Batik kian mudah dicari, mulai dari kios-kios pedagang kaki lima, toko-toko di trade center, bazaar, butik, hingga pusat perbelanjaan nan mewah. Harganya pun bervariasi, dari yang Rp 20.000-an hingga yang jutaan rupiah. Harga batik ini kadang-kadang ditentukan oleh jenis batik tersebut.
Batik sesuai dengan pengerjaannya dibagi menjadi tiga jenis: batik tulis, batik cap, dan batik print. Sepintas, ketiganya hampir mirip. Akibatnya, sebagai orang awam kita cenderung salah menilai batik yang kita beli.
Berikut adalah cara membedakan jenis batik yang diberikan oleh Nasir, salah seorang pembatik di Museum Tekstil Jakarta, usai peresmian Clean Batik Initiative yang dihelat oleh Kementrian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan EKONID-Jerman,
* Batik tulis
Ciri-ciri: Corak atau motif batik tidak terlalu rapi, karena batik dikerjakan dengan tangan (manual). Corak dan warna batik tulis antara kain bagian depan dan belakang terlihat jelas, meskipun antara corak yang satu dan yang lain terkadang tidak sama. Batik jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan menggunakan lilin khusus. Bahannya dari kain katun, kain mori, atau kain sutra. Harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari 1 bulan.
* Batik cap
Ciri-ciri: Corak besar-besar dan teratur (sama). Warnanya cenderung terang dan cerah (bukan warna-warna alam). Warna bagian depan kain terlihat jelas, sedangkan bagian belakang kain terlihat buram. Kain yang digunakan cenderung kaku meskipun terkadang batik cap juga menggunakan kain sutra dan kain katun mori.
* Batik print
Ciri-ciri: Umumnya mencontoh desain batik yang sudah ada, dari batik tradisional hingga batik modern. Warna batik printingkebanyakan tidak tembus karena proses pewarnaannya satu sisi saja yaitu bagian depan kain. Menggunakan berbagai macam kain namun jarang menggunakan kain sutra atau kain mori. Harganya cenderung murah.
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 April 2013
Jangan Cintai Batik Hanya Karena Diklaim Negara Lain!
Rangkaian kegiatan Ramadhan bertajuk Eksobatika, yang berlangsung di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, berakhir hari Minggu ini (26/8/2012). Kegiatan ini telah menghadirkan 60 acara, tak kurang 120 perancang dan label fashion dalam negeri, serta sekitar 88.000 buku yang terkumpul dari program Drop Your Book and Act for the Children of Indonesia dan siap disumbangkan ke beberapa rumah baca.
Sebagai penutup acara, sore tadi digelar talkshow, fashion show, dan lelang koleksi batik Guruh Soekarno Putra. Putra bungsu pasangan Presiden RI Soekarno dan Fatmawati ini memang sudah sejak lama menggeluti batik. Melalui perusahaannya, PT Guruh Soekarno Persada yang didirikannya pada 1999, Guruh telah mengeluarkan begitu banyak karya batik yang menampilkan ciri khasnya sendiri, baik yang klasik maupun modern.
"Saya mengenal batik sejak SMP, dan selalu bereksperimen dalam segala hal. Dari materinya saja, saya coba menggunakan katun, sutera, poliester, beludru, jins, bahkan kain karung, atau kain goni pun saya batik. Inilah arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Mental berkreasi harus merdeka dalam daya cipta saya. Di batik saya selalu saya cantumkan nama saya, baik dalam aksara latin maupun aksara bali," papar pria yang dikenal sangat nasionalis ini, saat bincang-bincang tentang batik di Main Atrium East Mall, Grand Indonesia, Minggu
Batik saat ini semakin populer di kalangan masyarakat, dan hal ini tentunya sangat menggembirakan. Namun Guruh mengamati bahwa kepopuleran batik tersebut sebenarnya sebagian dipicu oleh beberapa hal yang justru memprihatinkan.
"Apresiasi terhadap batik meningkat, tapi itu gara-gara ada persoalan klaim di Malaysia, sehingga hal tersebut menggugah rasa kebangsaan kita. Kalau suasananya dalam keadaan biasa-biasa, tidak ada yang bereaksi. Sekali-sekali boleh lah kita menjadi bangsa yang aktif, tapi jangan selalu menjadi bangsa yang reaktif. Banyak dari kita yang tidak memikirkan Indonesia," ujar pria 59 tahun yang juga mendalami dunia tari dan musik ini.
Kita baru tersentak akan nilai kekayaan batik ketika negara lain mengakui bahwa batik adalah produk kebudayaan mereka. Karena klaim itu, kita baru membela batik habis-habisan. Kita baru mau memakai batik dalam aktivitas sehari-hari agar terlihat bahwa batik adalah milik kita. Padahal seharusnya, jika memang mencintai batik dan ingin melestarikannya, sejak dulu kita sudah menjadikannya busana sehari-hari. Dengan demikian, batik memang melekat sebagai bagian dari budaya kita.
