Tampilkan postingan dengan label Kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kudus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Uniknya Corak dan Warna Batik Kudus


Bagi penggemar batik, koleksi Anda belum lengkap tanpa batik Kudus. Anda bisa menikmati ragam budaya karya perajin pesisir yang diwakili dalam motif batik Kudus. Pasalnya, batik asal Kudus, Jawa Tengah, ini lahir dari perpaduan kreasi perajin batik Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo. Pada era 40-an, pedagang China di Kudus mengundang perajin batik dari berbagai daerah untuk membuatkan batik khusus untuk mereka. Alhasil, kolaborasi dari perajin batik ini menghasilkan motif batik yang unik. Bagian dasar batik Kudus kental dengan sentuhan batik Yogyakarta dan Solo, sementara motif bunganya lekat dengan karakter batik Pekalongan.




"Tak hanya motif yang multikultur, warna pada batik Kudus juga kaya karena perpaduan budaya ini. Pada batik Kudus didapati juga pengaruh Arab (kaligrafi) lantaran Kudus berdekatan dengan Demak yang identik dengan penyebaran ajaran Islam. Warna coklat dan hitam juga memperkaya batik Kudus yang penuh warna. Inilah yang membuat batik tulis Kudus unik dan bernilai, dan wajar saja jika harganya mahal bisa jutaan untuk kain batik tulis. Meski terdapat juga kain batik Kudus yang terjangkau, maksimal Rp 700.000," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Perajin Kudus dari Rumah Pesona Kain, di sela acara "Pesona Batik Kudus" di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu.




Sentra batik Kudus sempat menghilang karena masyarakat mulai meninggalkan kegiatan membatik, selain juga tak ada lagi yang memakai batik Kudus. Namun sejak 2008, RPK membina manula dan generasi muda sekaligus merangkul pembatik yang masih bertahan di Kudus. Kini, terdapat 60-70 sentra batik berupa industri rumahan di Kudus. Kreasi batik dari Kudus semakin berkembang, dipasarkan oleh RPK dan diperagakan pertama kali di Hotel Mulia dalam busana siap pakai karya perancang ternama Indonesia. Sejak 2010 lalu, RPK juga masih fokus mengembangkan batik Kudus dengan menambah perajin untuk berkreasi aneka motif unik. Kini, perajin batik Kudus bertambah dua kali lipat, dan perancang ternama Indonesia juga semakin banyak dilibatkan dalam mencipta busana dari kain batik Kudus. Anda semakin mudah menikmati batik Kudus dalam busana kantor atau pesta.




"Batik Kudus menghilang karena tak ada yang memakai, selain juga pengaruh tekstil printing motif batik yang lebih murah. RPK membina manula bertahap dari dua orang hingga 20 orang pada tahap awal. Mereka diberi modal berupa bahan untuk membatik, lalu RPK membelinya dan memasarkannya melalui berbagai pameran dan peragaan busana di Jakarta," lanjut Ade.




Pakar batik, Asmoro Damais, mengatakan bahwa batik Kudus memiliki keunikan. Batik ini paling sulit dikenali, gayanya membingungkan. Namun inilah yang membuat batik Kudus unik dan berbeda dengan keragaman budaya tercermin di motifnya. "Batik Kudus selalu mempunyai dasar yang rumit, memiliki tingkat kehalusan tinggi dan unik di detailnya. Pembuatan batik tulis Kudus tidak selesai dalam enam bulan, karenanya harga tidak murah," jelas Asmoro.




Miranti Serad Ginanjar, pembina perajin Kudus, juga mengakui keunikan batik Kudus ini.

"Perkembangan warna dan motif batik Kudus indah. Seperti warna dan motif kupu-kupu, daun tembakau yang dikembangkan bekerjasama dengan perajin Youke Yuliantaries. Dengan perkembangan ini diharapkan apresiasi terhadap batik Kudus semakin tinggi," tuturnya.




