HUT ke-486 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2013 dipastikan bakal meriah. Sejumlah acara telah disiapkan Pemprov DKI Jakarta untuk memanjakan warganya, salah satunya dengan menggratiskan biaya masuk di 10 museum bagi pengunjung yang berpakaian batik.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman, mengatakan, ada sebanyak 10 museum yang pengelolaannya berada di bawah Pemprov DKI Jakarta. Pada saat HUT DKI nanti, ke-10 museum tersebut akan digratiskan bagi pengunjung yang menggunakan batik. "Tapi dengan syarat, pengunjung yang menggunakan batik saja," kata Arie, Minggu (12/5).
Ia merinci ke-10 museum yang akan digratiskan di antaranya Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum Djoang 45, Museum Tekstil, Museum MH Thamrin, serta Monumen Nasional (Monas). Selain menggunakan batik, tidak ada syarat khusus yang diberikan. "Tidak perlu tunjukan KTP yang penting pakai batik saja pengunjung akan digratiskan," ujarnya.
Sementara itu, untuk museum lainnya yang pengelolaannya di bawah instansi lain, akan dikoordinasikan untuk bisa digratiskan juga. Namun hal tersebut tergantung masing-masing pengelola. "Yang di bawah kita ada 10 museum saja. Kita juga mencoba ke museum di bawah pengelola pihak lain, kalau bisa memberikan syukur," ucapnya.
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Mei 2013
Selasa, 30 April 2013
Mengapa Batik Tak Bisa Menuntut Hak Cipta?
Batik memang sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2009 lalu. Namun dalam kenyataannya, motif batik masih rentan ditiru atau diakui oleh pihak lain. Tak usah menyebut negara lain, sesama pengusaha batik pun bisa saja meniru atau mengambil inspirasi dari batik buatan pengusaha lain.
Kalau sudah begini, mengapa para pembatik tidak mendaftarkan batiknya untuk mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HaKI)? Salah satu contoh, dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat HaKI (baca artikel ini). Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, usai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi, akhir November lalu, mengatakan bahwa mereka memang belum fokus ke HaKI.
"Fokus kami masih pada mengatasi kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia,” katanya.
Meski belum memiliki HaKI, ujar Yahya, Bantul tidak khawatir motifnya dijiplak daerah lain atau perajin lain. Baginya, motif batik adalah seni yang sulit ditiru.
Dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat hak atas kekayaan intelektual atau HaKI. Pemerintah Kabupaten Bantul belum memprioritaskan HaKI karena masih fokus pada persoalan pemasaran produksi batik. Pemerintah juga berharap inisiatif pengurusan HaKI datang dari kalangan perajin.
"Kami memang belum fokus ke HaKI. Fokus kami masih pada kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah, seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia," kata Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, seusai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi.
Menurutnya, belum diurusnya sertifikat HaKI juga bukan karena persoalan dana. Ia berharap inisiatif muncul dari kalangan perajin supaya ada rasa memiliki dan tumbuh kebersamaan antarsesama perajin.
12 Langkah Menciptakan Kain Batik
Edward Hutabarat mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan proses pembuatan batik, bukan sekadar mengagumi keindahan batik secara fisik. Sebab, menurut desainer yang berkolaborasi dengan PT Kao Indonesia mengampanyekan "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar" ini, ada kisah panjang di balik pembuatan batik yang perlu diketahui oleh masyarakat pengguna batik.
Hal sederhana yang mungkin belum Anda ketahui, misalnya, batik ternyata bukan hanya dikerjakan oleh perempuan pembatik yang duduk di dingklik (bangku pendek) sambil melukisi kain mori dengan lilin malam. Sehelai kain batik bisa dikerjakan oleh empat hingga lima orang. Dari pembuat pola di kertas, pembatik, hingga pemberi warna dan penglorod.
Bila diurut-urut, proses membatik adalah sebagai berikut:
1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas. Tidak semua orang bisa membuat motif batik, sehingga pola ini dibuat oleh spesialis pola.
2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain.
3. Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola. Pada tahap ini, motif batik akan mulai tampak.
4. Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting.
5. Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas. Misalnya, gambar bunga atau burung yang muncul di sana-sini.
6. Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ini diiringi dengan nembok, atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
7. Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh.
8. Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih.
9. Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama). Untuk menghasilkancecekan yang halus, digunakan canting dengan jarum yang tipis.
10. Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam.
11. Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan. Batik sogan adalah batik yang berwarna dasar coklat, seperti batik yogya atau batik solo.
12. Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.
Di kota-kota yang dikenal sebagai kota batik, seperti Pekalongan, orang tidak asing dengan kegiatan membatik karena biasanya sudah ada kesibukan membatik di rumahnya. "Karena itu, tidak ada lagi pelajaran atau pelatihan membatik di sini. Semua sudah mengetahui dasar-dasar membatik. Hanya saja, mereka harus diseleksi. Yang diterima tentu saja yang teknik membatiknya sudah cukup baik," ujar Nur Cahyo (45), pemilik Batik Cahyo, saat dijumpai di balai kerjanya di Desa Setono, Pekalongan, Desember lalu.
Setiap pembatik umumnya mempunyai canting sendiri. Menurut Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni, bila pembatik menggunakan canting milik orang lain, hasilnya bisa berubah. "Canting itu kayak baju, yang dipakai orang lain. Kalau canting dipakai orang lain, bisa-bisa berantem," selorohnya.
Hal sederhana yang mungkin belum Anda ketahui, misalnya, batik ternyata bukan hanya dikerjakan oleh perempuan pembatik yang duduk di dingklik (bangku pendek) sambil melukisi kain mori dengan lilin malam. Sehelai kain batik bisa dikerjakan oleh empat hingga lima orang. Dari pembuat pola di kertas, pembatik, hingga pemberi warna dan penglorod.
Bila diurut-urut, proses membatik adalah sebagai berikut:
1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas. Tidak semua orang bisa membuat motif batik, sehingga pola ini dibuat oleh spesialis pola.
2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain.
3. Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola. Pada tahap ini, motif batik akan mulai tampak.
4. Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting.
5. Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas. Misalnya, gambar bunga atau burung yang muncul di sana-sini.
6. Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ini diiringi dengan nembok, atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
7. Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh.
8. Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih.
9. Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama). Untuk menghasilkancecekan yang halus, digunakan canting dengan jarum yang tipis.
10. Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam.
11. Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan. Batik sogan adalah batik yang berwarna dasar coklat, seperti batik yogya atau batik solo.
12. Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.
Di kota-kota yang dikenal sebagai kota batik, seperti Pekalongan, orang tidak asing dengan kegiatan membatik karena biasanya sudah ada kesibukan membatik di rumahnya. "Karena itu, tidak ada lagi pelajaran atau pelatihan membatik di sini. Semua sudah mengetahui dasar-dasar membatik. Hanya saja, mereka harus diseleksi. Yang diterima tentu saja yang teknik membatiknya sudah cukup baik," ujar Nur Cahyo (45), pemilik Batik Cahyo, saat dijumpai di balai kerjanya di Desa Setono, Pekalongan, Desember lalu.
Setiap pembatik umumnya mempunyai canting sendiri. Menurut Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni, bila pembatik menggunakan canting milik orang lain, hasilnya bisa berubah. "Canting itu kayak baju, yang dipakai orang lain. Kalau canting dipakai orang lain, bisa-bisa berantem," selorohnya.
Eksplorasi Budaya Indonesia untuk Tren
Batik tiada habisnya dieksplorasi menjadi beragam karya busana. Dalam Fashion Tendance Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur, Jumat (21/1) petang di Surabaya, batik kembali menjadi primadona.
Sepuluh perancang asal Jawa Timur yang ambil bagian dalam Fashion Tendance APPMI Jatimbertema utama Surf-Vival ini adalah Denny Joewardi, Sonny Radji, Djoko Sasongko, Ayok Dwipancara, Yuyuk Nurmaisyah, Lilik Suhariyati, Lia Afif, Elok Renapio, Yunita Kosasih, dan Melia Wijaya. Untuk 2011, kata Denny, para perancang mengeksplorasi alam, kembali ke asal, dan mengolah budaya yang sudah ada di Indonesia.
Dalam peragaan itu, Sonny Radji mengolah potongan-potongan batik lawas menjadi gaun malam. Dipadu dengan kain polos dan detail taburan payet, permata, mutiara, dan aplikasi renda, gaun tampil beda. Menurut Sonny, untuk setiap gaun setidaknya diperlukan 100 potongan kain batik dari beragam motif.
Batik juga dimanfaatkan Yunita Kosasih dalam karyanya. Bahan batik bekas pakai dolah menjadi gulungan dan disusun beruntai dalam busana yang memadukan budaya Indonesia, Afrika, dan Korea.
Djoko Sasongko dan Ayok Dwipancara membuat rok dari batik madura untuk melengkapi kebayanya yang elegan.
Yuyuk Nurmaisyah dan Lilik Suhariyati yang mengkhususkan pada busana muslim juga mengeksplorasi kekuatan batik tulis.
Lia Afif lebih mengeksplorasi bentuk, lipit, kerut, dan gelombang pada busana muslimnya. Seperti Denny Djoewardi yang memanfaatkan gelombang, alur, dan pilinan kain untuk gaun malamnya yang sangat feminin. Adapun Melia Wijaya memilih kain etnik dengan motif hewan pada karyanya kali ini.
Sepuluh perancang asal Jawa Timur yang ambil bagian dalam Fashion Tendance APPMI Jatimbertema utama Surf-Vival ini adalah Denny Joewardi, Sonny Radji, Djoko Sasongko, Ayok Dwipancara, Yuyuk Nurmaisyah, Lilik Suhariyati, Lia Afif, Elok Renapio, Yunita Kosasih, dan Melia Wijaya. Untuk 2011, kata Denny, para perancang mengeksplorasi alam, kembali ke asal, dan mengolah budaya yang sudah ada di Indonesia.
Dalam peragaan itu, Sonny Radji mengolah potongan-potongan batik lawas menjadi gaun malam. Dipadu dengan kain polos dan detail taburan payet, permata, mutiara, dan aplikasi renda, gaun tampil beda. Menurut Sonny, untuk setiap gaun setidaknya diperlukan 100 potongan kain batik dari beragam motif.
Batik juga dimanfaatkan Yunita Kosasih dalam karyanya. Bahan batik bekas pakai dolah menjadi gulungan dan disusun beruntai dalam busana yang memadukan budaya Indonesia, Afrika, dan Korea.
Djoko Sasongko dan Ayok Dwipancara membuat rok dari batik madura untuk melengkapi kebayanya yang elegan.
Yuyuk Nurmaisyah dan Lilik Suhariyati yang mengkhususkan pada busana muslim juga mengeksplorasi kekuatan batik tulis.
Lia Afif lebih mengeksplorasi bentuk, lipit, kerut, dan gelombang pada busana muslimnya. Seperti Denny Djoewardi yang memanfaatkan gelombang, alur, dan pilinan kain untuk gaun malamnya yang sangat feminin. Adapun Melia Wijaya memilih kain etnik dengan motif hewan pada karyanya kali ini.
Kenalan dengan Batik Pewarna Alam di "Back to Nature"
Selama tiga hari ke depan , Sanggar Seni dan Budaya Jawa Jawi Java dan Epicentrum Walk menggelar ajang bertajuk "Back to Nature" di area oval Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta. Ajang ini merupakan rangkaian acara sosialisasi batik menggunakan pewarna dari alam yang ramah lingkungan. Tujuan acara ini adalah untuk memperkenalkan batik pada anak muda supaya tertarik dan harapannya berminat melestarikan budaya.
