apabila dikemudian hari batik tulis tidak dilestarikan dan digantikan dengan tekstil potif batik yang dibuat melalui printing, maka bukan tidak mungkin pengukuhan UNESCO akan dicabut. Untuk itu dituntut kejelian pemakai batik, jangan sembarang memakai batik, tetapi usahakan menggunakan batik tulis atau minimal menggunakan batik cap. untuk membedakannya, batik tulis mempunyai goresan halus, bila dilihat mempunyai kedalaman makna dan kadang dibuat tidak bolak balik, sedangkan batik printing, meskipun sulit dibedakan, tetapi goresannya kaku dan gambarnya tidak mempunyai kedalaman makna.
Makna Motif Batik
Batik merupakan bagian dari budaya negara kita tercinta, Indonesia. Nah, batik memiliki banyak motif yang melambangkan hal-hal tertentu. Disini akan dijelaskan beberapa motif batik beserta maknanya.
1. Motif Udan Riris.
Mengandung makna ketabahan dan harus tahan menjalani hidup prihatin biarpun dilanda hujan dan panas. Contoh: Orang hidup berumah tangga, apalagi bagi pengantin baru, harus berani dan mau hidup prihatin ketika banyak halangan dan cobaan, ibaratnya tertimpa hujan dan panas, tidak boleh mudah mengeluh. Segala halangan dan rintangan itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama. Suami atau istri merupakan bagian hidup di dalam rumah tangga. Jika salah satu menghadapi masalah maka pasangannya harus ikut membantu menyelesaikan, bukan sebaliknya justru menambahi masalah. Misalkan, apabila suami sedang mendapat cobaan tergoda oleh wanita lain, maka sang istri harus bisa bijak mencari solusi dan mencari permasalahan. Begitu pula sebaliknya jika sang istri mendapat godaan dari pria lain, tentu suami harus bersikap arif tanpa harus menaruh curiga yang berlebihan sebelum ditemukan bukti.
2. Motif Parangkusuma.
Mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusuma). Contoh: Bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama dicari adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin. Walaupun sulit untuk direalisasikan, namun umumnya orang Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir batin. Apalagi di zaman yang serba terbuka sekarang ini, sungguh sulit untuk mencapai ke tingkat hidup seperti yang diharapkan, karena banyak godaan. Di zaman materialistis ini, orang lebih cenderung mencari nama harum dengan cara membeli dengan uang yang dimiliki, bukan dari tingkah laku dan pribadi yang baik.
3. Motif Parikesit.
Mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan harus dilandasi dengan usaha keras dan gesit. Tentu usaha keras dan gesit itu tanpa harus meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bukan sebaliknya usaha keras dan gesit dengan cara kotor, pasti akan sangat dihindari. Sebab dampak yang ditimbulkan akan sangat berat dan yang jelas pasti akan menjadi bumerang bagi diri-sendiri. Dengan usaha keras dan gesit itulah diharapkan bisa membangun keluarga inti yang sejahtera lahir dan batin.
4. Motif Kawung.
Mengandung makna bahwa keinginan dan usaha yang keras akan selalu membuahkan hasil, seperti rejekinya berlipat ganda. Sudah hukum karma, bahwa orang yang bekerja keras pasti akan menuai hasil, walaupun kadang harus memakan waktu yang lama. Contoh: seorang petani yang bekerja giat di sawah, jika tidak ada hama yang mengganggu, tentu dia akan memanen hasil padi yang berlipat di kemudian hari. Namun sayang, budaya kerja keras untuk menuai hasil maksimal tidak dilakukan oleh semua orang. Apalagi di zaman sekarang, di mana inginnya serba instan, orang ingin cepat kaya tanpa harus bekerja keras. Ingin cepat kaya dengan cara korupsi, merampok, menipu, dan segala tindakan cela lainnya. Kebiasaan untuk bekerja keras untuk menuai hasil yang maksimal sudah sering diajarkan oleh nenek moyang kita orang Jawa sejak dulu. Kerja keras untuk menghasilkan rejeki berlipat akan lebih bermakna jika dibarengi dengan sikap hemat, teliti, cermat, dan tidak boros.
5. Motif Truntum.
Mengandung makna tumbuh dan berkembang. Demikianlah, orang Jawa selalu mendambakan bagi setiap keluarga baru supaya segera mempunyai keturunan yang akan dapat menggantikan generasi sebelumnya. Generasi baru itulah yang akan menjadi tumpuan setiap keluarga baru yang baru menikah untuk meneruskan segala harapan dan cita-cita keluarga sekaligus sebagai generasi penerus secara biologis yang mewarisi sifat-sifat keturunan dari sebuah keluarga baru. Harapan itu selalu muncul saat keluarga baru terbentuk. Ungkapan-ungkapan seperti segera mendapatkan keturunan yang solih dan solihah, berguna bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara sering terdengar saat ada upacara pernikahan. Sebab memang dari keluarga baru itulah diharapkan akan berkembang keluarga-keluarga baru lainnya. Sementara sumber lain mengatakan bahwa motif truntum ini awal mulanya diciptakan oleh kerabat kerajaan Surakarta yang sedang sedih hatinya karena merasa diabaikan oleh raja. Di tengah kesendirian itulah ia melihat di langit di tengah malam banyak bintang gemerlap menemani dirinya dalam kesepian. Insipirasi itulah yang ditangkap dan dituangkan dalam motif batik.
6. Motif Sidaluhur.
Mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Keluhuran materi yang diperoleh dengan cara yang benar, halal, dan sah tanpa melakukan kecurangan atau perbuatan yang tercela seperti korupsi, merampok, mencuri, dan sebagainya. Sebab walaupun secara materi merasa cukup atau bahkan berlebihan, namun jika harta materi itu diperoleh secara tidak benar, tidak halal, itu tidak bisa dikatakan bisa mencapai keluhuran secara materi. Keluhuran materi akan lebih bermakna lagi apabila harta yang dimiliki itu bermanfaat bagi orang lain dan bisa diberikan dalam berbagai bentuk seperti sumbangan, donasi, hibah, dan sebagainya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain, atau perkataannya sangat bermanfaat kepada orang lain tentu itu akan lebih baik daripada perkataannya tidak bisa dipegang orang lain dan tidak dipercaya orang lain. Orang yang sudah bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
7. Motif Sidamukti.
Mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat. Orang hidup di dunia adalah mencari kemakmuran dan ketentraman lahir dan batin. Untuk mencapai kemakmuran dan ketentraman itu niscaya akan tercapai jika tanpa usaha dan kerja keras, keluhuran budi, ucapan, dan tindakan. Namun untuk mencapai itu semua tentu tidaklah mudah. Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan, menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya, agar dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat Jawa dan tentu juga secara universal.
8. Motif Megamendung
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan.
9. Parang Barong
Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri
1. Motif Udan Riris.
Mengandung makna ketabahan dan harus tahan menjalani hidup prihatin biarpun dilanda hujan dan panas. Contoh: Orang hidup berumah tangga, apalagi bagi pengantin baru, harus berani dan mau hidup prihatin ketika banyak halangan dan cobaan, ibaratnya tertimpa hujan dan panas, tidak boleh mudah mengeluh. Segala halangan dan rintangan itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan bersama-sama. Suami atau istri merupakan bagian hidup di dalam rumah tangga. Jika salah satu menghadapi masalah maka pasangannya harus ikut membantu menyelesaikan, bukan sebaliknya justru menambahi masalah. Misalkan, apabila suami sedang mendapat cobaan tergoda oleh wanita lain, maka sang istri harus bisa bijak mencari solusi dan mencari permasalahan. Begitu pula sebaliknya jika sang istri mendapat godaan dari pria lain, tentu suami harus bersikap arif tanpa harus menaruh curiga yang berlebihan sebelum ditemukan bukti.
