Ada yang beda Jika Anda ingin memasuki salah satu peninggalan budaya bersejarah yaitu Candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Dalam rangka melestarikan budaya yang kental budaya Jawa, pengurus Candi Prambanan mengharuskan pengunjung mengenakan sarung bermotif batik.
Ketika mengunjungi Candi Prambanan, rombongan media gathering XL langsung disambut hangat pengurus candi yang memberikan sarung bermotif batik sebelum memasuki area candi. Alasannya, untuk menghormati Candi Prambanan yang digunakan sebagai tempat beribadah.
Satu persatu, rombongan diberikan batik berwarna putih dengan bermotif batik berwarna hitam. Sarung itu langsung digunakan di pinggang para wisatawan. Terlihat kekompakan dari rombongan ketika menuju Candi Prambanan.
"Sejak 2010 lalu, kalau masuk Candi Prambanan harus memakai sarung batik, karena secara tidak langsung sebagai tempat beribadah umat Hindu pada zaman dahulu," kata Black, pemandu wisata di Candi Prambanan, Yogyakarta, Jumat (17/5).
Black menjelaskan beberapa candi di Yogyakarta memiliki beberapa keunikan. Pasalnya, candi memiliki dua kategori yaitu untuk beribadah dan makam dari raja. "Kalau Candi Prambanan Ini bukan makam, soalnya kategori candi ada dua yaitu untuk ibadah dan makam," kata Black.
Menurut Black, pengurus candi memberikan sarung bermotif batik karena para pengunjung mancanegara kerap menggunakan pakaian yang cukup minim. "Biasa turis mancanegara menggunakan celana pendek. Alhasil, untuk menghormati Candi Prambanan sebagai tempat ibadah kemudian diberikan sarung bermotif batik," kata Black.
Ketika Anda keluar dari arena Candi Prambanan, sarung bermotif batik itu pun harus kembalikan kepada pengurus. Perlu diketahui, candi ini adalah termasuk situs warisan dunia UNESCO.
Bangunan ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitekturnya berbentuk tinggi dan ramping sesuai gaya Hindu pada umumnya. Di tengah kompleks candi, terdapat Candi Siwa sebagai candi utama dan memiliki ketinggian mencapai 47 meter.
Selasa, 21 Mei 2013
Diplomat Singapura Kagumi Batik
Batik dan produk tenun yang merupakan warisan budaya Indonesia kian populer di masyarakat luas di dalam maupun luar negeri, termasuk kalangan diplomat asing di Singapura.
"Kekaguman para diplomat di Singapura itu terlihat pada acara bertema `The Beauty of Indonesia Heritage in Batik and Woven Culture`, yang dihadiri 100 undangan diplomat asing," demikian keterangan KBRI Singapura, dikutip dari Antara, Sabtu (18/5/2013).
Para undangan tertarik mengamati berbagai peragaan kain batik dan tenun Indonesia, dan secara antusias bertanya mengenai jenis dan asal daerah kain-kain tersebut.
Undangan yang hadir yakni beberapa duta besar asing di Singapura, istri para duta besar, masyarakat dan media Singapura, serta tamu kehormatan adalah Dr Seetha Shanmugam, istri Menteri Luar Negeri Singapura.
Menurut Duta Besar RI untuk Singapura, Andri Hadi, acara tersebut sangat bagus untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
"Antusiasme para undangan menghadiri acara ini menunjukkan minat dan kekaguman yang besar terhadap ragam budaya Indonesia. Melalui acara ini diharapkan masyarakat asing dapat semakin mengenal Indonesia," ujarnya.
Dr Seetha Shanmugam selaku tamu kehormatan menyatakan kekagumannya yang besar terhadap warisan budaya Indonesia.
"Acara ini sangat mengagumkan, saya sangat terkesan dengan kekayaan budaya Indonesia terutama kain batik dan tenun ini," ujarnya.
Dalam acara tersebut diisi dengan presentasi mengenai batik dan tenun Indonesia oleh Fortuna Srikandi Murnarwastu (FSM).
FSM menjelaskan secara komprehensif mengenai sejarah batik dan tenun, nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, asal daerah, cara membuat dan berbagai macam corak batik dan tenun.
Sementara itu, pembuat tenun dari Lombok dan pembuat batik dari Pekalongan didatangkan untuk memperagakan demo membuat kain tenun dan batik.
Dalam kesempatan tersebut para undangan tampak antusias mempelajari dan mencoba demo pembuatan batik dan tenun yang menjadi bagian dalam acara tersebut.
Pada kesempatan tersebut dihidangkan pula berbagai makanan ringan tradisional Indonesia, antara lain onde-onde, risoles, kue lapis legit, serabi dan tekwan.
Penerus Eva Bun Pamerkan Koleksi Batik Perdananya
Penerus Eva Bun, Paula Meliana, tampaknya sangat memperhatikan keinginan kliennya.
Setelah mendapat begitu banyak pesanan gaun malam batik, Paula Meliana memutuskan untuk memamerkan rancangan terbaru dan koleksi perdananya dari kain batik.
"Saya sebenarnya sudah lama membuat gaun dari bahan batik tetapi itu semua karena pesanan saja. Tetapi kali ini, untuk pertama kalinya saya memamerkan koleksi batik saya di ajang fashion show. Ini semua rancangan baru saya," ujarnya di sela-sela jumpa pers Kemang Fashion Show, Kamis (12/4/2013) malam.
Untuk acara perdana ini, Paula memamerkan koleksi baju dengan bahan batik untuk usia muda hingga dewasa.
Untuk koleksi generasi muda, Paula memberikan sentuhan cerita dengan warna-warna cerah dan meriah. Warna-warna tua mendominasi koleksi Paula untuk mereka yang ingin bersenang-senang di acara cocktail.
Sementara itu, untuk koleksi gaun malam, Paula memadukan bahan batiknya dengan bahan lain yang biasanya digunakan untuk gaun malam koleksinya.
Koleksi gaun malam ini tetap menampilan warna-warna cerah dan terang. Hanya saja, Paula cenderung untuk membuatnya lebih formal dengan pemilihan rok yang lebih panjang.
Gaun malam ini cocok digunakan untuk wanita muda dan dewasa.
Setelah mendapat begitu banyak pesanan gaun malam batik, Paula Meliana memutuskan untuk memamerkan rancangan terbaru dan koleksi perdananya dari kain batik.
"Saya sebenarnya sudah lama membuat gaun dari bahan batik tetapi itu semua karena pesanan saja. Tetapi kali ini, untuk pertama kalinya saya memamerkan koleksi batik saya di ajang fashion show. Ini semua rancangan baru saya," ujarnya di sela-sela jumpa pers Kemang Fashion Show, Kamis (12/4/2013) malam.
Untuk acara perdana ini, Paula memamerkan koleksi baju dengan bahan batik untuk usia muda hingga dewasa.
Untuk koleksi generasi muda, Paula memberikan sentuhan cerita dengan warna-warna cerah dan meriah. Warna-warna tua mendominasi koleksi Paula untuk mereka yang ingin bersenang-senang di acara cocktail.
Sementara itu, untuk koleksi gaun malam, Paula memadukan bahan batiknya dengan bahan lain yang biasanya digunakan untuk gaun malam koleksinya.
Koleksi gaun malam ini tetap menampilan warna-warna cerah dan terang. Hanya saja, Paula cenderung untuk membuatnya lebih formal dengan pemilihan rok yang lebih panjang.
Gaun malam ini cocok digunakan untuk wanita muda dan dewasa.
Internetan di Pesawat Batik Air
Selama ini naik pesawat terbang selalu diminta untuk mematikan jaringan seluler, karena takut mengganggu navigasi penerbangan. Namun sebentar lagi berselancar di dunia maya saat terbang dengan pesawat bukan hal yang aneh lagi di Indonesia, karena Batik Air menyediakan fasilitas itu.
Untuk pertama kalinya dalam dunia penerbangan komersial Indonesia, ada maskapai penerbangan yang menyediakan fasilitas WiFi di atas pesawat. Ya, anak usaha Lion Mentari Air itu, yang direncanakan beroperasi tanggal 26 April mendatang, akan dipasang WiFi dan channel distribution.
Dengan adanya fasilitas ini maka para penumpang bisa dengan leluasa berselancar di dunia maya di atas pesawat. Direncanakan pesawat Batik Air akan datang dua unit pada tanggal 16 April.
Jika tidak ada perubahan pada 26 April 2013 Batik Air air beroperasi menggunakan pesawat Boeing 737 - 900ER. Hal ini diungkapkan oleh Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air, seperti dilansir Tribunnews.
Rusdi Kirana, Direktur Utama Lion Air mengatakan, penerbangan perdana Batik Air akan menempuh rute Jakarta - Balikpapan - Manado pada pagi hari dan sore hari, dengan jumlah kursi berjumlah 180 seats.
Di dalam pesawat akan tersedia fasilitas perangkat WiFi, sehingga penumpang tetap dapat melakukan komunikasi dengan siapapun. Channel distribution Telkomsel di atas pesawat yang memberikan penawaran kartu perdana dan pengisian pulsa di atas pesawat.
"Batik Air beroperasi mulai minggu depan, sudah dipasang WiFi, tinggal perizinan dalam proses," ujar Rusdi Kirana, Rabu (10/4).
Rusdi menambahkan, untuk armada Batik Air ini, pihak menginvestasikan sekitar 2,5 juta dolar AS per pesawat.
Sebelumnya, Garuda Indonesia pun berencana untuk memberikan fasilitas telekomunikasi di atas pesawat, namun hingga kini belum terealisasi.
