Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Batik Asli, atau Kain Bermotif Batik?

Produk batik bisa ditemui di pasar grosir hingga mal termewah di Jakarta. Harganya bervariasi, mulai "seratus ribu tiga" hingga jutaan rupiah. Namun, di jaman ketika batik digembar-gemborkan sebagai warisan budaya dunia, ada baiknya Anda tak sekadar memilih baju batik berdasarkan kecantikan motifnya. Coba teliti juga apakah batik yang Anda pilih merupakan batik asli atau tekstil bermotif batik.

Yang dimaksud batik asli adalah batik yang dikerjakan secara manual menggunakan lilin malam. Ada sembilan jenis batik asli, seperti dijelaskan Wakil Walikota Pekalongan, Alma Facher, yakni batik tulis, cap, kombinasi tulis dan cap, sablon malam tulis, sablon malam cap, sablon malam cap tulis, printing tulis (manual bukan pabrikan), printing cap, dan kombinasi printing cap tulis.

Ciri yang paling mudah dikenali saat memilih batik asli adalah corak dan desainnya tidak sama. Gambar bunga, misalnya, tak selamanya sama dalam satu bahan sekalipun. Selain itu, batik asli biasanya limited edition, atau tidak diproduksi dalam jumlah banyak.

Sedangkan jenis batik yang tidak mendukung konsep batik, sebenarnya hanyalah tekstil bermotif batik. Atau, kain yang diberi motif batik. Karena lebih murah, batik seperti ini seringkali dibuat massal.

Mungkin agak membingungkan bagi orang awam, namun filosofi ini mesti dikenali masyarakat awam jika tak ingin mempermalukan bangsa, kata Alma.

"Boleh saja bilang pakai batik, namun jika ternyata yang dipakai hanya tekstil bermotif batik akan mempermalukan negara, bukan? Padahal batik yang diakui sebagai heritage oleh UNESCO adalah batik yang proses pembuatannya secara manual," papar Alma, seusai peresmian Pusat Batik Nusantara di Thamrin City.

Sayangnya, 50 persen batik yang beredar di pasaran adalah tekstil bermotif batik, bahkan pada batik dengan brand ternama yang sering Anda lihat di mal sekalipun. Jika sekadar ingin mengoleksi dan mencari yang murah, sah juga membeli batik. Tetapi setidaknya, pilihlah batik cap atau kombinasi yang harganya pun lebih terjangkau.

Jadi jika ingin mendukung batik untuk melestarikan budaya, teliti sebelum membeli. Pastikan batik tersebut asli, meski kadang harganya lebih mahal. Namun sebaiknya Anda juga memahami, mahalnya harga batik asli disebabkan keahlian sang perajin, dan lamanya waktu yang digunakan untuk memproses batik tersebut.

Senin, 15 April 2013

Batik Cirebon

Batik cirebon memiliki beberapa jenis batik yaitu diantaranya sebagai berikut


Batik Keraton Cirebon terlihat sangat kental akan makna simbolis yang berhubungan dengan kosmologi cirebon. Artinya batik bukan sekedar ungkapan estetis yang visual, namun di dalamnya terdapat sistem nilai tertentu yang di yakini dan di hidupi masyarakat khususnya keraton cirebon.

Batik Trusmi, makna yang dimemiliki oleh corak batik ini menyimpan pandangan mengenai tareqat tertentu. Disamping itu terkenalnya batik trusmi tidak lain karena pertumbuhan dan perkembangan batik cirebon yang menunjukan denyut signifikan adalah di Trusmi dan kali tengah. Sehingga Batik Trusmi saat ini menjadi sentra perbatikan Cirebon yang merupakan representasi batik Cirebon yang merangkum seluruh perkembangan batik yang ada di Cirebon.


Batiki Kenduruan, Plumbon dan Paoman karena letaknya berada diluar keraton maka biasanya mereka memproduksi batik yang jenisnya batik pesisiran, seperti batik Plumbon yang terkenal dengan warna merah mengkudunya dan motif lung-lungnya atau ultah-ultahan. Sedangkan batik Kenduruan yang lebih banyak motifnya terpengaruh kebudayaan cina.

Batik Mega Mendung motif batik ini sudah sangat dikenal di dunia bahkan sempat masuk ke dalam cover sebuah buku terbitan luar negeri Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Sedangkan sejarah timbulnya motif mega mendung ini menurut wikipedia


Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agamaIslam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.

Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk Mega Mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.

Terlepas dari makna filosofi bahwa Mega Mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh, semoga saja kesenian batik yang indah ini tidak pernah hilang dan selalu ada generasi selanjutnya yang meneruskan warisan leluhur kita.

Senin, 25 Juli 2011

Sejarah Batik Sunda

Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan didaerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna un-tuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerja-kan ialah: Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.

Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak dipinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-XVII dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Ba-nyumas dan Kudus yang merantau kedaerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembutan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.

Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.

Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-XX pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-XIII. Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.