2. Motif Parangkusuma.
Mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusuma). Contoh: Bagi orang Jawa, hidup di masyarakat yang paling utama dicari adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin. Walaupun sulit untuk direalisasikan, namun umumnya orang Jawa berharap bisa menemukan hidup yang sempurna lahir batin. Apalagi di zaman yang serba terbuka sekarang ini, sungguh sulit untuk mencapai ke tingkat hidup seperti yang diharapkan, karena banyak godaan. Di zaman materialistis ini, orang lebih cenderung mencari nama harum dengan cara membeli dengan uang yang dimiliki, bukan dari tingkah laku dan pribadi yang baik.
3. Motif Parikesit.
Mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan harus dilandasi dengan usaha keras dan gesit. Tentu usaha keras dan gesit itu tanpa harus meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bukan sebaliknya usaha keras dan gesit dengan cara kotor, pasti akan sangat dihindari. Sebab dampak yang ditimbulkan akan sangat berat dan yang jelas pasti akan menjadi bumerang bagi diri-sendiri. Dengan usaha keras dan gesit itulah diharapkan bisa membangun keluarga inti yang sejahtera lahir dan batin.
4. Motif Kawung.
Mengandung makna bahwa keinginan dan usaha yang keras akan selalu membuahkan hasil, seperti rejekinya berlipat ganda. Sudah hukum karma, bahwa orang yang bekerja keras pasti akan menuai hasil, walaupun kadang harus memakan waktu yang lama. Contoh: seorang petani yang bekerja giat di sawah, jika tidak ada hama yang mengganggu, tentu dia akan memanen hasil padi yang berlipat di kemudian hari. Namun sayang, budaya kerja keras untuk menuai hasil maksimal tidak dilakukan oleh semua orang. Apalagi di zaman sekarang, di mana inginnya serba instan, orang ingin cepat kaya tanpa harus bekerja keras. Ingin cepat kaya dengan cara korupsi, merampok, menipu, dan segala tindakan cela lainnya. Kebiasaan untuk bekerja keras untuk menuai hasil yang maksimal sudah sering diajarkan oleh nenek moyang kita orang Jawa sejak dulu. Kerja keras untuk menghasilkan rejeki berlipat akan lebih bermakna jika dibarengi dengan sikap hemat, teliti, cermat, dan tidak boros.
5. Motif Truntum.
Mengandung makna tumbuh dan berkembang. Demikianlah, orang Jawa selalu mendambakan bagi setiap keluarga baru supaya segera mempunyai keturunan yang akan dapat menggantikan generasi sebelumnya. Generasi baru itulah yang akan menjadi tumpuan setiap keluarga baru yang baru menikah untuk meneruskan segala harapan dan cita-cita keluarga sekaligus sebagai generasi penerus secara biologis yang mewarisi sifat-sifat keturunan dari sebuah keluarga baru. Harapan itu selalu muncul saat keluarga baru terbentuk. Ungkapan-ungkapan seperti segera mendapatkan keturunan yang solih dan solihah, berguna bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara sering terdengar saat ada upacara pernikahan. Sebab memang dari keluarga baru itulah diharapkan akan berkembang keluarga-keluarga baru lainnya. Sementara sumber lain mengatakan bahwa motif truntum ini awal mulanya diciptakan oleh kerabat kerajaan Surakarta yang sedang sedih hatinya karena merasa diabaikan oleh raja. Di tengah kesendirian itulah ia melihat di langit di tengah malam banyak bintang gemerlap menemani dirinya dalam kesepian. Insipirasi itulah yang ditangkap dan dituangkan dalam motif batik.
6. Motif Sidaluhur.
Mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Keluhuran materi yang diperoleh dengan cara yang benar, halal, dan sah tanpa melakukan kecurangan atau perbuatan yang tercela seperti korupsi, merampok, mencuri, dan sebagainya. Sebab walaupun secara materi merasa cukup atau bahkan berlebihan, namun jika harta materi itu diperoleh secara tidak benar, tidak halal, itu tidak bisa dikatakan bisa mencapai keluhuran secara materi. Keluhuran materi akan lebih bermakna lagi apabila harta yang dimiliki itu bermanfaat bagi orang lain dan bisa diberikan dalam berbagai bentuk seperti sumbangan, donasi, hibah, dan sebagainya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang yang bisa dipercaya oleh orang lain, atau perkataannya sangat bermanfaat kepada orang lain tentu itu akan lebih baik daripada perkataannya tidak bisa dipegang orang lain dan tidak dipercaya orang lain. Orang yang sudah bisa dipercaya oleh orang lain adalah suatu bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
7. Motif Sidamukti.
Mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat. Orang hidup di dunia adalah mencari kemakmuran dan ketentraman lahir dan batin. Untuk mencapai kemakmuran dan ketentraman itu niscaya akan tercapai jika tanpa usaha dan kerja keras, keluhuran budi, ucapan, dan tindakan. Namun untuk mencapai itu semua tentu tidaklah mudah. Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan, menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya, agar dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat Jawa dan tentu juga secara universal.
8. Motif Megamendung
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan.
9. Parang Barong
Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi. Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri
Rabu, 19 Desember 2012
Dandan Pakai Batik, Semenit Jadi
Siapa bilang pakai batik ribet dan makan waktu? Dengan cara tepat, memakai kain batik bisa dilakukan dalam waktu satu menit. Enny Sukamto membuktikannya dalam talkshow bertajuk "Woman and Drapery Batik" di Living World Alam Sutera, Serpong.
Mantan model yang kini berusia 57 tahun itu memeragakan cara mengenakan kain baik sebagai bawahan tanpa perlu menjahitnya menjadi rok ataupun celana. "Yang pasti, setiap batik memiliki corak tersendiri sehingga cara pemakaiannya pun berbeda-beda," kata Enny, yang ditemani oleh Anya Dwinov sebagai pemandu acara. "Yang penting jangan dipotong atau dipotong miring biar badannya enggak kelihatan pendek," tambahnya.
Untuk menyiasati bentuk tubuh yang kurang ramping, penggunaan batik dapat dilakukan dengan memanfaatkan tali atau pita untuk menyambung ujung-ujung kain. "Supaya bagian perutnya tidak kelihatan besar, bagian depan dilipat ke dalam dan lurus ke bawah," kata Enny, seraya menyarankan untuk tidak memakai peniti karena akan merusak kain batik.
Dalam satu kain batik, biasanya pola yang digunakan sama. Ada juga yang memiliki tumpal atau corak yang berbeda dari pola seragam pada kain batik tersebut. Tumpal ini bisa ditaruh di depan atau di samping dengan hiasan ploi. Ujung kainnya bisa diikat dengan karet, lalu ikatan ini dibentuk menyerupai kembang mawar.
"Begini saja enggak bakal melorot. Dandan semenit selesai," katanya.
Kain batik sebagai busana bawahan ini dapat dipasangkan dengan beragam baju atasan. Enny menyarankan agar perempuan tidak ragu mengenakan blus, t-shirt, atau tank top, untuk bagian atas. Bagi wanita berbadan besar, sebaiknya menggunakan atasan yang menutup perut dan pinggang. Jika kain batik yang digunakan kain panjang, Anda dapat pula menjadikannya gaun terusan. Dengan kain sepanjang 3 meter, misalnya, Anda dapat membuat tiga hingga lima model gaun terusan yang cantik tanpa memotong dan menjahitnya.