Jika Anda punya rencana mengenalkan anak Anda kepada batik, ajang ini bisa menjadi salah satu jalannya. "Kami berharap, acara ini tidak hanya memotivasi masyarakat kalangan muda untuk mengenal batik lebih jauh, namun sekaligus memperkenalkan pewarna alami yang aman dan bisa indah sebagai pewarna batik," jelas Sri Sumaningsih Budiarti, Direktur Sanggar Jawa Jawi Java saat konferensi pers,di Comic Cafe, Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.
Besok, rencananya akan ada kegiatan pemecahan rekor MURI melakukan pewarnaan warna alam pada aplikasi tie-dye serentak bersama 1.600 orang pada pukul 10.00 WIB. Berbagai kegiatan lain dalam acara "Back to Nature"; membatik, melukis, pameran buku tradisional, edukasi seni, musik tradisional, workshop, bazaar (busana batik, handicraft, camilan tradisional), serta berbagai lomba untuk generasi muda, seperti fashion stylist, fashion drapery, ilustrator, dan fotografi.
Ada pula acara talkshow bersama Rima Melati di hari ketiga, mengenai cara memakai kain yang baik, serta talkshow beautiful mind. Ichwan Thoha, desainer sekaligus konseptor fashion acara ini juga menyiapkan peragaan khusus, "Saya menciptakan 10 busana pria dan 10 busana wanita eksklusif untuk acara ini. Busana-busana itu terbuat dari kain batik dari pewarna alami. Rencananya, pagelaran busananya diadakan di hari kedu
Jika Anda punya rencana mengenalkan anak Anda kepada batik, ajang ini bisa menjadi salah satu jalannya. "Kami berharap, acara ini tidak hanya memotivasi masyarakat kalangan muda untuk mengenal batik lebih jauh, namun sekaligus memperkenalkan pewarna alami yang aman dan bisa indah sebagai pewarna batik," jelas Sri Sumaningsih Budiarti, Direktur Sanggar Jawa Jawi Java saat konferensi pers,di Comic Cafe, Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.
Besok, rencananya akan ada kegiatan pemecahan rekor MURI melakukan pewarnaan warna alam pada aplikasi tie-dye serentak bersama 1.600 orang pada pukul 10.00 WIB. Berbagai kegiatan lain dalam acara "Back to Nature"; membatik, melukis, pameran buku tradisional, edukasi seni, musik tradisional, workshop, bazaar (busana batik, handicraft, camilan tradisional), serta berbagai lomba untuk generasi muda, seperti fashion stylist, fashion drapery, ilustrator, dan fotografi.
Ada pula acara talkshow bersama Rima Melati di hari ketiga, mengenai cara memakai kain yang baik, serta talkshow beautiful mind. Ichwan Thoha, desainer sekaligus konseptor fashion acara ini juga menyiapkan peragaan khusus, "Saya menciptakan 10 busana pria dan 10 busana wanita eksklusif untuk acara ini. Busana-busana itu terbuat dari kain batik dari pewarna alami. Rencananya, pagelaran busananya diadakan di hari kedu
Polo Shirt Rasa Batik Solo
Polo shirt rasa batik marak di Solo. Salah satunya diproduksi oleh Kaose, milik Yayuk Sukaryani (56). Dia bahu-membahu dengan anaknya melanjutkan usaha yang dirintis mendiang suami.
Polo shirt atau kemeja kaus berkerah, berlengan pendek, itu mendapat sentuhan batik. Polo dari Solo itu memang bukan batik. Dalam arti, pembuatan tidak menggunakan malam atau lilin yang lazim digunakan dalam proses membatik.
”Kami menyebutnya sebagai kaus etnik,” kata Matheus Kurniawan Susanto (25), pendesain yang bersama sang ibu, Yayuk Sukaryani, mendirikan perusahaan bernama Kaose Ethnicholic, atau biasa disebut Kaose saja.
Sentuhan batik terasa pada motif-motif yang digali dari ranah batik, seperti motif parang barong, parang rusak, parang merak, atau juga motif kawung. Motif batik klasik itu dimodifikasi agar memberi kesan tidak terlalu klasik. Motif kawung, misalnya, diberi isen-isen atau isian hingga terkesan meriah, ngepop. Model itu dimaksud agar bisa menarik minat kaum muda.
Motif batik tersebut tidak menyelimuti seluruh bagian kaus, tetapi hanya pada sebagian kecil bidang kaus. Bidang warna polos atau warna dasar masih dominan. Motif batik dilekatkan pada bagian sekitar dada, ada juga di bagian bawah kaus, atau kombinasi di antara kedua bagian tersebut. Ada pula yang sedikit menempel pada bagian sisi kanan atau kiri kaus dari lengan hingga bidang bawah. Dengan demikian, karakter sebagai polo shirt masih kuat, tetapi masih ada kesan ”berbatik” meski bukan batik.
”Kalau separuh jadinya lebih aneh, unik,” kata Yayuk di sanggar kerjanya di Demakan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 4 kilometer di timur kota Solo.
Sopan, muda
Mengapa polo shirt? ”Saya menggagas bagaimana membuat kaus yang bisa dipakai resmi, tetapi nyaman,” kata Yayuk.
Kaus oblong atau t-shirt, menurut Yayuk, kurang sesuai dikenakan pada kesempatan resmi. Selain itu, dari aspek pasar, oblong bermotif batik juga sudah banyak dijual. Dengan model polo shirt, Yayuk bisa bermain di pasar yang lebih lebar. Polo shirt rasa batik itu dijual dengan harga sekitar Rp 75.000 per buah. Selain dijual untuk umum, ia juga bisa melayani pesanan, misalnya untuk kostum kelompok paduan suara. Polo shirt itu tampak sopan, berwibawa, dan ada nuansa etnik.
Yayuk juga melayani pemesanan untuk keperluan aktivitas luar ruang (outbound) dari sebuah perusahaan minyak. Kaose juga menembus kedutaan besar RI di Singapura yang ingin tampil dengan rasa keindonesiaan lewat sentuhan etnik, batik.
Kaose juga menyasar konsumen muda. Untuk itu, mereka juga merancang warna-warna yang disukai kalangan muda, seperti merah, biru, fanta alias jingga. ”Anak muda sekarang kalau pakai warna-warna sogan tidak mau. Mereka suka warna dan motif ngejreng supaya bisa dipadu dengan celana jins,” kata Yayuk.
Yayuk bicara berdasar pengalaman karena sejak 1992 ia membuat t-shirt bermotif batik. Ia memilih polo shirt karena melihat peluang pasar.
Perjuangan ibu-anak
Kaose merupakan bagian dari usaha Yayuk dan keluarga dalam memutar usaha pakaian jadi. Ia bersama sang suami, Susanto (almarhum), memulai usaha sebagai pembuat sabun batik, cairan pencuci batik dari bahan alami lerak, sejak 1981. Pada 1992, mereka membuat kaus colet atau oblong dengan polesan motif yang dilukis. Yayuk memasok kaus colet ke perusahaan batik besar di Solo. Tidak mudah menembus label besar karena dalam 100 potong pasokan, sebanyak 70 persen bisa ditolak karena dianggap tidak memenuhi standar.
”Namun, dari pengalaman ditolak itu, kami belajar tentang standar dan kualitas produksi,” kata Matheus.
Ketika suami Yayuk meninggal pada 2001, Yayuk melanjutkan usaha sendirian. Anaknya, Matheus Kurniawan Susanto, saat itu baru berumur 14 tahun dan Stephanus baru berumur 9 tahun. Ia harus mencari pasar yang selama ini ditangani sang suami.
”Kami dulu hanya melayani pesanan dari buyers besar. Jadi, kami tidak mempunyai jaringan pemasaran. Kami juga tidak mengetahui selera kelas menengah atas itu seperti apa,” kata Matheus yang kini 25 tahun, dan terlibat langsung dalam industri keluarga itu.
Produksi kaus oblong terus berjalan dengan berganti ke sistem cetak manual atau printing. Bisa dibilang usaha itu mulai berhasil. Nyatanya, Yayuk pada 2006 bisa membuka gerai khusus oblong ”batik” bernama Oblong Center di Pusat Grosir Solo, Gladak, di sebelah utara Alun-alun Surakarta.
Belakangan Matheus dilibatkan dalam produksi. Matheus yang sebelumnya adalah atlet bulu tangkis dari Klub Djarum, Jakarta, keluar dari klub dan belajar desain di Akademi Seni dan Desain, Solo. Ia menjadi ”penerjemah” visual bagi gagasan sang ibu. ”Saya hanya bilang begini, begini, nanti anak saya yang jago gambar yang merancang desainnya,” kata Yayuk.
Kini, Yayuk menyiapkan putranya yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta itu untuk nantinya membantu juga dalam industri keluarga itu. Kekompakan ibu dan anak ini menghasilkan desain polo shirt berasa batik itu pada 2007. Sejak dua tahun lalu, Yayuk mulai berani menggunakan label Kaose. Huruf E ditulis berbalik arah, yaitu dengan menghadap ke kiri. ”Kalau masih pakai nama Oblong Center kok rasanya kurang catchy (menarik),” kata Matheus.
Meski menggunakan merek Kaose, Yayuk juga memproduksi kemeja, blus, celana, dan rok yang semuanya bersentuhan motif batik. Mereka menggunakan bahan katun dan lurik. Sejak sekitar dua tahun lalu, ia membuka gerai di Jalan Imam Bonjol, tak jauh dari Kampung Batik Kauman.
Yayuk benar-benar mengawali usaha dari nol. Terlebih, usaha itu dijalankan tanpa pinjaman dari bank. ”Saya tidak punya barang yang bisa dijaminkan. Saya cuma mengandalkan keyakinan,” kata Yayuk.
Polo shirt atau kemeja kaus berkerah, berlengan pendek, itu mendapat sentuhan batik. Polo dari Solo itu memang bukan batik. Dalam arti, pembuatan tidak menggunakan malam atau lilin yang lazim digunakan dalam proses membatik.
”Kami menyebutnya sebagai kaus etnik,” kata Matheus Kurniawan Susanto (25), pendesain yang bersama sang ibu, Yayuk Sukaryani, mendirikan perusahaan bernama Kaose Ethnicholic, atau biasa disebut Kaose saja.
Sentuhan batik terasa pada motif-motif yang digali dari ranah batik, seperti motif parang barong, parang rusak, parang merak, atau juga motif kawung. Motif batik klasik itu dimodifikasi agar memberi kesan tidak terlalu klasik. Motif kawung, misalnya, diberi isen-isen atau isian hingga terkesan meriah, ngepop. Model itu dimaksud agar bisa menarik minat kaum muda.
Motif batik tersebut tidak menyelimuti seluruh bagian kaus, tetapi hanya pada sebagian kecil bidang kaus. Bidang warna polos atau warna dasar masih dominan. Motif batik dilekatkan pada bagian sekitar dada, ada juga di bagian bawah kaus, atau kombinasi di antara kedua bagian tersebut. Ada pula yang sedikit menempel pada bagian sisi kanan atau kiri kaus dari lengan hingga bidang bawah. Dengan demikian, karakter sebagai polo shirt masih kuat, tetapi masih ada kesan ”berbatik” meski bukan batik.
”Kalau separuh jadinya lebih aneh, unik,” kata Yayuk di sanggar kerjanya di Demakan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 4 kilometer di timur kota Solo.
Sopan, muda
Mengapa polo shirt? ”Saya menggagas bagaimana membuat kaus yang bisa dipakai resmi, tetapi nyaman,” kata Yayuk.
