Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Batik Tanah Liek, Khas Minangkabau yang Liat


Warna dasar kain yang tidak biasa, teduh dan memancarkan aura elegan, menjadi daya tarik utama batik tanah liek (liat) khas Minangkabau. Warna dasar yang cenderung krem atau coklat muda itu diperoleh dari hasil perendaman kain di dalam larutan cairan tanah liat.

Di atasnya beragam motif Minang dilukis dengan ketelitian tinggi yang tampak hidup dengan pewarna alami. Motif-motif tersebut biasanya diambil dari beragam jenis ukiran yang terdapat di rumah-rumah gadang.

Sebutlah, misalnya, motif itiak pulang patang, kaluak paku, atau gambar yang merujuk pada ikon Sumatera Barat seperti Jam Gadang di Bukittinggi dan Rumah Gadang dengan atap bagonjong. Motif-motif Minang yang dilukis pada kain itu punya makna filosofis tertentu.

Di antaranya motif kaluak paku kacang belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing, yang berarti keharusan agar orangtua menunaikan kewajibannya kepada anak dan keponakan sekaligus. Motif-motif tersebut dicanting atau diaplikasikan di atas kain dengan lilin (malam) yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Prosesnya dimulai dengan perendaman kain dalam larutan cairan tanah liat selama dua hari. Dua hari berikutnya adalah proses canting dengan lilin atau malam. Selanjutnya diberikan pewarna alami dari getah beberapa jenis tanaman.

Misalnya saja yang terdapat di kulit rambutan dan kulit jengkol untuk warna hitam dan coklat, gambir untuk warna oranye, manggis untuk warna ungu, dan kunyit untuk warna kuning. Langkah terakhir, kain batik tanah liek lantas dikeringkan sebelum dipasarkan.

Baru populer

Namun, batik tanah liek relatif baru saja populer sebagai salah satu kekhasan dari Minangkabau dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, hingga sekitar 18 tahun lalu batik tanah liek belum diketahui masyarakat umum.

Wirda Hanim, pemilik usaha batik tanah liek Citra Monalisa di Kota Padang, mengawali upaya memproduksi kembali batik tanah liek yang saat itu sudah mulai langka. Wirda ketika itu kerap mengikuti upacara adat di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.

Kini usaha Wirda telah membuahkan hasil. Dengan batik tanah liek yang dipasarkan seharga Rp 600.000 hingga Rp 1,4 juta per helai menembus pasar dengan meyakinkan.

Usaha batik tanah liek yang diupayakannya pun telah menyebar hingga ke sejumlah daerah di Sumbar. Salah seorang yang sempat mempelajari cara pembuatan batik tanah liek itu ialah Fitra Lusia.

Kini, dengan bendera usaha Rumah Kain Ayesha dan Batik Tanah Liek Inaaya, Fitra mempekerjakan 30 tenaga kerja. Sebagian besar perajin batik tanah liek itu merupakan ibu rumah tangga.

”Rata-rata setiap orang perajin bisa mendapat uang mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan,” kata Fitra.

Yang menarik, pengerjaan kain-kain batik tanah liek itu dilakukan di rumah masing-masing. Perajin tinggal mengambil kain dan lilin lalu melakukan pembatikan di rumah sembari melakukan sejumlah pekerjaan domestik.

SULAMAN BAYANG DAN BATIK TANAH LIEK DAPAT SERTIFIKAT


Dua hasil kerajinan rumah tangga asal Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sulaman bayang dan batik tanah liek mendapatkan sertifikat hak cipta dan paten dari Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia (Kemenkum HAM) RI.

“Ya, dua sertifikat itu sudah kita terima dari Kemenkum HAM. Senin, (8/8) sertifikat itu kita serahkan kepada Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekra­nasda) Pesisir SelatanWartawati Nasrul,” kata Bupati Pessel Nasrul Abit, di Painan, Senin.

Kedua hasil kerajinan asal Pesisir Selatan itu masing-masing, batik Tanah Liek mendapatkan hak Cipta Ekspresi Folklor dan hak paten atau sertifikat paten sulaman aplikasi timbul dan sulaman bayangan.