Dalam hal mencintai produk kebudayaan dalam negeri, orang Indonesia juga kerap melihatnya dari kacamata orang Barat. Misalnya saja, karena batik belel dari kain lawasan kerap terlihat dipakai oleh turis asing di Bali, orang Indonesia pun ikut-ikutan memakai batik belel. Padahal, tadinya kita menganggap batik belel itu tidak layak dipakai, karena dibuat dari kain bekas.
"Bangsa kita selalu menghargai keseniannya dari kacamata Barat, ini yang memprihatinkan," tegas Guruh, yang menganggap seni adalah alat perjuangan.
Guruh berulangkali menegaskan bahwa kita semua wajib ikut melestarikan apapun pusaka yang diwariskan, entah itu batik, barang-barang seni, lahan, bahkan negeri ini. Setiap orang harus mampu mengembangkan negeri ini. Musik, tari, atau batik menjadi pelopor dalam perubahan peradaban di dunia ini. Jika masyarakat lebih mengenal kebudayaan dari luar, bangsa Indonesia akan semakin dilecehkan.
"Saya ingin Indonesia menjadi seperti yang dicita-citakan eyang saya: Indonesia harus menjadi mercu suar dunia, mercu suar di segala bidang. Saya ingin batik mendapat tempat di dunia internasional. India terkenal dengan sarinya, sehingga orang tahu sari India. Tiongkok dengan sutera klasiknya," katanya.
Begitu juga dengan batik. Seharusnya juga bisa menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang dikenal oleh dunia. Sehingga ketika menyebut nama batik, warga dunia akan langsung mengaitkannya dengan Indonesia.
Sebagai penutup acara, sore tadi digelar talkshow, fashion show, dan lelang koleksi batik Guruh Soekarno Putra. Putra bungsu pasangan Presiden RI Soekarno dan Fatmawati ini memang sudah sejak lama menggeluti batik. Melalui perusahaannya, PT Guruh Soekarno Persada yang didirikannya pada 1999, Guruh telah mengeluarkan begitu banyak karya batik yang menampilkan ciri khasnya sendiri, baik yang klasik maupun modern.
"Saya mengenal batik sejak SMP, dan selalu bereksperimen dalam segala hal. Dari materinya saja, saya coba menggunakan katun, sutera, poliester, beludru, jins, bahkan kain karung, atau kain goni pun saya batik. Inilah arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Mental berkreasi harus merdeka dalam daya cipta saya. Di batik saya selalu saya cantumkan nama saya, baik dalam aksara latin maupun aksara bali," papar pria yang dikenal sangat nasionalis ini, saat bincang-bincang tentang batik di Main Atrium East Mall, Grand Indonesia, Minggu
Batik saat ini semakin populer di kalangan masyarakat, dan hal ini tentunya sangat menggembirakan. Namun Guruh mengamati bahwa kepopuleran batik tersebut sebenarnya sebagian dipicu oleh beberapa hal yang justru memprihatinkan.
"Apresiasi terhadap batik meningkat, tapi itu gara-gara ada persoalan klaim di Malaysia, sehingga hal tersebut menggugah rasa kebangsaan kita. Kalau suasananya dalam keadaan biasa-biasa, tidak ada yang bereaksi. Sekali-sekali boleh lah kita menjadi bangsa yang aktif, tapi jangan selalu menjadi bangsa yang reaktif. Banyak dari kita yang tidak memikirkan Indonesia," ujar pria 59 tahun yang juga mendalami dunia tari dan musik ini.
Kita baru tersentak akan nilai kekayaan batik ketika negara lain mengakui bahwa batik adalah produk kebudayaan mereka. Karena klaim itu, kita baru membela batik habis-habisan. Kita baru mau memakai batik dalam aktivitas sehari-hari agar terlihat bahwa batik adalah milik kita. Padahal seharusnya, jika memang mencintai batik dan ingin melestarikannya, sejak dulu kita sudah menjadikannya busana sehari-hari. Dengan demikian, batik memang melekat sebagai bagian dari budaya kita.
Dalam hal mencintai produk kebudayaan dalam negeri, orang Indonesia juga kerap melihatnya dari kacamata orang Barat. Misalnya saja, karena batik belel dari kain lawasan kerap terlihat dipakai oleh turis asing di Bali, orang Indonesia pun ikut-ikutan memakai batik belel. Padahal, tadinya kita menganggap batik belel itu tidak layak dipakai, karena dibuat dari kain bekas.