Tak sulit menemukan batik Kudus di Jakarta, karena RPK membuka Galeri Batik Kudus di Jalan Garut No 23 Menteng, Jakarta Pusat. Berbagai motif kain otentik batik Kudus bisa ditemukan di sini. Bagi pecinta kain, batik Kudus dikenal dengan batik peranakan yang halus dengan isen-isen rumit, seperti gabah sinawur, moto iwak, atau mrutu sewu. Batik-batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah. Semantara soal corak, pilihannya beragam mulai corak tombak, kawung, atau parang, yang dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna cerah seperti merah.




Kekayaan kain batik Indonesia takkan sirna asalkan semakin banyak orang mengapresiasi, dengan memakainya dalam busana harian. "Pembatik akan bertahan jika batik dibeli dan dipakai oleh banyak orang," tandas Asmoro.

Batik Kudus Kembali Menebar Pesonanya

Batik Kudus dengan warnanya yang kaya dan motifnya yang unik nyaris punah. Sejak era 80-an hingga 2000 lalu, batik Kudus hanya dikenal sebagai artefak budaya dan semakin ditinggalkan masyarakatnya. Padahal sejak abad 17 hingga era tahun 40-an, motif batik multikultur dengan pengaruh budaya China dan Arab ini menjadi identitas masyarakat Kudus. Pesona batik Kudus, kini, ditampilkan kembali dalam bentuk kain yang otentik maupun busana siap pakai merujuk pada gaya busana kekinian.

Adalah Rumah Pesona Kain (RPK) yang konsisten membina pembatik dan menyalurkan produk batik Kudus ke berbagai kalangan, termasuk di Jakarta. Batik Kudus dikenalkan kembali, tak hanya sebagai kain yang otentik dengan batik tulis, namun juga sebagai busana siap pakai karya perancang ternama seperti Barli Asmara.

Jika Maret 2010 lalu, RPK hanya menggandeng Barli untuk mempercantik perempuan Indonesia melalui kain dan busana siap pakai menggunakan batik Kudus, maka pada Maret 2011, batik Kudus dipamerkan dalam 15 busana koleksi "Lady Look" karya Barli, dan 10 koleksi Batik Kudus karya Inne S. Nurbani. Tak hanya jumlah desainer yang bertambah untuk mempopulerkan batik Kudus dalam bentuk busana ready-to-wear. Jumlah perajin batik juga semakin meningkat di bawah binaan RPK.

"Pada 2011 ini RPK melibatkan 40 perajin, sementara tahun lalu 20 perajin," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Ketua Program Pesona Batik Kudus dan Pembina Perajin Kudus, saat konferensi pers di Graha Bimasena, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2011) lalu.

Batik Kudus pada perhelatan tahunan RPK kali ini tampil dengan motif warna-warni daun tembakau. RPK juga mendatangkan batik buatan perajin Yuli Astuti dan Youke Yuliantaries. Replika batik Kudus kuno juga ditampilkan dalam acara yang berisi pameran, demo membatik, bazar batik Kudus, serta hidangan kuliner tradisional khas Jawa Tengah. Rangkaian acara yang berlangsung dalam beberapa jam ini ingin menarik perhatian kolektor, pecinta batik, serta masyarakat umum untuk mengapresiasi dan mengenakan batik khas dari Kudus.

"Batik Kudus sempat menghilang karena tak ada lagi perajin di Kudus (10 tahun lalu, RED). Batik tak lagi dibeli, akhirnya perajin yang tersisa tak memproduksi batik lagi dan banyak dari mereka yang berganti profesi. Karenanya kita harus membeli batik, memakainya, kalau tidak takkan ada lagi yang membuat batik," jelas pakar batik Asmoro Damais, sekaligus menambahkan satu hal yang harus dihindarkan dalam pembuatan batik, yakni membuat batik print.

Asmoro menegaskan, selama pembuatan batik masih menggunakan lilin, hasil akhirnya bisa dikatakan kain baik. Namun jika sudah printing, tak lagi bisa dibilang batik tetapi disebut tekstil printing bermotif batik. Pemahaman yang sama mengenai konsep membatik ini juga dimiliki RPK. Ade mengatakan, setelah melewati satu tahun menjajaki proses kerjasama dengan Djarum Foundation, desain batik Kudus RPK akhirnya dipilih yayasan ini dalam program "Djarum Apresiasi Budaya".

