Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Mengapa Batik Tak Bisa Menuntut Hak Cipta?


Batik memang sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2009 lalu. Namun dalam kenyataannya, motif batik masih rentan ditiru atau diakui oleh pihak lain. Tak usah menyebut negara lain, sesama pengusaha batik pun bisa saja meniru atau mengambil inspirasi dari batik buatan pengusaha lain.

Kalau sudah begini, mengapa para pembatik tidak mendaftarkan batiknya untuk mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HaKI)? Salah satu contoh, dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat HaKI (baca artikel ini). Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, usai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi, akhir November lalu, mengatakan bahwa mereka memang belum fokus ke HaKI.

"Fokus kami masih pada mengatasi kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia,” katanya.

Meski belum memiliki HaKI, ujar Yahya, Bantul tidak khawatir motifnya dijiplak daerah lain atau perajin lain. Baginya, motif batik adalah seni yang sulit ditiru.

Dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat hak atas kekayaan intelektual atau HaKI. Pemerintah Kabupaten Bantul belum memprioritaskan HaKI karena masih fokus pada persoalan pemasaran produksi batik. Pemerintah juga berharap inisiatif pengurusan HaKI datang dari kalangan perajin.

"Kami memang belum fokus ke HaKI. Fokus kami masih pada kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah, seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia," kata Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, seusai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi.

Menurutnya, belum diurusnya sertifikat HaKI juga bukan karena persoalan dana. Ia berharap inisiatif muncul dari kalangan perajin supaya ada rasa memiliki dan tumbuh kebersamaan antarsesama perajin.

12 Langkah Menciptakan Kain Batik

Edward Hutabarat mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan proses pembuatan batik, bukan sekadar mengagumi keindahan batik secara fisik. Sebab, menurut desainer yang berkolaborasi dengan PT Kao Indonesia mengampanyekan "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar" ini, ada kisah panjang di balik pembuatan batik yang perlu diketahui oleh masyarakat pengguna batik.

Hal sederhana yang mungkin belum Anda ketahui, misalnya, batik ternyata bukan hanya dikerjakan oleh perempuan pembatik yang duduk di dingklik (bangku pendek) sambil melukisi kain mori dengan lilin malam. Sehelai kain batik bisa dikerjakan oleh empat hingga lima orang. Dari pembuat pola di kertas, pembatik, hingga pemberi warna dan penglorod.


Bila diurut-urut, proses membatik adalah sebagai berikut:

1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas. Tidak semua orang bisa membuat motif batik, sehingga pola ini dibuat oleh spesialis pola.
2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain.
3. Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola. Pada tahap ini, motif batik akan mulai tampak.
4. Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting.
5. Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas. Misalnya, gambar bunga atau burung yang muncul di sana-sini.
6. Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ini diiringi dengan nembok, atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
7. Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh.
8. Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih.
9. Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama). Untuk menghasilkancecekan yang halus, digunakan canting dengan jarum yang tipis.
10. Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam.
11. Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan. Batik sogan adalah batik yang berwarna dasar coklat, seperti batik yogya atau batik solo.
12. Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.


Di kota-kota yang dikenal sebagai kota batik, seperti Pekalongan, orang tidak asing dengan kegiatan membatik karena biasanya sudah ada kesibukan membatik di rumahnya. "Karena itu, tidak ada lagi pelajaran atau pelatihan membatik di sini. Semua sudah mengetahui dasar-dasar membatik. Hanya saja, mereka harus diseleksi. Yang diterima tentu saja yang teknik membatiknya sudah cukup baik," ujar Nur Cahyo (45), pemilik Batik Cahyo, saat dijumpai di balai kerjanya di Desa Setono, Pekalongan, Desember lalu.



Setiap pembatik umumnya mempunyai canting sendiri. Menurut Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni, bila pembatik menggunakan canting milik orang lain, hasilnya bisa berubah. "Canting itu kayak baju, yang dipakai orang lain. Kalau canting dipakai orang lain, bisa-bisa berantem," selorohnya.

Uniknya Corak dan Warna Batik Kudus


Bagi penggemar batik, koleksi Anda belum lengkap tanpa batik Kudus. Anda bisa menikmati ragam budaya karya perajin pesisir yang diwakili dalam motif batik Kudus. Pasalnya, batik asal Kudus, Jawa Tengah, ini lahir dari perpaduan kreasi perajin batik Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo. Pada era 40-an, pedagang China di Kudus mengundang perajin batik dari berbagai daerah untuk membuatkan batik khusus untuk mereka. Alhasil, kolaborasi dari perajin batik ini menghasilkan motif batik yang unik. Bagian dasar batik Kudus kental dengan sentuhan batik Yogyakarta dan Solo, sementara motif bunganya lekat dengan karakter batik Pekalongan.




"Tak hanya motif yang multikultur, warna pada batik Kudus juga kaya karena perpaduan budaya ini. Pada batik Kudus didapati juga pengaruh Arab (kaligrafi) lantaran Kudus berdekatan dengan Demak yang identik dengan penyebaran ajaran Islam. Warna coklat dan hitam juga memperkaya batik Kudus yang penuh warna. Inilah yang membuat batik tulis Kudus unik dan bernilai, dan wajar saja jika harganya mahal bisa jutaan untuk kain batik tulis. Meski terdapat juga kain batik Kudus yang terjangkau, maksimal Rp 700.000," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Perajin Kudus dari Rumah Pesona Kain, di sela acara "Pesona Batik Kudus" di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu.




