Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Mei 2013
Diplomat Singapura Kagumi Batik
Batik dan produk tenun yang merupakan warisan budaya Indonesia kian populer di masyarakat luas di dalam maupun luar negeri, termasuk kalangan diplomat asing di Singapura.
"Kekaguman para diplomat di Singapura itu terlihat pada acara bertema `The Beauty of Indonesia Heritage in Batik and Woven Culture`, yang dihadiri 100 undangan diplomat asing," demikian keterangan KBRI Singapura, dikutip dari Antara, Sabtu (18/5/2013).
Para undangan tertarik mengamati berbagai peragaan kain batik dan tenun Indonesia, dan secara antusias bertanya mengenai jenis dan asal daerah kain-kain tersebut.
Undangan yang hadir yakni beberapa duta besar asing di Singapura, istri para duta besar, masyarakat dan media Singapura, serta tamu kehormatan adalah Dr Seetha Shanmugam, istri Menteri Luar Negeri Singapura.
Menurut Duta Besar RI untuk Singapura, Andri Hadi, acara tersebut sangat bagus untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
"Antusiasme para undangan menghadiri acara ini menunjukkan minat dan kekaguman yang besar terhadap ragam budaya Indonesia. Melalui acara ini diharapkan masyarakat asing dapat semakin mengenal Indonesia," ujarnya.
Dr Seetha Shanmugam selaku tamu kehormatan menyatakan kekagumannya yang besar terhadap warisan budaya Indonesia.
"Acara ini sangat mengagumkan, saya sangat terkesan dengan kekayaan budaya Indonesia terutama kain batik dan tenun ini," ujarnya.
Dalam acara tersebut diisi dengan presentasi mengenai batik dan tenun Indonesia oleh Fortuna Srikandi Murnarwastu (FSM).
FSM menjelaskan secara komprehensif mengenai sejarah batik dan tenun, nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, asal daerah, cara membuat dan berbagai macam corak batik dan tenun.
Sementara itu, pembuat tenun dari Lombok dan pembuat batik dari Pekalongan didatangkan untuk memperagakan demo membuat kain tenun dan batik.
Dalam kesempatan tersebut para undangan tampak antusias mempelajari dan mencoba demo pembuatan batik dan tenun yang menjadi bagian dalam acara tersebut.
Pada kesempatan tersebut dihidangkan pula berbagai makanan ringan tradisional Indonesia, antara lain onde-onde, risoles, kue lapis legit, serabi dan tekwan.
Selasa, 30 April 2013
Kompas.com Raih Penghargaan Portal Berdesain Batik
Menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, gerakan "#BatikDay, Celebrating a National Pride and a Cultural Heritage of Indonesia" mengundang portal-portal lokal dan nasional untuk mendesain halaman situsnya dengan motif batik. Sebanyak 30 portal lokal dan nasional ikut serta dalam gerakan digital ini, termasuk Kompas.com.
Dari pengumpulan suara melalui situs BatikDay.com,Kompas.com mendapatkan suara terbanyak kedua dengan 776 suara. Dua suara terbanyak lain diraih Kaskus (2021 suara) danKeepo.me (455 suara). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Shinta Dhanuwardoyo, pengusaha digital dan teknologi yang juga inisiator #BatikDay di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/2012) lalu.
Kompetisi ini diadakan karena Shinta ingin gaung Hari Batik lebih terdengar. Ia menyayangkan bahwa selama ini orang Indonesia baru ribut tentang batik ketika Malaysia diberitakan mengklaim batik sebagai produk budaya mereka. Padahal, sebelumnya orang Indonesia sendiri terkesan kurang menghargai batik. Terbukti, sebelumnya batik tidak menjadi busana sehari-hari dan pengetahuan masyarakat tentang batik pun terbilang minim.
Untuk itu, Shinta dan timnya bekerja sama dengan komunitas pecinta batik untuk mengumpulkan semua informasi tentang batik dan memuatnya dalam situs BatikDay.com. Shinta berharap Hari Batik tidak ditanggapi sekadar dengan mengenakan busana batik, tetapi juga bahwa setiap orang lebih mampu mengapresiasi dengan menambah pengetahuan mereka tentang batik.
"Sejak dua tahun lalu, saya juga sudah mengingatkan portal-portal untuk mengganti desain halaman depannya dengan motif batik. Sayangnya, tidak banyak yang tahu bahwa portal-portal ini sudah melakukan effort untuk melakukan hal ini. Jadi, saya pikir portal-portal ini harus dikumpulkan dan hasilnya diperlihatkan ke masyarakat," papar Shinta pada Kompas.com.
Trending topic
Pemilihan desain batik untuk portal hanya merupakan salah satu program gerakan #BatikDay. Sebelumnya, BatikDay.commengajak para pengguna akun Twitter di Indonesia untuk menuliskan komentar mengenai hari batik dan membubuhkan #BatikDay di dalam tweet mereka.
Sambutannya ternyata luar biasa. Sepanjang 1-4 Oktober lalu, terdapat hampir 50.000 tweet yang menggunakan tagar Batik Day. Hal ini membuat #BatikDay sempat menjadi trending topic nasional, tepatnya pada tanggal 2 Oktober.
Penggunaan kata kunci #BatikDay, dan bukannya kata kunci dalam bahasa Indonesia seperti Hari Batik, rupanya juga dimaksudnya agar membantu kata kunci tersebut menembus topik tren Twitter di seluruh dunia. Harapannya agar para pengguna internet di seluruh dunia dapat mengerti bahwa batik Indonesia telah dikukuhkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Dengan demikian, batik tak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
"Sebagai gerakan berbasis digital, menjadi trending topic merupakan salah satu indikasi keberhasilan gerakan ini," ujar Shinta.
Gerakan digital lain yang dilakukan #BatikDay adalah mengajak para blogger nasional dan internasional untuk menulis mengenai batik dan menyebarkan aplikasi desain batik untuk cover Facebook.
"Kami juga bekerja sama dengan fashion blogger luar. Sebelumnya saya tanya lebih dulu, mau enggak mereka membantu (menyebarluaskan batik) dengan mengirimkan foto mereka memakai batik dan sedikit membahasnya. Saya mengirim batik ke 10 blogger, tapi akhirnya hanya enam yang memasang foto mereka memakai batik di blognya," tambahnya.
Sebagai penghargaan terhadap para blogger tersebut, #BatikDay melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan memilih tulisan terbaik dan mengundang mereka menghadiri event Jakarta Fashion Week yang akan berlangsung pada November 2012. Selain itu para blogger juga akan diajak mengunjungi salah satu sentra batik Indonesia.
Untuk gerakan non-digital, #BatikDay juga menggelar pemutaran film karya Nia Dinata, Batik Our Love Story, dan diskusi mengenai "Pengaruh Batik pada Industri Fashion Amerika", bersamaan dengan penyerahan penghargaan untuk pemenang kompetisi portal berdesain batik. Topik ini diangkat untuk memahami ketertarikan para desainer mode internasional yang kini juga banyak mengaplikasikan motif batik pada rancangan mereka.
Dari pengumpulan suara melalui situs BatikDay.com,Kompas.com mendapatkan suara terbanyak kedua dengan 776 suara. Dua suara terbanyak lain diraih Kaskus (2021 suara) danKeepo.me (455 suara). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Shinta Dhanuwardoyo, pengusaha digital dan teknologi yang juga inisiator #BatikDay di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/2012) lalu.
Kompetisi ini diadakan karena Shinta ingin gaung Hari Batik lebih terdengar. Ia menyayangkan bahwa selama ini orang Indonesia baru ribut tentang batik ketika Malaysia diberitakan mengklaim batik sebagai produk budaya mereka. Padahal, sebelumnya orang Indonesia sendiri terkesan kurang menghargai batik. Terbukti, sebelumnya batik tidak menjadi busana sehari-hari dan pengetahuan masyarakat tentang batik pun terbilang minim.