"Syarat utama yang diberlakukan RPK dalam kerjasama dengan Djarum adalah desain batik boleh diproduksi sebagai batik tulis, cap, atau colet, asalkan jangan batik print," jelas Ade. Menurutnya, RPK masih akan fokus mengembangkan batik Kudus, setidaknya dua tahun terakhir, untuk mempopulerkan kembali motif batik yang unik ini.

Keunikan motif batik Kudus, dan keterikatan daerah memunculkan sinergi Djarum Foundation dan RPK untuk mempopulerkan batik Kudus. Mulai 2011, Yayasan Djarum meluaskan jangkauan program Apresiasi Budaya dalam ranah fashion.

"Desain batik Kudus dari perajin RPK akan digunakan sebagai aplikasi pada busana seragam staf Djarum. Aplikasi motif batik Kudus dengan warna dasar abu akan ditampilkan pada bagian tangan dan punggung pada seragam kerja staf. Sedangkan desain yang sama namun dengan bahan batik tulis akan dibuatkan untuk direksi. Batik cap dan colet dengan motif sama untuk level manager. Khusus untuk staf, batik Kudus akan dipakai serempak 21 April untuk memeringati ulangtahun Djarum," jelas Renitasari, program director bakti budaya Djarum Foundation

Kolaborasi Desainer dan Pengrajin Batik Kudus


Perkumpulan para pecinta kain khas Nusantara, Rumah Pesona Kain,  kembali menggelar kegiatan rutin peragaan busana. Kali ini tema yang diangkat "Ngunjuk Teh & Batik Kudus", mengambil lokasi di rumah makan Miradelima, Kebayoran Baru, Jakarta.

Karakter khas perkumpulan ini adalah menjembatani pengrajin kain dan batik dengan para desainer ternama. Pengrajin yang dianggap potensial dan memiliki warisan kain dan batik bernilai sejarah tinggi, mendapat kesempatan untuk memamerkan produknya. Tak hanya itu, para desainer juga turut terlibat aktif dalam mengembangkan kain dan batik dalam desain gaya busana kekinian.

"Kain batik langsung didatangkan dari pengrajin, kali ini dari Kudus. Selain membuat batik klasik, pengrajin juga dibina untuk memproduksi batik dengan pengembangan motif yang bisa diaplikasikan dalam desain busana kekinian," papar Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Batik Kudus dari Perkumpulan Rumah Pesona Kain kepada Kompas Female.

Barli Asmara menjadi salah satu perancang muda yang turut berkontribusi dalam misi pelestarian batik Kudus ini. Dengan menggunakan bahan batik Kudus bermerek Muria, Barli mengenalkan desain busana "Etnik Chic". Batik menjadi lebih apik digunakan kaum muda seperti yang diperagakan dalam acara bernuansa Kudus ini. Pemilik brand Muria, Yuli Astuti, juga didatangkan langsung untuk memperagakan proses membatik.

Kain batik Kudus tersedia dalam variasi harga mulai Rp 250.000 untuk batik motif modifikasi. Seperti motif Dlorong Kembang, Kapal Tandas, dan variasi desain motif batik lain yang dikembangkan Yuli.

Peragaan busana dan pameran kain batik merupakan bagian dari rangkaian program pembinaan Batik Kudus sepanjang 2010. Batik kuno klasik bernilai hingga jutaan rupiah juga dipamerkan untuk mempopulerkan batik Kudus yang sempat tenggelam puluhan tahun. Batik motif Buket Susimoyo, misalnya, dipamerkan pula saat itu. Kain panjang pagi sore khas Kudus ini sudah dikenal sejak 1940.