Sentra batik Kudus sempat menghilang karena masyarakat mulai meninggalkan kegiatan membatik, selain juga tak ada lagi yang memakai batik Kudus. Namun sejak 2008, RPK membina manula dan generasi muda sekaligus merangkul pembatik yang masih bertahan di Kudus. Kini, terdapat 60-70 sentra batik berupa industri rumahan di Kudus. Kreasi batik dari Kudus semakin berkembang, dipasarkan oleh RPK dan diperagakan pertama kali di Hotel Mulia dalam busana siap pakai karya perancang ternama Indonesia. Sejak 2010 lalu, RPK juga masih fokus mengembangkan batik Kudus dengan menambah perajin untuk berkreasi aneka motif unik. Kini, perajin batik Kudus bertambah dua kali lipat, dan perancang ternama Indonesia juga semakin banyak dilibatkan dalam mencipta busana dari kain batik Kudus. Anda semakin mudah menikmati batik Kudus dalam busana kantor atau pesta.




"Batik Kudus menghilang karena tak ada yang memakai, selain juga pengaruh tekstil printing motif batik yang lebih murah. RPK membina manula bertahap dari dua orang hingga 20 orang pada tahap awal. Mereka diberi modal berupa bahan untuk membatik, lalu RPK membelinya dan memasarkannya melalui berbagai pameran dan peragaan busana di Jakarta," lanjut Ade.




Pakar batik, Asmoro Damais, mengatakan bahwa batik Kudus memiliki keunikan. Batik ini paling sulit dikenali, gayanya membingungkan. Namun inilah yang membuat batik Kudus unik dan berbeda dengan keragaman budaya tercermin di motifnya. "Batik Kudus selalu mempunyai dasar yang rumit, memiliki tingkat kehalusan tinggi dan unik di detailnya. Pembuatan batik tulis Kudus tidak selesai dalam enam bulan, karenanya harga tidak murah," jelas Asmoro.




Miranti Serad Ginanjar, pembina perajin Kudus, juga mengakui keunikan batik Kudus ini.

"Perkembangan warna dan motif batik Kudus indah. Seperti warna dan motif kupu-kupu, daun tembakau yang dikembangkan bekerjasama dengan perajin Youke Yuliantaries. Dengan perkembangan ini diharapkan apresiasi terhadap batik Kudus semakin tinggi," tuturnya.




Tak sulit menemukan batik Kudus di Jakarta, karena RPK membuka Galeri Batik Kudus di Jalan Garut No 23 Menteng, Jakarta Pusat. Berbagai motif kain otentik batik Kudus bisa ditemukan di sini. Bagi pecinta kain, batik Kudus dikenal dengan batik peranakan yang halus dengan isen-isen rumit, seperti gabah sinawur, moto iwak, atau mrutu sewu. Batik-batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah. Semantara soal corak, pilihannya beragam mulai corak tombak, kawung, atau parang, yang dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna cerah seperti merah.




Kekayaan kain batik Indonesia takkan sirna asalkan semakin banyak orang mengapresiasi, dengan memakainya dalam busana harian. "Pembatik akan bertahan jika batik dibeli dan dipakai oleh banyak orang," tandas Asmoro.

Batik Kudus Kembali Menebar Pesonanya

Batik Kudus dengan warnanya yang kaya dan motifnya yang unik nyaris punah. Sejak era 80-an hingga 2000 lalu, batik Kudus hanya dikenal sebagai artefak budaya dan semakin ditinggalkan masyarakatnya. Padahal sejak abad 17 hingga era tahun 40-an, motif batik multikultur dengan pengaruh budaya China dan Arab ini menjadi identitas masyarakat Kudus. Pesona batik Kudus, kini, ditampilkan kembali dalam bentuk kain yang otentik maupun busana siap pakai merujuk pada gaya busana kekinian.

Adalah Rumah Pesona Kain (RPK) yang konsisten membina pembatik dan menyalurkan produk batik Kudus ke berbagai kalangan, termasuk di Jakarta. Batik Kudus dikenalkan kembali, tak hanya sebagai kain yang otentik dengan batik tulis, namun juga sebagai busana siap pakai karya perancang ternama seperti Barli Asmara.

Jika Maret 2010 lalu, RPK hanya menggandeng Barli untuk mempercantik perempuan Indonesia melalui kain dan busana siap pakai menggunakan batik Kudus, maka pada Maret 2011, batik Kudus dipamerkan dalam 15 busana koleksi "Lady Look" karya Barli, dan 10 koleksi Batik Kudus karya Inne S. Nurbani. Tak hanya jumlah desainer yang bertambah untuk mempopulerkan batik Kudus dalam bentuk busana ready-to-wear. Jumlah perajin batik juga semakin meningkat di bawah binaan RPK.

"Pada 2011 ini RPK melibatkan 40 perajin, sementara tahun lalu 20 perajin," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Ketua Program Pesona Batik Kudus dan Pembina Perajin Kudus, saat konferensi pers di Graha Bimasena, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2011) lalu.