Untuk itu, Shinta dan timnya bekerja sama dengan komunitas pecinta batik untuk mengumpulkan semua informasi tentang batik dan memuatnya dalam situs BatikDay.com. Shinta berharap Hari Batik tidak ditanggapi sekadar dengan mengenakan busana batik, tetapi juga bahwa setiap orang lebih mampu mengapresiasi dengan menambah pengetahuan mereka tentang batik.
"Sejak dua tahun lalu, saya juga sudah mengingatkan portal-portal untuk mengganti desain halaman depannya dengan motif batik. Sayangnya, tidak banyak yang tahu bahwa portal-portal ini sudah melakukan effort untuk melakukan hal ini. Jadi, saya pikir portal-portal ini harus dikumpulkan dan hasilnya diperlihatkan ke masyarakat," papar Shinta pada Kompas.com.
Trending topic
Pemilihan desain batik untuk portal hanya merupakan salah satu program gerakan #BatikDay. Sebelumnya, BatikDay.commengajak para pengguna akun Twitter di Indonesia untuk menuliskan komentar mengenai hari batik dan membubuhkan #BatikDay di dalam tweet mereka.
Sambutannya ternyata luar biasa. Sepanjang 1-4 Oktober lalu, terdapat hampir 50.000 tweet yang menggunakan tagar Batik Day. Hal ini membuat #BatikDay sempat menjadi trending topic nasional, tepatnya pada tanggal 2 Oktober.
Penggunaan kata kunci #BatikDay, dan bukannya kata kunci dalam bahasa Indonesia seperti Hari Batik, rupanya juga dimaksudnya agar membantu kata kunci tersebut menembus topik tren Twitter di seluruh dunia. Harapannya agar para pengguna internet di seluruh dunia dapat mengerti bahwa batik Indonesia telah dikukuhkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Dengan demikian, batik tak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
"Sebagai gerakan berbasis digital, menjadi trending topic merupakan salah satu indikasi keberhasilan gerakan ini," ujar Shinta.
Gerakan digital lain yang dilakukan #BatikDay adalah mengajak para blogger nasional dan internasional untuk menulis mengenai batik dan menyebarkan aplikasi desain batik untuk cover Facebook.
"Kami juga bekerja sama dengan fashion blogger luar. Sebelumnya saya tanya lebih dulu, mau enggak mereka membantu (menyebarluaskan batik) dengan mengirimkan foto mereka memakai batik dan sedikit membahasnya. Saya mengirim batik ke 10 blogger, tapi akhirnya hanya enam yang memasang foto mereka memakai batik di blognya," tambahnya.
Sebagai penghargaan terhadap para blogger tersebut, #BatikDay melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan memilih tulisan terbaik dan mengundang mereka menghadiri event Jakarta Fashion Week yang akan berlangsung pada November 2012. Selain itu para blogger juga akan diajak mengunjungi salah satu sentra batik Indonesia.
Untuk gerakan non-digital, #BatikDay juga menggelar pemutaran film karya Nia Dinata, Batik Our Love Story, dan diskusi mengenai "Pengaruh Batik pada Industri Fashion Amerika", bersamaan dengan penyerahan penghargaan untuk pemenang kompetisi portal berdesain batik. Topik ini diangkat untuk memahami ketertarikan para desainer mode internasional yang kini juga banyak mengaplikasikan motif batik pada rancangan mereka.
Selasa, 16 April 2013
Batik Unik Tanah Liek
Setahun sudah batik diakui Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Batik yang selama ini dikenal sebagai budaya masyarakat Jawa, ternyata juga dijumpai di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.
Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.
Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.
Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?
Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.
Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.
Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.
Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?
Makna Simbolis Motif Batik Cakar Ayam dan Simbar Lintang Busana Pengantin Gaya Yogyakarta
3. Motif Batik Cakar Ayam
Motif batik cakar ayam termasuk motif ceplok yang tersusun
oleh garis putus-putus, titik titik, dan variasinya yang
sepintas lalu seperti motif pada anyaman. Motif batik cakar
ayam tersusun menurut bidang geometris. Ditinjau dari arti
katanya cakar ayam berasal dari kata cakar dan ayam. Disebut
demikian karena kesan pertama yang tampak dan menonjol
adalah motif yang membentuk jari-jari ayam. Kegiatan ayam
dalam upaya mencari makan dengan cara menggunakan
cakarnya sebagai sumber perlambang semangat hidup manusia
di masa mendatang. Sesuai dengan fungsinya motif cakar
ayam mengandung harapan dapat mencari nafkah sendiri,
banyak rejeki, banyak anak, tenteram dan sejahtera sepanjang
masa.
4. Motif Batik Simbar Lintang.
Digolongkan sebagai motif ceplok yang meng-gambarkan
pemandangan di angkasa di malam hari dengan bintangbintang
gemerlapan yang me-mancarkan sinarnya ke seluruh
dunia. Pola batik simbar lintang terdiri dari motif bersimbar
bertajuk empat dan motif bungan yang bertajuk delapan.
Motif bunga bertajuk delapan artinya sama dengan jantra atau
cakra, yang dalam kepercayaan hindu jawa dianggap sebagai
lambang hidup yang kekal. Di balik motif simbar lintang
memiliki makna simbolik yang mengandung arti suatu
harapan kebahagiaan, yaitu sang pengantin senantiasa
mendapatkan anugerah yang berupa kesentosaan, kebahagiaan,
makmur sandang pangan, dan sejahtera selama-lamanya. Batik
simbar lintang dikenakan sebagai busana pengantin pria dan
wanita dalam upacara sepasaran (2002: 18).
Makna Batik Yogya dan Solo
Untuk lebih memahami makna batik, ada dua daerah asal batik yang perlu dipelajari yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Solo.
1. Batik daerah Solo
Daerah Solo merupakan kerajaan dengan segala tradisi dan adat istiadatnya. Ragam hias batik diciptakan dengan pesan dan harapan semoga membawa kebaikan bagi pemakai. Semua dilukiskan secara simbolis, misalnya:
a. Ragam hias larangan dan dianggap sakral, hanya dikenakan raja dan keluarganya yaitu parang rusak barong, sawat dan kawung.
b. Ragam hias slobog, berarti agak besar/longgar dipakai untuk melayat. harapannya semoga arwah yang meninggal tidak mendapat halangan.
c. Sidomukti, dipakai pengantin. Sido berarti terus menerus dan mukti berarti hidup berkecukupan.
d. Truntum, dipakai orang tua pengantin. Truntum berarti menuntun, maknanya orang tua menuntun mempelai memasuki hidup baru
e. Satria Manah, dipakai wali pengantin pria ketika meminang dengan harapan semoga lamaran sang pria dapat diterima dengan baik oleh pihak wanita.
f. Semen Rante, dipakai wali pengantin wanita ketika menerima lamaran. Rantai melambangkan ikatan yang kokoh.Harapannya jika lamaran telah diterima, pihak wanita menginginkan hubungan erat dan kokoh yang tidak dapat lepas lagi.
g. Parang Kusumo, dipakai gadis pada upacara tukar cincin. kusumo berarti bunga yang sedang mekar
h. Pamiluto, dikenakan ibu si gadis pada upacara tukar cincin. Berasal dari kata pulut, melambangkan harapan ibu agar pasangan dara dan pria tidak terpisahkan lagi.
i. Bondet, dipakai pengantin wanita pada malam pertama. Berasal dari kata bundet berarti saling mengikat
j. Semen Gendong dipakai pengantin setelah selesai upacara perkawinan dengan harapan agar dapat segera mengendong bayi
k. Ceplok Kasatriyan, dipakai sebagai kain untuk upacara kirab pengantin. Batik ini digunakan oleh golongan menengah ke bawah. Pemakainya agar terlihat gagah dan memiliki sifat ksatria. R
2. Batik daerah Yogyakarta
Perpaduan tata ragam hias Yogyakarta cenderung pada perpaduan berbagai jenis ragam hias geometris dan berukuran besar, misalnya:
a. Ragam hias Grompol, dikenakan pada upacara perkawinan. Grompol berarti berkumpul atau bersatu, merupakan pengharapan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik seperti rejeki, kebahagiaan, keturunan, hidup rukun dan sebagainya.
b. Tambal digunakan untuk selimut orang sakit. Tambal diambil dari pengertian menambal, yaitu berarti menambah atau memperbaiki sesuatu yang kurang sehingga kemudian dianggap dapat menyehatkan yang sakit.