Mantan model yang kini berusia 57 tahun itu memeragakan cara mengenakan kain baik sebagai bawahan tanpa perlu menjahitnya menjadi rok ataupun celana. "Yang pasti, setiap batik memiliki corak tersendiri sehingga cara pemakaiannya pun berbeda-beda," kata Enny, yang ditemani oleh Anya Dwinov sebagai pemandu acara. "Yang penting jangan dipotong atau dipotong miring biar badannya enggak kelihatan pendek," tambahnya.
Untuk menyiasati bentuk tubuh yang kurang ramping, penggunaan batik dapat dilakukan dengan memanfaatkan tali atau pita untuk menyambung ujung-ujung kain. "Supaya bagian perutnya tidak kelihatan besar, bagian depan dilipat ke dalam dan lurus ke bawah," kata Enny, seraya menyarankan untuk tidak memakai peniti karena akan merusak kain batik.
Dalam satu kain batik, biasanya pola yang digunakan sama. Ada juga yang memiliki tumpal atau corak yang berbeda dari pola seragam pada kain batik tersebut. Tumpal ini bisa ditaruh di depan atau di samping dengan hiasan ploi. Ujung kainnya bisa diikat dengan karet, lalu ikatan ini dibentuk menyerupai kembang mawar.
"Begini saja enggak bakal melorot. Dandan semenit selesai," katanya.
Kain batik sebagai busana bawahan ini dapat dipasangkan dengan beragam baju atasan. Enny menyarankan agar perempuan tidak ragu mengenakan blus, t-shirt, atau tank top, untuk bagian atas. Bagi wanita berbadan besar, sebaiknya menggunakan atasan yang menutup perut dan pinggang. Jika kain batik yang digunakan kain panjang, Anda dapat pula menjadikannya gaun terusan. Dengan kain sepanjang 3 meter, misalnya, Anda dapat membuat tiga hingga lima model gaun terusan yang cantik tanpa memotong dan menjahitnya.
Jumat, 16 November 2012
Batik Cahyo, Sangat Halus dan Genit
ulukan sebagai Kota Batik untuk Pekalongan memang segera terasa ketika memasuki kota ini. Hampir di setiap jalan ada rumah atau toko yang memajang papan nama pemilik rumah batik. Banyak dari rumah batik tersebut yang hanya berupa bangunan sederhana dengan pintu dan jendela yang sudah usang. Namun siapa yang menyangka, di dalam rumah-rumah tersebut mengalir helai demi helai kain batik yang bernilai budaya yang tinggi.
Di salah satu rumah yang rimbun ditumbuhi ilalang, di Desa Setono, Pekalongan, juga tengah berlangsung kegiatan membatik. Sekitar 50 pembatik terlibat dalam pembuatan batik, dari proses membuat pola, melekatkan malam dengan canting ke pola batik di kain, hingga menghilangkan lapisan malam tersebut. Mereka inilah yang menghasilkan kain-kain batik dengan merek Cahyo.
Rumah Batik Cahyo, merupakan salah satu produsen batik paling populer di kota ini. Pemiliknya, Nur Cahyo, mewarisi bisnis batik ini dari ayahnya. Ia tidak sekadar menjual atau mendistribusikan batik, tetapi juga menguasai seluk-beluk pembuatan batik.
Pria 45 tahun ini sudah akrab dengan kehidupan membatik sejak lulus SMP. Kegiatan pembatik memindahkan pola dari kertas ke kain, ngiseni, ngelir, sudah menjadi pemandangannya sehari-hari. Namun, waktu itu membatik bagi Cahyo hanya sebatas iseng. Boleh dibilang, ia tak pernah memelajari pembuatan batik secara khusus. "Kursus" membatik itu diserapnya hanya dengan mengamati kegiatan ayahnya selama bertahun-tahun.
"Memang, ayah kadang-kadang meminta saya membantunya. Tetapi saya tidak pernah menyadari bahwa itu cara ayah saya mengajarkan batik pada anaknya," tutur Cahyo, saat menemani wartawan yang berkunjung ke rumah batiknya di Pekalongan.
Setelah sang ayah tiada, Cahyo baru berkonsentrasi penuh untuk mengelola bisnis batik pada tahun 1995. Sambil meneruskan bisnis, ia terus mengembangkan kemampuannya membatik, misalnya menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami. Meskipun pewarna alami ini sudah tersedia di pasaran dalam bentuk bubuk, tetapi Cahyo lebih banyak menyeduh sendiri cacahan kayu dari pohon secang, mahoni, tingi, tegeran, jalawe, hingga jambal.
Ada berbagai macam jenis batik dari segi pembuatannya, seperti batik cap, batik tulis, atau batik printing. Dalam proses pewarnaannya, ada yang memakai bahan pewarna alami, ada pula yang menggunakan pewarna kimia. Cahyo sendiri memproduksi batik jenis tulis dan cap, dan banyak memodifikasi teknik pembuatannya. Misalnya batik tulis, tetapi proses pewarnaannya menggunakan bahan kimia.
Batik buatannya, seperti umumnya batik Pekalongan, banyak mendapat pengaruh China dan Arab. Motif khasnya flora dan fauna, dengan kombinasi motif geometris yang tersusun dari garis-garis kotak atau titik yang putus-putus, dan warna yang cenderung cerah.
Hasil karya Cahyo antara lain bisa Anda temukan di koleksi Batik Adiningrat dan Batik Margaria di Malioboro, Yogyakarta. Namun Anda bisa saja menemukan hasil karya Cahyo di Batik Semar, Batik Keris, dan Batik Danarhadi, karena ia juga menerima pesanan dari merek tersebut. Kalau Anda sedang mengunjungi pameran kerajinan seperti Inacraft, Batik Cahyo juga mudah ditemukan. Bahkan melalui berbagai pameran ini Cahyo "ditemukan" oleh desainer Edward Hutabarat, yang kemudian bekerjasama untuk memproduksi batik tulis berkualitas tinggi.
"Batiknya mas Cahyo itu boleh dibilang batik terhalus di kota ini. Bukan cuma dari batikannya, tetapi juga dari ritme, gelombang batiknya, yang sangat genit, sangat wanita," tutur Edward, yang berkolaborasi dengan PT Kao Indonesia untuk mengampanyekan "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
Kain batik yang disebut sangat halus bisa dilihat dari motif tanahan-nya. Tanahan adalah latar belakang kain yang tak cuma berisi warna, tetapi juga guratan-guratan kecil yang menutupi seluruh bidang kain. Jelas dibutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra dalam mengisi pola tanahan. Belum lagi membuat motif cecekan, atau titik putus-putus pada tepian gambar.
"Kalau dari mas Edo, saya banyak belajar mengenai lay out, atau penataan letak gambar-gambar batik," ungkap Cahyo. Selain itu juga pemilihan warna pada obyek bunga-bungaan.
Batik Cahyo banyak digemari pelanggan dari Jepang. Mereka ini mengetahui produk batiknya dari pameran, dari mulut ke mulut, atau dari informasi pembatik lain. "Kalau sedang pameran, lalu ada tamu yang ingin mencari batik dengan ciri khas tertentu, pembatik biasanya akan memberitahu, 'Oh, itu lho, cari batiknya Cahyo saja!'" katanya.
Berkat batik dan relasinya yang cukup luas, Cahyo juga sering diundang mengikuti pameran di luar negeri. Di Jepang, setidaknya ia sudah mengadakan pameran empat kali. Dari pameran semacam ini Cahyo banyak memperoleh buyer, baik yang untuk dipakai sendiri maupun dijual lagi.
Ia senang jika calon pembeli batiknya ingin tahu proses yang jelimet di balik pembuatan batik tersebut. Pelanggan tetapnya di Jepang, tak ragu berkunjung ke tempat workshop-nya untuk menyaksikan pembuatan batiknya. Mereka ingin membuktikan sendiri bahwa batik tulis tersebut benar-benar dikerjakan melalui ketrampilan tangan pembuatnya. Mereka tak hanya melihat motifnya, tetapi juga meraba dan merasakan teksturnya.