Kaus oblong atau t-shirt, menurut Yayuk, kurang sesuai dikenakan pada kesempatan resmi. Selain itu, dari aspek pasar, oblong bermotif batik juga sudah banyak dijual. Dengan model polo shirt, Yayuk bisa bermain di pasar yang lebih lebar. Polo shirt rasa batik itu dijual dengan harga sekitar Rp 75.000 per buah. Selain dijual untuk umum, ia juga bisa melayani pesanan, misalnya untuk kostum kelompok paduan suara. Polo shirt itu tampak sopan, berwibawa, dan ada nuansa etnik.
Yayuk juga melayani pemesanan untuk keperluan aktivitas luar ruang (outbound) dari sebuah perusahaan minyak. Kaose juga menembus kedutaan besar RI di Singapura yang ingin tampil dengan rasa keindonesiaan lewat sentuhan etnik, batik.
Kaose juga menyasar konsumen muda. Untuk itu, mereka juga merancang warna-warna yang disukai kalangan muda, seperti merah, biru, fanta alias jingga. ”Anak muda sekarang kalau pakai warna-warna sogan tidak mau. Mereka suka warna dan motif ngejreng supaya bisa dipadu dengan celana jins,” kata Yayuk.
Yayuk bicara berdasar pengalaman karena sejak 1992 ia membuat t-shirt bermotif batik. Ia memilih polo shirt karena melihat peluang pasar.
Perjuangan ibu-anak
Kaose merupakan bagian dari usaha Yayuk dan keluarga dalam memutar usaha pakaian jadi. Ia bersama sang suami, Susanto (almarhum), memulai usaha sebagai pembuat sabun batik, cairan pencuci batik dari bahan alami lerak, sejak 1981. Pada 1992, mereka membuat kaus colet atau oblong dengan polesan motif yang dilukis. Yayuk memasok kaus colet ke perusahaan batik besar di Solo. Tidak mudah menembus label besar karena dalam 100 potong pasokan, sebanyak 70 persen bisa ditolak karena dianggap tidak memenuhi standar.
”Namun, dari pengalaman ditolak itu, kami belajar tentang standar dan kualitas produksi,” kata Matheus.
Ketika suami Yayuk meninggal pada 2001, Yayuk melanjutkan usaha sendirian. Anaknya, Matheus Kurniawan Susanto, saat itu baru berumur 14 tahun dan Stephanus baru berumur 9 tahun. Ia harus mencari pasar yang selama ini ditangani sang suami.
”Kami dulu hanya melayani pesanan dari buyers besar. Jadi, kami tidak mempunyai jaringan pemasaran. Kami juga tidak mengetahui selera kelas menengah atas itu seperti apa,” kata Matheus yang kini 25 tahun, dan terlibat langsung dalam industri keluarga itu.
Produksi kaus oblong terus berjalan dengan berganti ke sistem cetak manual atau printing. Bisa dibilang usaha itu mulai berhasil. Nyatanya, Yayuk pada 2006 bisa membuka gerai khusus oblong ”batik” bernama Oblong Center di Pusat Grosir Solo, Gladak, di sebelah utara Alun-alun Surakarta.
Belakangan Matheus dilibatkan dalam produksi. Matheus yang sebelumnya adalah atlet bulu tangkis dari Klub Djarum, Jakarta, keluar dari klub dan belajar desain di Akademi Seni dan Desain, Solo. Ia menjadi ”penerjemah” visual bagi gagasan sang ibu. ”Saya hanya bilang begini, begini, nanti anak saya yang jago gambar yang merancang desainnya,” kata Yayuk.
Kini, Yayuk menyiapkan putranya yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta itu untuk nantinya membantu juga dalam industri keluarga itu. Kekompakan ibu dan anak ini menghasilkan desain polo shirt berasa batik itu pada 2007. Sejak dua tahun lalu, Yayuk mulai berani menggunakan label Kaose. Huruf E ditulis berbalik arah, yaitu dengan menghadap ke kiri. ”Kalau masih pakai nama Oblong Center kok rasanya kurang catchy (menarik),” kata Matheus.
Meski menggunakan merek Kaose, Yayuk juga memproduksi kemeja, blus, celana, dan rok yang semuanya bersentuhan motif batik. Mereka menggunakan bahan katun dan lurik. Sejak sekitar dua tahun lalu, ia membuka gerai di Jalan Imam Bonjol, tak jauh dari Kampung Batik Kauman.
Yayuk benar-benar mengawali usaha dari nol. Terlebih, usaha itu dijalankan tanpa pinjaman dari bank. ”Saya tidak punya barang yang bisa dijaminkan. Saya cuma mengandalkan keyakinan,” kata Yayuk.
Pesona Batik Danar Hadi dari Mahasiswa ESMOD
ESMOD Fashion Festival 2012 yang berlangsung di Gandaria City, menghadirkan show untuk memamerkan koleksi para perancang Indonesia, seperti Sapto Djojokartiko, Afriyanti, Mel Ahyar, dan Dynand Fariz. Selain itu juga ada show dari para sponsor acara ini, seperti PT Unilever Indonesia melalui produk Trashion-nya, Sophie Paris, dan Danar Hadi.
Batik Danar Hadi, yang didirikan oleh H. Santosa Doellah pada 1967, menyelenggarakan show bertema "Pesona Batik", bekerja sama dengan ESMOD International. Kerja sama ini berawal pada Juni 2011, ketika tim Danar Hadi memaparkan keinginan untuk memperkenalkan batik ke Paris sebagai pusat mode dunia. Kebetulan saat itu menjelang international meeting dalam rangka perayaan hari jadi ESMOD yang ke-170, yang dihadiri perwakilan 21 cabang ESMOD di dunia, yaitu Paris, Sao Paulo, Lyon, Tunis, Dubai, Beirut, Damascus, Osaka, Beijing, Oslo, dan lain sebagainya.
Batik Danar Hadi, yang didirikan oleh H. Santosa Doellah pada 1967, menyelenggarakan show bertema "Pesona Batik", bekerja sama dengan ESMOD International. Kerja sama ini berawal pada Juni 2011, ketika tim Danar Hadi memaparkan keinginan untuk memperkenalkan batik ke Paris sebagai pusat mode dunia. Kebetulan saat itu menjelang international meeting dalam rangka perayaan hari jadi ESMOD yang ke-170, yang dihadiri perwakilan 21 cabang ESMOD di dunia, yaitu Paris, Sao Paulo, Lyon, Tunis, Dubai, Beirut, Damascus, Osaka, Beijing, Oslo, dan lain sebagainya.
Pemilihan Putra-Putri Batik Kembali Digelar
jang pemilihan Putra-Putri Batik Nusantara kembali digelar. Pada penyelenggaraan tahun lalu di bulan September, ajang ini diikuti oleh 600 peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.
Menurut Tantie Koestantia selaku Ketua Panitia Pemilihan Putra-Putri Batik Nusantara (PPBN) 2012, ajang tersebut terbuka untuk umum dan pendaftaran telah dibuka .
"Pendaftaran berakhir tanggal 25 Agustus pada pukul empat sore. Pendaftaran bisa melalui website kami," ungkapnya kepada wartawan di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu
Ia menjelaskan ajang PPBN menghasilkan duta-duta batik yang memperkenalkan batik tak hanya kepada generasi muda Indonesia, namun juga orang asing. Salah satunya adalah bekerja sama dengan dinas pariwisata daerah untuk menjadikan finalis PPBN sebagai duta batik di daerahnya masing-masing.
"Tahun lalu, kami ajak ke Pekalongan dan Semarang, kami bekerjasama dengan Pemda (pemerintah daerah) setempat, untuk melakukan tur ke tempat-tempat pembuatan batik," jelas Tantie.
Oleh karena itu, persyaratan bagi peserta pemilihan tersebut adalah mengenal batik dan berwawasan luas. Tentu saja, memiliki penampilan yang menarik, menjadi salah satu kriteria bagi peserta yang berminat ikut dalam ajang PPBN
"Jika dia bisa membatik, itu bisa menjadi nilai tambah. Dari 28 finalis tahun lalu, semuanya bisa membatik dan memiliki prestasi akademik," ungkap Tantie.
Kriteria peserta, lanjutnya, harus berumur 18-25 tahun dan telah lulus SMA. Peserta yang lolos akan melalui proses karantina, sehingga diperlukan persyaratan telah lulus SMA. Tantie menuturkan bahwa setiap peserta memiliki intelegensia yang cukup tinggi atau berbakat seni.
"Seperti salah satu finalis tahun lalu, Dokter Bambang. Saat ini sedang mengambil spesialis jantung. Dia sudah menulis buku tentang batik bahkan sebelum mengikuti ajang PPBN," jelasnya.
Pentingnya unsur akademik sebagai kriteria penilaian dalam ajang tersebut juga selaras dengan hadiah yang ditawarkan. Tantie menjelaskan untuk pemenang pertama akan mendapatkan hadiah berupa beasiswa S2 di Universitas Pelita Harapan.
Ajang PPBN diselenggarakan oleh Ikatan Pecinta Batik Nusantara dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pendaftaran peserta bisa dilakukan melalui situs ini. Malam final akan di Balai Kartini, Jakarta, bertepatan pada saat perayaan Hari Batik.
Menurut Tantie Koestantia selaku Ketua Panitia Pemilihan Putra-Putri Batik Nusantara (PPBN) 2012, ajang tersebut terbuka untuk umum dan pendaftaran telah dibuka .
"Pendaftaran berakhir tanggal 25 Agustus pada pukul empat sore. Pendaftaran bisa melalui website kami," ungkapnya kepada wartawan di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu
Ia menjelaskan ajang PPBN menghasilkan duta-duta batik yang memperkenalkan batik tak hanya kepada generasi muda Indonesia, namun juga orang asing. Salah satunya adalah bekerja sama dengan dinas pariwisata daerah untuk menjadikan finalis PPBN sebagai duta batik di daerahnya masing-masing.
"Tahun lalu, kami ajak ke Pekalongan dan Semarang, kami bekerjasama dengan Pemda (pemerintah daerah) setempat, untuk melakukan tur ke tempat-tempat pembuatan batik," jelas Tantie.
Oleh karena itu, persyaratan bagi peserta pemilihan tersebut adalah mengenal batik dan berwawasan luas. Tentu saja, memiliki penampilan yang menarik, menjadi salah satu kriteria bagi peserta yang berminat ikut dalam ajang PPBN
"Jika dia bisa membatik, itu bisa menjadi nilai tambah. Dari 28 finalis tahun lalu, semuanya bisa membatik dan memiliki prestasi akademik," ungkap Tantie.
Kriteria peserta, lanjutnya, harus berumur 18-25 tahun dan telah lulus SMA. Peserta yang lolos akan melalui proses karantina, sehingga diperlukan persyaratan telah lulus SMA. Tantie menuturkan bahwa setiap peserta memiliki intelegensia yang cukup tinggi atau berbakat seni.
"Seperti salah satu finalis tahun lalu, Dokter Bambang. Saat ini sedang mengambil spesialis jantung. Dia sudah menulis buku tentang batik bahkan sebelum mengikuti ajang PPBN," jelasnya.
Pentingnya unsur akademik sebagai kriteria penilaian dalam ajang tersebut juga selaras dengan hadiah yang ditawarkan. Tantie menjelaskan untuk pemenang pertama akan mendapatkan hadiah berupa beasiswa S2 di Universitas Pelita Harapan.
Ajang PPBN diselenggarakan oleh Ikatan Pecinta Batik Nusantara dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pendaftaran peserta bisa dilakukan melalui situs ini. Malam final akan di Balai Kartini, Jakarta, bertepatan pada saat perayaan Hari Batik.