Untuk pertama kalinya dalam dunia penerbangan komersial Indonesia, ada maskapai penerbangan yang menyediakan fasilitas WiFi di atas pesawat. Ya, anak usaha Lion Mentari Air itu, yang direncanakan beroperasi tanggal 26 April mendatang, akan dipasang WiFi dan channel distribution.
Dengan adanya fasilitas ini maka para penumpang bisa dengan leluasa berselancar di dunia maya di atas pesawat. Direncanakan pesawat Batik Air akan datang dua unit pada tanggal 16 April.
Jika tidak ada perubahan pada 26 April 2013 Batik Air air beroperasi menggunakan pesawat Boeing 737 - 900ER. Hal ini diungkapkan oleh Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air, seperti dilansir Tribunnews.
Rusdi Kirana, Direktur Utama Lion Air mengatakan, penerbangan perdana Batik Air akan menempuh rute Jakarta - Balikpapan - Manado pada pagi hari dan sore hari, dengan jumlah kursi berjumlah 180 seats.
Di dalam pesawat akan tersedia fasilitas perangkat WiFi, sehingga penumpang tetap dapat melakukan komunikasi dengan siapapun. Channel distribution Telkomsel di atas pesawat yang memberikan penawaran kartu perdana dan pengisian pulsa di atas pesawat.
"Batik Air beroperasi mulai minggu depan, sudah dipasang WiFi, tinggal perizinan dalam proses," ujar Rusdi Kirana, Rabu (10/4).
Rusdi menambahkan, untuk armada Batik Air ini, pihak menginvestasikan sekitar 2,5 juta dolar AS per pesawat.
Sebelumnya, Garuda Indonesia pun berencana untuk memberikan fasilitas telekomunikasi di atas pesawat, namun hingga kini belum terealisasi.
Ikut Pelatihan Membatik, Juratman Ingin Menjadi Pengusaha Batik
Tangan Juratman (14) tampak gemetar ketika menuangkan malam atau lilin yang sudah dipanaskan dari sebuah canting ke sehelai kain ukuran 35x35 centimeter.
Bagi dirinya, membatik adalah suatu pengalaman baru, setelah dia memperoleh kerajinan tangan, yaitu menjahit yang didapat dari sekolahnya. Aktivitas Juratman itu terlihat ketika dia mengikuti pelatihan membatik bagi anak kaum marjinal (jalanan) di Museum Tekstil Jakarta, Minggu (19/5/2013) siang.
Acara yang diselenggarakan selama 40 kali pertemuan setiap minggunya ini, diadakan berkat kerja sama sekelompok sukarelawan yang fokus dalam kesejahteraan anak, Sahabat Anak (SA), perusahaan Batik Indonesia, Batik Semar dan Museum Tekstil Jakarta.
Saat ditemui Wartakotalive.com, Juratman mengungkapkan cukup kesulitan dalam menuangkan malam ke kain. Sebab, posisi canting harus tetap terjaga, artinya tidak boleh terlalu turun ke bawah atau terlalu ke atas.
"Agak sulit ngebatik, karena posisi canting mesti stabil nggak boleh terlalu turun, nanti cat (malam--Red) nya terlalu menetes ke kain dan kalau terlalu ke atas catnya nggak keluar juga," kata siswa Kelas 2 SMP Gratis Ibu Pertiwi, Pancoran, Jakarta Selatan itu.
Meski menemui kesulitan, bocah yang memiliki hobi melukis dan bermain sepak bola ini yakin, nantinya dia bisa menguasai teknik membatik dengan benar.
"Maklum lah saya masih agak kagok kan baru pertama kali ngebatik, nanti kalau sudah sering ngebatik juga bisa dan saya yakin ngebatik sama gampangnya seperti saya melukis," ujar anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Juratman beralasan, keikutsertaannya dalam pelatihan membatik adalah untuk memperkaya ketrampilan dirinya, selain melukis dan menjahit.
Juratman tahu betul bahwa kedua orangtuanya tidak memiliki biaya banyak untuk menyekolahkannya, sebab kedua orangtuanya bekerja sebagai pemulung di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Untuk itu, dia pun akan menggunakan kesempatan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya.
"Walaupun kedua orangtua saya pemulung, tapi saya harus bisa menjadi anak yang berguna. Makanya, saya nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan belajar membatik ini," jelas bocah yang tinggal di Jalan Pancoran Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan itu.
Bocah asal Semarang, Jawa Tengah ini berharap, agar pelatihan membatik ini bisa membawa perubahan untuk kehidupannya di masa mendatang. "Dari pelatihan ini setidaknya saya dapat ilmu ngebatik, yah kalau nggak bisa jadi pemain sepak bola atau pelukis. Jadi, pengusaha batik kan juga bisa," katanya sambil tertawa.
Bagi dirinya, membatik adalah suatu pengalaman baru, setelah dia memperoleh kerajinan tangan, yaitu menjahit yang didapat dari sekolahnya. Aktivitas Juratman itu terlihat ketika dia mengikuti pelatihan membatik bagi anak kaum marjinal (jalanan) di Museum Tekstil Jakarta, Minggu (19/5/2013) siang.
Acara yang diselenggarakan selama 40 kali pertemuan setiap minggunya ini, diadakan berkat kerja sama sekelompok sukarelawan yang fokus dalam kesejahteraan anak, Sahabat Anak (SA), perusahaan Batik Indonesia, Batik Semar dan Museum Tekstil Jakarta.
Saat ditemui Wartakotalive.com, Juratman mengungkapkan cukup kesulitan dalam menuangkan malam ke kain. Sebab, posisi canting harus tetap terjaga, artinya tidak boleh terlalu turun ke bawah atau terlalu ke atas.
"Agak sulit ngebatik, karena posisi canting mesti stabil nggak boleh terlalu turun, nanti cat (malam--Red) nya terlalu menetes ke kain dan kalau terlalu ke atas catnya nggak keluar juga," kata siswa Kelas 2 SMP Gratis Ibu Pertiwi, Pancoran, Jakarta Selatan itu.
Meski menemui kesulitan, bocah yang memiliki hobi melukis dan bermain sepak bola ini yakin, nantinya dia bisa menguasai teknik membatik dengan benar.
"Maklum lah saya masih agak kagok kan baru pertama kali ngebatik, nanti kalau sudah sering ngebatik juga bisa dan saya yakin ngebatik sama gampangnya seperti saya melukis," ujar anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Juratman beralasan, keikutsertaannya dalam pelatihan membatik adalah untuk memperkaya ketrampilan dirinya, selain melukis dan menjahit.
Juratman tahu betul bahwa kedua orangtuanya tidak memiliki biaya banyak untuk menyekolahkannya, sebab kedua orangtuanya bekerja sebagai pemulung di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Untuk itu, dia pun akan menggunakan kesempatan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya.
"Walaupun kedua orangtua saya pemulung, tapi saya harus bisa menjadi anak yang berguna. Makanya, saya nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan belajar membatik ini," jelas bocah yang tinggal di Jalan Pancoran Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan itu.
Bocah asal Semarang, Jawa Tengah ini berharap, agar pelatihan membatik ini bisa membawa perubahan untuk kehidupannya di masa mendatang. "Dari pelatihan ini setidaknya saya dapat ilmu ngebatik, yah kalau nggak bisa jadi pemain sepak bola atau pelukis. Jadi, pengusaha batik kan juga bisa," katanya sambil tertawa.
Indonesia Pamer Produk UKM Kepada 93 Negara
Indonesia memamerkan produk UKM dan karya budaya kreatif kepada perwakilan dan delegasi Conseille International du Sport Militaire (CISM) atau Sidang Dewan Olah Raga Militer Internasional dari 93 negara di dunia yang hadir di Jakarta.
"Ini momentum yang baik untuk mempromosikan produk UKM kita kepada para perwakilan CISM yang sebagian besar juga membawa serta pasangan dan keluarganya dari 93 negara anggota CISM yang hadir," kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Neddy Rafinaldi Halim di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (16/5/2013).
Pihaknya bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkolaborasi memberikan dukungan acara pertunjukan produk UKM dan karya budaya kreatif kepada delegasi CISM di SME Tower Jakarta.
Produk UKM yang ditampilkan berupa batik, sarung, dan kain (dalam fashion show) serta produk UKM di UKM Gallery maupun Paviliun Provinsi di gedung tersebut.
Sementara malam harinya digelar gala dinner yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya kreatif di gedung yang sama.
"Ini kesempatan yang sangat baik untuk mempromosikan produk UKM kita yang kreatif. Apalagi selama ini sarung misalnya sudah banyak di ekspor ke negara-negara Afrika dan di sana terbukti sangat diminati," katanya.
Kesempatan itu, menurut Neddy, harus digunakan sebaik mungkin untuk menginformasikan tentang potensi kreatif Indonesia sebagai salah satu upaya untuk memperluas jejaring pasar produk UKM tanah air.
Pada kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal Kemenparekraf Ukus Kuswara mengatakan event tingkat dunia di mana TNI menjadi host itu merupakan momentum penting untuk memberikan informasi tentang kekayaan budaya bangsa dan Wonderful Indonesia.
"Ini sarana yang efektif untuk mengkomunikasikan potensi pariwisata kita, Indonesia bisa mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif di samping membangun sinergi, kebersamaan, dan kerja sama dengan negara lain," katanya.
Kesempatan itu juga menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun citra diri sehingga Indonesia akan dipandang semakin baik di mata dunia internasional.
"Setelah acara ini selesai, sebagian besar delegasi sudah memesan paket wisata untuk berlibur. Sebagian dari mereka memilih Bali," katanya.