Batik Kudus pada perhelatan tahunan RPK kali ini tampil dengan motif warna-warni daun tembakau. RPK juga mendatangkan batik buatan perajin Yuli Astuti dan Youke Yuliantaries. Replika batik Kudus kuno juga ditampilkan dalam acara yang berisi pameran, demo membatik, bazar batik Kudus, serta hidangan kuliner tradisional khas Jawa Tengah. Rangkaian acara yang berlangsung dalam beberapa jam ini ingin menarik perhatian kolektor, pecinta batik, serta masyarakat umum untuk mengapresiasi dan mengenakan batik khas dari Kudus.

"Batik Kudus sempat menghilang karena tak ada lagi perajin di Kudus (10 tahun lalu, RED). Batik tak lagi dibeli, akhirnya perajin yang tersisa tak memproduksi batik lagi dan banyak dari mereka yang berganti profesi. Karenanya kita harus membeli batik, memakainya, kalau tidak takkan ada lagi yang membuat batik," jelas pakar batik Asmoro Damais, sekaligus menambahkan satu hal yang harus dihindarkan dalam pembuatan batik, yakni membuat batik print.

Asmoro menegaskan, selama pembuatan batik masih menggunakan lilin, hasil akhirnya bisa dikatakan kain baik. Namun jika sudah printing, tak lagi bisa dibilang batik tetapi disebut tekstil printing bermotif batik. Pemahaman yang sama mengenai konsep membatik ini juga dimiliki RPK. Ade mengatakan, setelah melewati satu tahun menjajaki proses kerjasama dengan Djarum Foundation, desain batik Kudus RPK akhirnya dipilih yayasan ini dalam program "Djarum Apresiasi Budaya".

"Syarat utama yang diberlakukan RPK dalam kerjasama dengan Djarum adalah desain batik boleh diproduksi sebagai batik tulis, cap, atau colet, asalkan jangan batik print," jelas Ade. Menurutnya, RPK masih akan fokus mengembangkan batik Kudus, setidaknya dua tahun terakhir, untuk mempopulerkan kembali motif batik yang unik ini.

Keunikan motif batik Kudus, dan keterikatan daerah memunculkan sinergi Djarum Foundation dan RPK untuk mempopulerkan batik Kudus. Mulai 2011, Yayasan Djarum meluaskan jangkauan program Apresiasi Budaya dalam ranah fashion.

"Desain batik Kudus dari perajin RPK akan digunakan sebagai aplikasi pada busana seragam staf Djarum. Aplikasi motif batik Kudus dengan warna dasar abu akan ditampilkan pada bagian tangan dan punggung pada seragam kerja staf. Sedangkan desain yang sama namun dengan bahan batik tulis akan dibuatkan untuk direksi. Batik cap dan colet dengan motif sama untuk level manager. Khusus untuk staf, batik Kudus akan dipakai serempak 21 April untuk memeringati ulangtahun Djarum," jelas Renitasari, program director bakti budaya Djarum Foundation

Eksotika Batik Kudus

Industri batik Kudus pada awalnya diproduksi secara home industri pada tahun 1800 M. Pusat produksi batik di Kawasan Kudus Kulon ( Kudus bagian barat ). Sesuai dengan sosiokultural yang berlaku pada masa itu bahwa gadis-gadis Kudus Kulon dalam menjalani kehidupannya dipingit oleh orang tua mereka. Untuk mengisi waktu, gadis-gadis tersebut diajari membatik. Selain Rama Kembang, Beras Kecer dan Alas kobong, motif kapal kandas merupakan motif yang digemari para pembeli. 

Nama kapal kandas terinspirasi pada bangunan rumah kuno berbentuk kapal ( omah kapal ). Motif tersebut merupakan motif yang diambil dari sejarah kapal dampo awang milik sampokong yang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah yang berkhasiat sebagai obat-obatan yang sekarang tumbuh subur di Gunung Muria. Cengkeh, daun tembakau, dan alat pelinting rokok sebagai simbol Kudus merupakan kota kretek. motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. 

Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China. Batik Kudus mulai dikenal pada abad 17 dan menjadi bagian identitas masyarakat Indonesia Kudus pada rentang waktu 1880 hingga 1940. Setelah itu, berangsur-angsur tradisi ini memudar dan puncaknya pada kurun tahun 1980-2000, Batik Kudus tinggal menjadi artefak budaya yang nyaris punah di masyarakat. Sejarah mengungkapkan bahwa Batik Kudus dipengaruhi oleh budaya dari pedagang-pedagang Cina kaya yang mendatangkan pembatik-pembatik dari Pekalongan. 

Tak mengherankan rasanya apabila Batik Kudus disebut sebagai karya multi kultur. Dalam kumpulan Batik Kudus dikenal peranakan yang halus dengan isen-isen yang rumit, diantaranya isen gabah sinawur, moto iwak atau mrutu sewu. Batik- batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah dengan corak tombak, kawung, atau parang, tetapi dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna-warna cerah seperti merah dan serasi dengan warna coklat. Ciri dan corak khusus inilah yang membedakan batik Kudus dengan produksi batik daerah lain. Berbagai motif batik khas kudus seperti motif Pakis haji, Parijoto, Kapal Kandas, Kaligrafi dan Beras Tumpah kini mulai didaftarkan untuk memiliki hak cipta ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia

Salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal yaitu Yuli Astuti. Yang beralamat di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus. Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus. 

Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria. Dari hasil kopi itu pula, tutur Yuli, Kudus menjadi kawasan yang diperhitungkan pada masa penjajahan Belanda. Memperkuat pendapat Yuli, dalam buku- buku sejarah Indonesia disebutkan, awal abad ke-19 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels, hasil perkebunan kopi dari kawasan Gunung Muria diangkut melewati Jalan Raya Pos atau jalan lintas di pesisir pantai utara Jawa. Kopi menjadi komoditas yang menjanjikan di dunia perdagangan internasional kala itu. 

Sampai era 1970-an, masih banyak perempuan membatik di desa-desa di sekitar Kota Kudus. Batik tulis dengan warna-warna alam dari buah pace, daun mangga muda, atau kunyit. Batik menjadi pakaian sehari-hari dan barang dagangan yang cukup laku di tingkat lokal atau antarkota pesisir di Jawa. Namun, industri lokal ini makin tergerus oleh serbuan batik printing dan batik cap dari Pekalongan. Di sisi lain, warga Kudus lebih tertarik menjadi buruh linting di pabrik rokok. Sejak 1980-an praktis batik kudus tak lagi berkibar, ditinggalkan oleh masyarakat pembuat dan pemakainya. Kini yang tertinggal hanya pembatik sepuh yang berusia di atas 50 tahun. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yuli juga merintis pelatihan membatik bagi warga desanya Batik tulis karyanya mulai diminati para perancang busana nasional. Batik hasil karya Yuli juga telah terdaftar dengan nama paten Muria Batik Kudus pada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor registrasi D 002007030389.

Pemasaran hasil membatik Yuli Astuti berjalan lancar dan mendapat respon sangat menggembirakan di kota-kota besar Indonesia antara lain, di kota Semarang, Jakarta, Yogya, Solo, maupun Pekalongan. Dan yang paling menggembirakan adalah Batik Kudus kini tidak lagi menjadi "jago kandang" di rumah sendiri tetapi sudah melanglang buana ke belahan negara lainnya di luar Indonesia sampai ke "Negeri Gajah" alias Thailand. 

Banyak sekali masyarakat di sana mengagumi Batik Kudus dan mereka menganggap karya seni mode ini merupakan maha karya yang sangat mahal serta layak dijadikan inspirasi mode dunia. Bekerjasama dengan Komunitas Asian Woman Yuli Astuti tidak jemu-jemu untuk terus konsisten mempromosikan budaya Batik Kudus ini supaya dunia internasional dapat melihat Indonesia dari sisi lain yang tidak hanya dikenal dengan budaya wisatanya saja namun ada kebanggaan lainnya yang bisa mereka temukan dan gali lebih dalam lagi. Dan mereka bisa menemukan keindahan lain dari Indonesia melalui Batik Kudus. 

"Lady Look" Warna-Warni Tembakau Batik Kudus

Orisinalitas yang unik dari batik Kudus tak terusik dalam rancangan busana siap pakai kreasi perancang Barli Asmara. Kain batik Kudus memang khas dan unik, dan proses pembuatannya butuh waktu lama. Tak heran jika batik tulis kreasi perajin Kudus bernilai harganya. Namun sayang rasanya jika kain batik indah dari Jawa tengah ini hanya disimpan sebagai koleksi saja. Karenanya, Barli merancang 15 busana siap pakai menggunakan kain batik Kudus, dalam koleksi berkonsep lady look "Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui".

Batik Kudus semakin cantik dengan sentuhan desainer muda yang tak ingin merusak orisinalitas kain batik tulis berharga ini. "Lima kain batik otentik dari keseluruhan koleksi ini tidak dipotong, namun hanya dirancang dengan kerutan, sekali jahit dengan restleting yang bisa dicopot tanpa merusak kain," jelas Barli, di sela peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu. Alhasil, satu kain sepanjang lebih dari dua meter tetap apik dan cantik dikenakan sebagai rok bawahan tanpa membuang satu helai pun kain batik tulis Kudus ini.

Koleksi busana ready-to-wear Barli diperagakan dalam acara Pesona Batik Kudus yang diadakan Rumah Pesona Kain (RPK) untuk mempopulerkan batik unik multikultur dari Jawa Tengah ini. Khusus untuk peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus, Barli menggunakan bahan batik hasil perajin Youke Yuliantaries dan Friko Desriandi, perajin binaan RPK.

Kreasi Barli memberikan inspirasi bagi pengoleksi batik otentik untuk tak ragu mengenalkan batik Kudus dalam model busana siap pakai. Ide busana tak hanya berupa kain batik yang dikerut dan menggunakan kait lalu dijadikan rok cantik. Perpaduan warna pesisir seperti biru, ungu, marun, merah, dan pink mempercantik penampilan jika batik Kudus dikenakan sebagai busana harian. Barli memilih model layering dress untuk mempercantik perempuan usia 25-40 tahun dengan batik Kudus.

"Layering bertumpuk pada bagian perut cocok bagi perempuan yang kerapkali tak percaya diri dengan bagian perutnya. Potongan pada pinggang juga semakin membentuk tubuh terutama bagian pinggang," paparnya.

Mengenakan busana batik, apalagi batik Kudus yang kaya corak dan warna, menonjolkan penampilan seseorang. Namun, meski penampilan terkesan penuh, tak ada salahnya menambahkan aksesori pada busana batik. "Aksesori tak berlebihan, hanya kalung tali dengan bunga sebagai liontinnya. Warna bunga juga terinspirasi dari corak bunga tembakau dari kain batik itu sendiri. Kesan cantik lady look identik dengan bunga," jelas Barli.