Kompas.com Ikut Rayakan Hari Batik Nasional
Portal berita Kompas.com turut merayakan Hari Batik Nasional tahun 2012, dengan memasang motif batik sebagai latar belakang halaman utama .
Motif batik yang didominasi warna coklat ini dipasang sejak 2 Oktober dini hari, sebagai apresiasi kebanggaan dan turut melestarikan batik Indonesia.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) mengakui batik sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009, lewat keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Batik Indonesia dinilai sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Motif batik yang didominasi warna coklat ini dipasang sejak 2 Oktober dini hari, sebagai apresiasi kebanggaan dan turut melestarikan batik Indonesia.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) mengakui batik sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009, lewat keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Batik Indonesia dinilai sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Gerakan Sosial BatikDay, Agar Batik Indonesia Mendunia
Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Batik Nasional yang telah memasuki tahun keempat, sejak UNESCO mengakui batik sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009.
Sebuah gerakan sosial pun dibentuk untuk melestarikan dan lebih mempopulerkan batik di tingkat lokal maupun internasional. Gerakan sosial ini disebut "#BatikDay, Celebrating a National Pride and a Cultural Heritage of Indonesia." Tagar BatikDay (#BatikDay), pada siang hari sempat menjaditrending topic di Twitter untuk kawasan Indonesia.
Salah seorang inisiator gerakan sosial #BatikDay, Shinta Dhanuwardoyo, mengatakan, kata bahasa Inggris Batik Day sengaja dipakai agar negara lain mengetahui bahwa batik adalah warisan budaya khas Indonesia yang telah diakui Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO).
“Sayang sekali jika lembaga dunia sudah mengakui, namun yang tahu hanya di lokalnya saja. Oleh karena itu, pada gerakan ini kami menggunakan Bahasa Inggris, Batik Day, dan bukan Hari Batik, agar dunia internasional lebih mudah mengambil informasi mengenai batik Indonesia,” ujar Shinta.
Tak berhenti sampai di situ. Shinta ingin masyarakat Indonesia lebih mengenal sejarah batik, serta mengetahui arti dan filosofi motifnya. Sehingga, batik tak hanya menjadi topik pembicaraan hangat ketika negara lain mengklaim kepemilikannya.
Shinta selaku praktisi industri digital, juga mengajak portal berita nasional untuk mengikuti kompetisi desain nuansa batik. Kompas.com pun ikut merayakan Hari Batik Nasional ini dengan memasang motif batik dominasi warna cokelat sebagai latar belakang halaman utama sejak Selasa dini hari (2/10/2012).
“Kami mengajak banyak pihak untuk gerakan sosial ini. Desainer web site, desainer aplikasi media sosial, pengusaha batik, blogger, desainer fashion dan banyak lainnya, agar gerakan ini semakin dimiliki oleh masyarakat Indonesia," tegas Shinta.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), turut memberi apresiasi untuk para blogger internasional dan nasional yang berpartisipasi dalam gerakan BatikDay untuk berkunjung ke Jakarta Fahion Week 2013 dan kunjungan ke sentra batik.
.
Sebagai wadah untuk seluruh gerakan ini, Shinta membangun situs web BatikDay, yang beralamat dihttp://batikday.com. Voting kompetisi desain nuansa batik untuk portal berita nasional juga digelar di situs web ini. Penilaiannya dilaksanakan sejak 2 Oktober sampai 5 Oktober 2012. Shinta punya cita-cita, situs web BatikDay dapat menampung segala macam pengetahuan tentang batik dan motif-motif batik dari seluruh daerah di Indonesia.
Tagar (hastag) BatikDay (#BatikDay) menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di jejaring sosial Twitter untuk kawasan Indonesia.
Tagar ini merupakan gerakan sosial untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (2/10/2012).
Setelah #BatikDay, kata "Happy Batik Day" menempati posisi teratas sebagai topik yang paling banyak dibicarakan di Twitter.
Salah seorang inisiator gerakan sosial #BatikDay, Shinta Dhanuwardoyo, mengatakan, kata bahasa Inggris Batik Day sengaja dipakai agar negara lain mengetahui bahwa batik adalah warisan budaya khas Indonesia yang telah diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya PBB (UNESCO) sejak 2009 lalu.
"Sayang sekali jika lembaga dunia sudah mengakui, tetapi yang tahu hanya di lokalnya saja. Oleh karena itu, pada gerakan ini kami menggunakan bahasa Inggris, Batik Day, dan bukan Hari Batik, agar dunia internasional lebih mudah mengambil informasi mengenai batik Indonesia," ujar Shinta.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Sebuah gerakan sosial pun dibentuk untuk melestarikan dan lebih mempopulerkan batik di tingkat lokal maupun internasional. Gerakan sosial ini disebut "#BatikDay, Celebrating a National Pride and a Cultural Heritage of Indonesia." Tagar BatikDay (#BatikDay), pada siang hari sempat menjaditrending topic di Twitter untuk kawasan Indonesia.
Salah seorang inisiator gerakan sosial #BatikDay, Shinta Dhanuwardoyo, mengatakan, kata bahasa Inggris Batik Day sengaja dipakai agar negara lain mengetahui bahwa batik adalah warisan budaya khas Indonesia yang telah diakui Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO).
“Sayang sekali jika lembaga dunia sudah mengakui, namun yang tahu hanya di lokalnya saja. Oleh karena itu, pada gerakan ini kami menggunakan Bahasa Inggris, Batik Day, dan bukan Hari Batik, agar dunia internasional lebih mudah mengambil informasi mengenai batik Indonesia,” ujar Shinta.
Tak berhenti sampai di situ. Shinta ingin masyarakat Indonesia lebih mengenal sejarah batik, serta mengetahui arti dan filosofi motifnya. Sehingga, batik tak hanya menjadi topik pembicaraan hangat ketika negara lain mengklaim kepemilikannya.
Shinta selaku praktisi industri digital, juga mengajak portal berita nasional untuk mengikuti kompetisi desain nuansa batik. Kompas.com pun ikut merayakan Hari Batik Nasional ini dengan memasang motif batik dominasi warna cokelat sebagai latar belakang halaman utama sejak Selasa dini hari (2/10/2012).
“Kami mengajak banyak pihak untuk gerakan sosial ini. Desainer web site, desainer aplikasi media sosial, pengusaha batik, blogger, desainer fashion dan banyak lainnya, agar gerakan ini semakin dimiliki oleh masyarakat Indonesia," tegas Shinta.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), turut memberi apresiasi untuk para blogger internasional dan nasional yang berpartisipasi dalam gerakan BatikDay untuk berkunjung ke Jakarta Fahion Week 2013 dan kunjungan ke sentra batik.
.
Sebagai wadah untuk seluruh gerakan ini, Shinta membangun situs web BatikDay, yang beralamat dihttp://batikday.com. Voting kompetisi desain nuansa batik untuk portal berita nasional juga digelar di situs web ini. Penilaiannya dilaksanakan sejak 2 Oktober sampai 5 Oktober 2012. Shinta punya cita-cita, situs web BatikDay dapat menampung segala macam pengetahuan tentang batik dan motif-motif batik dari seluruh daerah di Indonesia.
Tagar (hastag) BatikDay (#BatikDay) menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di jejaring sosial Twitter untuk kawasan Indonesia.
Tagar ini merupakan gerakan sosial untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (2/10/2012).
Setelah #BatikDay, kata "Happy Batik Day" menempati posisi teratas sebagai topik yang paling banyak dibicarakan di Twitter.
Salah seorang inisiator gerakan sosial #BatikDay, Shinta Dhanuwardoyo, mengatakan, kata bahasa Inggris Batik Day sengaja dipakai agar negara lain mengetahui bahwa batik adalah warisan budaya khas Indonesia yang telah diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya PBB (UNESCO) sejak 2009 lalu.
"Sayang sekali jika lembaga dunia sudah mengakui, tetapi yang tahu hanya di lokalnya saja. Oleh karena itu, pada gerakan ini kami menggunakan bahasa Inggris, Batik Day, dan bukan Hari Batik, agar dunia internasional lebih mudah mengambil informasi mengenai batik Indonesia," ujar Shinta.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Kompas.com Raih Penghargaan Portal Berdesain Batik
Menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, gerakan "#BatikDay, Celebrating a National Pride and a Cultural Heritage of Indonesia" mengundang portal-portal lokal dan nasional untuk mendesain halaman situsnya dengan motif batik. Sebanyak 30 portal lokal dan nasional ikut serta dalam gerakan digital ini, termasuk Kompas.com.
Dari pengumpulan suara melalui situs BatikDay.com,Kompas.com mendapatkan suara terbanyak kedua dengan 776 suara. Dua suara terbanyak lain diraih Kaskus (2021 suara) danKeepo.me (455 suara). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Shinta Dhanuwardoyo, pengusaha digital dan teknologi yang juga inisiator #BatikDay di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/2012) lalu.
Kompetisi ini diadakan karena Shinta ingin gaung Hari Batik lebih terdengar. Ia menyayangkan bahwa selama ini orang Indonesia baru ribut tentang batik ketika Malaysia diberitakan mengklaim batik sebagai produk budaya mereka. Padahal, sebelumnya orang Indonesia sendiri terkesan kurang menghargai batik. Terbukti, sebelumnya batik tidak menjadi busana sehari-hari dan pengetahuan masyarakat tentang batik pun terbilang minim.
Untuk itu, Shinta dan timnya bekerja sama dengan komunitas pecinta batik untuk mengumpulkan semua informasi tentang batik dan memuatnya dalam situs BatikDay.com. Shinta berharap Hari Batik tidak ditanggapi sekadar dengan mengenakan busana batik, tetapi juga bahwa setiap orang lebih mampu mengapresiasi dengan menambah pengetahuan mereka tentang batik.
"Sejak dua tahun lalu, saya juga sudah mengingatkan portal-portal untuk mengganti desain halaman depannya dengan motif batik. Sayangnya, tidak banyak yang tahu bahwa portal-portal ini sudah melakukan effort untuk melakukan hal ini. Jadi, saya pikir portal-portal ini harus dikumpulkan dan hasilnya diperlihatkan ke masyarakat," papar Shinta pada Kompas.com.
Trending topic
Pemilihan desain batik untuk portal hanya merupakan salah satu program gerakan #BatikDay. Sebelumnya, BatikDay.commengajak para pengguna akun Twitter di Indonesia untuk menuliskan komentar mengenai hari batik dan membubuhkan #BatikDay di dalam tweet mereka.
Sambutannya ternyata luar biasa. Sepanjang 1-4 Oktober lalu, terdapat hampir 50.000 tweet yang menggunakan tagar Batik Day. Hal ini membuat #BatikDay sempat menjadi trending topic nasional, tepatnya pada tanggal 2 Oktober.
Penggunaan kata kunci #BatikDay, dan bukannya kata kunci dalam bahasa Indonesia seperti Hari Batik, rupanya juga dimaksudnya agar membantu kata kunci tersebut menembus topik tren Twitter di seluruh dunia. Harapannya agar para pengguna internet di seluruh dunia dapat mengerti bahwa batik Indonesia telah dikukuhkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Dengan demikian, batik tak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
"Sebagai gerakan berbasis digital, menjadi trending topic merupakan salah satu indikasi keberhasilan gerakan ini," ujar Shinta.
Gerakan digital lain yang dilakukan #BatikDay adalah mengajak para blogger nasional dan internasional untuk menulis mengenai batik dan menyebarkan aplikasi desain batik untuk cover Facebook.