"Ini momentum yang baik untuk mempromosikan produk UKM kita kepada para perwakilan CISM yang sebagian besar juga membawa serta pasangan dan keluarganya dari 93 negara anggota CISM yang hadir," kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Neddy Rafinaldi Halim di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (16/5/2013).
Pihaknya bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkolaborasi memberikan dukungan acara pertunjukan produk UKM dan karya budaya kreatif kepada delegasi CISM di SME Tower Jakarta.
Produk UKM yang ditampilkan berupa batik, sarung, dan kain (dalam fashion show) serta produk UKM di UKM Gallery maupun Paviliun Provinsi di gedung tersebut.
Sementara malam harinya digelar gala dinner yang dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya kreatif di gedung yang sama.
"Ini kesempatan yang sangat baik untuk mempromosikan produk UKM kita yang kreatif. Apalagi selama ini sarung misalnya sudah banyak di ekspor ke negara-negara Afrika dan di sana terbukti sangat diminati," katanya.
Kesempatan itu, menurut Neddy, harus digunakan sebaik mungkin untuk menginformasikan tentang potensi kreatif Indonesia sebagai salah satu upaya untuk memperluas jejaring pasar produk UKM tanah air.
Pada kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal Kemenparekraf Ukus Kuswara mengatakan event tingkat dunia di mana TNI menjadi host itu merupakan momentum penting untuk memberikan informasi tentang kekayaan budaya bangsa dan Wonderful Indonesia.
"Ini sarana yang efektif untuk mengkomunikasikan potensi pariwisata kita, Indonesia bisa mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif di samping membangun sinergi, kebersamaan, dan kerja sama dengan negara lain," katanya.
Kesempatan itu juga menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun citra diri sehingga Indonesia akan dipandang semakin baik di mata dunia internasional.
"Setelah acara ini selesai, sebagian besar delegasi sudah memesan paket wisata untuk berlibur. Sebagian dari mereka memilih Bali," katanya.
Jika Iis Jadi Pemimpin, Semua Wajib Pakai Batik Setiap Hari
Iis Rahayu (16) bocah yang sekolah non formal di Pusat Kegiatan Anak, Jalan Tambak, Manggarai juga ikut pelatihan membatik, karena dirinya sudah mencintai batik sejak SD.
"Sejak kelas lima SD saya sudah suka batik, karena bentuknya yang indah dan unik," tutur bocah yang memiliki hobi menggambar itu.
Sebelum mengikuti pelatihan ini, Iis mengaku sudah memiliki cita-cita sebagai perajin sekaligus pengusaha batik. Sebab, menurutnya perajin muda di Indonesia sudah mulai menipis, seiring adanya perkembangan teknologi.
"Selain pengen jadi pengusaha batik, saya juga mau jadi pemimpin Jakarta. Kalau jadi pemimpin nanti, setiap hari semua orang yang kerja harus memakai batik supaya karya seni asli Indonesia dapat lestari," jelas Iis.
Sementara itu, Alles Saragi selaku Direktur Sahabat Anak mengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat enterpreneurship (kewirausahaan) dan meningkatkan ketrampilan bagi anak marjinal, yang umumnya tidak memiliki latar belakang sekolah formal.
"Komunitas anak marjinal sudah sangat jelas membutuhkan pendidikan semacam ini, karena melalui pendidikan tersebut, mereka akan mampu menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri yang akan menolong mereka keluar dari jalanan," kata Alles.
Dikatakan Alles, pelatihan yang dilaksanakan di Museum Tesktil Jakarta ini difasilitasi oleh Batik Semar dengan programnya yang disebut Piwulangan Semar.
"Kalau peralatan membatik kami dapatkan dari Batik Semar, sementara tenaga pengajarnya kami dapatkan dari Museum Tekstil Jakarta," kata Alles lagi.
Misari, Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Tesktil Jakarta mengatakan pihaknya sangat mendukung pelatihan ini, karena bertujuan untuk melestarikan batik yang sudah diakui sebagai budaya Indonesia.
"Pelatihan ketrampilan ini akan semakin mendorong timbulnya rasa cinta terhadap produk tekstil tanah air. Dan dilain pihak, juga dapat memberi kesempatan yang baik untuk mata pencaharian anak-anak di masa mendatang," kata Misari.
Misari menjelaskan, metode pelatihan akan menekankan pada praktek dan inisiasi sesuai karakter anak jalanan dan marjinal. "Kelengkapan fasilitas pelatihan yang dimiliki oleh Museum Tekstil sangat menunjang kegiatan ini. Mulai dari ruang pameran, ruang pelatihan, hingga infrastruktur pelatihan dari tenaga profesional," ungkapnya
Pakai Baju Batik Gratis Masuk 10 Museum Ini
HUT ke-486 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2013 dipastikan bakal meriah. Sejumlah acara telah disiapkan Pemprov DKI Jakarta untuk memanjakan warganya, salah satunya dengan menggratiskan biaya masuk di 10 museum bagi pengunjung yang berpakaian batik.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman, mengatakan, ada sebanyak 10 museum yang pengelolaannya berada di bawah Pemprov DKI Jakarta. Pada saat HUT DKI nanti, ke-10 museum tersebut akan digratiskan bagi pengunjung yang menggunakan batik. "Tapi dengan syarat, pengunjung yang menggunakan batik saja," kata Arie, Minggu (12/5).
Ia merinci ke-10 museum yang akan digratiskan di antaranya Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum Djoang 45, Museum Tekstil, Museum MH Thamrin, serta Monumen Nasional (Monas). Selain menggunakan batik, tidak ada syarat khusus yang diberikan. "Tidak perlu tunjukan KTP yang penting pakai batik saja pengunjung akan digratiskan," ujarnya.
Sementara itu, untuk museum lainnya yang pengelolaannya di bawah instansi lain, akan dikoordinasikan untuk bisa digratiskan juga. Namun hal tersebut tergantung masing-masing pengelola. "Yang di bawah kita ada 10 museum saja. Kita juga mencoba ke museum di bawah pengelola pihak lain, kalau bisa memberikan syukur," ucapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman, mengatakan, ada sebanyak 10 museum yang pengelolaannya berada di bawah Pemprov DKI Jakarta. Pada saat HUT DKI nanti, ke-10 museum tersebut akan digratiskan bagi pengunjung yang menggunakan batik. "Tapi dengan syarat, pengunjung yang menggunakan batik saja," kata Arie, Minggu (12/5).
Ia merinci ke-10 museum yang akan digratiskan di antaranya Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum Djoang 45, Museum Tekstil, Museum MH Thamrin, serta Monumen Nasional (Monas). Selain menggunakan batik, tidak ada syarat khusus yang diberikan. "Tidak perlu tunjukan KTP yang penting pakai batik saja pengunjung akan digratiskan," ujarnya.
Sementara itu, untuk museum lainnya yang pengelolaannya di bawah instansi lain, akan dikoordinasikan untuk bisa digratiskan juga. Namun hal tersebut tergantung masing-masing pengelola. "Yang di bawah kita ada 10 museum saja. Kita juga mencoba ke museum di bawah pengelola pihak lain, kalau bisa memberikan syukur," ucapnya.
Selasa, 30 April 2013
Mengapa Batik Tak Bisa Menuntut Hak Cipta?
Batik memang sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2009 lalu. Namun dalam kenyataannya, motif batik masih rentan ditiru atau diakui oleh pihak lain. Tak usah menyebut negara lain, sesama pengusaha batik pun bisa saja meniru atau mengambil inspirasi dari batik buatan pengusaha lain.
Kalau sudah begini, mengapa para pembatik tidak mendaftarkan batiknya untuk mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HaKI)? Salah satu contoh, dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat HaKI (baca artikel ini). Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, usai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi, akhir November lalu, mengatakan bahwa mereka memang belum fokus ke HaKI.
"Fokus kami masih pada mengatasi kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia,” katanya.
Meski belum memiliki HaKI, ujar Yahya, Bantul tidak khawatir motifnya dijiplak daerah lain atau perajin lain. Baginya, motif batik adalah seni yang sulit ditiru.
Dari 53 macam motif batik asli Bantul atau Bantulan, belum satu pun yang mengantongi sertifikat hak atas kekayaan intelektual atau HaKI. Pemerintah Kabupaten Bantul belum memprioritaskan HaKI karena masih fokus pada persoalan pemasaran produksi batik. Pemerintah juga berharap inisiatif pengurusan HaKI datang dari kalangan perajin.
"Kami memang belum fokus ke HaKI. Fokus kami masih pada kendala pemasaran batik. Batik Bantul harus bersaing dengan batik dari luar daerah, seperti Pekalongan, Kulon Progo, Solo, dan Sleman. Belum lagi masuknya batik murah produksi China dan Malaysia," kata Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Perekonomian, Yahya, seusai membuka temu usaha batik di Rumah Budaya Tembi.
Menurutnya, belum diurusnya sertifikat HaKI juga bukan karena persoalan dana. Ia berharap inisiatif muncul dari kalangan perajin supaya ada rasa memiliki dan tumbuh kebersamaan antarsesama perajin.
12 Langkah Menciptakan Kain Batik
Edward Hutabarat mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan proses pembuatan batik, bukan sekadar mengagumi keindahan batik secara fisik. Sebab, menurut desainer yang berkolaborasi dengan PT Kao Indonesia mengampanyekan "Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar" ini, ada kisah panjang di balik pembuatan batik yang perlu diketahui oleh masyarakat pengguna batik.