Menurut Nasrul, dua hasil kerajinan tangan ibu rumahtangga Pesisir Selatan itu, sejak dulunya sudah dikenal banyak orang di Indonesia bahkan mancanegara.

Wartawati Nasrul mengatakan, sulaman asal Pesisir Selatan tersebut disebut sulaman baya­ngan. Proses sulaman yang menghasilkan kebaya-kebaya cantik itu dikerjakan dengan tangan oleh para ibu rumahtangga.

“Sebelumnya, motif-motif dilukis menggunakan kertas karbon. Lalu, sulaman itu disebut dengan sulaman bayangan, karena jahitan ada di bagian belakang kain, sehingga bayangannya tampak dari luar,” kata Wartawati.

Sulaman bayangan hasil keraji­nan tradisional asli Pesisir Selatan, memiliki bentuk dan khas tersen­diri, maka jarang ditemukan di tempat lain. Dengan khas itulah kerajinan tradisional asli Pesisir Selatan tersebut disukai banyak konsumen di Indonesia bahkan mancanegara.

Peminat kerajinan tangan para ibu rumahtangga Pesisir Selatan ini lebih banyak dari mancanegara daripada lokal. Di mancanegara sulaman bayangan diminati Negara Malaysia, Singapura, Turki dan beberapa Negara Islam lainnya. Permintaan terbanyak yakni Malaysia, Singa­pore disusul negara lainnya.

Di Pesisir Selatan, kerajinan sulam bayangan ini berasal dari daerah Barung-Barung Belantai dan beberapa daerah lainnya di kabupaten itu. Karena keuni­kannya, sulaman ini mendapat gelar juara pertama se-Asean pada tahun 2009.

Sementara, batik Tanah Liek di kabupaten itu terdapat 11 motif yakni dengan memakai potensi yang dimilikinya, seperti potensi kelautan, maka motif yang dibuat bunga laut

8 Langkah Pada Cara Membuat Batik


Apakah Anda tertarik untuk membuat batik sendiri? Atau Anda ingin belajar untuk menciptakan seni yang indah. Atau mungkin Anda hanya mencari tutorial tentang cara membuat batik. Dalam artikel ini Anda menemukan apa yang Anda inginkan.

Alat untuk membuat batik:

Beberapa alat-alat di sini adalah dalam jangka Indonesia tapi aku yakin Anda akan mengerti.

1. Mori kain (bisa terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester)
2. pensil
3. Canting (ini adalah untuk menciptakan desain menggunakan lilin)
4. Gawangan (ini adalah tempat untuk menggantung kain saat Anda membuat desain)
5. Liquid lilin
6. kecil pan
7. Kecil kompor (untuk memanaskan lilin)
8. Solvent pewarna

Di sini kita pergi, kita siap untuk membuat batik.

1. Pertama tentang cara membuat batik, kita membuat pola awal atau desain dengan menggunakan pensil. Di Indonesia pola ini dalam langkah ini disebut "molani". Untuk para pembuat batik ahli, mereka mampu menciptakan motif mereka sendiri. Tapi untuk pemula, disarankan untuk mengikuti motif-motif umum yang tersedia.

2. Setelah Anda selesai membuat molani, langkah selanjutnya adalah melukis dengan lilin cair dengan menggunakan canting dengan mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya.

3. Menutupi bagian-bagian yang akan tetap berwarna dengan menggunakan lilin. Gunakan canting pada bagian rinci dan menggunakan kuas pada area yang luas.

4. Langkah keempat adalah proses pewarnaan dengan mencelupkan kain ke dalam pewarna pelarut tertentu.

5. Pengeringan dengan kain yang telah dicelupkan.

6. Jika Anda ingin memiliki beberapa warna, maka langkah nomor 3, 4, dan 5 harus diulang beberapa kali tergantung pada berapa banyak warna yang Anda inginkan.

7. Bila warna seluruh bagian kain telah berubah, sekarang saatnya untuk merebusnya dengan air panas. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan lilin sehingga motif yang telah dibuat dapat dilihat dengan jelas. Di Indonesia, proses ini disebut "nglorot".

8. Tentu saja hal ini kain batik perlu dicuci untuk menjadi bersih. Ini adalah proses terakhir dari pembuatan batik. Cuci dan keringkan.