"Kami juga bekerja sama dengan fashion blogger luar. Sebelumnya saya tanya lebih dulu, mau enggak mereka membantu (menyebarluaskan batik) dengan mengirimkan foto mereka memakai batik dan sedikit membahasnya. Saya mengirim batik ke 10 blogger, tapi akhirnya hanya enam yang memasang foto mereka memakai batik di blognya," tambahnya.
Sebagai penghargaan terhadap para blogger tersebut, #BatikDay melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan memilih tulisan terbaik dan mengundang mereka menghadiri event Jakarta Fashion Week yang akan berlangsung pada November 2012. Selain itu para blogger juga akan diajak mengunjungi salah satu sentra batik Indonesia.
Untuk gerakan non-digital, #BatikDay juga menggelar pemutaran film karya Nia Dinata, Batik Our Love Story, dan diskusi mengenai "Pengaruh Batik pada Industri Fashion Amerika", bersamaan dengan penyerahan penghargaan untuk pemenang kompetisi portal berdesain batik. Topik ini diangkat untuk memahami ketertarikan para desainer mode internasional yang kini juga banyak mengaplikasikan motif batik pada rancangan mereka.
Dari pengumpulan suara melalui situs BatikDay.com,Kompas.com mendapatkan suara terbanyak kedua dengan 776 suara. Dua suara terbanyak lain diraih Kaskus (2021 suara) danKeepo.me (455 suara). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Shinta Dhanuwardoyo, pengusaha digital dan teknologi yang juga inisiator #BatikDay di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/2012) lalu.
Kompetisi ini diadakan karena Shinta ingin gaung Hari Batik lebih terdengar. Ia menyayangkan bahwa selama ini orang Indonesia baru ribut tentang batik ketika Malaysia diberitakan mengklaim batik sebagai produk budaya mereka. Padahal, sebelumnya orang Indonesia sendiri terkesan kurang menghargai batik. Terbukti, sebelumnya batik tidak menjadi busana sehari-hari dan pengetahuan masyarakat tentang batik pun terbilang minim.
Untuk itu, Shinta dan timnya bekerja sama dengan komunitas pecinta batik untuk mengumpulkan semua informasi tentang batik dan memuatnya dalam situs BatikDay.com. Shinta berharap Hari Batik tidak ditanggapi sekadar dengan mengenakan busana batik, tetapi juga bahwa setiap orang lebih mampu mengapresiasi dengan menambah pengetahuan mereka tentang batik.
"Sejak dua tahun lalu, saya juga sudah mengingatkan portal-portal untuk mengganti desain halaman depannya dengan motif batik. Sayangnya, tidak banyak yang tahu bahwa portal-portal ini sudah melakukan effort untuk melakukan hal ini. Jadi, saya pikir portal-portal ini harus dikumpulkan dan hasilnya diperlihatkan ke masyarakat," papar Shinta pada Kompas.com.
Trending topic
Pemilihan desain batik untuk portal hanya merupakan salah satu program gerakan #BatikDay. Sebelumnya, BatikDay.commengajak para pengguna akun Twitter di Indonesia untuk menuliskan komentar mengenai hari batik dan membubuhkan #BatikDay di dalam tweet mereka.
Sambutannya ternyata luar biasa. Sepanjang 1-4 Oktober lalu, terdapat hampir 50.000 tweet yang menggunakan tagar Batik Day. Hal ini membuat #BatikDay sempat menjadi trending topic nasional, tepatnya pada tanggal 2 Oktober.
Penggunaan kata kunci #BatikDay, dan bukannya kata kunci dalam bahasa Indonesia seperti Hari Batik, rupanya juga dimaksudnya agar membantu kata kunci tersebut menembus topik tren Twitter di seluruh dunia. Harapannya agar para pengguna internet di seluruh dunia dapat mengerti bahwa batik Indonesia telah dikukuhkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Dengan demikian, batik tak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
"Sebagai gerakan berbasis digital, menjadi trending topic merupakan salah satu indikasi keberhasilan gerakan ini," ujar Shinta.
Gerakan digital lain yang dilakukan #BatikDay adalah mengajak para blogger nasional dan internasional untuk menulis mengenai batik dan menyebarkan aplikasi desain batik untuk cover Facebook.
"Kami juga bekerja sama dengan fashion blogger luar. Sebelumnya saya tanya lebih dulu, mau enggak mereka membantu (menyebarluaskan batik) dengan mengirimkan foto mereka memakai batik dan sedikit membahasnya. Saya mengirim batik ke 10 blogger, tapi akhirnya hanya enam yang memasang foto mereka memakai batik di blognya," tambahnya.
Sebagai penghargaan terhadap para blogger tersebut, #BatikDay melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan memilih tulisan terbaik dan mengundang mereka menghadiri event Jakarta Fashion Week yang akan berlangsung pada November 2012. Selain itu para blogger juga akan diajak mengunjungi salah satu sentra batik Indonesia.
Untuk gerakan non-digital, #BatikDay juga menggelar pemutaran film karya Nia Dinata, Batik Our Love Story, dan diskusi mengenai "Pengaruh Batik pada Industri Fashion Amerika", bersamaan dengan penyerahan penghargaan untuk pemenang kompetisi portal berdesain batik. Topik ini diangkat untuk memahami ketertarikan para desainer mode internasional yang kini juga banyak mengaplikasikan motif batik pada rancangan mereka.
Ketika Batik Merasuk di Industri Mode Amerika
Batik sudah menjadi gaya hidup. Bukan hanya dalam bentuk kain tradisional saja, tetapi juga dalam bentuk apa saja dalam semua bidang kehidupan. Di rumah, misalnya, sarung bantal, seprai, taplak meja, hingga peralatan makan juga bisa menggunakan motif batik. Sehingga batik boleh dibilang sudah menjadi bagian dari putaran gaya hidup global.
Banyak desainer fashion dunia sekarang juga sudah mengadaptasi batik Indonesia dalam koleksi busana mereka. Mereka tidak mengambil teknik membatiknya, yang sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi dari Indonesia sejak 2 Oktober 2009, melainkan motifnya. Beberapa perancang atau label yang menggunakan motif ini adalah Dries Van Noten, Nicole Miller, Burberry Prorsum, dan Diane von Furstenberg.
Desainer Belgia Dries Van Noten, yang menggunakan motif batik untuk koleksi Spring/Summer 2010 yang dipamerkannya di Paris Fashion Week. Jika Anda mengamati foto-foto busana koleksinya, tampak sekali bahwa perancang yang dikenal dengan gaya print-nya ini memanfaatkan beberapa motif kain Indonesia.
Selasa, 16 April 2013
Batik sampai Koteka, Berburu Oleh-oleh di Jayapura
Kota Jayapura menjadi surga berburu oleh-oleh khas Papua. Selain sejak lama berkembang pesat menjadi kota yang dihuni oleh lintas penduduk dari berbagai daerah di Indonesia, kota ini menjadi kota pelajar dan ibu kota Provinsi Papua. Tak heran, sangat mudah menemukan aneka suvenir sebagai buah tangan saat kembali ke daerah asal. Cukup mampir ke daerah Pasar Hamadi. Pilihan lain adalah berburu aneka makanan maupun bahan masakan di pasar tradisional. Berikut beberapa barang yang harus dalam daftar belanja Anda.
Batik Papua. Mari berburu batik dengan motif-motif Papua. Aneka gambar cendrawasih, tifa, sampai motif kapak batu. Simbol cecak dan buaya pun juga banyak ditemukan di desain batik. Tentu aneka patung suku seperti suku Asmat maupun Sentani juga kerap muncul.
Warna-warna dominan adalah warna tanah dan merah batu bata. Namun, batik Papua juga hadir dengan warna-warna cerah menggoda seperti biru terang, kuning, merah, ungu, hingga merah jambu.
Salah satu toko favorit untuk berburu batik papua adalah toko Aneka Batik yang berada di Jalan Percetakan I. Aneka Batik memiliki dua toko di Jayapura. Namun di pusat kota Jayapura sendiri terdapat beberapa toko yang menjual batik papua.
Aneka Batik menjadi favorit karena motif dan warna yang dijual beragam. Serta harga yang bervariasi. Di sini dijual kain meteran dengan harga mulai dari Rp 30.000 per meter. Harga tergantung dari jenis kain, proses pembuatan, sampai pengunaan prada.
Kain sutra dengan teknik batik canting tentu lebih mahal. Di toko ini juga dijual busana untuk perempuan maupun kemeja dan pakaian anak-anak dari batik Papua. Konon, batik-batik ini sebenarnya dibuat di Pulau Jawa, tetapi hanya boleh dijual di Jayapura.
Mau yang lebih autentik bisa mampir ke Batik Port Numbay Papua yang berada di Kotaraja, Jayapura. Jimmy Affar, pemilik workshop batik tersebut, menjadi seorang seniman batik Papua dan seringkali disebut-sebut sebagai pelopor batik Papua.
Jika mampir ke workshop batik miliknya, tampak para mace (sebutan khas Papua untuk ibu) sibuk mencanting batik. Motif-motif dipikirkan sendiri oleh Jimmy dan ia merancang busana batik untuk perempuan. Di sini Anda bisa membeli batik Papua baik berupa kain maupun busana jadi. Tentu harganya lebih mahal, karena batik canting dan sebagian besar menggunakan bahan sutra.
Koteka dan Noken. Berburu suvenir unik dengan nuansa kayu dan temali, maka Pasar Hamadi menjadi pilihan tepat. Di sepanjang tepi Jalan Sentral Hamadi berjejer toko cenderamata. Setiap toko berjualan hal yang sama, koteka berbagai ukuran, noken atau tas khas Papua, sampai patung dan asbak dengan desain suku Asmat.
Ada pula, gelang dari akar dan gantungan kunci. Pilihan lain adalah lukisan kulit kayu. Jika memilih lukisan kulit kayu, coba cari motif orang menunggang ular besar yang merupakan legenda masyarakat Sentani. Namun, aneka lukisan lain bercorak khas Papua bisa juga menjadi pilihan Anda.
Koteka yang dijual memiliki beragam ukuran dan jenis bahan koteka. Tentu saja ini adalah koteka-koteka yang khusus dibuat untuk suvenir. Sehingga setiap koteka biasanya diberikan lukisan dengan motif-motif suku di Papua. Koteka dijual dengan kisaran mulai dari Rp 30.000.
Matoa. Buah asal tanah Papua ini begitu unik. Jika beruntung dan datang di saat musim berbuah Matoa, Anda bisa membelinya dengan harga lebih terjangkau. Walaupun tak bisa dibilang murah, karena kisaran harganya Rp 30.000 – Rp 80.000 per kilogram tergantung jenisnya.
Tetapi, jika tak lagi musim berbuah, harga pun melonjak. Bisa-bisa harga per kilogram mencapai Rp 50.000 bahkan lebih dari Rp 130.000 untuk jenis tertentu.
Matoa di Papua biasanya ada dua jenis yang dijual yaitu Matoa Kepala dan Matoa Papeda. Ada banyak penjaja buah matoa di Abepura tepatnya di Jalan Raya Abe-Kotaraja. Pilihan lain adalah berkunjung ke pasar tradisional.
Buah Matoa sendiri seperti buah rambutan. Walaupun kulitnya tak berbulu seperti rambutan. Namun daging dan biji di dalam kulitnya mirip rambutan. Berwarna putih, lembut dan berair banyak, serta terasa manis.