Eksotika Batik Kudus

Industri batik Kudus pada awalnya diproduksi secara home industri pada tahun 1800 M. Pusat produksi batik di Kawasan Kudus Kulon ( Kudus bagian barat ). Sesuai dengan sosiokultural yang berlaku pada masa itu bahwa gadis-gadis Kudus Kulon dalam menjalani kehidupannya dipingit oleh orang tua mereka. Untuk mengisi waktu, gadis-gadis tersebut diajari membatik. Selain Rama Kembang, Beras Kecer dan Alas kobong, motif kapal kandas merupakan motif yang digemari para pembeli. 

Nama kapal kandas terinspirasi pada bangunan rumah kuno berbentuk kapal ( omah kapal ). Motif tersebut merupakan motif yang diambil dari sejarah kapal dampo awang milik sampokong yang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah yang berkhasiat sebagai obat-obatan yang sekarang tumbuh subur di Gunung Muria. Cengkeh, daun tembakau, dan alat pelinting rokok sebagai simbol Kudus merupakan kota kretek. motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. 

Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China. Batik Kudus mulai dikenal pada abad 17 dan menjadi bagian identitas masyarakat Indonesia Kudus pada rentang waktu 1880 hingga 1940. Setelah itu, berangsur-angsur tradisi ini memudar dan puncaknya pada kurun tahun 1980-2000, Batik Kudus tinggal menjadi artefak budaya yang nyaris punah di masyarakat. Sejarah mengungkapkan bahwa Batik Kudus dipengaruhi oleh budaya dari pedagang-pedagang Cina kaya yang mendatangkan pembatik-pembatik dari Pekalongan. 

Tak mengherankan rasanya apabila Batik Kudus disebut sebagai karya multi kultur. Dalam kumpulan Batik Kudus dikenal peranakan yang halus dengan isen-isen yang rumit, diantaranya isen gabah sinawur, moto iwak atau mrutu sewu. Batik- batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah dengan corak tombak, kawung, atau parang, tetapi dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna-warna cerah seperti merah dan serasi dengan warna coklat. Ciri dan corak khusus inilah yang membedakan batik Kudus dengan produksi batik daerah lain. Berbagai motif batik khas kudus seperti motif Pakis haji, Parijoto, Kapal Kandas, Kaligrafi dan Beras Tumpah kini mulai didaftarkan untuk memiliki hak cipta ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia

Salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal yaitu Yuli Astuti. Yang beralamat di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus. Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus. 

Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria. Dari hasil kopi itu pula, tutur Yuli, Kudus menjadi kawasan yang diperhitungkan pada masa penjajahan Belanda. Memperkuat pendapat Yuli, dalam buku- buku sejarah Indonesia disebutkan, awal abad ke-19 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels, hasil perkebunan kopi dari kawasan Gunung Muria diangkut melewati Jalan Raya Pos atau jalan lintas di pesisir pantai utara Jawa. Kopi menjadi komoditas yang menjanjikan di dunia perdagangan internasional kala itu. 

Sampai era 1970-an, masih banyak perempuan membatik di desa-desa di sekitar Kota Kudus. Batik tulis dengan warna-warna alam dari buah pace, daun mangga muda, atau kunyit. Batik menjadi pakaian sehari-hari dan barang dagangan yang cukup laku di tingkat lokal atau antarkota pesisir di Jawa. Namun, industri lokal ini makin tergerus oleh serbuan batik printing dan batik cap dari Pekalongan. Di sisi lain, warga Kudus lebih tertarik menjadi buruh linting di pabrik rokok. Sejak 1980-an praktis batik kudus tak lagi berkibar, ditinggalkan oleh masyarakat pembuat dan pemakainya. Kini yang tertinggal hanya pembatik sepuh yang berusia di atas 50 tahun. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yuli juga merintis pelatihan membatik bagi warga desanya Batik tulis karyanya mulai diminati para perancang busana nasional. Batik hasil karya Yuli juga telah terdaftar dengan nama paten Muria Batik Kudus pada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor registrasi D 002007030389.