Selain kalung, Barli juga memberikan inspirasi aksesori untuk busana batik Kudus, dengan memakaikan korsase warna polos di bagian pinggang. "Warna korsase sebaiknya senada dengan warna baju batik," katanya.

Polo Shirt Rasa Batik Solo

Polo shirt rasa batik marak di Solo. Salah satunya diproduksi oleh Kaose, milik Yayuk Sukaryani (56). Dia bahu-membahu dengan anaknya melanjutkan usaha yang dirintis mendiang suami.

Polo shirt atau kemeja kaus berkerah, berlengan pendek, itu mendapat sentuhan batik. Polo dari Solo itu memang bukan batik. Dalam arti, pembuatan tidak menggunakan malam atau lilin yang lazim digunakan dalam proses membatik.

”Kami menyebutnya sebagai kaus etnik,” kata Matheus Kurniawan Susanto (25), pendesain yang bersama sang ibu, Yayuk Sukaryani, mendirikan perusahaan bernama Kaose Ethnicholic, atau biasa disebut Kaose saja.

Sentuhan batik terasa pada motif-motif yang digali dari ranah batik, seperti motif parang barong, parang rusak, parang merak, atau juga motif kawung. Motif batik klasik itu dimodifikasi agar memberi kesan tidak terlalu klasik. Motif kawung, misalnya, diberi isen-isen atau isian hingga terkesan meriah, ngepop. Model itu dimaksud agar bisa menarik minat kaum muda.

Motif batik tersebut tidak menyelimuti seluruh bagian kaus, tetapi hanya pada sebagian kecil bidang kaus. Bidang warna polos atau warna dasar masih dominan. Motif batik dilekatkan pada bagian sekitar dada, ada juga di bagian bawah kaus, atau kombinasi di antara kedua bagian tersebut. Ada pula yang sedikit menempel pada bagian sisi kanan atau kiri kaus dari lengan hingga bidang bawah. Dengan demikian, karakter sebagai polo shirt masih kuat, tetapi masih ada kesan ”berbatik” meski bukan batik.

”Kalau separuh jadinya lebih aneh, unik,” kata Yayuk di sanggar kerjanya di Demakan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 4 kilometer di timur kota Solo.

Sopan, muda
Mengapa polo shirt? ”Saya menggagas bagaimana membuat kaus yang bisa dipakai resmi, tetapi nyaman,” kata Yayuk.

Kaus oblong atau t-shirt, menurut Yayuk, kurang sesuai dikenakan pada kesempatan resmi. Selain itu, dari aspek pasar, oblong bermotif batik juga sudah banyak dijual. Dengan model polo shirt, Yayuk bisa bermain di pasar yang lebih lebar. Polo shirt rasa batik itu dijual dengan harga sekitar Rp 75.000 per buah. Selain dijual untuk umum, ia juga bisa melayani pesanan, misalnya untuk kostum kelompok paduan suara. Polo shirt itu tampak sopan, berwibawa, dan ada nuansa etnik.

Yayuk juga melayani pemesanan untuk keperluan aktivitas luar ruang (outbound) dari sebuah perusahaan minyak. Kaose juga menembus kedutaan besar RI di Singapura yang ingin tampil dengan rasa keindonesiaan lewat sentuhan etnik, batik.

Kaose juga menyasar konsumen muda. Untuk itu, mereka juga merancang warna-warna yang disukai kalangan muda, seperti merah, biru, fanta alias jingga. ”Anak muda sekarang kalau pakai warna-warna sogan tidak mau. Mereka suka warna dan motif ngejreng supaya bisa dipadu dengan celana jins,” kata Yayuk.

Yayuk bicara berdasar pengalaman karena sejak 1992 ia membuat t-shirt bermotif batik. Ia memilih polo shirt karena melihat peluang pasar.

Perjuangan ibu-anak
Kaose merupakan bagian dari usaha Yayuk dan keluarga dalam memutar usaha pakaian jadi. Ia bersama sang suami, Susanto (almarhum), memulai usaha sebagai pembuat sabun batik, cairan pencuci batik dari bahan alami lerak, sejak 1981. Pada 1992, mereka membuat kaus colet atau oblong dengan polesan motif yang dilukis. Yayuk memasok kaus colet ke perusahaan batik besar di Solo. Tidak mudah menembus label besar karena dalam 100 potong pasokan, sebanyak 70 persen bisa ditolak karena dianggap tidak memenuhi standar.

”Namun, dari pengalaman ditolak itu, kami belajar tentang standar dan kualitas produksi,” kata Matheus.

Ketika suami Yayuk meninggal pada 2001, Yayuk melanjutkan usaha sendirian. Anaknya, Matheus Kurniawan Susanto, saat itu baru berumur 14 tahun dan Stephanus baru berumur 9 tahun. Ia harus mencari pasar yang selama ini ditangani sang suami.

”Kami dulu hanya melayani pesanan dari buyers besar. Jadi, kami tidak mempunyai jaringan pemasaran. Kami juga tidak mengetahui selera kelas menengah atas itu seperti apa,” kata Matheus yang kini 25 tahun, dan terlibat langsung dalam industri keluarga itu.

