Batik cirebon memiliki beberapa jenis batik yaitu diantaranya sebagai berikut
Batik Keraton Cirebon terlihat sangat kental akan makna simbolis yang berhubungan dengan kosmologi cirebon. Artinya batik bukan sekedar ungkapan estetis yang visual, namun di dalamnya terdapat sistem nilai tertentu yang di yakini dan di hidupi masyarakat khususnya keraton cirebon.
Batik Trusmi, makna yang dimemiliki oleh corak batik ini menyimpan pandangan mengenai tareqat tertentu. Disamping itu terkenalnya batik trusmi tidak lain karena pertumbuhan dan perkembangan batik cirebon yang menunjukan denyut signifikan adalah di Trusmi dan kali tengah. Sehingga Batik Trusmi saat ini menjadi sentra perbatikan Cirebon yang merupakan representasi batik Cirebon yang merangkum seluruh perkembangan batik yang ada di Cirebon.
Batiki Kenduruan, Plumbon dan Paoman karena letaknya berada diluar keraton maka biasanya mereka memproduksi batik yang jenisnya batik pesisiran, seperti batik Plumbon yang terkenal dengan warna merah mengkudunya dan motif lung-lungnya atau ultah-ultahan. Sedangkan batik Kenduruan yang lebih banyak motifnya terpengaruh kebudayaan cina.
Batik Mega Mendung motif batik ini sudah sangat dikenal di dunia bahkan sempat masuk ke dalam cover sebuah buku terbitan luar negeri Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Sedangkan sejarah timbulnya motif mega mendung ini menurut wikipedia
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agamaIslam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.
Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk Mega Mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.
Terlepas dari makna filosofi bahwa Mega Mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh, semoga saja kesenian batik yang indah ini tidak pernah hilang dan selalu ada generasi selanjutnya yang meneruskan warisan leluhur kita.
Senin, 15 April 2013
Makna Motif Udan Liris
Batik Motif Udan Liris merupakan salah satu motif busana daerah di Wonopringgo. Wonopringgo terletak di daerah selatan kota Pekalongan, tepatnya diantara kota Pekalongan dan kabupaten Pekalongan.
Sekitar tahun 1842 daerah ini masih dipenuhi dengan hutan (wono) bambu (pring). Sebagian besar penduduknya mencari kebutuhan pangannya melalui perburuan di hutan bambu ini. Di dalam perburuannya tidak jarang juga menelan korban dari warga di wonopringgo ini.
Konon pada jaman tersebut ada seorang pemuda belasan tahun yang ikut berburu dari orang-orang dewasa. Setelah sekian waktu mengintai binatang buruan, akhirnya rombongan perburuan ini berhasil menemukan seekor rusa gemuk yang sedang memakan rumput. Dengan mengendap-endap diantara pohon bambu, rombongan pemburu ini menyusun strategi untuk menyergap rusa ini. Tak ketinggalan pemuda belasan tahun ini juga turut mengintai binatang buruan ini.
Tanpa disadari, ternyata rombongan pemburu ini tidak sendirian mengintai rusa. Ada juga seekor harimau yang turut mengintai rusa ini. Keberadaan harimau tidak diketahui oleh rombongan pemburu ini, tapi malah sebaliknya harimau mengetahui kedatangan para pemburu ini.
Nasib berkata lain, harimau malah menyerang pemburu dan pemuda belasan tahun yang mengikuti rombongan pemburu yang menjadi korbannya. Beruntung pemuda itu hanya menderita luka ringan di tangan sebelah kiri. Binatang buruan gagal diperoleh, malah bencana yang didapatkan. Akhirnya rombongan pemburu ini kembali ke kampungnya dengan tangan hampa.
Melihat kondisi anaknya yang terluka, ibu dari pemuda tadi lalu membuatkan baju batik dengan harapan anaknya yang menggunakan kelak terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan menjadi kstaria yang gagah berani.
Bencana yang dirasakan hari itu tidak membuat pemuda tadi jera, tetapi malah membangkitkan semangatnya hingga pemuda tadi terkenal mahir dalam menyusun strategi perburuan di hutan bambu.