"Mungkin karena orang Jepang lebih menghargai seni, ya. Jadi mereka lebih ingin tahu proses di baliknya," seru Cahyo. "Mereka juga lebih suka dengan proses dan penggunaan bahan yang natural."
Bagi Cahyo, menjelaskan proses pembuatan batik pada konsumen ini juga merupakan salah satu tahap yang penting. Pengguna batik harus tahu lika-liku dan segenap kesulitan yang dihadapi pembatik, agar lebih mampu menghargai buah tangan mereka. Meskipun batik tersebut menggunakan kain dari sutera, batikan, motif, dan lay out-nya menawan, bila pebisnis batik tidak mampu membuat pelanggannya mengerti nilai-nilai di balik pembuatan batik tersebut, segalanya menjadi percuma.
Di salah satu rumah yang rimbun ditumbuhi ilalang, di Desa Setono, Pekalongan, juga tengah berlangsung kegiatan membatik. Sekitar 50 pembatik terlibat dalam pembuatan batik, dari proses membuat pola, melekatkan malam dengan canting ke pola batik di kain, hingga menghilangkan lapisan malam tersebut. Mereka inilah yang menghasilkan kain-kain batik dengan merek Cahyo.
Rumah Batik Cahyo, merupakan salah satu produsen batik paling populer di kota ini. Pemiliknya, Nur Cahyo, mewarisi bisnis batik ini dari ayahnya. Ia tidak sekadar menjual atau mendistribusikan batik, tetapi juga menguasai seluk-beluk pembuatan batik.
Pria 45 tahun ini sudah akrab dengan kehidupan membatik sejak lulus SMP. Kegiatan pembatik memindahkan pola dari kertas ke kain, ngiseni, ngelir, sudah menjadi pemandangannya sehari-hari. Namun, waktu itu membatik bagi Cahyo hanya sebatas iseng. Boleh dibilang, ia tak pernah memelajari pembuatan batik secara khusus. "Kursus" membatik itu diserapnya hanya dengan mengamati kegiatan ayahnya selama bertahun-tahun.
"Memang, ayah kadang-kadang meminta saya membantunya. Tetapi saya tidak pernah menyadari bahwa itu cara ayah saya mengajarkan batik pada anaknya," tutur Cahyo, saat menemani wartawan yang berkunjung ke rumah batiknya di Pekalongan.
Setelah sang ayah tiada, Cahyo baru berkonsentrasi penuh untuk mengelola bisnis batik pada tahun 1995. Sambil meneruskan bisnis, ia terus mengembangkan kemampuannya membatik, misalnya menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami. Meskipun pewarna alami ini sudah tersedia di pasaran dalam bentuk bubuk, tetapi Cahyo lebih banyak menyeduh sendiri cacahan kayu dari pohon secang, mahoni, tingi, tegeran, jalawe, hingga jambal.
Ada berbagai macam jenis batik dari segi pembuatannya, seperti batik cap, batik tulis, atau batik printing. Dalam proses pewarnaannya, ada yang memakai bahan pewarna alami, ada pula yang menggunakan pewarna kimia. Cahyo sendiri memproduksi batik jenis tulis dan cap, dan banyak memodifikasi teknik pembuatannya. Misalnya batik tulis, tetapi proses pewarnaannya menggunakan bahan kimia.
Batik buatannya, seperti umumnya batik Pekalongan, banyak mendapat pengaruh China dan Arab. Motif khasnya flora dan fauna, dengan kombinasi motif geometris yang tersusun dari garis-garis kotak atau titik yang putus-putus, dan warna yang cenderung cerah.
Hasil karya Cahyo antara lain bisa Anda temukan di koleksi Batik Adiningrat dan Batik Margaria di Malioboro, Yogyakarta. Namun Anda bisa saja menemukan hasil karya Cahyo di Batik Semar, Batik Keris, dan Batik Danarhadi, karena ia juga menerima pesanan dari merek tersebut. Kalau Anda sedang mengunjungi pameran kerajinan seperti Inacraft, Batik Cahyo juga mudah ditemukan. Bahkan melalui berbagai pameran ini Cahyo "ditemukan" oleh desainer Edward Hutabarat, yang kemudian bekerjasama untuk memproduksi batik tulis berkualitas tinggi.
"Batiknya mas Cahyo itu boleh dibilang batik terhalus di kota ini. Bukan cuma dari batikannya, tetapi juga dari ritme, gelombang batiknya, yang sangat genit, sangat wanita," tutur Edward, yang berkolaborasi dengan PT Kao Indonesia untuk mengampanyekan "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
Kain batik yang disebut sangat halus bisa dilihat dari motif tanahan-nya. Tanahan adalah latar belakang kain yang tak cuma berisi warna, tetapi juga guratan-guratan kecil yang menutupi seluruh bidang kain. Jelas dibutuhkan kesabaran dan ketelitian ekstra dalam mengisi pola tanahan. Belum lagi membuat motif cecekan, atau titik putus-putus pada tepian gambar.
"Kalau dari mas Edo, saya banyak belajar mengenai lay out, atau penataan letak gambar-gambar batik," ungkap Cahyo. Selain itu juga pemilihan warna pada obyek bunga-bungaan.
Batik Cahyo banyak digemari pelanggan dari Jepang. Mereka ini mengetahui produk batiknya dari pameran, dari mulut ke mulut, atau dari informasi pembatik lain. "Kalau sedang pameran, lalu ada tamu yang ingin mencari batik dengan ciri khas tertentu, pembatik biasanya akan memberitahu, 'Oh, itu lho, cari batiknya Cahyo saja!'" katanya.
Berkat batik dan relasinya yang cukup luas, Cahyo juga sering diundang mengikuti pameran di luar negeri. Di Jepang, setidaknya ia sudah mengadakan pameran empat kali. Dari pameran semacam ini Cahyo banyak memperoleh buyer, baik yang untuk dipakai sendiri maupun dijual lagi.
Ia senang jika calon pembeli batiknya ingin tahu proses yang jelimet di balik pembuatan batik tersebut. Pelanggan tetapnya di Jepang, tak ragu berkunjung ke tempat workshop-nya untuk menyaksikan pembuatan batiknya. Mereka ingin membuktikan sendiri bahwa batik tulis tersebut benar-benar dikerjakan melalui ketrampilan tangan pembuatnya. Mereka tak hanya melihat motifnya, tetapi juga meraba dan merasakan teksturnya.
"Mungkin karena orang Jepang lebih menghargai seni, ya. Jadi mereka lebih ingin tahu proses di baliknya," seru Cahyo. "Mereka juga lebih suka dengan proses dan penggunaan bahan yang natural."
Bagi Cahyo, menjelaskan proses pembuatan batik pada konsumen ini juga merupakan salah satu tahap yang penting. Pengguna batik harus tahu lika-liku dan segenap kesulitan yang dihadapi pembatik, agar lebih mampu menghargai buah tangan mereka. Meskipun batik tersebut menggunakan kain dari sutera, batikan, motif, dan lay out-nya menawan, bila pebisnis batik tidak mampu membuat pelanggannya mengerti nilai-nilai di balik pembuatan batik tersebut, segalanya menjadi percuma.
Jumat, 19 Oktober 2012
Upah Pembatik Tak Setara Hasil Karyanya
Maulvia (20) tersenyum cerah. Hari itu adalah hari gajiannya. Setelah mengantongi Rp 105.000 sebagai upahnya membatik selama enam hari, perempuan yang akrab disapa Mia ini juga menerima tas bingkisan dari PT Kao Indonesia. Isi tas itu macam-macam, dari sabun, shampo, pembalut, hingga cairan pencuci batik.