Produksi kaus oblong terus berjalan dengan berganti ke sistem cetak manual atau printing. Bisa dibilang usaha itu mulai berhasil. Nyatanya, Yayuk pada 2006 bisa membuka gerai khusus oblong ”batik” bernama Oblong Center di Pusat Grosir Solo, Gladak, di sebelah utara Alun-alun Surakarta.

Belakangan Matheus dilibatkan dalam produksi. Matheus yang sebelumnya adalah atlet bulu tangkis dari Klub Djarum, Jakarta, keluar dari klub dan belajar desain di Akademi Seni dan Desain, Solo. Ia menjadi ”penerjemah” visual bagi gagasan sang ibu. ”Saya hanya bilang begini, begini, nanti anak saya yang jago gambar yang merancang desainnya,” kata Yayuk.

Kini, Yayuk menyiapkan putranya yang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta itu untuk nantinya membantu juga dalam industri keluarga itu. Kekompakan ibu dan anak ini menghasilkan desain polo shirt berasa batik itu pada 2007. Sejak dua tahun lalu, Yayuk mulai berani menggunakan label Kaose. Huruf E ditulis berbalik arah, yaitu dengan menghadap ke kiri. ”Kalau masih pakai nama Oblong Center kok rasanya kurang catchy (menarik),” kata Matheus.

Meski menggunakan merek Kaose, Yayuk juga memproduksi kemeja, blus, celana, dan rok yang semuanya bersentuhan motif batik. Mereka menggunakan bahan katun dan lurik. Sejak sekitar dua tahun lalu, ia membuka gerai di Jalan Imam Bonjol, tak jauh dari Kampung Batik Kauman.

Yayuk benar-benar mengawali usaha dari nol. Terlebih, usaha itu dijalankan tanpa pinjaman dari bank. ”Saya tidak punya barang yang bisa dijaminkan. Saya cuma mengandalkan keyakinan,” kata Yayuk.

Pesona Batik Danar Hadi dari Mahasiswa ESMOD

ESMOD Fashion Festival 2012 yang berlangsung di Gandaria City, menghadirkan show untuk memamerkan koleksi para perancang Indonesia, seperti Sapto Djojokartiko, Afriyanti, Mel Ahyar, dan Dynand Fariz. Selain itu juga ada show dari para sponsor acara ini, seperti PT Unilever Indonesia melalui produk Trashion-nya, Sophie Paris, dan Danar Hadi.

Batik Danar Hadi, yang didirikan oleh H. Santosa Doellah pada 1967, menyelenggarakan show bertema "Pesona Batik", bekerja sama dengan ESMOD International. Kerja sama ini berawal pada Juni 2011, ketika tim Danar Hadi memaparkan keinginan untuk memperkenalkan batik ke Paris sebagai pusat mode dunia. Kebetulan saat itu menjelang international meeting dalam rangka perayaan hari jadi ESMOD yang ke-170, yang dihadiri perwakilan 21 cabang ESMOD di dunia, yaitu Paris, Sao Paulo, Lyon, Tunis, Dubai, Beirut, Damascus, Osaka, Beijing, Oslo, dan lain sebagainya.

Museum Batik Tambah Lima Koleksi Batik Kuno

Museum Batik Pekalongan, Jawa Tengah, menambah lima koleksi kain batik kuno milik Stephanie Belfrage, warga Australia.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Batik Pekalongan, Tanti Lusiana, di Pekalongan, Selasa, mengatakan bahwa kain batik yang sudah berusia 30 tahun tersebut akan "didisplay" di Museum Batik setelah dilengkapi data historisnya.

"Tiga dari lima kain batik kuno itu masih dalam kondisi bagus, sedangkan dua lainnya sudah agak rusak," katanya.

Menurut dia, saat ini, Museum Batik Pekalongan akan mengonservasikan seluruh koleksi batik kuno agar kondisinya baik.

"Setelah dikonservasi, kami akan mendisplay kain batik itu setelah diketahui data sejarahnya. Kami akan menelusuri datanya dulu, kemudian setelah lengkap baru akan ’didisplay’," katanya.

Ia menyampaikan apresiasinya terhadap antropolog keturunan Belanda-Kanada, Sandra Nieesen yang telah memediatori pengembalian batik kuno milik Stephanie Belfrage untuk disimpan di Museum Batik Pekalongan.

"Kami berharap kain batik kuno asli Pekalongan yang tersebar di negara lain dapat dikembalikan ke museum. Kami siap menampung semua batik kuno sebagai upaya menambah koleksi batik Museum Batik Pekalongan," katanya.

Antropolog, Sandra Nieesen menceritakan pemulangan batik kuno kepada Museum Batik Pekalongan tersebut atas inisiatif temannya di Australia, Stephanie Belfrage yang pernah tinggal di Kota Pekalongan itu.

"Saya hanya menjalankan tugas yang diberikan Stephanie untuk mengembalikan produk kain batik asli dari Kota Pekalongan itu," katanya.

Ia mengatakan dirinya akan terus gencar menyosialisasikan pengembalian batik kuno asli Pekalongan yang kini diperkirakan masih tersebar di sejumlah negara.

"Saya menilai untuk merawat kain batik kuno lebih baik disimpan di museum sehingga keberadaan kain batik akan terawat dengan baik," katanya.