Batik tidak hanya sekedar wastra, tetapi karya seni budaya, yang pada awalnya selalu dihadirkan pada upacara-upacara tradisi dalam masyarakat Jawa. Batik selalu menyertai setiap tahapan dalam daur hidup manusia. Filosofi dalam pola batik yang merupakan harapan atau doa-doa itulah yang menyebabkan batik selalu ada pada setiap upacara-upacara masyarakat Jawa, dari saat dilahirkan hingga maut menjemput.
Batik, Sejarah dan Etimologi
Kain batik yang diidentikkan sebagai kain Nusantara kini berkembang menjadi industri modern. Konsekuensi dari masuknya batik ke dalam industri modern, batik dituntut mengikuti perkembangan zaman, sesuai perkembangan mode dan dengan tuntutan pasar. Perkembangan batik yang mengikuti perkembangan zaman dari tahun ke tahun akhirnya menunjukkan dinamika beragam.
Batik sebagai produk seni adiluhung, awalnya kelahirannya banyak diwarnai simbol-simbol keraton. Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. Tapi akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai memasyarakat. Batik juga sudah mulai digunakan tidak hanya dalam upacara adat, namun juga dalam keseharian.
Mulai bermunculan baju-baju yang bermotif batik. Hingga saat ini banyak sekali tempat tempat khusus yang menjual batik ini. Mulai dari batik yang benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi yang diaplikasikan dalam pakaian sehari-hari. Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana.
Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).
Batik
Secara etimologis batik mempunyai pengertian akhiran “tik” dalam kata “batik” berasal dari kata menitik atau menetes. Dalam bahasa kuno disebut serat, dan dalam bahasa ngoko disebut “tulis” atau menulis dengan lilin. Menurut Kuswadji (1981:2) “mbatik” berasal dari kata “tik” yag berarti kecil. Dengan demikian dapat dikatakan “mbatik” adalah menulis atau menggambar serba rumit (kecil-kecil). Arti batik dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ialah kain dan sebagainya yang bergambar (bercorak beragi) yang pembuatannya dengan cara titik (mula-mula ditulisi atau ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga) (WJS Poerwadarminta,1976:96).
Pendapat senada dikemukakan Murtihadi dan Mukminatun (1997:3) yang menyatakan batik adalah cara pembuatan bahan sandang berupa tekstil yang bercorak pewarnaan dengan menggunakan lilin sebagai penutup untuk mengamankan warna dari perembesan warna yang lain di dalam pencelupan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa batik adalah bahan tekstil hasil pewarnaan menurut corak khas motif batik, secara pencelupan rintang dengan menggunakan lilin batik sebagai bahan perintang. Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses proses pekerjaan dari tahap persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi segala pekerjaan pada kain mori hingga siap dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci), nganji(menganji), ngemplong(seterika, kalendering.
Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pelekatan lilin batik pada kain untuk membuat motif, pewarnaan batik (celup, colet, lukis/painting, printing), yang terakhir adalah penghilangan lilin dari kain . (Sewan Soesanto, 1974).
Untuk membuat motif batik dapat dilakukan dengan cara secara tulis tangan dengan canting tulis (batik tulis), menggunakan cap dari tembaga disebut batik cap, dengan jalan dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan kombinasi kombinasi cara cara yang telah disebutkan. Kain batik adalah kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan cara pelekatan lilin (malam).
Batik sebagai produk seni adiluhung, awalnya kelahirannya banyak diwarnai simbol-simbol keraton. Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. Tapi akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai memasyarakat. Batik juga sudah mulai digunakan tidak hanya dalam upacara adat, namun juga dalam keseharian.
Mulai bermunculan baju-baju yang bermotif batik. Hingga saat ini banyak sekali tempat tempat khusus yang menjual batik ini. Mulai dari batik yang benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi yang diaplikasikan dalam pakaian sehari-hari. Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana.
Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).
Batik
Secara etimologis batik mempunyai pengertian akhiran “tik” dalam kata “batik” berasal dari kata menitik atau menetes. Dalam bahasa kuno disebut serat, dan dalam bahasa ngoko disebut “tulis” atau menulis dengan lilin. Menurut Kuswadji (1981:2) “mbatik” berasal dari kata “tik” yag berarti kecil. Dengan demikian dapat dikatakan “mbatik” adalah menulis atau menggambar serba rumit (kecil-kecil). Arti batik dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ialah kain dan sebagainya yang bergambar (bercorak beragi) yang pembuatannya dengan cara titik (mula-mula ditulisi atau ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga) (WJS Poerwadarminta,1976:96).
Pendapat senada dikemukakan Murtihadi dan Mukminatun (1997:3) yang menyatakan batik adalah cara pembuatan bahan sandang berupa tekstil yang bercorak pewarnaan dengan menggunakan lilin sebagai penutup untuk mengamankan warna dari perembesan warna yang lain di dalam pencelupan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa batik adalah bahan tekstil hasil pewarnaan menurut corak khas motif batik, secara pencelupan rintang dengan menggunakan lilin batik sebagai bahan perintang. Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses proses pekerjaan dari tahap persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi segala pekerjaan pada kain mori hingga siap dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci), nganji(menganji), ngemplong(seterika, kalendering.
Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pelekatan lilin batik pada kain untuk membuat motif, pewarnaan batik (celup, colet, lukis/painting, printing), yang terakhir adalah penghilangan lilin dari kain . (Sewan Soesanto, 1974).
Untuk membuat motif batik dapat dilakukan dengan cara secara tulis tangan dengan canting tulis (batik tulis), menggunakan cap dari tembaga disebut batik cap, dengan jalan dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan kombinasi kombinasi cara cara yang telah disebutkan. Kain batik adalah kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan cara pelekatan lilin (malam).
Sedangkan kain bermotif batik adalah kain yang bermotif/bercorak batik tetapi motifnya tidak digambar melalui pelekatan lilin batik, biasanya dengan mesin printing tekstil. Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan (Resist Dyes Technique” (Teknik celup rintang) dimana pembuatannya semula dikerjakan dengan cara ikat-celup motif yang sangat sederhana, kemudian menggunakan zat perintang warna. Pada mulanya sebagai zat perintang digunakan bubur ketan, kemudian diketemukan zat perintang dari malam(lilin) dan digunakan sampai sekarang.
Senin, 15 April 2013
Batik Cirebon
Batik cirebon memiliki beberapa jenis batik yaitu diantaranya sebagai berikut
Batik Keraton Cirebon terlihat sangat kental akan makna simbolis yang berhubungan dengan kosmologi cirebon. Artinya batik bukan sekedar ungkapan estetis yang visual, namun di dalamnya terdapat sistem nilai tertentu yang di yakini dan di hidupi masyarakat khususnya keraton cirebon.
Batik Trusmi, makna yang dimemiliki oleh corak batik ini menyimpan pandangan mengenai tareqat tertentu. Disamping itu terkenalnya batik trusmi tidak lain karena pertumbuhan dan perkembangan batik cirebon yang menunjukan denyut signifikan adalah di Trusmi dan kali tengah. Sehingga Batik Trusmi saat ini menjadi sentra perbatikan Cirebon yang merupakan representasi batik Cirebon yang merangkum seluruh perkembangan batik yang ada di Cirebon.