Secara filosofi : motif batik udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.
Sekitar tahun 1842 daerah ini masih dipenuhi dengan hutan (wono) bambu (pring). Sebagian besar penduduknya mencari kebutuhan pangannya melalui perburuan di hutan bambu ini. Di dalam perburuannya tidak jarang juga menelan korban dari warga di wonopringgo ini.
Konon pada jaman tersebut ada seorang pemuda belasan tahun yang ikut berburu dari orang-orang dewasa. Setelah sekian waktu mengintai binatang buruan, akhirnya rombongan perburuan ini berhasil menemukan seekor rusa gemuk yang sedang memakan rumput. Dengan mengendap-endap diantara pohon bambu, rombongan pemburu ini menyusun strategi untuk menyergap rusa ini. Tak ketinggalan pemuda belasan tahun ini juga turut mengintai binatang buruan ini.
Tanpa disadari, ternyata rombongan pemburu ini tidak sendirian mengintai rusa. Ada juga seekor harimau yang turut mengintai rusa ini. Keberadaan harimau tidak diketahui oleh rombongan pemburu ini, tapi malah sebaliknya harimau mengetahui kedatangan para pemburu ini.
Nasib berkata lain, harimau malah menyerang pemburu dan pemuda belasan tahun yang mengikuti rombongan pemburu yang menjadi korbannya. Beruntung pemuda itu hanya menderita luka ringan di tangan sebelah kiri. Binatang buruan gagal diperoleh, malah bencana yang didapatkan. Akhirnya rombongan pemburu ini kembali ke kampungnya dengan tangan hampa.
Melihat kondisi anaknya yang terluka, ibu dari pemuda tadi lalu membuatkan baju batik dengan harapan anaknya yang menggunakan kelak terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan menjadi kstaria yang gagah berani.
Bencana yang dirasakan hari itu tidak membuat pemuda tadi jera, tetapi malah membangkitkan semangatnya hingga pemuda tadi terkenal mahir dalam menyusun strategi perburuan di hutan bambu.
Secara filosofi : motif batik udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.
Makna Pernikahan pada Selembar Batik
Setiap motif pada selembar kain batik dipahami mengandung makna tersendiri. Bercerita tentang kehidupan manusia dari segala sisi. Pernikahan adalah salah satunya.
Bagaimana arti pernikahan diterjemahkan dalam setiap torehan batik ditunjukkan pada pameran batik di perpustakaan UK Petra Surabaya, Jumat (8/3/2013). Acara Batik Tulistyantoro 4 Wedding tersebut akan berlangsung hingga 15 Maret 2013.
"Orang dulu memberikan batik pada perempuan yang dicintainya dan berencana dinikahi," kata Lintu Tulistyantoro, Ketua Komunitas Batik Jatim (Kibas).
Batik adalah bahasa visual. Ketika seorang lelaki ingin mengikat sang gadis, dia akan menyerahkan batik Sabet Rante. Menyatakan betapa cinta yang dimilikinya abadi bagi pasangannya, batik Per Keper yang diserahkan.
"Per Keper itu artinya kupu-kupu. Batik dari Pamekasan banyak yang berupa per keper," kata Lintu yang lahir di Sumenep, Madura ini.
Mirip dengan batik Melate Setoor yang artinya cinta sejati. Keduanya biasanya diberikan ketika lamaran lelaki ke pihak perempuan.
Ada pula batik dengan motif sekar jagad. Motif ini terdiri dari banyak jenis bunga seperti let tolet, pacar China, padi kepa', biji timun kosong, jagung, kabung kertas, rebeh atau rumput, dan kembang duwe'.
"Kadang batik tong centong yang berarti harapan yang diberikan saat lamaran. Atau kadang dimaknai bahwa si lelaki ingin mengutarakan dia mau menghidupi gadisnya atau menanggung hidupnya," terang pria yang sedang menyelesaikan program S3 di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini.
Pameran ini menampilkan 18 batik pernikahan koleksi Lintu. Antara lain dari Sidoarjo, Pamekasan, Tanjung Bumi, Tulungagung, Tuban, dan Sumenep.