Selasa, 16 April 2013

Belajar Membatik di Museum Danar Hadi


Cobalah mampir ke Museum Batik Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, jika Anda berkesempatan berwisata ke daerah ini. Di sana pengunjung bisa belajar membatik sambil melihat proses pembuatan batik tulis dan cap. Mulai dari awal pembuatan batik digambar sketsa desainnya sampai pencelupan dan penjemuran batik.

Saat pengunjung datang, pemandu akan mempersilahkan masuk ke dalam Museum Danar Hadi untuk melihat koleksi batik yang jumlahnya ratusan lembar batik. Batik-batik ini ditata ala arsitek Jawa dengan mebel-mebel ukiran Jawa. Di dinding terdapat hiasan foto-foto noni-noni Belanda mengenakan kain batik.

Wangi bunga sedap malam dan aroma melati menyelimuti museum. Penggunaan bunga tersebut selain untuk pajangan ruangan juga untuk meningkatkan kualitas koleksi batik agar awet batik. Pengunjung dilarang keras memegang kain-kain yang dipamerkan karena tangan manusia mengandung garam yang dapat merusak kain.

Dari sekitar 700 lembar koleksi batik ada beberapa koleksi batik yang terbagi dari beberapa jenis era. Ada era batik Belanda, Cina, dan Jawa. Batik yang menonjol adalah koleksi Keraton Surakarta, Mangkunegaran, Pakualam, dan Yogyakarta. Ada pula koleksi batik Mantan Presiden Megawati, dan Iwan Tirta yang merupakan seorang pakar batik sutera.

Ada pula pajangan alat-alat kimia bahan pembuatan batik antara lain lilin dan alat-alat proses pembuatan batik seperti canting, kain mori, serta alat cap batik. Perjalanan proses kain mori putih asli mulai digambar sketsa sampai menjadi batik tulis, juga ada.

Setelah puas melihat museum, pengunjung bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan cap. Pengunjung bisa mendekati karyawan yang jumlahnya ratusan saat tengah bekerja membatik tulis atau membatik cap untuk diajak bercakap-cakap mengenai proses pembuatan batik.

Ruangannya terbuka untuk dikunjungi sampai ke dalam pabriknya. Mereka dengan ramah memberi penjelasan proses pembuatan batik. Setelah batik selesai ditulis dan dicap, batik kemudian mendapat proses pewarnaan, lalu dicelup dan dijemur sampai kering.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu yaitu belajar membatik. Museum sudah menyediakan kain mori putih yang diberi sketsa gambar bunga-bunga. Bahan cairan malam sudah dipanaskan dan canting telah disiapkan.

Mulailah pemandu mengajari cara membatik. Canting dicelup di malam kemudian canting ditiup barulah dimainkan mengikuti motif batik di kain mori yang sudah disiapkan. Ternyata membatik memerlukan ketelatenan dan ketekunan tersendiri.

Pengunjung memerlukan satu jam tersendiri untuk belajar membatik bunga yang ukurannya hanya 30 meter persegi. Jadi maklum saja jika harga batik tulis mahal karena selembar batik memang perlu waktu yang cukup lama. Sebagai gambaran, satu bulan waktu yang diperlukan untuk membatik ukuran kain panjang 3 meter secara tulis

Sambil Pelesir Sekaligus Belajar Membatik


Wisata ke pantai atau mal sudah biasa kita lakukan. Nah, cobalah mencari alternatif wisata lain agar liburan pun tak terasa monoton. Konsep edukasi pada saat liburan dapat membuat wisata lebih bermanfaat. Salah satu kegiatan wisata yang bisa Anda coba adalah belajar membatik. Selain dapat membuat kita cinta akan budaya batik Indonesia kita juga dapat ilmu bagaimana cara membuat batik.

Indonesia yang mempunyai beragam batik, selalu menyediakan tempat-tempat untuk kursus batik bagi pemula maupun profesional. Anda bisa juga mencoba kursus kilat untuk sekadar berkenalan dengan batik. Berikut tempat-tempat belajar batik.

Museum Tekstil Jakarta. Di Museum Tekstil Jakarta, pengunjung bisa melihat keindahan corak batik dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Selain itu, pengunjung juga bisa belajar membatik. Museum ini berlokasi di Jl KS Tubun No 4, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Di sini tersedia workshop membatik. Mulai dari proses menggambar batik, mencanting, hingga proses mewarnai kain batik. Biaya untuk kursus kilat dan kursus lanjuta berbeda. Anda bisa memulai dengan membuat batik di sapu tangan.

Sanggar Jawa Jawi Java, Jakarta. Sanggar Jawa Jawi merupakan sanggar budaya yang juga menyediakan program belajar membatik. Di sini tersedia beragam kelas batik seperti mulai dari dasar hingga profesional.

Ada beberapa kelas seperti Kelas Batik, Kelas Intermediate, Kelas Advance, dan One Day Course. Untuk sekadar berkenalan dengan teknik membatik, Anda bisa memulainya dengan mengambil kelas One Day Course.

Museum Layang-layang, Jakarta. Walau museum tersebut memamerkan aneka koleksi layang-layang, museum ini juga memberikan program belajar membatik. Museum terletak di Jl H Kamang No 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Hanya saja, sebaiknya Anda datang dalam berkelompok. Karena workshop membatik diberikan untuk minimal 10 orang. Biaya kursus kilat membatik tersebut dikenakan harga mulai dari Rp 35.000.