Batiki Kenduruan, Plumbon dan Paoman karena letaknya berada diluar keraton maka biasanya mereka memproduksi batik yang jenisnya batik pesisiran, seperti batik Plumbon yang terkenal dengan warna merah mengkudunya dan motif lung-lungnya atau ultah-ultahan. Sedangkan batik Kenduruan yang lebih banyak motifnya terpengaruh kebudayaan cina.
Batik Mega Mendung motif batik ini sudah sangat dikenal di dunia bahkan sempat masuk ke dalam cover sebuah buku terbitan luar negeri Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Sedangkan sejarah timbulnya motif mega mendung ini menurut wikipedia
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agamaIslam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.
Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk Mega Mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofi bahwa Mega Mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh, semoga saja kesenian batik yang indah ini tidak pernah hilang dan selalu ada generasi selanjutnya yang meneruskan warisan leluhur kita.
Batik Keraton Cirebon terlihat sangat kental akan makna simbolis yang berhubungan dengan kosmologi cirebon. Artinya batik bukan sekedar ungkapan estetis yang visual, namun di dalamnya terdapat sistem nilai tertentu yang di yakini dan di hidupi masyarakat khususnya keraton cirebon.
Batik Trusmi, makna yang dimemiliki oleh corak batik ini menyimpan pandangan mengenai tareqat tertentu. Disamping itu terkenalnya batik trusmi tidak lain karena pertumbuhan dan perkembangan batik cirebon yang menunjukan denyut signifikan adalah di Trusmi dan kali tengah. Sehingga Batik Trusmi saat ini menjadi sentra perbatikan Cirebon yang merupakan representasi batik Cirebon yang merangkum seluruh perkembangan batik yang ada di Cirebon.
Batiki Kenduruan, Plumbon dan Paoman karena letaknya berada diluar keraton maka biasanya mereka memproduksi batik yang jenisnya batik pesisiran, seperti batik Plumbon yang terkenal dengan warna merah mengkudunya dan motif lung-lungnya atau ultah-ultahan. Sedangkan batik Kenduruan yang lebih banyak motifnya terpengaruh kebudayaan cina.
Batik Mega Mendung motif batik ini sudah sangat dikenal di dunia bahkan sempat masuk ke dalam cover sebuah buku terbitan luar negeri Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Sedangkan sejarah timbulnya motif mega mendung ini menurut wikipedia
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agamaIslam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.
Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk Mega Mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofi bahwa Mega Mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh, semoga saja kesenian batik yang indah ini tidak pernah hilang dan selalu ada generasi selanjutnya yang meneruskan warisan leluhur kita.
Makna Motif Udan Liris
Batik Motif Udan Liris merupakan salah satu motif busana daerah di Wonopringgo. Wonopringgo terletak di daerah selatan kota Pekalongan, tepatnya diantara kota Pekalongan dan kabupaten Pekalongan.
Sekitar tahun 1842 daerah ini masih dipenuhi dengan hutan (wono) bambu (pring). Sebagian besar penduduknya mencari kebutuhan pangannya melalui perburuan di hutan bambu ini. Di dalam perburuannya tidak jarang juga menelan korban dari warga di wonopringgo ini.
Konon pada jaman tersebut ada seorang pemuda belasan tahun yang ikut berburu dari orang-orang dewasa. Setelah sekian waktu mengintai binatang buruan, akhirnya rombongan perburuan ini berhasil menemukan seekor rusa gemuk yang sedang memakan rumput. Dengan mengendap-endap diantara pohon bambu, rombongan pemburu ini menyusun strategi untuk menyergap rusa ini. Tak ketinggalan pemuda belasan tahun ini juga turut mengintai binatang buruan ini.
Tanpa disadari, ternyata rombongan pemburu ini tidak sendirian mengintai rusa. Ada juga seekor harimau yang turut mengintai rusa ini. Keberadaan harimau tidak diketahui oleh rombongan pemburu ini, tapi malah sebaliknya harimau mengetahui kedatangan para pemburu ini.
Nasib berkata lain, harimau malah menyerang pemburu dan pemuda belasan tahun yang mengikuti rombongan pemburu yang menjadi korbannya. Beruntung pemuda itu hanya menderita luka ringan di tangan sebelah kiri. Binatang buruan gagal diperoleh, malah bencana yang didapatkan. Akhirnya rombongan pemburu ini kembali ke kampungnya dengan tangan hampa.
Melihat kondisi anaknya yang terluka, ibu dari pemuda tadi lalu membuatkan baju batik dengan harapan anaknya yang menggunakan kelak terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan menjadi kstaria yang gagah berani.
Bencana yang dirasakan hari itu tidak membuat pemuda tadi jera, tetapi malah membangkitkan semangatnya hingga pemuda tadi terkenal mahir dalam menyusun strategi perburuan di hutan bambu.
Secara filosofi : motif batik udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.
Sekitar tahun 1842 daerah ini masih dipenuhi dengan hutan (wono) bambu (pring). Sebagian besar penduduknya mencari kebutuhan pangannya melalui perburuan di hutan bambu ini. Di dalam perburuannya tidak jarang juga menelan korban dari warga di wonopringgo ini.
Konon pada jaman tersebut ada seorang pemuda belasan tahun yang ikut berburu dari orang-orang dewasa. Setelah sekian waktu mengintai binatang buruan, akhirnya rombongan perburuan ini berhasil menemukan seekor rusa gemuk yang sedang memakan rumput. Dengan mengendap-endap diantara pohon bambu, rombongan pemburu ini menyusun strategi untuk menyergap rusa ini. Tak ketinggalan pemuda belasan tahun ini juga turut mengintai binatang buruan ini.
Tanpa disadari, ternyata rombongan pemburu ini tidak sendirian mengintai rusa. Ada juga seekor harimau yang turut mengintai rusa ini. Keberadaan harimau tidak diketahui oleh rombongan pemburu ini, tapi malah sebaliknya harimau mengetahui kedatangan para pemburu ini.
Nasib berkata lain, harimau malah menyerang pemburu dan pemuda belasan tahun yang mengikuti rombongan pemburu yang menjadi korbannya. Beruntung pemuda itu hanya menderita luka ringan di tangan sebelah kiri. Binatang buruan gagal diperoleh, malah bencana yang didapatkan. Akhirnya rombongan pemburu ini kembali ke kampungnya dengan tangan hampa.
Melihat kondisi anaknya yang terluka, ibu dari pemuda tadi lalu membuatkan baju batik dengan harapan anaknya yang menggunakan kelak terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan menjadi kstaria yang gagah berani.
Bencana yang dirasakan hari itu tidak membuat pemuda tadi jera, tetapi malah membangkitkan semangatnya hingga pemuda tadi terkenal mahir dalam menyusun strategi perburuan di hutan bambu.
Secara filosofi : motif batik udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.
Makna Pernikahan pada Selembar Batik
Setiap motif pada selembar kain batik dipahami mengandung makna tersendiri. Bercerita tentang kehidupan manusia dari segala sisi. Pernikahan adalah salah satunya.
Bagaimana arti pernikahan diterjemahkan dalam setiap torehan batik ditunjukkan pada pameran batik di perpustakaan UK Petra Surabaya, Jumat (8/3/2013). Acara Batik Tulistyantoro 4 Wedding tersebut akan berlangsung hingga 15 Maret 2013.
"Orang dulu memberikan batik pada perempuan yang dicintainya dan berencana dinikahi," kata Lintu Tulistyantoro, Ketua Komunitas Batik Jatim (Kibas).
Batik adalah bahasa visual. Ketika seorang lelaki ingin mengikat sang gadis, dia akan menyerahkan batik Sabet Rante. Menyatakan betapa cinta yang dimilikinya abadi bagi pasangannya, batik Per Keper yang diserahkan.
"Per Keper itu artinya kupu-kupu. Batik dari Pamekasan banyak yang berupa per keper," kata Lintu yang lahir di Sumenep, Madura ini.
Mirip dengan batik Melate Setoor yang artinya cinta sejati. Keduanya biasanya diberikan ketika lamaran lelaki ke pihak perempuan.