Hal sederhana yang mungkin belum Anda ketahui, misalnya, batik ternyata bukan hanya dikerjakan oleh perempuan pembatik yang duduk di dingklik (bangku pendek) sambil melukisi kain mori dengan lilin malam. Sehelai kain batik bisa dikerjakan oleh empat hingga lima orang. Dari pembuat pola di kertas, pembatik, hingga pemberi warna dan penglorod.
Bila diurut-urut, proses membatik adalah sebagai berikut:
1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas. Tidak semua orang bisa membuat motif batik, sehingga pola ini dibuat oleh spesialis pola.
2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain.
3. Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola. Pada tahap ini, motif batik akan mulai tampak.
4. Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting.
5. Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas. Misalnya, gambar bunga atau burung yang muncul di sana-sini.
6. Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ini diiringi dengan nembok, atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
7. Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh.
8. Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih.
9. Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama). Untuk menghasilkancecekan yang halus, digunakan canting dengan jarum yang tipis.
10. Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam.
11. Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan. Batik sogan adalah batik yang berwarna dasar coklat, seperti batik yogya atau batik solo.
12. Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.
Di kota-kota yang dikenal sebagai kota batik, seperti Pekalongan, orang tidak asing dengan kegiatan membatik karena biasanya sudah ada kesibukan membatik di rumahnya. "Karena itu, tidak ada lagi pelajaran atau pelatihan membatik di sini. Semua sudah mengetahui dasar-dasar membatik. Hanya saja, mereka harus diseleksi. Yang diterima tentu saja yang teknik membatiknya sudah cukup baik," ujar Nur Cahyo (45), pemilik Batik Cahyo, saat dijumpai di balai kerjanya di Desa Setono, Pekalongan, Desember lalu.
Setiap pembatik umumnya mempunyai canting sendiri. Menurut Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni, bila pembatik menggunakan canting milik orang lain, hasilnya bisa berubah. "Canting itu kayak baju, yang dipakai orang lain. Kalau canting dipakai orang lain, bisa-bisa berantem," selorohnya.
Hal sederhana yang mungkin belum Anda ketahui, misalnya, batik ternyata bukan hanya dikerjakan oleh perempuan pembatik yang duduk di dingklik (bangku pendek) sambil melukisi kain mori dengan lilin malam. Sehelai kain batik bisa dikerjakan oleh empat hingga lima orang. Dari pembuat pola di kertas, pembatik, hingga pemberi warna dan penglorod.
Bila diurut-urut, proses membatik adalah sebagai berikut:
1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas. Tidak semua orang bisa membuat motif batik, sehingga pola ini dibuat oleh spesialis pola.
2. Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain.
3. Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola. Pada tahap ini, motif batik akan mulai tampak.
4. Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting.
5. Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas. Misalnya, gambar bunga atau burung yang muncul di sana-sini.
6. Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ini diiringi dengan nembok, atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
7. Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh.
8. Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih.
9. Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama). Untuk menghasilkancecekan yang halus, digunakan canting dengan jarum yang tipis.
10. Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam.
11. Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan. Batik sogan adalah batik yang berwarna dasar coklat, seperti batik yogya atau batik solo.
12. Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.
Di kota-kota yang dikenal sebagai kota batik, seperti Pekalongan, orang tidak asing dengan kegiatan membatik karena biasanya sudah ada kesibukan membatik di rumahnya. "Karena itu, tidak ada lagi pelajaran atau pelatihan membatik di sini. Semua sudah mengetahui dasar-dasar membatik. Hanya saja, mereka harus diseleksi. Yang diterima tentu saja yang teknik membatiknya sudah cukup baik," ujar Nur Cahyo (45), pemilik Batik Cahyo, saat dijumpai di balai kerjanya di Desa Setono, Pekalongan, Desember lalu.
Setiap pembatik umumnya mempunyai canting sendiri. Menurut Liem Poo Hien, pengelola Batik Liem Ping Wie di kawasan Kedungwuni, bila pembatik menggunakan canting milik orang lain, hasilnya bisa berubah. "Canting itu kayak baju, yang dipakai orang lain. Kalau canting dipakai orang lain, bisa-bisa berantem," selorohnya.
Eksplorasi Budaya Indonesia untuk Tren
Batik tiada habisnya dieksplorasi menjadi beragam karya busana. Dalam Fashion Tendance Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur, Jumat (21/1) petang di Surabaya, batik kembali menjadi primadona.
Sepuluh perancang asal Jawa Timur yang ambil bagian dalam Fashion Tendance APPMI Jatimbertema utama Surf-Vival ini adalah Denny Joewardi, Sonny Radji, Djoko Sasongko, Ayok Dwipancara, Yuyuk Nurmaisyah, Lilik Suhariyati, Lia Afif, Elok Renapio, Yunita Kosasih, dan Melia Wijaya. Untuk 2011, kata Denny, para perancang mengeksplorasi alam, kembali ke asal, dan mengolah budaya yang sudah ada di Indonesia.
Dalam peragaan itu, Sonny Radji mengolah potongan-potongan batik lawas menjadi gaun malam. Dipadu dengan kain polos dan detail taburan payet, permata, mutiara, dan aplikasi renda, gaun tampil beda. Menurut Sonny, untuk setiap gaun setidaknya diperlukan 100 potongan kain batik dari beragam motif.
Batik juga dimanfaatkan Yunita Kosasih dalam karyanya. Bahan batik bekas pakai dolah menjadi gulungan dan disusun beruntai dalam busana yang memadukan budaya Indonesia, Afrika, dan Korea.
Djoko Sasongko dan Ayok Dwipancara membuat rok dari batik madura untuk melengkapi kebayanya yang elegan.
Yuyuk Nurmaisyah dan Lilik Suhariyati yang mengkhususkan pada busana muslim juga mengeksplorasi kekuatan batik tulis.
Lia Afif lebih mengeksplorasi bentuk, lipit, kerut, dan gelombang pada busana muslimnya. Seperti Denny Djoewardi yang memanfaatkan gelombang, alur, dan pilinan kain untuk gaun malamnya yang sangat feminin. Adapun Melia Wijaya memilih kain etnik dengan motif hewan pada karyanya kali ini.
Sepuluh perancang asal Jawa Timur yang ambil bagian dalam Fashion Tendance APPMI Jatimbertema utama Surf-Vival ini adalah Denny Joewardi, Sonny Radji, Djoko Sasongko, Ayok Dwipancara, Yuyuk Nurmaisyah, Lilik Suhariyati, Lia Afif, Elok Renapio, Yunita Kosasih, dan Melia Wijaya. Untuk 2011, kata Denny, para perancang mengeksplorasi alam, kembali ke asal, dan mengolah budaya yang sudah ada di Indonesia.
Dalam peragaan itu, Sonny Radji mengolah potongan-potongan batik lawas menjadi gaun malam. Dipadu dengan kain polos dan detail taburan payet, permata, mutiara, dan aplikasi renda, gaun tampil beda. Menurut Sonny, untuk setiap gaun setidaknya diperlukan 100 potongan kain batik dari beragam motif.
Batik juga dimanfaatkan Yunita Kosasih dalam karyanya. Bahan batik bekas pakai dolah menjadi gulungan dan disusun beruntai dalam busana yang memadukan budaya Indonesia, Afrika, dan Korea.
Djoko Sasongko dan Ayok Dwipancara membuat rok dari batik madura untuk melengkapi kebayanya yang elegan.
Yuyuk Nurmaisyah dan Lilik Suhariyati yang mengkhususkan pada busana muslim juga mengeksplorasi kekuatan batik tulis.
Lia Afif lebih mengeksplorasi bentuk, lipit, kerut, dan gelombang pada busana muslimnya. Seperti Denny Djoewardi yang memanfaatkan gelombang, alur, dan pilinan kain untuk gaun malamnya yang sangat feminin. Adapun Melia Wijaya memilih kain etnik dengan motif hewan pada karyanya kali ini.
Mengenali Batik Tulis, Cap, dan Print
Batik kian mudah dicari, mulai dari kios-kios pedagang kaki lima, toko-toko di trade center, bazaar, butik, hingga pusat perbelanjaan nan mewah. Harganya pun bervariasi, dari yang Rp 20.000-an hingga yang jutaan rupiah. Harga batik ini kadang-kadang ditentukan oleh jenis batik tersebut.
Batik sesuai dengan pengerjaannya dibagi menjadi tiga jenis: batik tulis, batik cap, dan batik print. Sepintas, ketiganya hampir mirip. Akibatnya, sebagai orang awam kita cenderung salah menilai batik yang kita beli.
Berikut adalah cara membedakan jenis batik yang diberikan oleh Nasir, salah seorang pembatik di Museum Tekstil Jakarta, usai peresmian Clean Batik Initiative yang dihelat oleh Kementrian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan EKONID-Jerman,
* Batik tulis
Ciri-ciri: Corak atau motif batik tidak terlalu rapi, karena batik dikerjakan dengan tangan (manual). Corak dan warna batik tulis antara kain bagian depan dan belakang terlihat jelas, meskipun antara corak yang satu dan yang lain terkadang tidak sama. Batik jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan menggunakan lilin khusus. Bahannya dari kain katun, kain mori, atau kain sutra. Harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari 1 bulan.
* Batik cap
Ciri-ciri: Corak besar-besar dan teratur (sama). Warnanya cenderung terang dan cerah (bukan warna-warna alam). Warna bagian depan kain terlihat jelas, sedangkan bagian belakang kain terlihat buram. Kain yang digunakan cenderung kaku meskipun terkadang batik cap juga menggunakan kain sutra dan kain katun mori.