Mia adalah salah satu pembatik di Rumah Batik Cahyo di Desa Setono, Pekalongan, yang antara lain membuat batik pesanan dari Edward Hutabarat. Desainer ini banyak melakukan perjalanan eksplorasi ke kota-kota batik atas biaya PT Kao Indonesia, sebagai bagian dari kampanye "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
Tak banyak perempuan muda yang masih bersedia menggeluti dunia batik seperti Mia. Mereka bukannya sama sekali tak paham tentang batik, karena kesibukan membatik sudah biasa terlihat di tiap-tiap rumah tangga. Namun membatik memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh ketelitian, kesabaran, dan ketahanan fisik untuk menciptakan sehelai kain batik tulis. Bayangkan, mereka harus duduk selama 8-12 jam sehari, tanpa bersandar.
Selain itu, upah membatik juga kurang begitu menggembirakan. Mia, misalnya, setelah empat tahun membatik, upahnya Rp 17.500 per hari. Jumlah ini bisa naik seiring dengan meningkatnya kemampuannya membatik. Sedangkan di Rumah Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni menerima antara Rp 15.000, Rp 20.000, hingga Rp 25.000 per hari, tergantung kemampuannya.
"Dulu di kampung (sebelum bergabung di Batik Cahyo, RED), upah saya Rp 11.000," ujar Mia, yang saat ini bekerja mulai pukul 04.00 - 16.00.
Pembatik umumnya masih menerima tunjangan berupa uang makan dan THR. "Uang makannya Rp 2.500 per hari, tapi saya kumpulkan dulu, dan baru dibagikan bersamaan dengan pembagian THR. Soalnya mereka itu tidak bisa menabung," ujar Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie yang mempekerjakan sekitar 30 pembatik. Agar pembatik disiplin, Hien menerapkan aturan lain. "Mereka masuk mulai pukul 08.00 atau 08.30. Di atas jam itu, uang makan tidak diberikan."
Sulitnya regenerasi
Oleh karena itu, meskipun batik kini terangkat lagi pamornya, daya tarik sebagai pembatik -dalam hal ini batik tulis- tak otomatis terangkat. Apalagi, kota Pekalongan kini sudah makin berkembang. Mini market-mini market bermunculan di segala penjuru jalan, menawarkan lapangan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Nur Cahyo, pemilik Batik Cahyo, memahami betul hal ini.
"Orang Pekalongan cinta batik, tapi juga butuh nafkah. Bagi mereka, kalau tidak bertahan jadi pembatik, lebih baik kerja di mini market," katanya.
Situasi ini bertambah sulit karena perempuan umumnya juga terjebak dalam siklus hidup yang sama. Begitu mereka menikah, lalu hamil, banyak di antara mereka yang memutuskan berhenti membatik. "Akhirnya harus regenerasi lagi, cari pembatik yang lain, entah teman-teman atau saudara-saudaranya," papar Cahyo.
Demi mempertahankan kelestarian batik dan kesejahteraan para pembatiknya, bapak dua anak ini berusaha menjaga hubungan yang baik dengan para pembatiknya. Ia sadar, batik adalah suatu kerja tim, sehingga tidak ada satu pihak yang lebih berperan daripada yang lain. "Batik itu kayak main layangan, harus tarik-ulur. Sifatnya ngemong. Kita butuh satu sama lain. Jadi saat memperlakukan pembatik, saya tidak bisa terlalu keras, juga tidak terlalu lunak."
Dusun Pegandon, Desa Pegandon Kidul, Karang Dadap, Pekalongan timur, yang dulu menghasilkan banyak pembatik andal, kini juga kesulitan meregenerasi. Dusun ini hanya menyisakan pembatik yang kini sudah mulai renta. Mereka bekerja sendiri-sendiri atau berkelompok, di rumah-rumah yang sempit berlantai tanah dan umumnya tanpa pembatas ruang. Penerangan pun hanya mengandalkan cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding atau jendela.
Para perempuan ini umumnya tak tahu pasti berapa usianya. Saripi, Jasnoah, Wasni, dan Wasmi, misalnya, rata-rata merasa umurnya sudah 70-an tahun. Untuk membatik, mereka mendapat modal berupa kain mori atau cairan malam dari pengepul seperti Zakiah (45). Pengepul adalah orang yang akan mengumpulkan kain-kain batik yang sudah jadi, dan menjualnya ke buyer. Namun, untuk proses melorod atau mewarnai, pembatik menyerahkannya ke pengepul dengan dikenai biaya Rp 60.000 - Rp 70.000, tergantung warnanya.
Mereka mengaku, upah mereka hanya sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per hari. Namun ketika kami menanyakan siapa yang memberi mereka upah, tak seorang pun mampu menjawab. Cahyo menduga, angka tersebut hanya perkiraan para pembatik dari penghasilan yang mereka dapatkan dari pengepul. Jadi, jika sehelai kain batik halus sudah jadi, pengepul membelinya dengan harga sekitar Rp 300.000 (kain ini lalu dijual Zakiah seharga Rp 600.000 - Rp 1 juta).
Para pembatik ini memang hanya paham soal membatik. Mereka tidak tahu bagaimana jalur distribusi atau bisnis batik itu sendiri. Repotnya, karena sudah terikat pada pengepul, mereka juga tak bisa menjual batik langsung kepada orang yang berminat.
Karena diri sendiri dan keluarga harus dinafkahi, sementara sehelai kain baru jadi setelah sekitar tiga bulan, beberapa pembatik berusaha mencari "side job". Jasnoah, misalnya, pagi hari berjualan jajanan untuk anak-anak yang tak seberapa jumlahnya. Sore, ia baru membatik. Barangkali ini bisa disebut sisi positifnya, dimana para pembatik di sini memang tidak terikat waktu dalam bekerja.
Dengan berbagai kesulitan yang dialami pembatik tersebut, sudah sepantasnya profesi pembatik ini lebih kita hargai. Mereka, termasuk Mia yang tergolong paling muda, tidak pernah menyesal menjadi pembatik. Perempuan lulusan SMP ini bertekat untuk terus membatik. "Saya tidak menyesal meninggalkan sekolah, karena ini sudah keputusan saya sendiri. Saya ingin bisa terus berkarya, bisa meneruskan batik Pekalongan," katanya lirih.
Mia adalah salah satu pembatik di Rumah Batik Cahyo di Desa Setono, Pekalongan, yang antara lain membuat batik pesanan dari Edward Hutabarat. Desainer ini banyak melakukan perjalanan eksplorasi ke kota-kota batik atas biaya PT Kao Indonesia, sebagai bagian dari kampanye "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar".
Tak banyak perempuan muda yang masih bersedia menggeluti dunia batik seperti Mia. Mereka bukannya sama sekali tak paham tentang batik, karena kesibukan membatik sudah biasa terlihat di tiap-tiap rumah tangga. Namun membatik memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh ketelitian, kesabaran, dan ketahanan fisik untuk menciptakan sehelai kain batik tulis. Bayangkan, mereka harus duduk selama 8-12 jam sehari, tanpa bersandar.
Selain itu, upah membatik juga kurang begitu menggembirakan. Mia, misalnya, setelah empat tahun membatik, upahnya Rp 17.500 per hari. Jumlah ini bisa naik seiring dengan meningkatnya kemampuannya membatik. Sedangkan di Rumah Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni menerima antara Rp 15.000, Rp 20.000, hingga Rp 25.000 per hari, tergantung kemampuannya.