Sejarah Perkembangan Pakaian BATIK
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13.
Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13.
Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Corak Batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
cara pembuatan batik
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin
jenis batik
* Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
* Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
* Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Sol
Corak Batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
cara pembuatan batik
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin
jenis batik
* Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
* Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
* Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Sol
Cari Makna Motif Batik, Libatkan 12 Dosen, Jelajahi 38 Kota
MOTIF Batik, tidak hanya didominasi motif parang, kawung dan motif klasik lainnya. Beragam motif baru, kini mulai bermunculan di sejumlah daerah. Termasuk di Jawa Timur. Bahkan saat ini, batik menjadi media perekam sejarah atas segala hal yang pernah terjadi.
Adalah tim Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berhasil mengabadikan kekayaan batik Jatim di 38 kota kabupaten di Indonesia dan akan didokumentasikan dalam sebuah glosarium.
Penelitian batik Jatim ini, dilakukan oleh 12 dosen UMM. Mulai April sampai November 2012. Tim peneliti mendatangi tempat-tempat produksi di seluruh kota kabupaten di Jatim.
‘’Batik di 38 kota kabupaten itu, memiliki ciri sendiri, sekaligus mewakili ciri khas kotanya,’’ ungkap Kepala LK UMM, Dr Hari Sunaryo M.Si.
Batik juga mulai memunculkan cerita sejarah, maupun peristiwa. Salah satunya ditemukan di Kota Malang. Perajin batik dari Kecamatan Sukun, membuat motif batik dengan gambar aneka satwa mati. Gambar ini merupakan bentuk keprihatinan pada peristiwa matinya sejumlah satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS).
‘’Batik menjadi media dokumentasi atas peristiwa yang terjadi. Termasuk beberapa simbol lainnya yang kami klasifikasikan menjadi sembilan kategori,’’ urainya.
Penelitian oleh 12 orang dosen UMM itu, membuat kategori keberagaman batik dalam sembilan macam. Pertama motif klasik, kedua motif kontemporer berbasis potensi alam laut sebagai komoditas, motif kontemporer berbasis potensi alam daratan dan motif kontemporer berbasis potensi sosial dan ekonomi sebagai komoditas.
Kemudian motif kontemporer berbasis ikon daerah, motif kontemporer berbasis ikon daerah, motif kontemporer berbasis dokumentasi atau catatan peristiwa, motif kontemporer berbasis catatan sejarah, motif kontemporer berbasis ide kreatif bebas, dan motif pelestarian budaya di luar batik.
‘’Kami sedang menyiapkan semacam glosarium yang berisikan keberagaman motif batik Jatim. Juga makna yang ada dibalik motif tersebut. Terpenting adalah filosofi dibalik motif yang ada,’’ bebernya.
Ragam motif batik di Jatim pada dasarnya beragam. Hampir di semua wilayah terdapat pusat batik. Masing-masing berkembang sesuai dengan kekhasan yang ada di daerahnya.
Misalnya saja Gresik yang terkenal dengan Bandeng, memiliki motif Loh Bandeng. Motif Loh Bandeng ini, memiliki filosofi yang luhur. Tatanan bentuk ikan yang rapat dan hampir tanpa celah dimaksudkan agar semangat kebersamaan dan persatuan tetap dijadikan kekuatan utama untuk mewujudkan tujuan yang mulia.
Motif biota laut muncul di Sidoarjo.
Motif klasik Sekar Jagad, ditemukan pada industri batik di Blitar. Motif ini disesuaikan dengan kearifan lokal disana. Motifnya terdiri dari isen-isen yang berupa buah Belimbing sebagai andalan Kota Blitar, gapura makam Bung Karno, ikan koi, sambal pecel, dan juga waterpark Sumber Udel.
Di Trenggalek, motif dele kutah mempresentasikan kedelai yang merupakan bahan dasar pembuatan keripik tempe panganan oleh-oleh khas Trenggalek. Juga motif Cengkeh yang mengandung filosofi bahwa Trenggalek adalah penghasil tanaman Cengkeh.