Ada pula batik dengan motif sekar jagad. Motif ini terdiri dari banyak jenis bunga seperti let tolet, pacar China, padi kepa', biji timun kosong, jagung, kabung kertas, rebeh atau rumput, dan kembang duwe'.
"Kadang batik tong centong yang berarti harapan yang diberikan saat lamaran. Atau kadang dimaknai bahwa si lelaki ingin mengutarakan dia mau menghidupi gadisnya atau menanggung hidupnya," terang pria yang sedang menyelesaikan program S3 di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini.
Pameran ini menampilkan 18 batik pernikahan koleksi Lintu. Antara lain dari Sidoarjo, Pamekasan, Tanjung Bumi, Tulungagung, Tuban, dan Sumenep.
Motif Batik Sampit Punya Makna Motivasi
Motif batik Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang dilucurkan pekan lalu, memiliki makna penting yaitu motivasi, kata Bupati Kotim, Supian Hadi di Sampit, Selasa.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Filosofi Batik dan Motif Batik
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta.
Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya.
Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.
Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusum a yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”.
Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.
Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya.
Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.
Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa.
Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.
Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo menghimbau masyarakat umum yang bukan kerabat keraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok keraton, untuk menjaga wibawa Sultan.
Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek.
Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.
“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.
FILOSOFI BATIK DARI MOTIFNYA
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional klasik hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Pada jaman dahulu, motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Batik memang bukan sekadar lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting (alat untuk membatik yang berisi malam atau lilin). Banyak jejak bisa digali dari sehelai kain batik. Sebab motif yang ditorehkan pada selembar kain batik selalu mempunyai makna tersembunyi. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Berikut terdapat beberapa motif batik beserta filosofisnya yang terkenal di daratan Jawa:
1.SIDO LUHUR
Nama motif : Sido Luhur
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin)
Makna : Mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
2. SIDO ASIH
Nama motif : Sido Asih
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin)
Makna : Sido berarti jadi, asih berarti sayang, ragam hias ini mempunyai makna agar hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang.
3. SIDO MULYO
Nama motif : Sido Mulyo
Daerah : Banyumas
Jenis Batik : Batik pengaruh Kraton
Dikenakan : Temanten Pria atau putri
Makna : Bahagia, rejeki melimpah, hidup dalam kemuliaan
4. SIDO MUKTI
Nama motif : Sido Mukti
Daerah : Surakarta
Jenis Batik : Batik Petani
Dikenakan : Temanten Putra/Putri (Resepsi /Pahargan)
Makna : Hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat.
Biasanya dikenakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang). Sido berarti terus menerus dan muktiberarti hidup berkecukupan dan kebahagiaan. Jadi motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik.
5. SIDO WIRASAT
Pada motif ini selalu terdapat komdinasi motif ini selalu terdapat kombinasi motiftruntum di dalamnya karena melambangkan orang tua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga
6. PARANG KUSUMO
Nama motif : Parang Kusumo
Daerah : Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Calon temanten putri (tukar cincin)
Makna : Hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusuma).
7. TRUNTUM
Nama motif : Truntum
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Orang tua temanten
Makna : Menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.
8. WAHYU TUMURUN
Nama motif : Wahyu Tumurun
Daerah : Pura Mangkunegaran
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Penganten pada waktu panggih
Makna : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini kedua pengantin mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.
9. PARANG RUSAK
Adalah salah satu motif sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Motif ini juga bisa mengidentifikasi asal kraton pemakainya, apakah dari kraton Solo atau Yogya.
10. PARANG BARONG
Berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Dulunya dikenakan para bangsawan untuk upacara ritual keagamaan dan meditasi karena motif ini dianggap sakral.
Misalnya motif-motif Parang Barong yang pada awalnya hanya digunakan oleh para Raja. Motif Parang sesungguhnya menggambarkan senjata, kekuasaan. Selaras dengan makna yang ada dalam motif Parang Barong, maka Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.
11. PARANG KLITIK
Menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Dulu motif ini hanya dikenakan oleh para putri raja.
12. PARANG SLOBOK
Menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran.
13. SEKARJAGAT
Melambangkan ungkapan cinta dan memelihara perdamaian. Maka tak heran bilamotif ini sering dikenakan dalam pesta pernikahan.
Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata “kar jagad” (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman diseluruh dunia.
14. KAWUNG
Melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan hidup.
15. MEGA MENDUNG
Melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru muda pada motif ini melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
16. POLENG
Menggambarkan kejujuran, keseimbangan, dapat dipercaya dan berani.
17.UKEL
Digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa saat ini, seperti motif kain batik: Ukel, Semen Rama; Semen Raja, pada awalnya juga hanya dikenakan oleh keluarga kesultanan. Hanya digunakan dalam kesempatan tertentu saja.
18.SEMEN RAMA
Motif Semen dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornament yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.
Selain makna tersebut motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaanmelalui delapan jalan.Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat.
19 BABON ANGREM
Babon Angrem terdiri dari kata “babon” (induk ayam) dan “angrem” (mengerami telur), sehingga motif ini melambangkan induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Maknanya adalah manusia hendaknya bersabar, seperti sabarnya seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya hingga menetas.
20. KAWUNG PICIS
Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.
Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.
21. PRINGGODANI
Pringgondani adalah nama kesatriyan tempat tinggal Gatotkaca putera Werkudara. Motif ini biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga-coklat, serta penuh sulur-suluran kecil yang diselingi dengan naga.
FILOSOFI BATIK BERDASAR DARI WARNANYA
1. Warna coklat.
Warna ini dapat membangkitkan rasa kerendahan diri, kesederhanaan dan mem”bumi”, kehangatan, bagi pemakainya.
Parang Penggede. Bunga yang sedang merekah dan kupu besar yang indah, melambangkan “kebesaran” pemilik / pemakainya
Dalam pemakaiannya warna coklat terutama, sering kita temukan dalam motif-motif semen (lihat foto 2). Dalam motif parang, juga digunakan warna coklat. (lihat foto3)
Motif Semen merupakan salah satu motif indah yang sering kali dipenuhi dengan makna dan arti yang dapat kita temukan dalam Falsafah Jawa. Suatu motif yang pada saat ini juga hanya dimiliki oleh pemilik dompet tebal. Hal ini terjadi karena untuk menciptakan motif semen biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya motif ini dilukiskan dua kali, baik dari luar dan maupun dari dalam. Juga pengisian cecek yang harus dilukiskan satu demi satu. Sehingga pembuatan satu kain panjang bisa memakan waktu lebih dari 6 bulan.
2. Warna biru tua
Rasa ketenangan, effekt kelembutan, keichlasan dan rasa kesetiaan biasanya dapat ditunjukkan melalui pemakaian warna ini. Warna biru biasanya dapat kita temukan dalam motif batik klassik dari Yogyakarta. Lihat dalam motif Modang di bawah ini. Sebuah motif yang di sekeliling kain jariknya dilukiskan bentuk-bentuk parang tuding. Dalam kain panjang ini didasari dengan warna biru. Di dalamnya diisi dengan motif ganggong ranthé, sejenis bunga.
Motif Modang dengan isen ganggong ranthe
3. Warna putih
Yang juga muncul dalam motief Yogyakartan, menunjukkan rasa ketidakbersalahan, kesucian, ketentraman hati dan keberanian serta sifat pemaaf si pemakainya.
Membaca tentang makna warna seperti yang tersebut di atas, sangatlah dapat dimengerti mengapa motif Sido Asih ini dikenakan dalam upacara pernikahan adat. Menilik dari pemakaian warna putih tersirat harapan bahwa calon pengantinnya di kemudian hari akan selalu dilimpahi dengan kasih dan sayang dalam kehidupan berumah tangganya.
Sido Asih / Semen Calo / Gunung Sari latar pethak.