"Dulu di kampung (sebelum bergabung di Batik Cahyo, RED), upah saya Rp 11.000," ujar Mia, yang saat ini bekerja mulai pukul 04.00 - 16.00.
Pembatik umumnya masih menerima tunjangan berupa uang makan dan THR. "Uang makannya Rp 2.500 per hari, tapi saya kumpulkan dulu, dan baru dibagikan bersamaan dengan pembagian THR. Soalnya mereka itu tidak bisa menabung," ujar Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie yang mempekerjakan sekitar 30 pembatik. Agar pembatik disiplin, Hien menerapkan aturan lain. "Mereka masuk mulai pukul 08.00 atau 08.30. Di atas jam itu, uang makan tidak diberikan."
Sulitnya regenerasi
Oleh karena itu, meskipun batik kini terangkat lagi pamornya, daya tarik sebagai pembatik -dalam hal ini batik tulis- tak otomatis terangkat. Apalagi, kota Pekalongan kini sudah makin berkembang. Mini market-mini market bermunculan di segala penjuru jalan, menawarkan lapangan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Nur Cahyo, pemilik Batik Cahyo, memahami betul hal ini.
"Orang Pekalongan cinta batik, tapi juga butuh nafkah. Bagi mereka, kalau tidak bertahan jadi pembatik, lebih baik kerja di mini market," katanya.
Situasi ini bertambah sulit karena perempuan umumnya juga terjebak dalam siklus hidup yang sama. Begitu mereka menikah, lalu hamil, banyak di antara mereka yang memutuskan berhenti membatik. "Akhirnya harus regenerasi lagi, cari pembatik yang lain, entah teman-teman atau saudara-saudaranya," papar Cahyo.
Demi mempertahankan kelestarian batik dan kesejahteraan para pembatiknya, bapak dua anak ini berusaha menjaga hubungan yang baik dengan para pembatiknya. Ia sadar, batik adalah suatu kerja tim, sehingga tidak ada satu pihak yang lebih berperan daripada yang lain. "Batik itu kayak main layangan, harus tarik-ulur. Sifatnya ngemong. Kita butuh satu sama lain. Jadi saat memperlakukan pembatik, saya tidak bisa terlalu keras, juga tidak terlalu lunak."
Dusun Pegandon, Desa Pegandon Kidul, Karang Dadap, Pekalongan timur, yang dulu menghasilkan banyak pembatik andal, kini juga kesulitan meregenerasi. Dusun ini hanya menyisakan pembatik yang kini sudah mulai renta. Mereka bekerja sendiri-sendiri atau berkelompok, di rumah-rumah yang sempit berlantai tanah dan umumnya tanpa pembatas ruang. Penerangan pun hanya mengandalkan cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding atau jendela.
Para perempuan ini umumnya tak tahu pasti berapa usianya. Saripi, Jasnoah, Wasni, dan Wasmi, misalnya, rata-rata merasa umurnya sudah 70-an tahun. Untuk membatik, mereka mendapat modal berupa kain mori atau cairan malam dari pengepul seperti Zakiah (45). Pengepul adalah orang yang akan mengumpulkan kain-kain batik yang sudah jadi, dan menjualnya ke buyer. Namun, untuk proses melorod atau mewarnai, pembatik menyerahkannya ke pengepul dengan dikenai biaya Rp 60.000 - Rp 70.000, tergantung warnanya.
Mereka mengaku, upah mereka hanya sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per hari. Namun ketika kami menanyakan siapa yang memberi mereka upah, tak seorang pun mampu menjawab. Cahyo menduga, angka tersebut hanya perkiraan para pembatik dari penghasilan yang mereka dapatkan dari pengepul. Jadi, jika sehelai kain batik halus sudah jadi, pengepul membelinya dengan harga sekitar Rp 300.000 (kain ini lalu dijual Zakiah seharga Rp 600.000 - Rp 1 juta).
Para pembatik ini memang hanya paham soal membatik. Mereka tidak tahu bagaimana jalur distribusi atau bisnis batik itu sendiri. Repotnya, karena sudah terikat pada pengepul, mereka juga tak bisa menjual batik langsung kepada orang yang berminat.
Karena diri sendiri dan keluarga harus dinafkahi, sementara sehelai kain baru jadi setelah sekitar tiga bulan, beberapa pembatik berusaha mencari "side job". Jasnoah, misalnya, pagi hari berjualan jajanan untuk anak-anak yang tak seberapa jumlahnya. Sore, ia baru membatik. Barangkali ini bisa disebut sisi positifnya, dimana para pembatik di sini memang tidak terikat waktu dalam bekerja.
Dengan berbagai kesulitan yang dialami pembatik tersebut, sudah sepantasnya profesi pembatik ini lebih kita hargai. Mereka, termasuk Mia yang tergolong paling muda, tidak pernah menyesal menjadi pembatik. Perempuan lulusan SMP ini bertekat untuk terus membatik. "Saya tidak menyesal meninggalkan sekolah, karena ini sudah keputusan saya sendiri. Saya ingin bisa terus berkarya, bisa meneruskan batik Pekalongan," katanya lirih.
Rabu, 19 September 2012
Edward Hutabarat: Batik Bukan Sembarang Kain!
Tahun 2009 lalu batik Indonesia diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Hal itu kemudian ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Hari Batik Nasional. Dalam acara peluncuran Attack Batik Cleaner dari PT KAO, yang juga membiayai perjalanannya ke kota-kota batik, desainer yang sudah bergelut dengan batik sejak lama, Edward Hutabarat bercerita mengenai batik kepada Kompas Female.
Menurut Edward, sejak dikukuhkan oleh PBB sebagai warisan tak benda dari Indonesia, batik mengalami kemajuan yang pesat dan baik. Hingga kini, batik sudah menjadi bagian sehari-hari. Bisa terlihat, sudah muncul sentra-sentra batik di kota besar, diharuskannya pemakaian batik di hari tertentu oleh instansi tertentu, dan bahkan menjadi aksesori sehari-hari. Menurut Edward, dengan sudah makin terbiasanya masyarakat akan batik, sekarang saatnya batik dipertahankan dan dilihat sebagai sesuatu yang berbeda. Batik patut dipertahankan dan digunakan untuk mengangkat sesuatu yang lainnya, yakni bagian backstage-nya.
"Batik tidak menghidupi saya dari segi bisnis. Tetapi dari segi kenikmatan hidup, batik memberikan saya spirit. Untuk saya, uang tak akan pernah cukup. Jadi, kalau Anda ke kota batik, jangan berpikir bisnis dulu, kalau seperti itu, berarti juragan. Tolong dicatat, saya bukan juragan batik yang mengaku pembatik. Saya hanya bagian dari batik," papar Edward usai konferensi pers yang berlangsung di Museum Nasional, Jumat.
"Batik itu harus dilihat dari sejarahnya. Jangan hanya mengenal fisik atau jadinya saja. Karena hanya bisa mengetahui apa jenis dan motifnya saja tidak cukup. Tidak cukup untuk menghargai karya seni hanya dengan melihat hasil jadinya. Anda harus tahu cara pembuatannya, harus tahu backstage-nya. Harus mengerti mengapa motifnya seperti itu," ujar Edward berapi-api.
"Kini, batik sudah makin dikenal, sudah makin menjadi bagian sehari-hari. Sudah bukan lagi kita cuma tahu batik sebagai bagian warisan negara. Tetapi kita harus mulai membangun orang-orang yang ada di balik layarnya. Apalagi para perajin batik di kota-kota batik," jelas pria yang sering disapa Edo ini.