Agak sulit mendeskripsikan rasa dari buah Matoa. Ada rasa manis berair seperti rambutan, leci, dan kelengkeng. Lalu, ada pula buah Matoa yang memiliki selintasan rasa dan aroma seperti durian. Bahkan ada buah Matoa yang sedikit terasa kelapa.
8 Langkah Pada Cara Membuat Batik
Apakah Anda tertarik untuk membuat batik sendiri? Atau Anda ingin belajar untuk menciptakan seni yang indah. Atau mungkin Anda hanya mencari tutorial tentang cara membuat batik. Dalam artikel ini Anda menemukan apa yang Anda inginkan.
Alat untuk membuat batik:
Beberapa alat-alat di sini adalah dalam jangka Indonesia tapi aku yakin Anda akan mengerti.
1. Mori kain (bisa terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester)
2. pensil
3. Canting (ini adalah untuk menciptakan desain menggunakan lilin)
4. Gawangan (ini adalah tempat untuk menggantung kain saat Anda membuat desain)
5. Liquid lilin
6. kecil pan
7. Kecil kompor (untuk memanaskan lilin)
8. Solvent pewarna
Di sini kita pergi, kita siap untuk membuat batik.
1. Pertama tentang cara membuat batik, kita membuat pola awal atau desain dengan menggunakan pensil. Di Indonesia pola ini dalam langkah ini disebut "molani". Untuk para pembuat batik ahli, mereka mampu menciptakan motif mereka sendiri. Tapi untuk pemula, disarankan untuk mengikuti motif-motif umum yang tersedia.
2. Setelah Anda selesai membuat molani, langkah selanjutnya adalah melukis dengan lilin cair dengan menggunakan canting dengan mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya.
3. Menutupi bagian-bagian yang akan tetap berwarna dengan menggunakan lilin. Gunakan canting pada bagian rinci dan menggunakan kuas pada area yang luas.
4. Langkah keempat adalah proses pewarnaan dengan mencelupkan kain ke dalam pewarna pelarut tertentu.
5. Pengeringan dengan kain yang telah dicelupkan.
6. Jika Anda ingin memiliki beberapa warna, maka langkah nomor 3, 4, dan 5 harus diulang beberapa kali tergantung pada berapa banyak warna yang Anda inginkan.
7. Bila warna seluruh bagian kain telah berubah, sekarang saatnya untuk merebusnya dengan air panas. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan lilin sehingga motif yang telah dibuat dapat dilihat dengan jelas. Di Indonesia, proses ini disebut "nglorot".
8. Tentu saja hal ini kain batik perlu dicuci untuk menjadi bersih. Ini adalah proses terakhir dari pembuatan batik. Cuci dan keringkan.
Sejarah Batik Minangkabau
Minangkabau disebut batik batik liek tanah, karena batik adalah berasal dari Sumatera Barat adalah salah satu dari warna tanah liek The, yaitu tanah liat. Ada berbagai sumber pewarna alami. Ada kulit jengkol, rambutan kulit, gambir, kulit mahoni, daun dan akar jerame lain juga digunakan.
Batik Tanah Liek historis berasal dari Cina yang dibawa oleh pedagang Cina. Karena kecantikan wanita Minang untuk mengambil keuntungan dari ini selendang batik. Harganya relatif mahal dan hanya digunakan pada acara-acara khusus saja. Dalam acara yang hanya digunakan oleh ninik mamak dan BUNDO KANDUANG, atau model kustom. Selendang ini selalu dipertahankan oleh orang Minang sebagai peninggalan leluhur kerajinan.
Jika adopsi dari banyak motif batik lokal lainnya flora, tanah liek batik terinspirasi banyak Pessel hewan laut seperti kuda laut, dan biota lainnya. Dikatakan Ketua Dekranasda Pessel Nasrul Mrs wartawan abit disebabkan topografi daerah yang terletak di pantai sehingga masyarakatnya sangat akrab dan dekat dengan laut. Sehingga kehidupan laut yang beragam dan memiliki keindahan tersendiri menjadi inspirasi untuk menciptakan karya seni atau kerajinan tangan seperti batik.
"Ada Pessel Batik motif 9, 6 motif laut dan motif bunga, yaitu kaluak paku ke tepi kain," kata wartawan pekerja keras yang mengangkat potensi daerah ini ke dunia luar didampingi pengurus Dekranasda, Suryani . Sejarah batik berasal Pessel memasak liek sejak zaman kuno, ketika bentuk batik scarf hanya dikenakan untuk acara adat. Warna batik hanya ada dua, warna tanah dan hitam.
Tanah warna yang diperoleh dengan merendam kain dalam larutan tanah liat. Sementara kulit hitam jengkol diperoleh dari solusi dengan cara merendam dalam air. Seiring pasar perkembangan zaman, dan tuntuan, batik liek Pessel berkembang menjadi memasak berbagai fashion seperti baju stelan, pakaian jubah, jilbab dan baju koko atau baju untuk laki-laki. Setiap warna sesuai selera pasar yang semakin beragam.
Ada warna-warna cerah, seperti merah, pink, biru, warna hijau untuk berbaur warna-warna lembut dan indah. Kain sutra dasar tidak hanya ringan dan nyaman tapi juga ada santung dobi dan lain-lain. Sampai saat ini tanah liek Pessel batik sudah terbang di mana-mana, baik di dalam dan luar negeri
Sumbar "go internasionalkan" Batik Liek melalui fashion
MEDAN - Pemerintah Sumatera Barat akan mempromosikan atau "meng-go internasionalkan" Batik Tanah Liek (tanah liat - red) hasil kerajinan daerah pesisir selatan itu melalui fashion.
"Pemprov Sumbar komit memberikan dukungan penuh pada pengembangan industri kreatifnya termasuk fashion, di mana tahun ini difokuskan pada pengembangan Batik Tanah Liek," kata desainer angota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Oki Wong, di Medan tadi malam.
Dia berbicara di sela-sela pelantikan kepengurusan APPMI Sumut dengan ketua Nilawaty Iskandar oleh Ketua Umum APPMI, Taruna K Kusmayadi.
Menurut rencana, pengenalan luas fashion berbahan batik Tanah Liek itu akan digelar Pemprov Sumbar Desember mendatang.
Pengenalan lebih meluas Batik Tanah Liek itu, setelah Pemprov Sumbar dalam beberapa tahun terakhir ini aktif memperkenalkan kembali batik yang pewarnaannya menggunakan antara lain campuran tanah liat.
" Para desainer di Sumbar termasuk saya sudah diinformasikan dan ikut diajak mendiskusikan rencana pagelaran fashion Batik Tanah Liek itu," katanya.
Batik atau tenunan daerah memang sangat potensial membantu pengembangan desain fashion dan sebaliknya. Dia mengakui, fashion menggunakan bahan batik atau tenunan menuntut kreatifitas desainernya untuk bisa menampilkan gaun yang bernilai jual mahal.
"Nyatanya memang, fashion dengan bahan kain batik atau tenunan suatu daerah cukup mendapat tempat di hati masyarakat khususnya warga asing dengan alasan lebih memiliki nilai seni," katanya.
Ketua Umum APPMI, Taruna K Kusmayadi, menyebutkan, penggunaan batik atau tenunan daerah akan sangat membantu pengembangan pengrajin sekaligus mempromosikan etnis dan budaya suatu daerah.
Sudah seharusnya pemerintah daerah mendukung penuh pengembangan fashion menggunakan bahan batik atau tenunan daerahnya karena semakin menambah nilai jual daerah itu sendiri.
Batik Unik Tanah Liek
Setahun sudah batik diakui Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Batik yang selama ini dikenal sebagai budaya masyarakat Jawa, ternyata juga dijumpai di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.
Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.
Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.
Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?
Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.
Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.
Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.
Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?
Mengenal Corak Batik Sumatera
Kita sebagai bangsa Indonesia dapat berterima kasih kepada pihak Malaysia yang sudah mempromosikan Batik sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Karena:
1. Sebelum-sebelumnya kita tidak terlalu menghargai warisan budaya yang sangat indah ini. Sebelum-sebelumnya kita tidak mengajukan Batik kepada UNESCO untuk diakui dunia.
2. Sebelumnya batik hanya diidentikkan dengan pakaian orang tua atau pakaian resmi jika menghadiri acara undangan pernikahan.
3. Sebelum-sebelumnya anak muda enggan pakai batik, namun sekarang para selebritis pun terlihat keren memakai batik yang dimodernisasikan.
4. Sebelum-sebelumnya tidak ada hari Jumat para eksekutif di kawasan bisnis Jakarta menggunakan batik untuk ke kantor.
Kita patut berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Malaysia baik itu pemerintah dan seluruh pihak swastanya. Sudah bertambahkah kecintaan kita akan batik Indonesia? Sudah bertambahkah pengetahuan kita mengenai batik Indonesia?
Batik Aceh
Pengrajin Batik Aceh
Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh.
Motif-motif pada batik Aceh umumnya melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif Pintu Aceh misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif tersebut mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan.
Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.
Batik Jambi
Berbeda dengan batik Jawa yang menggunakan potongan-potongan kain panjang, batik Jambi biasanya datang dalam bentuk jubah longgar, sarung, atau sebagai selendang/syal. Warna khas yang biasa dijumpai pada batik Jambi adalah merah, biru, hitam, dan kuning. Motifnya pada umumnya diambil dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan aktivitas sehari-hari warga Jambi. Motif batik Jambi yang terkenal antara lain adalah motif kapal sanggat, burung kuau, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.
Batik Bengkulu
Motif batik khas Bengkulu, konon, merupakan sebuah adopsi campuran dari motif kaligrafi Jambi dengan Cirebon. Adopsi itu membentuk sebuah desain batik khas Bengkulu. Batik khas Bengkulu secara umum terdiri dari dua jenis. Pertama adalah batik Besurek dengan motif khasnya berupa tulisan kaligrafi. Dan kedua adalah batik Pei Ka Ga Nga atau disebut juga dengan batik Ka Ga Nga yang memiliki motif berupa tulisan asli masyarakat Rejang Lebong. Beberapa motif dasar dari batik Besurek antara lain: motif kaligrafi (diambil dari huruf-huruf kaligrafi. Untuk batik Besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak bermakna); motif bunga rafflesia; motif burung kuau (bergambar burung yang terbuat dari rangkaian huruf-huruf kaligrafi); motif relung paku; dan motif rembulan.
Batik Riau
Di Riau, konon ada batik Selerang yang sempat begitu terkenal pada tahun 1990-an namun sayangnya kabarnya saat ini sudah menghilang. Selain itu, ada pula yang namanya batik Tabir. Batik Tabir yang dibuat berdasarkan sistem tulis dan tolek ini warna-warnanya terang dan cerah, seperti merah, kuning, hijau. Corak dan motifnya antara lain adalah bunga bintang, sosou, cempaka, dan kenduduk.
Batik Padang
Di Padang, batiknya yang terkenal bernama batik tanah liek/tanah liat. Dinamakan demikian karena dalam proses pewarnaannya, batik ini dicelupkan ke dalam tanah liat. Namun, seiring dengan permintaan pasar, batik tanah liek ini tidak hanya berwarna cokelat saja. Batik ini pada akhirnya juga diwarnai menggunakan sumber-sumber pewarna alam lainnya. Sebut saja seperti kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, dan lain-lain. Bahannya pun ada yang terbuat dari katun ataupun sutera. Motifnya juga bermacam-macam antara lain tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dan lain-lain.
Batik Lampung
Mungkin lebih banyak orang mengenal Lampung dari kain tenun tapis-nya. Tapi jangan salah, Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik ini lahir melalui proses panjang yang dilakukan oleh Andriand Damiri Sangadjie, seorang budayawan, bersama kawan-kawannya. Motif batik Lampung yang paling terkenal dan sering menjadi rebutan kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan”.