Batik Tulis


Kata "batik" berasal dari Jawa dan berarti "mencetak dalam lilin." Metode dekorasi telah dipraktekkan selama berabad-abad negara di Asia Proses ini melibatkan menggunakan lilin untuk melawan efek dari pewarna kain - bagian dari kain dilapisi lilin. tetap warna aslinya.

Pola Tekstil digambarkan pada banyak patung-patung batu berukir di dinding candi Jawa seperti Candi Borobudur dan Prambanan (AD 800). Tetapi tidak ada bukti bahwa ini adalah Batik. Orang Belanda menyebut 'kain sangat dihiasi' di abad ke-17, tetapi kebanyakan ahli percaya bahwa orang Jawa yang kompleks batik desain hanya akan mungkin terjadi setelah 1800 ketika halus kain tenun, yang diimpor ke Indonesia dari India.

Proses Batik

Cairan lilin panas diterapkan pada kain baik digambar dengan tangan atau dicetak dengan tangan menggunakan blok pola. Kain tersebut kemudian dicelupkan ke dalam larutan pewarna - daerah wax melindungi kain dan pewarna hanya dapat menembus daerah yang tidak dilindungi. Itu Batik menempatkan hanya tapi metode yang digunakan di Indonesia lebih rumit dengan waxing berturut-turut, sekarat dan re-waxing untuk mencapai desain yang sangat indah dan rumit



Alat untuk membuat batik tulis


Gawangan

Perlengkapan ini berbentuk seperti gawang hanya saja berukuran kecil dan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan dibuat ringan tetapi kuat sehingga mudah dipindah-pindahkan. Gawangan berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan kain yang akan dibatik khususnya pada saat proses pemberian malam melalui canting.


Pemberat Kain

Pemberat kain berfungsi sebagai penahan kain sehingga kain tidak mudah bergeser atau tertarik oleh pembatik atau karena tiupan angin ataupun karena sebab lainnya. Pemberat kain dapat berupa japitan, anak timbangan, kayu atau batu. Japitan dipasang pada bagian atas kain yang ada di gawangan, sedangkan anak timbangan, kayu atau batu biasanya diikat pada ujung kain.


Kompor

Kompor digunakan untuk mencairkan lilin atau malam. Kompor yang digunakan saat ini adalah kompor minyak atau listrik sementara pada jaman dulu pembatik menggunakan anglo. Anglo adalah kompor kecil yang terbuat dari tanah liat.


Wajan

Wajan adalah penggorengan yang berfungsi untuk memanaskan dan mencairkan lilin atau malam. Wajan ini terbuat dari tanah liat atau baja.

Malam

Malam atau lilin merupakan bahan yang digunakan untuk membatik. Pada dasarnya malam terbuat dari campuran bahan-bahan berikut ini

- Microwax

-Gondorukem, yaitu bahan sejenis resin dari pohon cemara

-Lemak binatang

- Lilin kote yang berasal dari sarang tawon atau lebah

-Parafin

- Lilin gladagan, yaitu malam hasil daur ulang dari proses ngelorod

- Mata kucing yang merupakan jenis damar


Canting

Canting adalah alat yang terbuat dari tembaga berbentuk corong yang berlubang pada salah satu sisinya. Canting berfungsi untuk menggoreskan malam pada permukaan kain. Canting mempunyai bentuk yang khas dan merupakan salah satu bagian dari tradisi batik warisan budaya Jawa. Canting terdiri dari 3 bagian yaitu mulut, badan dan pegangan. Bagian mulut biasa disebut cucuk, yaitu pipa kecil tempat mengalirkan malam. Bagian badan disebut nyamplung merupakan wadah untuk menampung malam panas. Pegangan atau gagang merupakan bagian yang digunakan sebagai pegangan terbuat dari bahan yang tidak menghantarkan panas seperti kayu atau bambu. Pada dasarnya ada 3 jenis canting yaitu canting klowong berfungsi untuk menulis atau membuat pola dasar, canting reng-rengan yang berfungsi untuk nembok atau menutup bagian yang akan diberi warna dan canting isen-isen atau cecek digunakan untuk mengisi bagian pola yang kosong. Isen berupa garis sedangkan cecek berupa titik.