* Batik print
Ciri-ciri: Umumnya mencontoh desain batik yang sudah ada, dari batik tradisional hingga batik modern. Warna batik printingkebanyakan tidak tembus karena proses pewarnaannya satu sisi saja yaitu bagian depan kain. Menggunakan berbagai macam kain namun jarang menggunakan kain sutra atau kain mori. Harganya cenderung murah.
Batik sesuai dengan pengerjaannya dibagi menjadi tiga jenis: batik tulis, batik cap, dan batik print. Sepintas, ketiganya hampir mirip. Akibatnya, sebagai orang awam kita cenderung salah menilai batik yang kita beli.
Berikut adalah cara membedakan jenis batik yang diberikan oleh Nasir, salah seorang pembatik di Museum Tekstil Jakarta, usai peresmian Clean Batik Initiative yang dihelat oleh Kementrian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan EKONID-Jerman,
* Batik tulis
Ciri-ciri: Corak atau motif batik tidak terlalu rapi, karena batik dikerjakan dengan tangan (manual). Corak dan warna batik tulis antara kain bagian depan dan belakang terlihat jelas, meskipun antara corak yang satu dan yang lain terkadang tidak sama. Batik jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan menggunakan lilin khusus. Bahannya dari kain katun, kain mori, atau kain sutra. Harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari 1 bulan.
* Batik cap
Ciri-ciri: Corak besar-besar dan teratur (sama). Warnanya cenderung terang dan cerah (bukan warna-warna alam). Warna bagian depan kain terlihat jelas, sedangkan bagian belakang kain terlihat buram. Kain yang digunakan cenderung kaku meskipun terkadang batik cap juga menggunakan kain sutra dan kain katun mori.
* Batik print
Ciri-ciri: Umumnya mencontoh desain batik yang sudah ada, dari batik tradisional hingga batik modern. Warna batik printingkebanyakan tidak tembus karena proses pewarnaannya satu sisi saja yaitu bagian depan kain. Menggunakan berbagai macam kain namun jarang menggunakan kain sutra atau kain mori. Harganya cenderung murah.
Membedakan Jenis Batik Lewat Batik Mark
Walaupun batik telah jadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, nyatanya tak mudah untuk membedakan antara batik tulis, batik cap, batik print atau mana kain batik kombinasi tulis dan cap. Akibatnya tak sedikit konsumen yang tertipu oleh ulah nakal para pedagang batik yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat dalam membedakan batik.
"Banyak yang kapok membeli batik karena ditipu penjualnya yang mengatakan produknya adalah batik tulis, padahal bukan," kata Yusran M. Munaf dari Yayasan Batik Indonesia.
Untunglah pemerintah segera tanggap. Sejak tahun lalu pemerintah melalui Departemen Perindustrian Direktoral Jenderal Industri Kecil dan Menengah mengeluarkan Batik Mark. Penggunaan label batik mark diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 73/M-IND/PER/9/2007, tetapi bersifat sukarela bagi pengusaha/perajin batik.
"Batik mark ini mencontoh bahan wool yang juga menggunakan cap untuk membedakan mana yang bahan wool asli dan bukan," kata Yusran dalam seminar bertajuk Batik Masa Kini yang diselenggarakan oleh Ikatan Perancang Mode Indonesia, beberapa waktu lalu.
Batik mark ini bentuknya seperti label berukuran 2 cm ini ditandai dengan logo "batik Indonesia" di atas warna dasar hitam. Ada tiga jenis batik mark yang masing-masing dipakai untuk membedakan tiga jenis batik, yaitu menggunakan tulisan warna emas untuk batik tulis, warna perak untuk batik kombinasi cap dan tulis, serta tulisan warna putih untuk batik cap.
Sertifikat penggunaan batik mark ini dikeluarkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Setiap pengusaha batik boleh mengajukan penggunaan batik mark, namun sebelumnya mereka harus lolos pengujian yang disyaratkan. Sayangnya, belum banyak pengusaha yang memanfaatkan batik mark. Padahal, dengan adanya label ini kita sebagai konsumen akan semakin yakin terhadap keaslian dan mutu produk yang dibeli.
"Banyak yang kapok membeli batik karena ditipu penjualnya yang mengatakan produknya adalah batik tulis, padahal bukan," kata Yusran M. Munaf dari Yayasan Batik Indonesia.
Untunglah pemerintah segera tanggap. Sejak tahun lalu pemerintah melalui Departemen Perindustrian Direktoral Jenderal Industri Kecil dan Menengah mengeluarkan Batik Mark. Penggunaan label batik mark diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 73/M-IND/PER/9/2007, tetapi bersifat sukarela bagi pengusaha/perajin batik.
"Batik mark ini mencontoh bahan wool yang juga menggunakan cap untuk membedakan mana yang bahan wool asli dan bukan," kata Yusran dalam seminar bertajuk Batik Masa Kini yang diselenggarakan oleh Ikatan Perancang Mode Indonesia, beberapa waktu lalu.
Batik mark ini bentuknya seperti label berukuran 2 cm ini ditandai dengan logo "batik Indonesia" di atas warna dasar hitam. Ada tiga jenis batik mark yang masing-masing dipakai untuk membedakan tiga jenis batik, yaitu menggunakan tulisan warna emas untuk batik tulis, warna perak untuk batik kombinasi cap dan tulis, serta tulisan warna putih untuk batik cap.
Sertifikat penggunaan batik mark ini dikeluarkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Setiap pengusaha batik boleh mengajukan penggunaan batik mark, namun sebelumnya mereka harus lolos pengujian yang disyaratkan. Sayangnya, belum banyak pengusaha yang memanfaatkan batik mark. Padahal, dengan adanya label ini kita sebagai konsumen akan semakin yakin terhadap keaslian dan mutu produk yang dibeli.
Batik Asli, atau Kain Bermotif Batik?
Produk batik bisa ditemui di pasar grosir hingga mal termewah di Jakarta. Harganya bervariasi, mulai "seratus ribu tiga" hingga jutaan rupiah. Namun, di jaman ketika batik digembar-gemborkan sebagai warisan budaya dunia, ada baiknya Anda tak sekadar memilih baju batik berdasarkan kecantikan motifnya. Coba teliti juga apakah batik yang Anda pilih merupakan batik asli atau tekstil bermotif batik.
Yang dimaksud batik asli adalah batik yang dikerjakan secara manual menggunakan lilin malam. Ada sembilan jenis batik asli, seperti dijelaskan Wakil Walikota Pekalongan, Alma Facher, yakni batik tulis, cap, kombinasi tulis dan cap, sablon malam tulis, sablon malam cap, sablon malam cap tulis, printing tulis (manual bukan pabrikan), printing cap, dan kombinasi printing cap tulis.
Ciri yang paling mudah dikenali saat memilih batik asli adalah corak dan desainnya tidak sama. Gambar bunga, misalnya, tak selamanya sama dalam satu bahan sekalipun. Selain itu, batik asli biasanya limited edition, atau tidak diproduksi dalam jumlah banyak.
Sedangkan jenis batik yang tidak mendukung konsep batik, sebenarnya hanyalah tekstil bermotif batik. Atau, kain yang diberi motif batik. Karena lebih murah, batik seperti ini seringkali dibuat massal.
Mungkin agak membingungkan bagi orang awam, namun filosofi ini mesti dikenali masyarakat awam jika tak ingin mempermalukan bangsa, kata Alma.
"Boleh saja bilang pakai batik, namun jika ternyata yang dipakai hanya tekstil bermotif batik akan mempermalukan negara, bukan? Padahal batik yang diakui sebagai heritage oleh UNESCO adalah batik yang proses pembuatannya secara manual," papar Alma, seusai peresmian Pusat Batik Nusantara di Thamrin City.
Sayangnya, 50 persen batik yang beredar di pasaran adalah tekstil bermotif batik, bahkan pada batik dengan brand ternama yang sering Anda lihat di mal sekalipun. Jika sekadar ingin mengoleksi dan mencari yang murah, sah juga membeli batik. Tetapi setidaknya, pilihlah batik cap atau kombinasi yang harganya pun lebih terjangkau.
Jadi jika ingin mendukung batik untuk melestarikan budaya, teliti sebelum membeli. Pastikan batik tersebut asli, meski kadang harganya lebih mahal. Namun sebaiknya Anda juga memahami, mahalnya harga batik asli disebabkan keahlian sang perajin, dan lamanya waktu yang digunakan untuk memproses batik tersebut.
Yang dimaksud batik asli adalah batik yang dikerjakan secara manual menggunakan lilin malam. Ada sembilan jenis batik asli, seperti dijelaskan Wakil Walikota Pekalongan, Alma Facher, yakni batik tulis, cap, kombinasi tulis dan cap, sablon malam tulis, sablon malam cap, sablon malam cap tulis, printing tulis (manual bukan pabrikan), printing cap, dan kombinasi printing cap tulis.
Ciri yang paling mudah dikenali saat memilih batik asli adalah corak dan desainnya tidak sama. Gambar bunga, misalnya, tak selamanya sama dalam satu bahan sekalipun. Selain itu, batik asli biasanya limited edition, atau tidak diproduksi dalam jumlah banyak.
Sedangkan jenis batik yang tidak mendukung konsep batik, sebenarnya hanyalah tekstil bermotif batik. Atau, kain yang diberi motif batik. Karena lebih murah, batik seperti ini seringkali dibuat massal.
Mungkin agak membingungkan bagi orang awam, namun filosofi ini mesti dikenali masyarakat awam jika tak ingin mempermalukan bangsa, kata Alma.