Menurutnya, seharusnya kita sudah mulai mengenal batik hingga ke akarnya. Untuk memahami arti dari motif-motif yang tergambar dalam batik itu sendiri. Misal, batik Madura yang warna-warni, yang memiliki gambar sapi, karena ada budaya karapan sapinya di sana, ada pula matahari terbenam di Madura yang cantik, kulinernya, dan lain-lainnya. Atau Batik Cirebonan yang inspirasi si pembatik datang dari kulturnya, dari Tari Topeng yang penuh mistis dan eksotis, dari wayang kulitnya, wayang golek, atau nikmat kulinernya, seperti nasi Jamblang, cantik alamnya, kuatnya wanita pekerja di daerah sana, dan lain sebagainya.
"Batik itu bukan dilukis, tetapi dibuat dengan hati. Batik itu pada zaman dulu, saking menggugahnya, akhirnya masuk ke keraton, kemudian dikenakan dalam acara-acara bermakna, seperti pernikahan, nujuhbulanan, kelahiran, dan sebagainya, hal-hal semacam ini yang penting untuk dimengerti. Tak ada maknanya jika Anda hanya memiliki tetapi tidak mengerti isinya," ujar Edo.
"Batik bukan cuma sembarang kain! Jadi, saat batik itu diberi harga mahal, jangan marah. Cobalah untuk mengerti kulturnya, latar belakangnya, cara pembuatannya. Lalu mengerti mengapa kain batik itu punya makna lebih dan menjadi mahal. Untuk mengerti kultur, kita pun harus smart, kita harus membuka mata, datanglah ke kota-kota itu, berbicaralah dengan masyarakat sana, dan ketahui negerimu sendiri. Ini baru batik, ya, belum lagi kain tenunan Indonesia yang sangat banyak," pungkas pria pemilik label Part One ini.
Supaya batik tidak hilang, Edo menekankan pentingnya untuk menaruh perhatian pada kota-kota penghasil batik, "Supaya batik tidak pudar, kita harus aware. Kita harus mulai mempromosikan kota-kota batik. Dari kulinernya, agamanya, kulturnya, budayanya, kecantikan alamnya, dan lain-lainnya yang merupakan inspirasi dari motif-motif batik tersebut. Dengan begini, kita akan menunjang kehidupan ekonomi mereka, turisme mereka, dan membantu batik tetap hidup lebih lama."
Menurut Edward, sejak dikukuhkan oleh PBB sebagai warisan tak benda dari Indonesia, batik mengalami kemajuan yang pesat dan baik. Hingga kini, batik sudah menjadi bagian sehari-hari. Bisa terlihat, sudah muncul sentra-sentra batik di kota besar, diharuskannya pemakaian batik di hari tertentu oleh instansi tertentu, dan bahkan menjadi aksesori sehari-hari. Menurut Edward, dengan sudah makin terbiasanya masyarakat akan batik, sekarang saatnya batik dipertahankan dan dilihat sebagai sesuatu yang berbeda. Batik patut dipertahankan dan digunakan untuk mengangkat sesuatu yang lainnya, yakni bagian backstage-nya.
"Batik tidak menghidupi saya dari segi bisnis. Tetapi dari segi kenikmatan hidup, batik memberikan saya spirit. Untuk saya, uang tak akan pernah cukup. Jadi, kalau Anda ke kota batik, jangan berpikir bisnis dulu, kalau seperti itu, berarti juragan. Tolong dicatat, saya bukan juragan batik yang mengaku pembatik. Saya hanya bagian dari batik," papar Edward usai konferensi pers yang berlangsung di Museum Nasional, Jumat.
"Batik itu harus dilihat dari sejarahnya. Jangan hanya mengenal fisik atau jadinya saja. Karena hanya bisa mengetahui apa jenis dan motifnya saja tidak cukup. Tidak cukup untuk menghargai karya seni hanya dengan melihat hasil jadinya. Anda harus tahu cara pembuatannya, harus tahu backstage-nya. Harus mengerti mengapa motifnya seperti itu," ujar Edward berapi-api.
"Kini, batik sudah makin dikenal, sudah makin menjadi bagian sehari-hari. Sudah bukan lagi kita cuma tahu batik sebagai bagian warisan negara. Tetapi kita harus mulai membangun orang-orang yang ada di balik layarnya. Apalagi para perajin batik di kota-kota batik," jelas pria yang sering disapa Edo ini.
Menurutnya, seharusnya kita sudah mulai mengenal batik hingga ke akarnya. Untuk memahami arti dari motif-motif yang tergambar dalam batik itu sendiri. Misal, batik Madura yang warna-warni, yang memiliki gambar sapi, karena ada budaya karapan sapinya di sana, ada pula matahari terbenam di Madura yang cantik, kulinernya, dan lain-lainnya. Atau Batik Cirebonan yang inspirasi si pembatik datang dari kulturnya, dari Tari Topeng yang penuh mistis dan eksotis, dari wayang kulitnya, wayang golek, atau nikmat kulinernya, seperti nasi Jamblang, cantik alamnya, kuatnya wanita pekerja di daerah sana, dan lain sebagainya.
"Batik itu bukan dilukis, tetapi dibuat dengan hati. Batik itu pada zaman dulu, saking menggugahnya, akhirnya masuk ke keraton, kemudian dikenakan dalam acara-acara bermakna, seperti pernikahan, nujuhbulanan, kelahiran, dan sebagainya, hal-hal semacam ini yang penting untuk dimengerti. Tak ada maknanya jika Anda hanya memiliki tetapi tidak mengerti isinya," ujar Edo.
"Batik bukan cuma sembarang kain! Jadi, saat batik itu diberi harga mahal, jangan marah. Cobalah untuk mengerti kulturnya, latar belakangnya, cara pembuatannya. Lalu mengerti mengapa kain batik itu punya makna lebih dan menjadi mahal. Untuk mengerti kultur, kita pun harus smart, kita harus membuka mata, datanglah ke kota-kota itu, berbicaralah dengan masyarakat sana, dan ketahui negerimu sendiri. Ini baru batik, ya, belum lagi kain tenunan Indonesia yang sangat banyak," pungkas pria pemilik label Part One ini.
Supaya batik tidak hilang, Edo menekankan pentingnya untuk menaruh perhatian pada kota-kota penghasil batik, "Supaya batik tidak pudar, kita harus aware. Kita harus mulai mempromosikan kota-kota batik. Dari kulinernya, agamanya, kulturnya, budayanya, kecantikan alamnya, dan lain-lainnya yang merupakan inspirasi dari motif-motif batik tersebut. Dengan begini, kita akan menunjang kehidupan ekonomi mereka, turisme mereka, dan membantu batik tetap hidup lebih lama."
Selasa, 14 Agustus 2012
Mengapa Batik Bisa Begitu Mahal?
Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, dan peringatannya setiap tanggal 2 Oktober, seharusnya membuat kita semakin memahami apa yang disebut sebagai batik. Yang dijadikan warisan budaya tersebut adalah proses membatiknya, bukan kain dengan motif batik seperti yang kerap dipersepsikan orang kebanyakan. Proses membatik akan menghasilkan batik dengan jenis tulis, yang harganya berkali-kali lipat dibandingkan dengan batik yang melalui proses cap atau printing. Mengapa pula harga selembar kain batik tulis bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah?
Bayangkan saja, sehelai kain ukuran 2,5 m yang menampilkan suatu karya batik, ternyata membutuhkan waktu pembuatan hingga tiga bulan. Proses pembuatan yang begitu lama jelas menuntut kesabaran, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi. Bagaimanapun, nilai batik akan meningkat bila pembatik mampu menghasilkan batik dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
"Nilai jualnya tergantung dari keunikan kainnya, batikan, dan warnanya. Kalau desainnya langka, dan tak bisa ditiru, itu akan menentukan harganya," jelas Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo, saat menemani wartawan menyaksikan berbagai tahapan pembuatan batik di tempat workshop-nya di Desa Setono, Pekalongan.