Di Kota Batu, ikon apel pun juga sudah dituangkan dalam batik. Bahkan batik apel sudah menjadi seragam resmi di Pemkot Batu.
Hanya saja menurut Hari, selama ini batik Jatim yang dikenal baru batik Tuban dan Madura.
Padahal kota kabupaten lainnya memiliki batik khas yang juga istimewa dengan filosofi masing-masing. ‘’Kalau dari segi harga sangat beragam. Ada yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah,’’ bebernya.
Beberapa industri batik tumbuh di kota kabupaten diantaranya ada yang karena turun temurun ada pula yang dibawa oleh pendatang. Keunikan pada motif dan warna, sayangnya belum banyak dikenal oleh masyarakat, bahkan oleh orang Jawa Timur sendiri.
Melalui penelitian tim LK UMM ini diharapkan potensi batik Jatim bisa terdokumentasikan dengan baik dan menjadi ikon pariwisata andalan Jatim
Adalah tim Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berhasil mengabadikan kekayaan batik Jatim di 38 kota kabupaten di Indonesia dan akan didokumentasikan dalam sebuah glosarium.
Penelitian batik Jatim ini, dilakukan oleh 12 dosen UMM. Mulai April sampai November 2012. Tim peneliti mendatangi tempat-tempat produksi di seluruh kota kabupaten di Jatim.
‘’Batik di 38 kota kabupaten itu, memiliki ciri sendiri, sekaligus mewakili ciri khas kotanya,’’ ungkap Kepala LK UMM, Dr Hari Sunaryo M.Si.
Batik juga mulai memunculkan cerita sejarah, maupun peristiwa. Salah satunya ditemukan di Kota Malang. Perajin batik dari Kecamatan Sukun, membuat motif batik dengan gambar aneka satwa mati. Gambar ini merupakan bentuk keprihatinan pada peristiwa matinya sejumlah satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS).
‘’Batik menjadi media dokumentasi atas peristiwa yang terjadi. Termasuk beberapa simbol lainnya yang kami klasifikasikan menjadi sembilan kategori,’’ urainya.
Penelitian oleh 12 orang dosen UMM itu, membuat kategori keberagaman batik dalam sembilan macam. Pertama motif klasik, kedua motif kontemporer berbasis potensi alam laut sebagai komoditas, motif kontemporer berbasis potensi alam daratan dan motif kontemporer berbasis potensi sosial dan ekonomi sebagai komoditas.
Kemudian motif kontemporer berbasis ikon daerah, motif kontemporer berbasis ikon daerah, motif kontemporer berbasis dokumentasi atau catatan peristiwa, motif kontemporer berbasis catatan sejarah, motif kontemporer berbasis ide kreatif bebas, dan motif pelestarian budaya di luar batik.
‘’Kami sedang menyiapkan semacam glosarium yang berisikan keberagaman motif batik Jatim. Juga makna yang ada dibalik motif tersebut. Terpenting adalah filosofi dibalik motif yang ada,’’ bebernya.
Ragam motif batik di Jatim pada dasarnya beragam. Hampir di semua wilayah terdapat pusat batik. Masing-masing berkembang sesuai dengan kekhasan yang ada di daerahnya.
Misalnya saja Gresik yang terkenal dengan Bandeng, memiliki motif Loh Bandeng. Motif Loh Bandeng ini, memiliki filosofi yang luhur. Tatanan bentuk ikan yang rapat dan hampir tanpa celah dimaksudkan agar semangat kebersamaan dan persatuan tetap dijadikan kekuatan utama untuk mewujudkan tujuan yang mulia.
Motif biota laut muncul di Sidoarjo.
Motif klasik Sekar Jagad, ditemukan pada industri batik di Blitar. Motif ini disesuaikan dengan kearifan lokal disana. Motifnya terdiri dari isen-isen yang berupa buah Belimbing sebagai andalan Kota Blitar, gapura makam Bung Karno, ikan koi, sambal pecel, dan juga waterpark Sumber Udel.
Di Trenggalek, motif dele kutah mempresentasikan kedelai yang merupakan bahan dasar pembuatan keripik tempe panganan oleh-oleh khas Trenggalek. Juga motif Cengkeh yang mengandung filosofi bahwa Trenggalek adalah penghasil tanaman Cengkeh.