Untuk Melestarikan Budaya Batik, Pemkab Gelar Lomba Model Batik
Untuk melestarikan budaya batik dan memasyarakatkan batik khas Lumajangan sekaligus memperingati Harjalu ke-757 hari ini, Minggu (9/12), Pemkab Lumajang mengelar "Batik Model's Contest 2012" di Halaman Kantor Bupati. Puluhan peserta ikut dalam pemilihan model batik Lumajangan dari berbagai kelompok umur melenggang lenggok di atas panggung.
Bupati Lumajang, Sajharazad Masdar dalam sambutannya mengatakan, pihaknya menekankan agar batik produk pengusaha Lumajang dikembangkan dan dikenalkan ke luar kota dan luar negeri. Sehingga, jati diri seni dan budaya Lumajang dikenal luas, bukan hanya di dalam. "Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mencintai batik Lumajang," katanya.
Bupati menambahkan, para pengusaha dan pengrajin batik tidak hanya bisa membuat atau mendesain, tetapi harus bisa menciptakan pakaian khas Lumajang yang bisa diterima dalam mode Indonesia atau Internasional. "Kemarin sudah saya canangkan hari batik Lumajangan, agar batik kita dikenal luas," terangnya
Kontes model batik ini, diikuti Kelas A dengan peserta lebih dari 60 anak dari PAUD, TK dan SD. Sedangkan untuk Kelas B diikuti sekitar 40 peserta. "Selain lomba, acara ini juga dimeriahkan penampilan tari dan lagu anak-anak khas Lumajang," ujar Kabag Humas Setda Lumajang, Eddy Hozayni pada wartawan.
Kontes Model Batik Lumajang bukan sebagai ajang adu cantik, melainkan kreasi rancang batik dan memperagakan, mengenakan budaya Nusantara yang diakui Unesco. "Ini salah satu dalam mengenalkan batik Lumajang, tahun depan diharapkan motif dan kreasi dari batik lebih berkembang," pungkas Eddy Hozayni.
Bupati Lumajang, Sajharazad Masdar dalam sambutannya mengatakan, pihaknya menekankan agar batik produk pengusaha Lumajang dikembangkan dan dikenalkan ke luar kota dan luar negeri. Sehingga, jati diri seni dan budaya Lumajang dikenal luas, bukan hanya di dalam. "Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mencintai batik Lumajang," katanya.
Bupati menambahkan, para pengusaha dan pengrajin batik tidak hanya bisa membuat atau mendesain, tetapi harus bisa menciptakan pakaian khas Lumajang yang bisa diterima dalam mode Indonesia atau Internasional. "Kemarin sudah saya canangkan hari batik Lumajangan, agar batik kita dikenal luas," terangnya
Kontes model batik ini, diikuti Kelas A dengan peserta lebih dari 60 anak dari PAUD, TK dan SD. Sedangkan untuk Kelas B diikuti sekitar 40 peserta. "Selain lomba, acara ini juga dimeriahkan penampilan tari dan lagu anak-anak khas Lumajang," ujar Kabag Humas Setda Lumajang, Eddy Hozayni pada wartawan.
Kontes Model Batik Lumajang bukan sebagai ajang adu cantik, melainkan kreasi rancang batik dan memperagakan, mengenakan budaya Nusantara yang diakui Unesco. "Ini salah satu dalam mengenalkan batik Lumajang, tahun depan diharapkan motif dan kreasi dari batik lebih berkembang," pungkas Eddy Hozayni.
SENTRA BATIK GIRILOYO
A. Selayang Pandang
Dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage of humanity oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi tentu saja meningkatkan citra batik di mata dunia sebagai salah satu kain tradisional khas Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan dan patut diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat. Bentuk apresiasi itu bisa dituangkan dalam penggunaan batik sebagai pakaian kerja maupun seragam. Namun tak cukup hanya menggunakan batik saja, sebaiknya Anda juga harus mengetahui tentang sejarah batik dan bagaimana proses pembuatannya. Dengan begitu, keberadaan batik tetap dapat dicintai dan dilestarikan oleh orang Indonesia sendiri, terutama oleh generasi mudanya, sehingga tidak tergusur oleh laju perubahan zaman.
Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari dan mengetahui tentang seluk-beluk proses pembuatan batik tulis, Anda dapat berkunjung ke Dusun Giriloyo yang terletak di Yogyakarta bagian selatan. Dusun Giriloyo merupakan sentra kerajinan dan produksi batik tulis yang ada di Kabupatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di kawasan ini terdapat sekitar 800 pembatik yang terbagi dalam beberapa kelompok. Para pembatik di Giriloyo terhimpun dalam organisasi Paguyuban Batik Tulis Giriloyo. Berdirinya paguyuban pembatik ini diprakarsai oleh Jogja Heritage Society (JHS) bekerjasama dengan Australian-Indonesia Partnership tidak lama setelah gempa bumi melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.
Sebenarnya, aktivitas membatik di Giriloyo mulai berlangsung sejak berdirinya Kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri di Dusun Pajimatan pada 1654. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja, pihak keraton menugaskan beberapa abdi dalem untuk menjaga serta memelihara keberadaan makam tersebut. Karena sering berhubungan dengan keluarga kraton, penduduk Pajimatan memperoleh keterampilan membatik dengan motif batik halus kraton.
Seiring berjalannya waktu, jumlah pesanan batik kraton di Pajimatan semakin meningkat, sementara jumlah perajin batik yang ada ternyata tidak memadai. Akhirnya, para perajin batik di Pajimatan mendatangkan tenaga dari Giriloyo. Relasi kerja sama yang berlaku saat itu adalah, warga Giriloyo mengambil kain yang akan dibatik dari Pajimatan, kemudian pengerjaannya dilakukan di Giriloyo, dan setelah jadi baru dibawa lagi ke Pajimatan. Pada akhirnya, warga Giriloyo yang sudah piawai membatik dengan motif-motif klasik membuka usaha batik sendiri. Inilah yang membuat nama batik Giriloyo lebih mencuat dibandingkan Pajimatan (www.batiktulisgiriloyo.blogspot.com).
Selain sebagai sentra batik, warga Giriloyo pernah mengukir prestasi dengan menciptakan kain batik terpanjang di Indonesia, yakni dengan kain sepanjang 1,2 km. Pencapaian prestasi warga Giriloyo yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) ini sekaligus merupakan bukti kebangkitan warga pascagempa tahun 2006.
B. Keistimewaan
Setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing dalam tiap lembar kain batik yang dihasilkannya, baik dari segi motif, tipe pewarnaan, maupun proses produksi. Begitu pula dengan batik tulis Giriloyo. Di tengah gencarnya motif batik modern, pembatik Giriloyo tetap bertahan dengan motif-motif tradisional atau klasik yang memiliki nilai filosofis dan makna tersendiri. Adapun makna filosofis dari batik yang dibuat di Giriloyo antara lain: Sido Asih (hidup rumah tangga si pemakai akan penuh dengan kasih sayang), Sido Mukti (jika dipakai pengantih hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan), Sido Mulyo (hidupnya akan selalu mulia), Truntum (cinta yang bersemi), Madu Bronto (asmara yang manis bagaikan madu), dan masih banyak lagi.
Di samping memiliki nilai filosofis, batik tulis Giriloyo juga memiliki nilai kesakralan yang terkandung dalam motif-motif tertentu, misalnya motif yang hanya boleh digunakan oleh Sultan Yogyakarta dan keluarga kerajaan. Selain itu, ada pula nilai keindahan di balik motif ragam hiasnya, nilai ketekunan, ketelitian, kecermatan, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya.
Proses pembuatan batik tulis tradisional memang rumit dan lebih sulit dibandingkan dengan batik cap. Untuk mengubah selembar kain putih menjadi kain batik yang indah diperlukan waktu yang cukup lama serta harus melalui berbagai proses. Adapun urutan proses membatik adalah sebagai berikut: mola (membuat pola pada kain menggunakan malam), ngelowong (menggambar pada kain sesuai dengan pola menggunakan canting atau alat tulis), nembok (proses untuk menahan rembesan warna), wedelan/nyelup (memberi warna biru menggunakan indigo), ngerok (menghilangkan lilin klowongan untuk warna coklat), mbironi (setelah dikerok pada bagian-bagian yang tetap biru atau putih ditutup dengan lilin), nyoga (warna yang telah diberi warna biru diberi warna coklat) dan langkah terakhir adalah ngebyok atau membersihkan seluruh lilin yang masih ada dalam kain dengan cara dimasak dengan air mendidih (www.beritajogja.com).
Untuk sistem pewarnaan, batik Giriloyo menawarkan dua tipe pewarnaan, yakni alami dan sintesis. Pewarna alami yang digunakan oleh pembatik berasal dari daun, buah, atau bahan alami lainnya. Untuk warna coklat biasanya menggunakan soga, gambir, tumbuhan teh, kulit mahoni, dan temu lawak. Warna merah menggunakan akar mengkudu, sementara warna biru menggunakan jenis tanaman indigofera. Sedangkan pewarna sintesis menggunakan bahan-bahan kimia.
Para pembatik di Giriloyo bersepakat untuk tetap mempertahankan sistem pewarnaan dengan menggunakan pewarna alami. Menurut mereka, warna-warna dari proses pewarnaan alami akan menghasilkan warna yang luwes dan lembut serta tidak akan berdampak pada nada warna yang sama persis walaupun menggunakan resep warna yang sama.
Selain batik tulis dengan motif tradisional, para perajin batik Giriloyo juga membuat batik dengan motif minimalis yang akan terkesan klasik, anggun, namun elegan. Adapun produk yang dapat ditemui di Giriloyo antara lain: kain jarit tradisional, kain sarung batik, kaos batik, sarung bantal batik, taplak meja, sapu tangan, lukisan batik dengan media kerajinan kayu, dan masih banyak lagi.
Selain sebagai sentra kerajinan batik, Giriloyo juga memfasilitasi pengunjung yang ingin belajar membatik secara langsung. Di tempat ini ada paket wisata belajar membatik. Jumlah peserta yang mengikuti paket ini minimal 10 orang dan maksimal 50 orang. Peserta yang mengikuti paket belajar membatik akan dipandu perajin batik dan hasil karyanya akan menjadi milik peserta. Sembari menunggu hasil karya belajar membatik diproses, Anda akan diajak untuk berjalan-jalan menikmati keindahan desa. Anda juga bisa melihat rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram di puncak bukit Imogiri. Selain itu, Anda dapat menikmati makanan tradisional daerah tersebut, yaitu pecel kembang turi, tiwul ayu, teh gurah, atau wedang uwuh.
C. Lokasi
Sentra Kerajinan Batik Giriloyo terletak sekitar 1 kilometer dari Kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri, tepatnya di Dusun Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
D. Akses
Akses menuju Dusun Giriloyo terbilang mudah. Daerah ini hanya terletak sekitar 25 kilometer arah selatan Yogyakarta. Jalan menuju kawasan ini sudah bagus sehingga bisa dilalui dengan mengendarai motor maupun mobil. Bagi Anda yang menggunakan angkutan umum, Anda dapat memulai perjalanan dari terminal Giwangan. Di Giwangan, Anda dapat naik bus jurusan Yogyakarta-Panggang atau Yogyakarta-Petoyan. Perjalanan menggunakan bus umum memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah itu, Anda turun di terminal Imogiri. Dari tempat itu, Anda dapat berjalan kaki atau memanfaatkan jasa ojek.