Proses pembuatan batik juga melibatkan banyak orang dengan keahliannya masing-masing. Dari tahap awal, yaitu pembuat pola yang membuat desain batik (molani), pembatik -yang memindahkan pola ke atas kain, dan melukisnya dengan menggunakan canting, lalu menutup bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam), pewarnaan, nglorod (proses membilas atau meluruhkan lapisan malam), hingga mencuci dan kemudian menjemurnya hingga siap dipakai.
Seorang yang menguasai pembuatan batik tentu mampu melakukan seluruh tahapan ini. Termasuk, dos & don'ts dalam melakukan setiap tahapan tersebut.
Cahyo, misalnya, sudah 15 tahun ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melanjutkan usaha batik milik ayahnya. Cahyo mampu mengolah desain batik, menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami seperti kayu tingi, secang, mahoni, jambal, tegeran, atau jelawe. Ia lah yang bertindak dalam membuat komposisi yang pas antara kayu satu dengan kayu lainnya, hingga tercipta suatu warna yang diinginkannya.
Cahyo adalah salah satu contoh pembatik yang mengutamakan kualitas, mengejar kesempurnaan hingga semaksimal mungkin. "Saya pernah ditawari untuk menitipkan batik buatan saya (Cahyo menyebutkan outlet besar produk-produk budaya di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, RED), tapi saya tolak. Karena, saya ini dasarnya pembatik," katanya.
Cahyo mengejar kepuasan batin dengan menghasilkan batik yang berkualitas tinggi. Selembar kain batik karyanya yang berukuran 2,5 m dari bahan katun bisa dihargai hingga Rp 3 juta. Sedangkan batik dari bahan sutera nilainya bisa mencapai Rp 15 juta.
Cahyo tidak memungkiri, ia tetap membutuhkan keuntungan dalam waktu cepat untuk memberi nafkah bagi 50-an pembatik yang menjadi karyawannya, sekaligus untuk biaya operasional pembuatan batiknya. Oleh karena itu, Cahyo juga memproduksi batik sebagai second line dengan merek Norma, yang lebih cepat pengerjaannya.
"Batik yang ini harganya lebih terjangkau, menggunakan bahan pewarna kimia. Tidak semuanya batik cap, ada juga yang tulis," paparnya. Batik tulis yang harganya lebih terjangkau ini umumnya menggunakan katun.
Banyak hal yang bisa menghambat pengerjaan sehelai batik, dan mengharuskan pembatik mengulangi pembuatannya dari awal. Misalnya, pelukisan dengan lilin yang blobor akibat cairan lilin yang tidak pas kekentalannya. Atau, kegagalan saat proses pewarnaan. Kalau sudah begini, pembatik tentu mengalami kerugian seperti hilangnya lembaran kain berbahan sutera yang nilainya mencapai jutaan.
"Itu sering terjadi, dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Anda harus membayar kegagalan itu dengan menikmati seluruh prosesnya. Enjoy the process, enjoy the moment. Kita tidak akan menjadi pembatik yang andal jika tidak melalui proses kegagalan itu," tutur desainer Edward Hutabarat, dalam kesempatan yang sama.
Di luar urusan teknis, masih ada kendala sosial yang menghambat proses pembuatan batik. Banyak pembatiknya yang menikah, mempunyai anak, dan memutuskan berhenti bekerja. "Padahal regenerasi kan harus terus berlangsung. Akhirnya saya harus mencari pembatik lagi, entah dari keluarga atau teman-temannya," kata Cahyo.
Bayangkan saja, sehelai kain ukuran 2,5 m yang menampilkan suatu karya batik, ternyata membutuhkan waktu pembuatan hingga tiga bulan. Proses pembuatan yang begitu lama jelas menuntut kesabaran, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi. Bagaimanapun, nilai batik akan meningkat bila pembatik mampu menghasilkan batik dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
"Nilai jualnya tergantung dari keunikan kainnya, batikan, dan warnanya. Kalau desainnya langka, dan tak bisa ditiru, itu akan menentukan harganya," jelas Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo, saat menemani wartawan menyaksikan berbagai tahapan pembuatan batik di tempat workshop-nya di Desa Setono, Pekalongan.
Proses pembuatan batik juga melibatkan banyak orang dengan keahliannya masing-masing. Dari tahap awal, yaitu pembuat pola yang membuat desain batik (molani), pembatik -yang memindahkan pola ke atas kain, dan melukisnya dengan menggunakan canting, lalu menutup bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam), pewarnaan, nglorod (proses membilas atau meluruhkan lapisan malam), hingga mencuci dan kemudian menjemurnya hingga siap dipakai.
Seorang yang menguasai pembuatan batik tentu mampu melakukan seluruh tahapan ini. Termasuk, dos & don'ts dalam melakukan setiap tahapan tersebut.
Cahyo, misalnya, sudah 15 tahun ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melanjutkan usaha batik milik ayahnya. Cahyo mampu mengolah desain batik, menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami seperti kayu tingi, secang, mahoni, jambal, tegeran, atau jelawe. Ia lah yang bertindak dalam membuat komposisi yang pas antara kayu satu dengan kayu lainnya, hingga tercipta suatu warna yang diinginkannya.
Cahyo adalah salah satu contoh pembatik yang mengutamakan kualitas, mengejar kesempurnaan hingga semaksimal mungkin. "Saya pernah ditawari untuk menitipkan batik buatan saya (Cahyo menyebutkan outlet besar produk-produk budaya di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, RED), tapi saya tolak. Karena, saya ini dasarnya pembatik," katanya.
Cahyo mengejar kepuasan batin dengan menghasilkan batik yang berkualitas tinggi. Selembar kain batik karyanya yang berukuran 2,5 m dari bahan katun bisa dihargai hingga Rp 3 juta. Sedangkan batik dari bahan sutera nilainya bisa mencapai Rp 15 juta.
Cahyo tidak memungkiri, ia tetap membutuhkan keuntungan dalam waktu cepat untuk memberi nafkah bagi 50-an pembatik yang menjadi karyawannya, sekaligus untuk biaya operasional pembuatan batiknya. Oleh karena itu, Cahyo juga memproduksi batik sebagai second line dengan merek Norma, yang lebih cepat pengerjaannya.
"Batik yang ini harganya lebih terjangkau, menggunakan bahan pewarna kimia. Tidak semuanya batik cap, ada juga yang tulis," paparnya. Batik tulis yang harganya lebih terjangkau ini umumnya menggunakan katun.
Banyak hal yang bisa menghambat pengerjaan sehelai batik, dan mengharuskan pembatik mengulangi pembuatannya dari awal. Misalnya, pelukisan dengan lilin yang blobor akibat cairan lilin yang tidak pas kekentalannya. Atau, kegagalan saat proses pewarnaan. Kalau sudah begini, pembatik tentu mengalami kerugian seperti hilangnya lembaran kain berbahan sutera yang nilainya mencapai jutaan.
"Itu sering terjadi, dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Anda harus membayar kegagalan itu dengan menikmati seluruh prosesnya. Enjoy the process, enjoy the moment. Kita tidak akan menjadi pembatik yang andal jika tidak melalui proses kegagalan itu," tutur desainer Edward Hutabarat, dalam kesempatan yang sama.
Di luar urusan teknis, masih ada kendala sosial yang menghambat proses pembuatan batik. Banyak pembatiknya yang menikah, mempunyai anak, dan memutuskan berhenti bekerja. "Padahal regenerasi kan harus terus berlangsung. Akhirnya saya harus mencari pembatik lagi, entah dari keluarga atau teman-temannya," kata Cahyo.
Langganan:
Postingan (Atom)