Di Kota Batu, ikon apel pun juga sudah dituangkan dalam batik. Bahkan batik apel sudah menjadi seragam resmi di Pemkot Batu.
Hanya saja menurut Hari, selama ini batik Jatim yang dikenal baru batik Tuban dan Madura.
Padahal kota kabupaten lainnya memiliki batik khas yang juga istimewa dengan filosofi masing-masing. ‘’Kalau dari segi harga sangat beragam. Ada yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah,’’ bebernya.
Beberapa industri batik tumbuh di kota kabupaten diantaranya ada yang karena turun temurun ada pula yang dibawa oleh pendatang. Keunikan pada motif dan warna, sayangnya belum banyak dikenal oleh masyarakat, bahkan oleh orang Jawa Timur sendiri.
Melalui penelitian tim LK UMM ini diharapkan potensi batik Jatim bisa terdokumentasikan dengan baik dan menjadi ikon pariwisata andalan Jatim
Motif Batik Sampit Punya Makna Motivasi
Motif batik Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang dilucurkan pekan lalu, memiliki makna penting yaitu motivasi, kata Bupati Kotim, Supian Hadi di Sampit, Selasa.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.
Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.
Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.
Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.
"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.
Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.
Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.
Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.
Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.
Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.
Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.
Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.
Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.
"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.
Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.
Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.
Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.
"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.
Filosofi Batik dan Motif Batik
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta.
Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya.
Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.
Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusum a yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”.
Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.
Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya.
Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.
Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa.
Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.
Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo menghimbau masyarakat umum yang bukan kerabat keraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok keraton, untuk menjaga wibawa Sultan.
Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek.
Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.
“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.
FILOSOFI BATIK DARI MOTIFNYA
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional klasik hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Pada jaman dahulu, motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Batik memang bukan sekadar lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting (alat untuk membatik yang berisi malam atau lilin). Banyak jejak bisa digali dari sehelai kain batik. Sebab motif yang ditorehkan pada selembar kain batik selalu mempunyai makna tersembunyi. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Berikut terdapat beberapa motif batik beserta filosofisnya yang terkenal di daratan Jawa:
1.SIDO LUHUR
Nama motif : Sido Luhur
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin)
Makna : Mengandung makna keluhuran. Bagi orang Jawa, hidup memang untuk mencari keluhuran materi dan non materi. Keluhuran materi artinya bisa tercukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai dengan jabatan, pangkat, derajat, maupun profesinya. Sementara keluhuran budi, ucapan, dan tindakan adalah bentuk keluhuran non materi. Orang Jawa sangat berharap hidupnya kelak dapat mencapai hidup yang penuh dengan nilai keluhuran.
2. SIDO ASIH
Nama motif : Sido Asih
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin)
Makna : Sido berarti jadi, asih berarti sayang, ragam hias ini mempunyai makna agar hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang.
3. SIDO MULYO
Nama motif : Sido Mulyo
Daerah : Banyumas
Jenis Batik : Batik pengaruh Kraton
Dikenakan : Temanten Pria atau putri
Makna : Bahagia, rejeki melimpah, hidup dalam kemuliaan
4. SIDO MUKTI
Nama motif : Sido Mukti
Daerah : Surakarta
Jenis Batik : Batik Petani
Dikenakan : Temanten Putra/Putri (Resepsi /Pahargan)
Makna : Hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat.
Biasanya dikenakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang). Sido berarti terus menerus dan muktiberarti hidup berkecukupan dan kebahagiaan. Jadi motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik.
5. SIDO WIRASAT
Pada motif ini selalu terdapat komdinasi motif ini selalu terdapat kombinasi motiftruntum di dalamnya karena melambangkan orang tua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga
6. PARANG KUSUMO
Nama motif : Parang Kusumo
Daerah : Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Calon temanten putri (tukar cincin)
Makna : Hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin, ibaratnya keharuman bunga (kusuma).
7. TRUNTUM
Nama motif : Truntum
Daerah : Kraton Surakarta
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Orang tua temanten
Makna : Menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.