Mengenal Corak Batik Sumatera


Kita sebagai bangsa Indonesia dapat berterima kasih kepada pihak Malaysia yang sudah mempromosikan Batik sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Karena:

1. Sebelum-sebelumnya kita tidak terlalu menghargai warisan budaya yang sangat indah ini. Sebelum-sebelumnya kita tidak mengajukan Batik kepada UNESCO untuk diakui dunia.

2. Sebelumnya batik hanya diidentikkan dengan pakaian orang tua atau pakaian resmi jika menghadiri acara undangan pernikahan.

3. Sebelum-sebelumnya anak muda enggan pakai batik, namun sekarang para selebritis pun terlihat keren memakai batik yang dimodernisasikan.

4. Sebelum-sebelumnya tidak ada hari Jumat para eksekutif di kawasan bisnis Jakarta menggunakan batik untuk ke kantor.


Kita patut berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Malaysia baik itu pemerintah dan seluruh pihak swastanya. Sudah bertambahkah kecintaan kita akan batik Indonesia? Sudah bertambahkah pengetahuan kita mengenai batik Indonesia?


Batik Aceh

Pengrajin Batik Aceh

Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh.

Motif-motif pada batik Aceh umumnya melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif Pintu Aceh misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif tersebut mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan.

Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.


Batik Jambi
Berbeda dengan batik Jawa yang menggunakan potongan-potongan kain panjang, batik Jambi biasanya datang dalam bentuk jubah longgar, sarung, atau sebagai selendang/syal. Warna khas yang biasa dijumpai pada batik Jambi adalah merah, biru, hitam, dan kuning. Motifnya pada umumnya diambil dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan aktivitas sehari-hari warga Jambi. Motif batik Jambi yang terkenal antara lain adalah motif kapal sanggat, burung kuau, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.


Batik Bengkulu
Motif batik khas Bengkulu, konon, merupakan sebuah adopsi campuran dari motif kaligrafi Jambi dengan Cirebon. Adopsi itu membentuk sebuah desain batik khas Bengkulu. Batik khas Bengkulu secara umum terdiri dari dua jenis. Pertama adalah batik Besurek dengan motif khasnya berupa tulisan kaligrafi. Dan kedua adalah batik Pei Ka Ga Nga atau disebut juga dengan batik Ka Ga Nga yang memiliki motif berupa tulisan asli masyarakat Rejang Lebong. Beberapa motif dasar dari batik Besurek antara lain: motif kaligrafi (diambil dari huruf-huruf kaligrafi. Untuk batik Besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak bermakna); motif bunga rafflesia; motif burung kuau (bergambar burung yang terbuat dari rangkaian huruf-huruf kaligrafi); motif relung paku; dan motif rembulan.

Batik Riau

Di Riau, konon ada batik Selerang yang sempat begitu terkenal pada tahun 1990-an namun sayangnya kabarnya saat ini sudah menghilang. Selain itu, ada pula yang namanya batik Tabir. Batik Tabir yang dibuat berdasarkan sistem tulis dan tolek ini warna-warnanya terang dan cerah, seperti merah, kuning, hijau. Corak dan motifnya antara lain adalah bunga bintang, sosou, cempaka, dan kenduduk.


Batik Padang

Di Padang, batiknya yang terkenal bernama batik tanah liek/tanah liat. Dinamakan demikian karena dalam proses pewarnaannya, batik ini dicelupkan ke dalam tanah liat. Namun, seiring dengan permintaan pasar, batik tanah liek ini tidak hanya berwarna cokelat saja. Batik ini pada akhirnya juga diwarnai menggunakan sumber-sumber pewarna alam lainnya. Sebut saja seperti kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, dan lain-lain. Bahannya pun ada yang terbuat dari katun ataupun sutera. Motifnya juga bermacam-macam antara lain tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dan lain-lain.


Batik Lampung

Mungkin lebih banyak orang mengenal Lampung dari kain tenun tapis-nya. Tapi jangan salah, Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik ini lahir melalui proses panjang yang dilakukan oleh Andriand Damiri Sangadjie, seorang budayawan, bersama kawan-kawannya. Motif batik Lampung yang paling terkenal dan sering menjadi rebutan kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan”.