"Boleh saja bilang pakai batik, namun jika ternyata yang dipakai hanya tekstil bermotif batik akan mempermalukan negara, bukan? Padahal batik yang diakui sebagai heritage oleh UNESCO adalah batik yang proses pembuatannya secara manual," papar Alma, seusai peresmian Pusat Batik Nusantara di Thamrin City.
Sayangnya, 50 persen batik yang beredar di pasaran adalah tekstil bermotif batik, bahkan pada batik dengan brand ternama yang sering Anda lihat di mal sekalipun. Jika sekadar ingin mengoleksi dan mencari yang murah, sah juga membeli batik. Tetapi setidaknya, pilihlah batik cap atau kombinasi yang harganya pun lebih terjangkau.
Jadi jika ingin mendukung batik untuk melestarikan budaya, teliti sebelum membeli. Pastikan batik tersebut asli, meski kadang harganya lebih mahal. Namun sebaiknya Anda juga memahami, mahalnya harga batik asli disebabkan keahlian sang perajin, dan lamanya waktu yang digunakan untuk memproses batik tersebut.
Kenalan dengan Batik Pewarna Alam di "Back to Nature"
Selama tiga hari ke depan , Sanggar Seni dan Budaya Jawa Jawi Java dan Epicentrum Walk menggelar ajang bertajuk "Back to Nature" di area oval Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta. Ajang ini merupakan rangkaian acara sosialisasi batik menggunakan pewarna dari alam yang ramah lingkungan. Tujuan acara ini adalah untuk memperkenalkan batik pada anak muda supaya tertarik dan harapannya berminat melestarikan budaya.
Jika Anda punya rencana mengenalkan anak Anda kepada batik, ajang ini bisa menjadi salah satu jalannya. "Kami berharap, acara ini tidak hanya memotivasi masyarakat kalangan muda untuk mengenal batik lebih jauh, namun sekaligus memperkenalkan pewarna alami yang aman dan bisa indah sebagai pewarna batik," jelas Sri Sumaningsih Budiarti, Direktur Sanggar Jawa Jawi Java saat konferensi pers,di Comic Cafe, Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.
Besok, rencananya akan ada kegiatan pemecahan rekor MURI melakukan pewarnaan warna alam pada aplikasi tie-dye serentak bersama 1.600 orang pada pukul 10.00 WIB. Berbagai kegiatan lain dalam acara "Back to Nature"; membatik, melukis, pameran buku tradisional, edukasi seni, musik tradisional, workshop, bazaar (busana batik, handicraft, camilan tradisional), serta berbagai lomba untuk generasi muda, seperti fashion stylist, fashion drapery, ilustrator, dan fotografi.
Ada pula acara talkshow bersama Rima Melati di hari ketiga, mengenai cara memakai kain yang baik, serta talkshow beautiful mind. Ichwan Thoha, desainer sekaligus konseptor fashion acara ini juga menyiapkan peragaan khusus, "Saya menciptakan 10 busana pria dan 10 busana wanita eksklusif untuk acara ini. Busana-busana itu terbuat dari kain batik dari pewarna alami. Rencananya, pagelaran busananya diadakan di hari kedu
Jika Anda punya rencana mengenalkan anak Anda kepada batik, ajang ini bisa menjadi salah satu jalannya. "Kami berharap, acara ini tidak hanya memotivasi masyarakat kalangan muda untuk mengenal batik lebih jauh, namun sekaligus memperkenalkan pewarna alami yang aman dan bisa indah sebagai pewarna batik," jelas Sri Sumaningsih Budiarti, Direktur Sanggar Jawa Jawi Java saat konferensi pers,di Comic Cafe, Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.
Besok, rencananya akan ada kegiatan pemecahan rekor MURI melakukan pewarnaan warna alam pada aplikasi tie-dye serentak bersama 1.600 orang pada pukul 10.00 WIB. Berbagai kegiatan lain dalam acara "Back to Nature"; membatik, melukis, pameran buku tradisional, edukasi seni, musik tradisional, workshop, bazaar (busana batik, handicraft, camilan tradisional), serta berbagai lomba untuk generasi muda, seperti fashion stylist, fashion drapery, ilustrator, dan fotografi.
Ada pula acara talkshow bersama Rima Melati di hari ketiga, mengenai cara memakai kain yang baik, serta talkshow beautiful mind. Ichwan Thoha, desainer sekaligus konseptor fashion acara ini juga menyiapkan peragaan khusus, "Saya menciptakan 10 busana pria dan 10 busana wanita eksklusif untuk acara ini. Busana-busana itu terbuat dari kain batik dari pewarna alami. Rencananya, pagelaran busananya diadakan di hari kedu
Uniknya Corak dan Warna Batik Kudus
Bagi penggemar batik, koleksi Anda belum lengkap tanpa batik Kudus. Anda bisa menikmati ragam budaya karya perajin pesisir yang diwakili dalam motif batik Kudus. Pasalnya, batik asal Kudus, Jawa Tengah, ini lahir dari perpaduan kreasi perajin batik Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo. Pada era 40-an, pedagang China di Kudus mengundang perajin batik dari berbagai daerah untuk membuatkan batik khusus untuk mereka. Alhasil, kolaborasi dari perajin batik ini menghasilkan motif batik yang unik. Bagian dasar batik Kudus kental dengan sentuhan batik Yogyakarta dan Solo, sementara motif bunganya lekat dengan karakter batik Pekalongan.
"Tak hanya motif yang multikultur, warna pada batik Kudus juga kaya karena perpaduan budaya ini. Pada batik Kudus didapati juga pengaruh Arab (kaligrafi) lantaran Kudus berdekatan dengan Demak yang identik dengan penyebaran ajaran Islam. Warna coklat dan hitam juga memperkaya batik Kudus yang penuh warna. Inilah yang membuat batik tulis Kudus unik dan bernilai, dan wajar saja jika harganya mahal bisa jutaan untuk kain batik tulis. Meski terdapat juga kain batik Kudus yang terjangkau, maksimal Rp 700.000," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Perajin Kudus dari Rumah Pesona Kain, di sela acara "Pesona Batik Kudus" di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu.
Sentra batik Kudus sempat menghilang karena masyarakat mulai meninggalkan kegiatan membatik, selain juga tak ada lagi yang memakai batik Kudus. Namun sejak 2008, RPK membina manula dan generasi muda sekaligus merangkul pembatik yang masih bertahan di Kudus. Kini, terdapat 60-70 sentra batik berupa industri rumahan di Kudus. Kreasi batik dari Kudus semakin berkembang, dipasarkan oleh RPK dan diperagakan pertama kali di Hotel Mulia dalam busana siap pakai karya perancang ternama Indonesia. Sejak 2010 lalu, RPK juga masih fokus mengembangkan batik Kudus dengan menambah perajin untuk berkreasi aneka motif unik. Kini, perajin batik Kudus bertambah dua kali lipat, dan perancang ternama Indonesia juga semakin banyak dilibatkan dalam mencipta busana dari kain batik Kudus. Anda semakin mudah menikmati batik Kudus dalam busana kantor atau pesta.
"Batik Kudus menghilang karena tak ada yang memakai, selain juga pengaruh tekstil printing motif batik yang lebih murah. RPK membina manula bertahap dari dua orang hingga 20 orang pada tahap awal. Mereka diberi modal berupa bahan untuk membatik, lalu RPK membelinya dan memasarkannya melalui berbagai pameran dan peragaan busana di Jakarta," lanjut Ade.
Pakar batik, Asmoro Damais, mengatakan bahwa batik Kudus memiliki keunikan. Batik ini paling sulit dikenali, gayanya membingungkan. Namun inilah yang membuat batik Kudus unik dan berbeda dengan keragaman budaya tercermin di motifnya. "Batik Kudus selalu mempunyai dasar yang rumit, memiliki tingkat kehalusan tinggi dan unik di detailnya. Pembuatan batik tulis Kudus tidak selesai dalam enam bulan, karenanya harga tidak murah," jelas Asmoro.
Miranti Serad Ginanjar, pembina perajin Kudus, juga mengakui keunikan batik Kudus ini.
"Perkembangan warna dan motif batik Kudus indah. Seperti warna dan motif kupu-kupu, daun tembakau yang dikembangkan bekerjasama dengan perajin Youke Yuliantaries. Dengan perkembangan ini diharapkan apresiasi terhadap batik Kudus semakin tinggi," tuturnya.
Tak sulit menemukan batik Kudus di Jakarta, karena RPK membuka Galeri Batik Kudus di Jalan Garut No 23 Menteng, Jakarta Pusat. Berbagai motif kain otentik batik Kudus bisa ditemukan di sini. Bagi pecinta kain, batik Kudus dikenal dengan batik peranakan yang halus dengan isen-isen rumit, seperti gabah sinawur, moto iwak, atau mrutu sewu. Batik-batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah. Semantara soal corak, pilihannya beragam mulai corak tombak, kawung, atau parang, yang dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna cerah seperti merah.
Kekayaan kain batik Indonesia takkan sirna asalkan semakin banyak orang mengapresiasi, dengan memakainya dalam busana harian. "Pembatik akan bertahan jika batik dibeli dan dipakai oleh banyak orang," tandas Asmoro.
Batik Kudus Kembali Menebar Pesonanya
Batik Kudus dengan warnanya yang kaya dan motifnya yang unik nyaris punah. Sejak era 80-an hingga 2000 lalu, batik Kudus hanya dikenal sebagai artefak budaya dan semakin ditinggalkan masyarakatnya. Padahal sejak abad 17 hingga era tahun 40-an, motif batik multikultur dengan pengaruh budaya China dan Arab ini menjadi identitas masyarakat Kudus. Pesona batik Kudus, kini, ditampilkan kembali dalam bentuk kain yang otentik maupun busana siap pakai merujuk pada gaya busana kekinian.