8. WAHYU TUMURUN
Nama motif : Wahyu Tumurun
Daerah : Pura Mangkunegaran
Jenis Batik : Batik Kraton
Dikenakan : Penganten pada waktu panggih
Makna : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini kedua pengantin mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.
9. PARANG RUSAK
Adalah salah satu motif sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Motif ini juga bisa mengidentifikasi asal kraton pemakainya, apakah dari kraton Solo atau Yogya.
10. PARANG BARONG
Berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Dulunya dikenakan para bangsawan untuk upacara ritual keagamaan dan meditasi karena motif ini dianggap sakral.
Misalnya motif-motif Parang Barong yang pada awalnya hanya digunakan oleh para Raja. Motif Parang sesungguhnya menggambarkan senjata, kekuasaan. Selaras dengan makna yang ada dalam motif Parang Barong, maka Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.
11. PARANG KLITIK
Menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Dulu motif ini hanya dikenakan oleh para putri raja.
12. PARANG SLOBOK
Menyimbolkan keteguhan, ketelitian, dan kesabaran.
13. SEKARJAGAT
Melambangkan ungkapan cinta dan memelihara perdamaian. Maka tak heran bilamotif ini sering dikenakan dalam pesta pernikahan.
Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif Sekar Jagad sebenarnya berasal dari kata “kar jagad” (Kar=peta; Jagad=dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman diseluruh dunia.
14. KAWUNG
Melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan hidup.
15. MEGA MENDUNG
Melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru muda pada motif ini melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
16. POLENG
Menggambarkan kejujuran, keseimbangan, dapat dipercaya dan berani.
17.UKEL
Digunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa saat ini, seperti motif kain batik: Ukel, Semen Rama; Semen Raja, pada awalnya juga hanya dikenakan oleh keluarga kesultanan. Hanya digunakan dalam kesempatan tertentu saja.
18.SEMEN RAMA
Motif Semen dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornament yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.
Selain makna tersebut motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaanmelalui delapan jalan.Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat.
19 BABON ANGREM
Babon Angrem terdiri dari kata “babon” (induk ayam) dan “angrem” (mengerami telur), sehingga motif ini melambangkan induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Maknanya adalah manusia hendaknya bersabar, seperti sabarnya seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya hingga menetas.
20. KAWUNG PICIS
Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.
Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.
21. PRINGGODANI
Pringgondani adalah nama kesatriyan tempat tinggal Gatotkaca putera Werkudara. Motif ini biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga-coklat, serta penuh sulur-suluran kecil yang diselingi dengan naga.
FILOSOFI BATIK BERDASAR DARI WARNANYA
1. Warna coklat.
Warna ini dapat membangkitkan rasa kerendahan diri, kesederhanaan dan mem”bumi”, kehangatan, bagi pemakainya.
Parang Penggede. Bunga yang sedang merekah dan kupu besar yang indah, melambangkan “kebesaran” pemilik / pemakainya
Dalam pemakaiannya warna coklat terutama, sering kita temukan dalam motif-motif semen (lihat foto 2). Dalam motif parang, juga digunakan warna coklat. (lihat foto3)
Motif Semen merupakan salah satu motif indah yang sering kali dipenuhi dengan makna dan arti yang dapat kita temukan dalam Falsafah Jawa. Suatu motif yang pada saat ini juga hanya dimiliki oleh pemilik dompet tebal. Hal ini terjadi karena untuk menciptakan motif semen biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya motif ini dilukiskan dua kali, baik dari luar dan maupun dari dalam. Juga pengisian cecek yang harus dilukiskan satu demi satu. Sehingga pembuatan satu kain panjang bisa memakan waktu lebih dari 6 bulan.
2. Warna biru tua
Rasa ketenangan, effekt kelembutan, keichlasan dan rasa kesetiaan biasanya dapat ditunjukkan melalui pemakaian warna ini. Warna biru biasanya dapat kita temukan dalam motif batik klassik dari Yogyakarta. Lihat dalam motif Modang di bawah ini. Sebuah motif yang di sekeliling kain jariknya dilukiskan bentuk-bentuk parang tuding. Dalam kain panjang ini didasari dengan warna biru. Di dalamnya diisi dengan motif ganggong ranthé, sejenis bunga.