"Bangsa kita selalu menghargai keseniannya dari kacamata Barat, ini yang memprihatinkan," tegas Guruh, yang menganggap seni adalah alat perjuangan.
Guruh berulangkali menegaskan bahwa kita semua wajib ikut melestarikan apapun pusaka yang diwariskan, entah itu batik, barang-barang seni, lahan, bahkan negeri ini. Setiap orang harus mampu mengembangkan negeri ini. Musik, tari, atau batik menjadi pelopor dalam perubahan peradaban di dunia ini. Jika masyarakat lebih mengenal kebudayaan dari luar, bangsa Indonesia akan semakin dilecehkan.
"Saya ingin Indonesia menjadi seperti yang dicita-citakan eyang saya: Indonesia harus menjadi mercu suar dunia, mercu suar di segala bidang. Saya ingin batik mendapat tempat di dunia internasional. India terkenal dengan sarinya, sehingga orang tahu sari India. Tiongkok dengan sutera klasiknya," katanya.
Begitu juga dengan batik. Seharusnya juga bisa menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang dikenal oleh dunia. Sehingga ketika menyebut nama batik, warga dunia akan langsung mengaitkannya dengan Indonesia.
Kompas.com Ikut Rayakan Hari Batik Nasional
Portal berita Kompas.com turut merayakan Hari Batik Nasional tahun 2012, dengan memasang motif batik sebagai latar belakang halaman utama .
Motif batik yang didominasi warna coklat ini dipasang sejak 2 Oktober dini hari, sebagai apresiasi kebanggaan dan turut melestarikan batik Indonesia.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) mengakui batik sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009, lewat keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Batik Indonesia dinilai sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Motif batik yang didominasi warna coklat ini dipasang sejak 2 Oktober dini hari, sebagai apresiasi kebanggaan dan turut melestarikan batik Indonesia.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) mengakui batik sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009, lewat keputusan komite 24 negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Batik Indonesia dinilai sarat dengan teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal.
Selain batik, UNESCO juga mengakui wayang (2003), keris (2005), dan angklung (2010) sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi khas Indonesia.
Selasa, 16 April 2013
8 Langkah Pada Cara Membuat Batik
Apakah Anda tertarik untuk membuat batik sendiri? Atau Anda ingin belajar untuk menciptakan seni yang indah. Atau mungkin Anda hanya mencari tutorial tentang cara membuat batik. Dalam artikel ini Anda menemukan apa yang Anda inginkan.
Alat untuk membuat batik:
Beberapa alat-alat di sini adalah dalam jangka Indonesia tapi aku yakin Anda akan mengerti.
1. Mori kain (bisa terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester)
2. pensil
3. Canting (ini adalah untuk menciptakan desain menggunakan lilin)
4. Gawangan (ini adalah tempat untuk menggantung kain saat Anda membuat desain)
5. Liquid lilin
6. kecil pan
7. Kecil kompor (untuk memanaskan lilin)
8. Solvent pewarna
Di sini kita pergi, kita siap untuk membuat batik.
1. Pertama tentang cara membuat batik, kita membuat pola awal atau desain dengan menggunakan pensil. Di Indonesia pola ini dalam langkah ini disebut "molani". Untuk para pembuat batik ahli, mereka mampu menciptakan motif mereka sendiri. Tapi untuk pemula, disarankan untuk mengikuti motif-motif umum yang tersedia.
2. Setelah Anda selesai membuat molani, langkah selanjutnya adalah melukis dengan lilin cair dengan menggunakan canting dengan mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya.
3. Menutupi bagian-bagian yang akan tetap berwarna dengan menggunakan lilin. Gunakan canting pada bagian rinci dan menggunakan kuas pada area yang luas.
4. Langkah keempat adalah proses pewarnaan dengan mencelupkan kain ke dalam pewarna pelarut tertentu.
5. Pengeringan dengan kain yang telah dicelupkan.
6. Jika Anda ingin memiliki beberapa warna, maka langkah nomor 3, 4, dan 5 harus diulang beberapa kali tergantung pada berapa banyak warna yang Anda inginkan.
7. Bila warna seluruh bagian kain telah berubah, sekarang saatnya untuk merebusnya dengan air panas. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan lilin sehingga motif yang telah dibuat dapat dilihat dengan jelas. Di Indonesia, proses ini disebut "nglorot".
8. Tentu saja hal ini kain batik perlu dicuci untuk menjadi bersih. Ini adalah proses terakhir dari pembuatan batik. Cuci dan keringkan.
Senin, 15 April 2013
Motif Batik Sampit Punya Makna Motivasi
Motif batik Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang dilucurkan pekan lalu, memiliki makna penting yaitu motivasi, kata Bupati Kotim, Supian Hadi di Sampit, Selasa.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)