Adalah Rumah Pesona Kain (RPK) yang konsisten membina pembatik dan menyalurkan produk batik Kudus ke berbagai kalangan, termasuk di Jakarta. Batik Kudus dikenalkan kembali, tak hanya sebagai kain yang otentik dengan batik tulis, namun juga sebagai busana siap pakai karya perancang ternama seperti Barli Asmara.
Jika Maret 2010 lalu, RPK hanya menggandeng Barli untuk mempercantik perempuan Indonesia melalui kain dan busana siap pakai menggunakan batik Kudus, maka pada Maret 2011, batik Kudus dipamerkan dalam 15 busana koleksi "Lady Look" karya Barli, dan 10 koleksi Batik Kudus karya Inne S. Nurbani. Tak hanya jumlah desainer yang bertambah untuk mempopulerkan batik Kudus dalam bentuk busana ready-to-wear. Jumlah perajin batik juga semakin meningkat di bawah binaan RPK.
"Pada 2011 ini RPK melibatkan 40 perajin, sementara tahun lalu 20 perajin," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Ketua Program Pesona Batik Kudus dan Pembina Perajin Kudus, saat konferensi pers di Graha Bimasena, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2011) lalu.
Batik Kudus pada perhelatan tahunan RPK kali ini tampil dengan motif warna-warni daun tembakau. RPK juga mendatangkan batik buatan perajin Yuli Astuti dan Youke Yuliantaries. Replika batik Kudus kuno juga ditampilkan dalam acara yang berisi pameran, demo membatik, bazar batik Kudus, serta hidangan kuliner tradisional khas Jawa Tengah. Rangkaian acara yang berlangsung dalam beberapa jam ini ingin menarik perhatian kolektor, pecinta batik, serta masyarakat umum untuk mengapresiasi dan mengenakan batik khas dari Kudus.
"Batik Kudus sempat menghilang karena tak ada lagi perajin di Kudus (10 tahun lalu, RED). Batik tak lagi dibeli, akhirnya perajin yang tersisa tak memproduksi batik lagi dan banyak dari mereka yang berganti profesi. Karenanya kita harus membeli batik, memakainya, kalau tidak takkan ada lagi yang membuat batik," jelas pakar batik Asmoro Damais, sekaligus menambahkan satu hal yang harus dihindarkan dalam pembuatan batik, yakni membuat batik print.
Asmoro menegaskan, selama pembuatan batik masih menggunakan lilin, hasil akhirnya bisa dikatakan kain baik. Namun jika sudah printing, tak lagi bisa dibilang batik tetapi disebut tekstil printing bermotif batik. Pemahaman yang sama mengenai konsep membatik ini juga dimiliki RPK. Ade mengatakan, setelah melewati satu tahun menjajaki proses kerjasama dengan Djarum Foundation, desain batik Kudus RPK akhirnya dipilih yayasan ini dalam program "Djarum Apresiasi Budaya".
"Syarat utama yang diberlakukan RPK dalam kerjasama dengan Djarum adalah desain batik boleh diproduksi sebagai batik tulis, cap, atau colet, asalkan jangan batik print," jelas Ade. Menurutnya, RPK masih akan fokus mengembangkan batik Kudus, setidaknya dua tahun terakhir, untuk mempopulerkan kembali motif batik yang unik ini.
Keunikan motif batik Kudus, dan keterikatan daerah memunculkan sinergi Djarum Foundation dan RPK untuk mempopulerkan batik Kudus. Mulai 2011, Yayasan Djarum meluaskan jangkauan program Apresiasi Budaya dalam ranah fashion.
"Desain batik Kudus dari perajin RPK akan digunakan sebagai aplikasi pada busana seragam staf Djarum. Aplikasi motif batik Kudus dengan warna dasar abu akan ditampilkan pada bagian tangan dan punggung pada seragam kerja staf. Sedangkan desain yang sama namun dengan bahan batik tulis akan dibuatkan untuk direksi. Batik cap dan colet dengan motif sama untuk level manager. Khusus untuk staf, batik Kudus akan dipakai serempak 21 April untuk memeringati ulangtahun Djarum," jelas Renitasari, program director bakti budaya Djarum Foundation
Adalah Rumah Pesona Kain (RPK) yang konsisten membina pembatik dan menyalurkan produk batik Kudus ke berbagai kalangan, termasuk di Jakarta. Batik Kudus dikenalkan kembali, tak hanya sebagai kain yang otentik dengan batik tulis, namun juga sebagai busana siap pakai karya perancang ternama seperti Barli Asmara.
Jika Maret 2010 lalu, RPK hanya menggandeng Barli untuk mempercantik perempuan Indonesia melalui kain dan busana siap pakai menggunakan batik Kudus, maka pada Maret 2011, batik Kudus dipamerkan dalam 15 busana koleksi "Lady Look" karya Barli, dan 10 koleksi Batik Kudus karya Inne S. Nurbani. Tak hanya jumlah desainer yang bertambah untuk mempopulerkan batik Kudus dalam bentuk busana ready-to-wear. Jumlah perajin batik juga semakin meningkat di bawah binaan RPK.
"Pada 2011 ini RPK melibatkan 40 perajin, sementara tahun lalu 20 perajin," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Ketua Program Pesona Batik Kudus dan Pembina Perajin Kudus, saat konferensi pers di Graha Bimasena, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2011) lalu.
Batik Kudus pada perhelatan tahunan RPK kali ini tampil dengan motif warna-warni daun tembakau. RPK juga mendatangkan batik buatan perajin Yuli Astuti dan Youke Yuliantaries. Replika batik Kudus kuno juga ditampilkan dalam acara yang berisi pameran, demo membatik, bazar batik Kudus, serta hidangan kuliner tradisional khas Jawa Tengah. Rangkaian acara yang berlangsung dalam beberapa jam ini ingin menarik perhatian kolektor, pecinta batik, serta masyarakat umum untuk mengapresiasi dan mengenakan batik khas dari Kudus.
"Batik Kudus sempat menghilang karena tak ada lagi perajin di Kudus (10 tahun lalu, RED). Batik tak lagi dibeli, akhirnya perajin yang tersisa tak memproduksi batik lagi dan banyak dari mereka yang berganti profesi. Karenanya kita harus membeli batik, memakainya, kalau tidak takkan ada lagi yang membuat batik," jelas pakar batik Asmoro Damais, sekaligus menambahkan satu hal yang harus dihindarkan dalam pembuatan batik, yakni membuat batik print.
Asmoro menegaskan, selama pembuatan batik masih menggunakan lilin, hasil akhirnya bisa dikatakan kain baik. Namun jika sudah printing, tak lagi bisa dibilang batik tetapi disebut tekstil printing bermotif batik. Pemahaman yang sama mengenai konsep membatik ini juga dimiliki RPK. Ade mengatakan, setelah melewati satu tahun menjajaki proses kerjasama dengan Djarum Foundation, desain batik Kudus RPK akhirnya dipilih yayasan ini dalam program "Djarum Apresiasi Budaya".
"Syarat utama yang diberlakukan RPK dalam kerjasama dengan Djarum adalah desain batik boleh diproduksi sebagai batik tulis, cap, atau colet, asalkan jangan batik print," jelas Ade. Menurutnya, RPK masih akan fokus mengembangkan batik Kudus, setidaknya dua tahun terakhir, untuk mempopulerkan kembali motif batik yang unik ini.
Keunikan motif batik Kudus, dan keterikatan daerah memunculkan sinergi Djarum Foundation dan RPK untuk mempopulerkan batik Kudus. Mulai 2011, Yayasan Djarum meluaskan jangkauan program Apresiasi Budaya dalam ranah fashion.
"Desain batik Kudus dari perajin RPK akan digunakan sebagai aplikasi pada busana seragam staf Djarum. Aplikasi motif batik Kudus dengan warna dasar abu akan ditampilkan pada bagian tangan dan punggung pada seragam kerja staf. Sedangkan desain yang sama namun dengan bahan batik tulis akan dibuatkan untuk direksi. Batik cap dan colet dengan motif sama untuk level manager. Khusus untuk staf, batik Kudus akan dipakai serempak 21 April untuk memeringati ulangtahun Djarum," jelas Renitasari, program director bakti budaya Djarum Foundation
Kolaborasi Desainer dan Pengrajin Batik Kudus
Perkumpulan para pecinta kain khas Nusantara, Rumah Pesona Kain, kembali menggelar kegiatan rutin peragaan busana. Kali ini tema yang diangkat "Ngunjuk Teh & Batik Kudus", mengambil lokasi di rumah makan Miradelima, Kebayoran Baru, Jakarta.
Karakter khas perkumpulan ini adalah menjembatani pengrajin kain dan batik dengan para desainer ternama. Pengrajin yang dianggap potensial dan memiliki warisan kain dan batik bernilai sejarah tinggi, mendapat kesempatan untuk memamerkan produknya. Tak hanya itu, para desainer juga turut terlibat aktif dalam mengembangkan kain dan batik dalam desain gaya busana kekinian.
"Kain batik langsung didatangkan dari pengrajin, kali ini dari Kudus. Selain membuat batik klasik, pengrajin juga dibina untuk memproduksi batik dengan pengembangan motif yang bisa diaplikasikan dalam desain busana kekinian," papar Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Batik Kudus dari Perkumpulan Rumah Pesona Kain kepada Kompas Female.