Pemasaran hasil membatik Yuli Astuti berjalan lancar dan mendapat respon sangat menggembirakan di kota-kota besar Indonesia antara lain, di kota Semarang, Jakarta, Yogya, Solo, maupun Pekalongan. Dan yang paling menggembirakan adalah Batik Kudus kini tidak lagi menjadi "jago kandang" di rumah sendiri tetapi sudah melanglang buana ke belahan negara lainnya di luar Indonesia sampai ke "Negeri Gajah" alias Thailand. 

Banyak sekali masyarakat di sana mengagumi Batik Kudus dan mereka menganggap karya seni mode ini merupakan maha karya yang sangat mahal serta layak dijadikan inspirasi mode dunia. Bekerjasama dengan Komunitas Asian Woman Yuli Astuti tidak jemu-jemu untuk terus konsisten mempromosikan budaya Batik Kudus ini supaya dunia internasional dapat melihat Indonesia dari sisi lain yang tidak hanya dikenal dengan budaya wisatanya saja namun ada kebanggaan lainnya yang bisa mereka temukan dan gali lebih dalam lagi. Dan mereka bisa menemukan keindahan lain dari Indonesia melalui Batik Kudus. 

"Lady Look" Warna-Warni Tembakau Batik Kudus

Orisinalitas yang unik dari batik Kudus tak terusik dalam rancangan busana siap pakai kreasi perancang Barli Asmara. Kain batik Kudus memang khas dan unik, dan proses pembuatannya butuh waktu lama. Tak heran jika batik tulis kreasi perajin Kudus bernilai harganya. Namun sayang rasanya jika kain batik indah dari Jawa tengah ini hanya disimpan sebagai koleksi saja. Karenanya, Barli merancang 15 busana siap pakai menggunakan kain batik Kudus, dalam koleksi berkonsep lady look "Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui".

Batik Kudus semakin cantik dengan sentuhan desainer muda yang tak ingin merusak orisinalitas kain batik tulis berharga ini. "Lima kain batik otentik dari keseluruhan koleksi ini tidak dipotong, namun hanya dirancang dengan kerutan, sekali jahit dengan restleting yang bisa dicopot tanpa merusak kain," jelas Barli, di sela peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu. Alhasil, satu kain sepanjang lebih dari dua meter tetap apik dan cantik dikenakan sebagai rok bawahan tanpa membuang satu helai pun kain batik tulis Kudus ini.

Koleksi busana ready-to-wear Barli diperagakan dalam acara Pesona Batik Kudus yang diadakan Rumah Pesona Kain (RPK) untuk mempopulerkan batik unik multikultur dari Jawa Tengah ini. Khusus untuk peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus, Barli menggunakan bahan batik hasil perajin Youke Yuliantaries dan Friko Desriandi, perajin binaan RPK.

Kreasi Barli memberikan inspirasi bagi pengoleksi batik otentik untuk tak ragu mengenalkan batik Kudus dalam model busana siap pakai. Ide busana tak hanya berupa kain batik yang dikerut dan menggunakan kait lalu dijadikan rok cantik. Perpaduan warna pesisir seperti biru, ungu, marun, merah, dan pink mempercantik penampilan jika batik Kudus dikenakan sebagai busana harian. Barli memilih model layering dress untuk mempercantik perempuan usia 25-40 tahun dengan batik Kudus.

"Layering bertumpuk pada bagian perut cocok bagi perempuan yang kerapkali tak percaya diri dengan bagian perutnya. Potongan pada pinggang juga semakin membentuk tubuh terutama bagian pinggang," paparnya.

Mengenakan busana batik, apalagi batik Kudus yang kaya corak dan warna, menonjolkan penampilan seseorang. Namun, meski penampilan terkesan penuh, tak ada salahnya menambahkan aksesori pada busana batik. "Aksesori tak berlebihan, hanya kalung tali dengan bunga sebagai liontinnya. Warna bunga juga terinspirasi dari corak bunga tembakau dari kain batik itu sendiri. Kesan cantik lady look identik dengan bunga," jelas Barli.

Selain kalung, Barli juga memberikan inspirasi aksesori untuk busana batik Kudus, dengan memakaikan korsase warna polos di bagian pinggang. "Warna korsase sebaiknya senada dengan warna baju batik," katanya.