4. Dari warna-warna yang terdapat dalam motif batik juga terdapat warna yang kehitam-hitaman.
Sesungguhnya warna hitam yang dimaksudkan merupakan suatu warna biru yang sangat tua. Sehingga tampak seperti hitam. Suatu warna yang seringkali memberikan gambaran yang negative.
Tetapi dalam dunia perbatikan orang mengambil segi positif dari yang biasanya bermakna negative. Jadi warna hitam dalam batik melambangkan antara lain suatu kewibawaan, keberanian, kekuatan, ketenangan, percaya diri dan dominasi.
Dalam motif itu diperlihatkan berbagai jenis binatang, suatu keaneka ragaman dalam kehidupan yang toch pada akhirnya dapat saling bertenggang rasa.
Motif batik Alas-alasan latar irengan
Jadi bila seseorang mengenakan motif batik tertentu itu bukan saja berarti bahwa yang bersangkutan hanya ingin memperlihatkan betapa indahnya motif batikannya tetapi juga sekaligus ingin dan dapat memperlihatkan fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat yang berlaku. Juga melalui motif batik yang dikenakannya akan tersirat harapan dan makna ungkapan perasaannya. Dan dengan mengenakan motif tertentu si pemakai juga ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya/ pemakainya.
Juga dari pemilihan pemberian nama tentang nama motif batik sangat berkaitan erat dengan suatu harapan dan tujuan hidup dari pembuatnya.
Misalnya: Motif Lintang Trenggono; Motif Gringsing Buketan
Lintang Trenggono
Dalam Motif Lintang Trenggono dilukiskan kehadiran binatang-binatang malam yang bermunculan seiring dengan gemerlapannya cahaya bintang-bintang di angkasa raya. Dari si pemakainya diharapkan dapat menggambarkan betapa puas dan bahagianya (terbebas dari beban berat) hati si pemakai dalam menikmati kehidupan malam yang penuh dengan gemerlapannya bintang di angkasa raya. Motif ini biasanya dikenakan dalam resepsi-resepsi.
Motif Gringsing Buketan
Dalam motif gringsing digambarkan sisik ikan yang menjadi latar belakang buketan (bouquet), ikatan bunga yang indah. Setiap sisik ikan dilukiskan dengan warna putih dengan garis pembatas warna soga (coklat) dan diisi dengan cecek. Si pemakai mengharapkan keindahan, keharuman dan kebesaran bagaikan bunga dalam motif yang juga disertai dengan kekayaan yang tak terhitungkan, seperti jumlah sisik ikan yang ada dalam motif itu.
Dua motif di atas saya memberikan gambaran betapa luasnya makna yang terkandung dalam motif batik klassik Jawa.
Saya kira setiap orang yang mengerti dan mendalami makna dan arti falsafah Kejawen dalam motif batik klassik Jawa juga mengharapkan bahwa makna yang tersirat dalam motif akan menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk saya, paling tidak sudah saya mulai dengan memiliki dulu kain jariknya. . Bagaimana dengan pembaca Baltyra?
Bila kita memperhatikan motif-motif batik klassik Jawa, tampak bahwa setiap motif biasanya hanya dikenakan dalam kesempatan yang tertentu.
FILOSOFI BATIK MEGA MENDUNG
Motif Batik Megamendung, nilai seni dan filosofinya
Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik, begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran motif Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda.
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia kesenirupaan Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Nilai-nilai dasar dalam Megamendung
Nilai-nilai dasar dalam seni apapun termasuk dalam seni batik motif megamendung bisa didekati dengan cara sbb:
a. Nilai Penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang bisa dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari penggunaan bahan berupa kain katun atau kain sutera. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkan dari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.
b. Nilai Isi (Content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri dari atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan.
Bilamana kita cermati, maka akan kita dapatkan bahwa bentuk Megamendung banyak sekali variasinya. Ada yang berbentuk lancip pada ujungnya dan ada yang berbentuk bulat tumpul pada ujungnya. Ada pula yang memiliki lekukan berbentuk menyudut pada bagian bentuk lengkungannya. Dengan sendirinya bagi pendesain batik pemula yang tidak terbiasa dengan proses membatik dan tidak mengerti makna filosofi Megamendung, bilamana menggambar Megamendung akan sedikit mengalami kesulitan serta kemungkinan akan terjadi kesalahan. Yang harus diperhatikan lagi adalah motif Megamendung hampir mirip dengan motif Wadasan. Akan tetapi tidak sama penempatannya dengan motif Wadasan (perlu dipelajari khusus pada kesempatan berikutnya).
c. Nilai Pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan adanya nilai bakat pribadi seseorang, nilai ketrampilan, dan nilai medium yang dipakainya. Ungkapan yang ditampilkan oleh senimannya berupa proses batik yang begitu indah dengan memberikan goresan lilin lewat alat yang dinamakan canting terbuat dari bahan tembaga tipis yang dibentuk secara hati-hati sehingga lilin panas yang melewati ujung canting bisa mengalir dengan lancar. Paduan unsur warna yang harmonis dengan penuh makna bagi siapa yang melihatnya. Unsur warna biru yang kita kenal dengan melambangkan warna langit yang begitu luas, bersahabat dan tenang. Ditambah lagi dengan ada yang mengartikan bahwa biru melambangkan kesuburan sehinga warna batik Megamendung pada awalnya selalu memberikan unsur warna biru diselingi dengan warna dasar merah.
Perkembangan dunia batik yang semakin berkembang ditambah dengan permintaan batik yang demikian beragamnya, maka motif-motif Megamendung banyak dimodifikasi dengan pendekatan berbagai macam, sbb:
1. Bentuk Motif
Bentuk motif Megamendung pada saat sekarang sudah banyak berubah dan dimodifikasi sesuai dengan permintaan pasar diantaranya oleh komunitas perancang busana (fashion designer). Tidak dipungkiri bahwa kelompok perancang busana memberikan andil yang sangat besar bagi kemajuan dunia batik termasuk untuk mengangkat motif Megamendung. Motif Megamendung sudah dikombinasi dengan motif-motif bentuk hewan, bunga atau unsur motif lainnya. Sesungguhnya keberadaan motif Megamendung yang digabungkan dengan motif lain sudah ada sejak dahulu dan telah dibuat oleh seniman batik tradisional. Namun belakangan ini setelah diangkat secara total oleh perancang busana maka motif batik Megamendung semakin berkembang pesat.
2. Proses Produksi
Proses produksi batik Megamendung yang dahulunya dikerjakan secara batik tulis dan batik cap, sekarang dikembangkan pula dengan proses produksi sablon (print). Dengan demikian harga produksi bisa ditekan lebih murah. Walaupun kain bermotif Megamendung yang dibuat dengan proses sablon tidak bisa kita namakan batik, namun secara komersil motif Megamendung merupakan sasaran empuk bagi produsen tekstil yang bisa menghasilkan banyak keuntungan.
3. Bentuk Produksi
Wujud benda produksi pada masa sekarang ini yang mengenakan motif Megamendung tidak lagi dalam wujud kain batik. Motif Megamendung digunakan sebagai hiasan dinding lukisan kaca, pada produk interior berupa ukiran kayu, adapula yang dijadikan sebagai produk-produk sarung bantal, sprei, taplak meja (household) dan lain-lain.
Akan sangat mendukung bila pecinta batik yang menjadikan motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Kita sebagai masyarakat yang berkecimpung di dunia batik tidak membatasi bagaimana cara bentuk motif megamendung diproduksi, namun saya tidak setuju bilamana motif-motif megamendung dengan berbagai bentuk dijadikan barang produksi berupa pelapis sandal di hotel-hotel.
Makna Filosofis dalam Motif Batik Parang
Khasanah kebudayaan kita diperkaya dengan berbagai macam hasil karya yang memikat, yang merupakan peninggalan berharga dari para leluhur bangsa Indonesia. Suatu keunggulan bangsa yang dapat dijadikat alat pemikat bangsa-bangsa lain di dunia, diantaranya adalah batik parang yang menjadi bagian dari keragaman motif batik kita. Kita patut bangga sekarang ini penggunaan kain batik semakin memasyarakat, artinya generasi penerus benar-benar telah melek budaya. Walaupun tentu masih harus digalakkan lebih semarak lagi suapaya gaungnya semakin moncer ke seluruh dunia.