E. Harga Tiket
Untuk mengunjungi sentra batik Giriloyo, Anda tidak perlu membayar alias gratis. Sedangkan jika Anda ingin membeli kain batik tulis hasil pengrajin, setiap lembar kain dengan ukuran 2,5 x 1,05 meter dijual dengan harga Rp 150.000,00 hingga Rp 750.000,00. Perbedaan harga tersebut tergantung dari kerumitan desain, motif, dan tipe pewarnaan (Oktober 2009).
Bagi Anda yang ingin mengikuti paket wisata, Anda hanya harus membayar Rp 50.000,00 per orang untuk “Paket Jelajah Desa 1” (menikmati alam sekitar serta melihat aktivitas perajin batik) dengan fasilitas pemandu, snack, dan makan siang. Sedangkan untuk “Paket Jelajah Desa 2” (menikmati alam sekitar serta belajar membatik) Anda cukup membayar Rp 100.000,00. Fasilitas yang Anda dapatkan antara lain pemandu, snack, makan siang, belajar membatik dan proses pewarnaan, dan hasilnya boleh Anda bawa pulang.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Bagi Anda yang akan berkunjung ke Sentra Batik Giriloyo tidak perlu terlalu merisaukan masalah akomodasi maupun fasilitas. Di sekitar Sentra Batik Giriloyo terdapat banyak sarana dan prasarana pendukung. Untuk menginap Anda tinggal kembali ke Yogyakarta atau memilih untuk bermalam di penginapan yang ada di sepanjang Pantai Parangtritis maupun Parangkusumo. Selain itu wisatawan juga dapat melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain yang satu arah dengan Sentra Batik Giriloyo seperti Pusat Gerabah Kasongan, Pasar Seni Gabusan, Goa Cerme, Sentra Kerajinan Wayang Kulit Pucung, dan masih banyak lagi.
Dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage of humanity oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi tentu saja meningkatkan citra batik di mata dunia sebagai salah satu kain tradisional khas Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan dan patut diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat. Bentuk apresiasi itu bisa dituangkan dalam penggunaan batik sebagai pakaian kerja maupun seragam. Namun tak cukup hanya menggunakan batik saja, sebaiknya Anda juga harus mengetahui tentang sejarah batik dan bagaimana proses pembuatannya. Dengan begitu, keberadaan batik tetap dapat dicintai dan dilestarikan oleh orang Indonesia sendiri, terutama oleh generasi mudanya, sehingga tidak tergusur oleh laju perubahan zaman.
Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari dan mengetahui tentang seluk-beluk proses pembuatan batik tulis, Anda dapat berkunjung ke Dusun Giriloyo yang terletak di Yogyakarta bagian selatan. Dusun Giriloyo merupakan sentra kerajinan dan produksi batik tulis yang ada di Kabupatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di kawasan ini terdapat sekitar 800 pembatik yang terbagi dalam beberapa kelompok. Para pembatik di Giriloyo terhimpun dalam organisasi Paguyuban Batik Tulis Giriloyo. Berdirinya paguyuban pembatik ini diprakarsai oleh Jogja Heritage Society (JHS) bekerjasama dengan Australian-Indonesia Partnership tidak lama setelah gempa bumi melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.
Sebenarnya, aktivitas membatik di Giriloyo mulai berlangsung sejak berdirinya Kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri di Dusun Pajimatan pada 1654. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja, pihak keraton menugaskan beberapa abdi dalem untuk menjaga serta memelihara keberadaan makam tersebut. Karena sering berhubungan dengan keluarga kraton, penduduk Pajimatan memperoleh keterampilan membatik dengan motif batik halus kraton.
Seiring berjalannya waktu, jumlah pesanan batik kraton di Pajimatan semakin meningkat, sementara jumlah perajin batik yang ada ternyata tidak memadai. Akhirnya, para perajin batik di Pajimatan mendatangkan tenaga dari Giriloyo. Relasi kerja sama yang berlaku saat itu adalah, warga Giriloyo mengambil kain yang akan dibatik dari Pajimatan, kemudian pengerjaannya dilakukan di Giriloyo, dan setelah jadi baru dibawa lagi ke Pajimatan. Pada akhirnya, warga Giriloyo yang sudah piawai membatik dengan motif-motif klasik membuka usaha batik sendiri. Inilah yang membuat nama batik Giriloyo lebih mencuat dibandingkan Pajimatan (www.batiktulisgiriloyo.blogspot.com).
Selain sebagai sentra batik, warga Giriloyo pernah mengukir prestasi dengan menciptakan kain batik terpanjang di Indonesia, yakni dengan kain sepanjang 1,2 km. Pencapaian prestasi warga Giriloyo yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) ini sekaligus merupakan bukti kebangkitan warga pascagempa tahun 2006.
B. Keistimewaan
Setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing dalam tiap lembar kain batik yang dihasilkannya, baik dari segi motif, tipe pewarnaan, maupun proses produksi. Begitu pula dengan batik tulis Giriloyo. Di tengah gencarnya motif batik modern, pembatik Giriloyo tetap bertahan dengan motif-motif tradisional atau klasik yang memiliki nilai filosofis dan makna tersendiri. Adapun makna filosofis dari batik yang dibuat di Giriloyo antara lain: Sido Asih (hidup rumah tangga si pemakai akan penuh dengan kasih sayang), Sido Mukti (jika dipakai pengantih hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan), Sido Mulyo (hidupnya akan selalu mulia), Truntum (cinta yang bersemi), Madu Bronto (asmara yang manis bagaikan madu), dan masih banyak lagi.
Di samping memiliki nilai filosofis, batik tulis Giriloyo juga memiliki nilai kesakralan yang terkandung dalam motif-motif tertentu, misalnya motif yang hanya boleh digunakan oleh Sultan Yogyakarta dan keluarga kerajaan. Selain itu, ada pula nilai keindahan di balik motif ragam hiasnya, nilai ketekunan, ketelitian, kecermatan, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya.
Proses pembuatan batik tulis tradisional memang rumit dan lebih sulit dibandingkan dengan batik cap. Untuk mengubah selembar kain putih menjadi kain batik yang indah diperlukan waktu yang cukup lama serta harus melalui berbagai proses. Adapun urutan proses membatik adalah sebagai berikut: mola (membuat pola pada kain menggunakan malam), ngelowong (menggambar pada kain sesuai dengan pola menggunakan canting atau alat tulis), nembok (proses untuk menahan rembesan warna), wedelan/nyelup (memberi warna biru menggunakan indigo), ngerok (menghilangkan lilin klowongan untuk warna coklat), mbironi (setelah dikerok pada bagian-bagian yang tetap biru atau putih ditutup dengan lilin), nyoga (warna yang telah diberi warna biru diberi warna coklat) dan langkah terakhir adalah ngebyok atau membersihkan seluruh lilin yang masih ada dalam kain dengan cara dimasak dengan air mendidih (www.beritajogja.com).
Untuk sistem pewarnaan, batik Giriloyo menawarkan dua tipe pewarnaan, yakni alami dan sintesis. Pewarna alami yang digunakan oleh pembatik berasal dari daun, buah, atau bahan alami lainnya. Untuk warna coklat biasanya menggunakan soga, gambir, tumbuhan teh, kulit mahoni, dan temu lawak. Warna merah menggunakan akar mengkudu, sementara warna biru menggunakan jenis tanaman indigofera. Sedangkan pewarna sintesis menggunakan bahan-bahan kimia.
Para pembatik di Giriloyo bersepakat untuk tetap mempertahankan sistem pewarnaan dengan menggunakan pewarna alami. Menurut mereka, warna-warna dari proses pewarnaan alami akan menghasilkan warna yang luwes dan lembut serta tidak akan berdampak pada nada warna yang sama persis walaupun menggunakan resep warna yang sama.
Selain batik tulis dengan motif tradisional, para perajin batik Giriloyo juga membuat batik dengan motif minimalis yang akan terkesan klasik, anggun, namun elegan. Adapun produk yang dapat ditemui di Giriloyo antara lain: kain jarit tradisional, kain sarung batik, kaos batik, sarung bantal batik, taplak meja, sapu tangan, lukisan batik dengan media kerajinan kayu, dan masih banyak lagi.
Selain sebagai sentra kerajinan batik, Giriloyo juga memfasilitasi pengunjung yang ingin belajar membatik secara langsung. Di tempat ini ada paket wisata belajar membatik. Jumlah peserta yang mengikuti paket ini minimal 10 orang dan maksimal 50 orang. Peserta yang mengikuti paket belajar membatik akan dipandu perajin batik dan hasil karyanya akan menjadi milik peserta. Sembari menunggu hasil karya belajar membatik diproses, Anda akan diajak untuk berjalan-jalan menikmati keindahan desa. Anda juga bisa melihat rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram di puncak bukit Imogiri. Selain itu, Anda dapat menikmati makanan tradisional daerah tersebut, yaitu pecel kembang turi, tiwul ayu, teh gurah, atau wedang uwuh.
C. Lokasi
Sentra Kerajinan Batik Giriloyo terletak sekitar 1 kilometer dari Kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri, tepatnya di Dusun Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
D. Akses
Akses menuju Dusun Giriloyo terbilang mudah. Daerah ini hanya terletak sekitar 25 kilometer arah selatan Yogyakarta. Jalan menuju kawasan ini sudah bagus sehingga bisa dilalui dengan mengendarai motor maupun mobil. Bagi Anda yang menggunakan angkutan umum, Anda dapat memulai perjalanan dari terminal Giwangan. Di Giwangan, Anda dapat naik bus jurusan Yogyakarta-Panggang atau Yogyakarta-Petoyan. Perjalanan menggunakan bus umum memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah itu, Anda turun di terminal Imogiri. Dari tempat itu, Anda dapat berjalan kaki atau memanfaatkan jasa ojek.
E. Harga Tiket
Untuk mengunjungi sentra batik Giriloyo, Anda tidak perlu membayar alias gratis. Sedangkan jika Anda ingin membeli kain batik tulis hasil pengrajin, setiap lembar kain dengan ukuran 2,5 x 1,05 meter dijual dengan harga Rp 150.000,00 hingga Rp 750.000,00. Perbedaan harga tersebut tergantung dari kerumitan desain, motif, dan tipe pewarnaan (Oktober 2009).
Bagi Anda yang ingin mengikuti paket wisata, Anda hanya harus membayar Rp 50.000,00 per orang untuk “Paket Jelajah Desa 1” (menikmati alam sekitar serta melihat aktivitas perajin batik) dengan fasilitas pemandu, snack, dan makan siang. Sedangkan untuk “Paket Jelajah Desa 2” (menikmati alam sekitar serta belajar membatik) Anda cukup membayar Rp 100.000,00. Fasilitas yang Anda dapatkan antara lain pemandu, snack, makan siang, belajar membatik dan proses pewarnaan, dan hasilnya boleh Anda bawa pulang.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Bagi Anda yang akan berkunjung ke Sentra Batik Giriloyo tidak perlu terlalu merisaukan masalah akomodasi maupun fasilitas. Di sekitar Sentra Batik Giriloyo terdapat banyak sarana dan prasarana pendukung. Untuk menginap Anda tinggal kembali ke Yogyakarta atau memilih untuk bermalam di penginapan yang ada di sepanjang Pantai Parangtritis maupun Parangkusumo. Selain itu wisatawan juga dapat melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain yang satu arah dengan Sentra Batik Giriloyo seperti Pusat Gerabah Kasongan, Pasar Seni Gabusan, Goa Cerme, Sentra Kerajinan Wayang Kulit Pucung, dan masih banyak lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)