Motif Modang dengan isen ganggong ranthe
3. Warna putih
Yang juga muncul dalam motief Yogyakartan, menunjukkan rasa ketidakbersalahan, kesucian, ketentraman hati dan keberanian serta sifat pemaaf si pemakainya.
Membaca tentang makna warna seperti yang tersebut di atas, sangatlah dapat dimengerti mengapa motif Sido Asih ini dikenakan dalam upacara pernikahan adat. Menilik dari pemakaian warna putih tersirat harapan bahwa calon pengantinnya di kemudian hari akan selalu dilimpahi dengan kasih dan sayang dalam kehidupan berumah tangganya.
Sido Asih / Semen Calo / Gunung Sari latar pethak.
4. Dari warna-warna yang terdapat dalam motif batik juga terdapat warna yang kehitam-hitaman.
Sesungguhnya warna hitam yang dimaksudkan merupakan suatu warna biru yang sangat tua. Sehingga tampak seperti hitam. Suatu warna yang seringkali memberikan gambaran yang negative.
Tetapi dalam dunia perbatikan orang mengambil segi positif dari yang biasanya bermakna negative. Jadi warna hitam dalam batik melambangkan antara lain suatu kewibawaan, keberanian, kekuatan, ketenangan, percaya diri dan dominasi.
Dalam motif itu diperlihatkan berbagai jenis binatang, suatu keaneka ragaman dalam kehidupan yang toch pada akhirnya dapat saling bertenggang rasa.
Motif batik Alas-alasan latar irengan
Jadi bila seseorang mengenakan motif batik tertentu itu bukan saja berarti bahwa yang bersangkutan hanya ingin memperlihatkan betapa indahnya motif batikannya tetapi juga sekaligus ingin dan dapat memperlihatkan fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat yang berlaku. Juga melalui motif batik yang dikenakannya akan tersirat harapan dan makna ungkapan perasaannya. Dan dengan mengenakan motif tertentu si pemakai juga ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya/ pemakainya.
Juga dari pemilihan pemberian nama tentang nama motif batik sangat berkaitan erat dengan suatu harapan dan tujuan hidup dari pembuatnya.
Misalnya: Motif Lintang Trenggono; Motif Gringsing Buketan
Lintang Trenggono
Dalam Motif Lintang Trenggono dilukiskan kehadiran binatang-binatang malam yang bermunculan seiring dengan gemerlapannya cahaya bintang-bintang di angkasa raya. Dari si pemakainya diharapkan dapat menggambarkan betapa puas dan bahagianya (terbebas dari beban berat) hati si pemakai dalam menikmati kehidupan malam yang penuh dengan gemerlapannya bintang di angkasa raya. Motif ini biasanya dikenakan dalam resepsi-resepsi.
Motif Gringsing Buketan
Dalam motif gringsing digambarkan sisik ikan yang menjadi latar belakang buketan (bouquet), ikatan bunga yang indah. Setiap sisik ikan dilukiskan dengan warna putih dengan garis pembatas warna soga (coklat) dan diisi dengan cecek. Si pemakai mengharapkan keindahan, keharuman dan kebesaran bagaikan bunga dalam motif yang juga disertai dengan kekayaan yang tak terhitungkan, seperti jumlah sisik ikan yang ada dalam motif itu.
Dua motif di atas saya memberikan gambaran betapa luasnya makna yang terkandung dalam motif batik klassik Jawa.
Saya kira setiap orang yang mengerti dan mendalami makna dan arti falsafah Kejawen dalam motif batik klassik Jawa juga mengharapkan bahwa makna yang tersirat dalam motif akan menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk saya, paling tidak sudah saya mulai dengan memiliki dulu kain jariknya. . Bagaimana dengan pembaca Baltyra?
Bila kita memperhatikan motif-motif batik klassik Jawa, tampak bahwa setiap motif biasanya hanya dikenakan dalam kesempatan yang tertentu.
Langganan:
Postingan (Atom)