Pengalaman pahit kita terhadap pengakuan negara lain, tepatnya Malaysia, terhadap beberapa karya leluhur kita patut menjadi cambuk yang memukul kita untuk semakin menghargai budaya sendiri. Betapa orang lain di luar sana begitu terkagum dengan apa yang kita punya sementara kita sendiri malah gandrung dengan produk dan karya bangsa lain. Sepatutnya kita sadar dan mulai mengembangkan warisan budaya yang agung seperti halnya batik parang ini. Mari coba kita kenali lebih dalam tentang filosofi yang terkandung di dalam motif batik parang ini agar kita semakin bangga dan mengahargainya.
Motif batik Parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa lilitan leter S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Namun, filosofi yang terkandung di dalam batik Parang tidak sesederhana motifnya. Ada ajaran-ajaran keutamaan yang terkandung di dalamnya.
Parang berasal dari kata pereng, yang berarti 'lereng'. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif leter S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.
Motif ini merupakan salah satu motif dasar yang paling tua. Di masa lalu, motif parang sangat dikeramatkan dan hanya dipakai oleh kalangan tertentu, serta dalam acara-acara tertentu saja. Misalnya, digunakan oleh senapati keraton yang pulang dari berperang dengan membawa kemenangan. Batik Parang digunakan untuk memberi kabar gembira kepada raja.
Perkembangan dewasa ini, motif parang mengalami banyak modifikasi, stilasi, atau bahkan penggabungan dengan motif lain sehingga menghasilkan motif baru yang tak kalah menarik.
Filosofi Batik Parang
Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga di mana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak-anaknya.
Dalam konteks tersebut, motif parang mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran.
Aura dinamis dalam motif ini juga menganjurkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti. Begitu menyelesaikan satu pekerjaan, segeralah berlanjut kepada pekerjaan berikutnya.
Batik Parang biasa digunakan dalam upacara pelantikan. Misalnya seorang senapati yang hendak berangkat perang, dilantik oleh raja di pendopo atau alun-alun, dengan harapan pulang membawa kemenangan. Dewasa ini, motif parang digunakan dalam wisuda sarjana, penganugerahan bintang tanda jasa atau penghargaan dalam lomba.
Motif parang juga sering ditemukan dalam dunia pendidikan dalam bentuk kover buku, seragam, piala, dan sebagainya karena secara ekspilisit motif parang juga memiliki makna kecerdasan.
Sangat jarang motif parang digunakan untuk menghadiri upacara pernikahan. Apalagi digunakan sebagai busana pengantin. Kalangan masyarakat Jawa menganggap, menggunakan motif parang sebagai busana pernikahan akan menyebabkan rumah tangganya nanti dipenuhi percekcokan.
Dalam acara semacam ini biasanya digunakan motif lain seperti motif semen yang mengandung arti kesuburan, atau motif truntum dan kawung yang mengandung makna kebijaksanaan, motif sidomukti, sidoasih, atau sidoluhur dan sejenisnya yang mengambil motif sulur-suluran.
Jenis-jenis Batik Parang
Motif batik parang sudah dikenal sejak zaman awal Keraton Mataram Kartasura. Pada saat itu, misalnya, terdapat motif parang rusak, parang barong, parang rusak barong, parangkusumo, parang pamor, parang klithik, parang slobog, dan sebagainya.
Beberapa yang bisa dikenali falsafah yang terkandung di dalamnya, misalnya:
a. Parang rusak
Motif ini merupakan motif batik yang diciptakan Panembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang pantai.
b. Parang barong
Adalah motif parang yang ukuran motifnya lebih besar daripada parang rusak, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Parang barong memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati-hatian dalam bertindak.
c. Parang klitik
Motif ini adalah pola parang dengan stilasi motif yang lebih halus. Ukurannya pun lebih kecil, dan mengandung citra feminin. Parang jenis ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya dikenakan kalangan putri istana.
d. Parang slobog
Pada motif ini motif parang menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran, dan biasa digunakan dalam upacara pelantikan. Motif ini mengandung makna harapan agar pemimpin yang dilantik itu diilhami petunjuk dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah. Bisa juga dikenakan dalam upacara kematian karena mengandung doa agar derajatnya diangkat ke tempat yang lebih terhormat.
Batik Parang - Pakaian Para Bangsawan
Batik Parang kini sudah bangak dipakai oleh sebagian masyarakat. Tak jarang, para karyawan yang diharuskan memakai batik seminggu sekali, memilih batik Parang sebagai busana batik. Hal ini menunjukkan bahwa batik Parang sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat kita.
Melihat semakin besarnya kebutuhan akan batik Parang, para pedagang di berbagai tempat pun dengan cepat merespos kebutuhan akan batik Parang. Di Jakarta misalnya, setiap pasar atau di pusat perbelanjaan pasti ada yang berjualan batik Parang. Sama halnya dengan toko-toko online maupun para pedagang batik keliling yang menawarkan batik Pparang ke rumah-rumah dan kantor-kantor.
Batik Parang adalah batik tradisional Jawa yang cukup terkenal. Banyak yang beranggapan bahwa batik Parang pemakaiannya tidak boleh oleh sembarang orang karena terdapat etika tertentu yang ditaati masyarakat Jawa di masa lalu. Motif batik Parang dianggap sebagai simbol kewibawaan dan keagungan. Iutlah sebabnya batik Parang hanya boleh digunakan oleh raja serta keluarganya. Orang Jawa yang mengetahui tata karma tersebut tidak akan mungkin berani memakai batik Parang ini. Ya, batik Parang memang busana bagi para bangsawan.
Jenis dan Teknik Menulis Batik Parang Rusak
Seperti yang telah desebutkan sebelumnya, batik Parang Rusak adalah salah satu jenis motif kain batik Parang. Motif batik Parang Rusak diciptakan oleh Sultan Agung yang berasal dari Mataram ketika sedang meditasi di pantai selatan Jawa. Pada waktu itu, Sultan Agung sedang melihat ombak yang menggulung menuju pantai dan merusak karang. Inilah yang menginspirasi beliau membuat motif batik Parang Rusak.
Batik Parang Rusak terdiri atas tiga jenis, yaitu batik Parang Rusak Klithik (batik Parang yang sering dipakai oleh para puteri raja), batik Parang Rusak Gendreh (batik Parang untuk pangeran dan priyayi), dan batik Parang Rusak Barong. Batik Parang Rusak barong merupakan motif batik Parang terbesar dan sering dipakai sebagai busana raja.
Lalu, bagaimana proses menulis batik Parang Rusak, terutama batik Parang Rusak yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati? Membatik batik Parang Rusak Barong memerlukan teknik khusus, yakni dengan cara satu tarikan nafas dan dibarengi dengan konsentrasi lahir batin supaya garis yang dibuat tidak terputus. Teknik seperti ini sangat penting karena batik Parang yang sedang dibuat nantinya akan dikenakan oleh raja.
Ukuran motif kain batik Parang Barong memang yang paling besar dibandingkan jenis batik Parang lainnya. Panjang batik Parang Barong bisa mencapai 15cm, sedangkan motif kain batik Parang Rusak Klethik ukurannya hanya sekitar 6cm.
Tas Batik Parang
Selain dalam bentuk pakaian, baik itu kemeja dan kebaya, kini hadir tas batik Parang. Jenis tas batik Parang pun bermacam-macam, misalnya tas untuk pesta, tas laptop, dan lain-lain. Tas batik Parang untuk pesta hadir dengan tampilan yang cantik, unik, dan tentunya tas pesta etnik ini berbahan kain batik Parang Sogan. Di bagian tutup tas batik Parang, dipenuhi dengan batuan senada.