Museum Batik Yogyakarta. Yogyakarta memang salah satu daerah di Jawa yang identik dengan batik. Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk belajar batik di Yogyakarta. Salah satu tempat yang bisa Anda datangi adalah Museum Batik Yogyakarta.

Museum yang terletak di  Jl Dr Soetomo 13-A, Yogyakarta, menawarkan paket belajar membatik secara kilat ataupun yang disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya per jam atau per paket untuk lima pertemuan.

Batik Rosso, Yogyakarta. Beberapa desa wisata di daerah Yogyakarta biasanya menawarkan praktek membatik. Begitu pun dengan galeri-galeri batik. Salah satunya adalah Batik Rosso di Jalan Wonosari, Bantul, Yogyakarta.

Galeri batik tersebut menawarkan pengunjung untuk belajar membatik. Selain itu, pengunjung dapat melihat langsung proses membatik sampai penjemuran. Juga proses pembuatan pewarna alami yang dipakai dalam pembuatan kain batik.

Kampung Batik Kauman, Solo. Banyak sekali tempat-tempat  yang bisa Anda kunjungi untuk berwisata batik di Solo. Di Solo terdapat 2 kampung batik yang sangat terkenal, yakni Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Kampung Batik Kauman merupakan kampung batik yang terletak tak jauh dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Di tempat ini, pengunjung bisa belajar bagaimana cara membatik. Selain bisa belajar menggoreskan canting bermalam di atas kain, kita juga bisa belajar tentang beraneka ragam batik dan sejarahnya.

Terdapat dua tempat favorit yang biasa dikunjungi saat singgah di Kampung Batik Kauman. Kedua tempat itu adalah Rumah Batik Soga dan Batik Kaoeman. Letak antara Batik Soga dengan Batik Kaoeman sangat berdekatan, sekitar 5 menit berjalan kaki.

Hasan Batik, Bandung. Di Bandung juga ada tempat untuk belajar membatik. Salah satu tempat belajar belajar membatik yang terkenal di Bandung adalah Hasan Batik Bandung.

Hasan Batik terletak di Jl Cigadung Raya Timur No 133 Bandung. Di sini terdapat workshop dan paket kursus membatik. Workshop membatik menyediakan paket-paket yang bisa dipilih dengan waktu berlangsung selama 2-3 jam.

Sanggar Batik Katura, Cirebon. Cirebon memiliki motif batik khas tersendiri. Jika tertarik mengenal lebih dalam Batik Cirebon termasuk belajar membatik, Anda bisa mengunjungi daerah Trusmi di Kecamatan Plered, Cirebon.

Di sana Anda akan menemukan Sanggar Batik Katura, selain berbelanja batik khas Cirebon di tempat ini, Anda bisa minta diajarkan teknik membatik. Tempat ini biasa menerima rombongan wisatawan yang ingin workshop kilat membatik.

Kampung Batik Semarang. Ingin belajar proses pembuatan batik khas Semarang? Anda bisa mengunjungi Kampung Batik Semarang yang berada dekat dengan Bundaran Bubakan, Semarang. Di sini, pengunjung akan menemukan banyak tempat produksi batik rumahan. Adapula tempat memamerkan batik dan tempat workshop bagi pengunjung untuk belajar membatik.

Wisatawan Belajar Membatik di Giriloyo


Sentra kerajinan batik tulis Giriloyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga saat ini menjadi tujuan wisatawan belajar membatik. Hal tersebut diungkapkan Ketua Paguyuban Perajin Batik Tulis Giriloyo Nur Ahmadi.

"Paket wisata belajar membatik yang dijual kepada wisatawan banyak digemari, selain berbelanja produk kerajinan di Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY," kata Nur Ahmadi di Yogyakarta, Senin (13/8/2012).

Ia menyatakan optimistis mampu menjual paket wisata belajar  batik Giriloyo sebagai bagian paket wisata kunjungan ke objek wisata tersebut. Pihaknya menyediakan dua paket wisata yang ditawarkan, yakni paket I jelajah desa dan paket II jelajah desa serta belajar membatik.

"Dalam paket I jelajah desa, wisatawan diajak menjelajahi kawasan Desa  Giriloyo, sedangkan paket II jelajah  desa dan belajar membatik, wisatawan diajak menjelajahi desa sekaligus  belajar membatik," katanya.

Menurut dia, jumlah peserta yang akan mengikuti  paket wisata sentra batik Giriloyo minimal 10 orang dan maksimal 50 orang. Ia mengatakan, khusus paket II para peserta diajak belajar membatik yang dipandu perajin batik, sedangkan karya mereka akan  menjadi milik peserta.

"Paket wisata sentra batik Giriloyo juga mengajak wisatawan menjelajahi kawasan tersebut untuk melihat pemandangan alam dan kegiatan para perajin batik," katanya.

Selain itu, wisatawan juga ditawarkan melihat rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram  di puncak Bukit Imogiri. Peserta jelajah desa juga dapat menikmati makanan tradisional  dusun tersebut, yaitu pecel kembang turi dan wedang uwuh.

"Peserta jelajah desa dalam paket wisata kampung batik Giriloyo dapat menikmati  makanan dan minuman khas sambil  menunggu hasil karya  belajar membatik diproses dengan pewarna dan siap dibawa pulang," katanya.

Ia mengatakan, Giriloyo adalah satu dusun di wilayah Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi  DIY, terletak sekitar 17 kilometer selatan Kota Yogyakarta.