Pengalaman pahit kita terhadap pengakuan negara lain, tepatnya Malaysia, terhadap beberapa karya leluhur kita patut menjadi cambuk yang memukul kita untuk semakin menghargai budaya sendiri. Betapa orang lain di luar sana begitu terkagum dengan apa yang kita punya sementara kita sendiri malah gandrung dengan produk dan karya bangsa lain. Sepatutnya kita sadar dan mulai mengembangkan warisan budaya yang agung seperti halnya batik parang ini. Mari coba kita kenali lebih dalam tentang filosofi yang terkandung di dalam motif batik parang ini agar kita semakin bangga dan mengahargainya.
Motif batik Parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa lilitan leter S yang jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Namun, filosofi yang terkandung di dalam batik Parang tidak sesederhana motifnya. Ada ajaran-ajaran keutamaan yang terkandung di dalamnya.
Parang berasal dari kata pereng, yang berarti 'lereng'. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif leter S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam.
Motif ini merupakan salah satu motif dasar yang paling tua. Di masa lalu, motif parang sangat dikeramatkan dan hanya dipakai oleh kalangan tertentu, serta dalam acara-acara tertentu saja. Misalnya, digunakan oleh senapati keraton yang pulang dari berperang dengan membawa kemenangan. Batik Parang digunakan untuk memberi kabar gembira kepada raja.
Perkembangan dewasa ini, motif parang mengalami banyak modifikasi, stilasi, atau bahkan penggabungan dengan motif lain sehingga menghasilkan motif baru yang tak kalah menarik.
Filosofi Batik Parang
Batik parang memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi berupa petuah agar tidak pernah menyerah sebagaimana ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik parang pun menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik itu dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga di mana batik parang di masa lalu merupakan hadiah dari bangsawan kepada anak-anaknya.
Dalam konteks tersebut, motif parang mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran.
Aura dinamis dalam motif ini juga menganjurkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti. Begitu menyelesaikan satu pekerjaan, segeralah berlanjut kepada pekerjaan berikutnya.
Batik Parang biasa digunakan dalam upacara pelantikan. Misalnya seorang senapati yang hendak berangkat perang, dilantik oleh raja di pendopo atau alun-alun, dengan harapan pulang membawa kemenangan. Dewasa ini, motif parang digunakan dalam wisuda sarjana, penganugerahan bintang tanda jasa atau penghargaan dalam lomba.
Motif parang juga sering ditemukan dalam dunia pendidikan dalam bentuk kover buku, seragam, piala, dan sebagainya karena secara ekspilisit motif parang juga memiliki makna kecerdasan.
Sangat jarang motif parang digunakan untuk menghadiri upacara pernikahan. Apalagi digunakan sebagai busana pengantin. Kalangan masyarakat Jawa menganggap, menggunakan motif parang sebagai busana pernikahan akan menyebabkan rumah tangganya nanti dipenuhi percekcokan.
Dalam acara semacam ini biasanya digunakan motif lain seperti motif semen yang mengandung arti kesuburan, atau motif truntum dan kawung yang mengandung makna kebijaksanaan, motif sidomukti, sidoasih, atau sidoluhur dan sejenisnya yang mengambil motif sulur-suluran.
Jenis-jenis Batik Parang
Motif batik parang sudah dikenal sejak zaman awal Keraton Mataram Kartasura. Pada saat itu, misalnya, terdapat motif parang rusak, parang barong, parang rusak barong, parangkusumo, parang pamor, parang klithik, parang slobog, dan sebagainya.
Beberapa yang bisa dikenali falsafah yang terkandung di dalamnya, misalnya:
a. Parang rusak
Motif ini merupakan motif batik yang diciptakan Panembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang pantai.
b. Parang barong
Adalah motif parang yang ukuran motifnya lebih besar daripada parang rusak, diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Parang barong memiliki makna pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati-hatian dalam bertindak.
c. Parang klitik
Motif ini adalah pola parang dengan stilasi motif yang lebih halus. Ukurannya pun lebih kecil, dan mengandung citra feminin. Parang jenis ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya dikenakan kalangan putri istana.
d. Parang slobog
Pada motif ini motif parang menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran, dan biasa digunakan dalam upacara pelantikan. Motif ini mengandung makna harapan agar pemimpin yang dilantik itu diilhami petunjuk dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah. Bisa juga dikenakan dalam upacara kematian karena mengandung doa agar derajatnya diangkat ke tempat yang lebih terhormat.
Batik Parang - Pakaian Para Bangsawan
Batik Parang kini sudah bangak dipakai oleh sebagian masyarakat. Tak jarang, para karyawan yang diharuskan memakai batik seminggu sekali, memilih batik Parang sebagai busana batik. Hal ini menunjukkan bahwa batik Parang sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat kita.
Melihat semakin besarnya kebutuhan akan batik Parang, para pedagang di berbagai tempat pun dengan cepat merespos kebutuhan akan batik Parang. Di Jakarta misalnya, setiap pasar atau di pusat perbelanjaan pasti ada yang berjualan batik Parang. Sama halnya dengan toko-toko online maupun para pedagang batik keliling yang menawarkan batik Pparang ke rumah-rumah dan kantor-kantor.
Batik Parang adalah batik tradisional Jawa yang cukup terkenal. Banyak yang beranggapan bahwa batik Parang pemakaiannya tidak boleh oleh sembarang orang karena terdapat etika tertentu yang ditaati masyarakat Jawa di masa lalu. Motif batik Parang dianggap sebagai simbol kewibawaan dan keagungan. Iutlah sebabnya batik Parang hanya boleh digunakan oleh raja serta keluarganya. Orang Jawa yang mengetahui tata karma tersebut tidak akan mungkin berani memakai batik Parang ini. Ya, batik Parang memang busana bagi para bangsawan.
Jenis dan Teknik Menulis Batik Parang Rusak
Seperti yang telah desebutkan sebelumnya, batik Parang Rusak adalah salah satu jenis motif kain batik Parang. Motif batik Parang Rusak diciptakan oleh Sultan Agung yang berasal dari Mataram ketika sedang meditasi di pantai selatan Jawa. Pada waktu itu, Sultan Agung sedang melihat ombak yang menggulung menuju pantai dan merusak karang. Inilah yang menginspirasi beliau membuat motif batik Parang Rusak.
Batik Parang Rusak terdiri atas tiga jenis, yaitu batik Parang Rusak Klithik (batik Parang yang sering dipakai oleh para puteri raja), batik Parang Rusak Gendreh (batik Parang untuk pangeran dan priyayi), dan batik Parang Rusak Barong. Batik Parang Rusak barong merupakan motif batik Parang terbesar dan sering dipakai sebagai busana raja.
Lalu, bagaimana proses menulis batik Parang Rusak, terutama batik Parang Rusak yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati? Membatik batik Parang Rusak Barong memerlukan teknik khusus, yakni dengan cara satu tarikan nafas dan dibarengi dengan konsentrasi lahir batin supaya garis yang dibuat tidak terputus. Teknik seperti ini sangat penting karena batik Parang yang sedang dibuat nantinya akan dikenakan oleh raja.
Ukuran motif kain batik Parang Barong memang yang paling besar dibandingkan jenis batik Parang lainnya. Panjang batik Parang Barong bisa mencapai 15cm, sedangkan motif kain batik Parang Rusak Klethik ukurannya hanya sekitar 6cm.
Tas Batik Parang
Selain dalam bentuk pakaian, baik itu kemeja dan kebaya, kini hadir tas batik Parang. Jenis tas batik Parang pun bermacam-macam, misalnya tas untuk pesta, tas laptop, dan lain-lain. Tas batik Parang untuk pesta hadir dengan tampilan yang cantik, unik, dan tentunya tas pesta etnik ini berbahan kain batik Parang Sogan. Di bagian tutup tas batik Parang, dipenuhi dengan batuan senada.
Langganan:
Postingan (Atom)