Barli Asmara menjadi salah satu perancang muda yang turut berkontribusi dalam misi pelestarian batik Kudus ini. Dengan menggunakan bahan batik Kudus bermerek Muria, Barli mengenalkan desain busana "Etnik Chic". Batik menjadi lebih apik digunakan kaum muda seperti yang diperagakan dalam acara bernuansa Kudus ini. Pemilik brand Muria, Yuli Astuti, juga didatangkan langsung untuk memperagakan proses membatik.
Kain batik Kudus tersedia dalam variasi harga mulai Rp 250.000 untuk batik motif modifikasi. Seperti motif Dlorong Kembang, Kapal Tandas, dan variasi desain motif batik lain yang dikembangkan Yuli.
Peragaan busana dan pameran kain batik merupakan bagian dari rangkaian program pembinaan Batik Kudus sepanjang 2010. Batik kuno klasik bernilai hingga jutaan rupiah juga dipamerkan untuk mempopulerkan batik Kudus yang sempat tenggelam puluhan tahun. Batik motif Buket Susimoyo, misalnya, dipamerkan pula saat itu. Kain panjang pagi sore khas Kudus ini sudah dikenal sejak 1940.
Eksotika Batik Kudus
Industri batik Kudus pada awalnya diproduksi secara home industri pada tahun 1800 M. Pusat produksi batik di Kawasan Kudus Kulon ( Kudus bagian barat ). Sesuai dengan sosiokultural yang berlaku pada masa itu bahwa gadis-gadis Kudus Kulon dalam menjalani kehidupannya dipingit oleh orang tua mereka. Untuk mengisi waktu, gadis-gadis tersebut diajari membatik. Selain Rama Kembang, Beras Kecer dan Alas kobong, motif kapal kandas merupakan motif yang digemari para pembeli.
Nama kapal kandas terinspirasi pada bangunan rumah kuno berbentuk kapal ( omah kapal ). Motif tersebut merupakan motif yang diambil dari sejarah kapal dampo awang milik sampokong yang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah yang berkhasiat sebagai obat-obatan yang sekarang tumbuh subur di Gunung Muria. Cengkeh, daun tembakau, dan alat pelinting rokok sebagai simbol Kudus merupakan kota kretek. motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu.
Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China. Batik Kudus mulai dikenal pada abad 17 dan menjadi bagian identitas masyarakat Indonesia Kudus pada rentang waktu 1880 hingga 1940. Setelah itu, berangsur-angsur tradisi ini memudar dan puncaknya pada kurun tahun 1980-2000, Batik Kudus tinggal menjadi artefak budaya yang nyaris punah di masyarakat. Sejarah mengungkapkan bahwa Batik Kudus dipengaruhi oleh budaya dari pedagang-pedagang Cina kaya yang mendatangkan pembatik-pembatik dari Pekalongan.
Tak mengherankan rasanya apabila Batik Kudus disebut sebagai karya multi kultur. Dalam kumpulan Batik Kudus dikenal peranakan yang halus dengan isen-isen yang rumit, diantaranya isen gabah sinawur, moto iwak atau mrutu sewu. Batik- batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah dengan corak tombak, kawung, atau parang, tetapi dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna-warna cerah seperti merah dan serasi dengan warna coklat. Ciri dan corak khusus inilah yang membedakan batik Kudus dengan produksi batik daerah lain. Berbagai motif batik khas kudus seperti motif Pakis haji, Parijoto, Kapal Kandas, Kaligrafi dan Beras Tumpah kini mulai didaftarkan untuk memiliki hak cipta ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal yaitu Yuli Astuti. Yang beralamat di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus. Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus.
Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria. Dari hasil kopi itu pula, tutur Yuli, Kudus menjadi kawasan yang diperhitungkan pada masa penjajahan Belanda. Memperkuat pendapat Yuli, dalam buku- buku sejarah Indonesia disebutkan, awal abad ke-19 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels, hasil perkebunan kopi dari kawasan Gunung Muria diangkut melewati Jalan Raya Pos atau jalan lintas di pesisir pantai utara Jawa. Kopi menjadi komoditas yang menjanjikan di dunia perdagangan internasional kala itu.
Sampai era 1970-an, masih banyak perempuan membatik di desa-desa di sekitar Kota Kudus. Batik tulis dengan warna-warna alam dari buah pace, daun mangga muda, atau kunyit. Batik menjadi pakaian sehari-hari dan barang dagangan yang cukup laku di tingkat lokal atau antarkota pesisir di Jawa. Namun, industri lokal ini makin tergerus oleh serbuan batik printing dan batik cap dari Pekalongan. Di sisi lain, warga Kudus lebih tertarik menjadi buruh linting di pabrik rokok. Sejak 1980-an praktis batik kudus tak lagi berkibar, ditinggalkan oleh masyarakat pembuat dan pemakainya. Kini yang tertinggal hanya pembatik sepuh yang berusia di atas 50 tahun. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yuli juga merintis pelatihan membatik bagi warga desanya Batik tulis karyanya mulai diminati para perancang busana nasional. Batik hasil karya Yuli juga telah terdaftar dengan nama paten Muria Batik Kudus pada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor registrasi D 002007030389.
Pemasaran hasil membatik Yuli Astuti berjalan lancar dan mendapat respon sangat menggembirakan di kota-kota besar Indonesia antara lain, di kota Semarang, Jakarta, Yogya, Solo, maupun Pekalongan. Dan yang paling menggembirakan adalah Batik Kudus kini tidak lagi menjadi "jago kandang" di rumah sendiri tetapi sudah melanglang buana ke belahan negara lainnya di luar Indonesia sampai ke "Negeri Gajah" alias Thailand.
Banyak sekali masyarakat di sana mengagumi Batik Kudus dan mereka menganggap karya seni mode ini merupakan maha karya yang sangat mahal serta layak dijadikan inspirasi mode dunia. Bekerjasama dengan Komunitas Asian Woman Yuli Astuti tidak jemu-jemu untuk terus konsisten mempromosikan budaya Batik Kudus ini supaya dunia internasional dapat melihat Indonesia dari sisi lain yang tidak hanya dikenal dengan budaya wisatanya saja namun ada kebanggaan lainnya yang bisa mereka temukan dan gali lebih dalam lagi. Dan mereka bisa menemukan keindahan lain dari Indonesia melalui Batik Kudus.
"Lady Look" Warna-Warni Tembakau Batik Kudus
Orisinalitas yang unik dari batik Kudus tak terusik dalam rancangan busana siap pakai kreasi perancang Barli Asmara. Kain batik Kudus memang khas dan unik, dan proses pembuatannya butuh waktu lama. Tak heran jika batik tulis kreasi perajin Kudus bernilai harganya. Namun sayang rasanya jika kain batik indah dari Jawa tengah ini hanya disimpan sebagai koleksi saja. Karenanya, Barli merancang 15 busana siap pakai menggunakan kain batik Kudus, dalam koleksi berkonsep lady look "Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui".
Batik Kudus semakin cantik dengan sentuhan desainer muda yang tak ingin merusak orisinalitas kain batik tulis berharga ini. "Lima kain batik otentik dari keseluruhan koleksi ini tidak dipotong, namun hanya dirancang dengan kerutan, sekali jahit dengan restleting yang bisa dicopot tanpa merusak kain," jelas Barli, di sela peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu. Alhasil, satu kain sepanjang lebih dari dua meter tetap apik dan cantik dikenakan sebagai rok bawahan tanpa membuang satu helai pun kain batik tulis Kudus ini.
Koleksi busana ready-to-wear Barli diperagakan dalam acara Pesona Batik Kudus yang diadakan Rumah Pesona Kain (RPK) untuk mempopulerkan batik unik multikultur dari Jawa Tengah ini. Khusus untuk peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus, Barli menggunakan bahan batik hasil perajin Youke Yuliantaries dan Friko Desriandi, perajin binaan RPK.
Kreasi Barli memberikan inspirasi bagi pengoleksi batik otentik untuk tak ragu mengenalkan batik Kudus dalam model busana siap pakai. Ide busana tak hanya berupa kain batik yang dikerut dan menggunakan kait lalu dijadikan rok cantik. Perpaduan warna pesisir seperti biru, ungu, marun, merah, dan pink mempercantik penampilan jika batik Kudus dikenakan sebagai busana harian. Barli memilih model layering dress untuk mempercantik perempuan usia 25-40 tahun dengan batik Kudus.
"Layering bertumpuk pada bagian perut cocok bagi perempuan yang kerapkali tak percaya diri dengan bagian perutnya. Potongan pada pinggang juga semakin membentuk tubuh terutama bagian pinggang," paparnya.
Mengenakan busana batik, apalagi batik Kudus yang kaya corak dan warna, menonjolkan penampilan seseorang. Namun, meski penampilan terkesan penuh, tak ada salahnya menambahkan aksesori pada busana batik. "Aksesori tak berlebihan, hanya kalung tali dengan bunga sebagai liontinnya. Warna bunga juga terinspirasi dari corak bunga tembakau dari kain batik itu sendiri. Kesan cantik lady look identik dengan bunga," jelas Barli.
Selain kalung, Barli juga memberikan inspirasi aksesori untuk busana batik Kudus, dengan memakaikan korsase warna polos di bagian pinggang. "Warna korsase sebaiknya senada dengan warna baju batik," katanya.
Batik Kudus semakin cantik dengan sentuhan desainer muda yang tak ingin merusak orisinalitas kain batik tulis berharga ini. "Lima kain batik otentik dari keseluruhan koleksi ini tidak dipotong, namun hanya dirancang dengan kerutan, sekali jahit dengan restleting yang bisa dicopot tanpa merusak kain," jelas Barli, di sela peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus dan Lembayung Kudus Sui di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu. Alhasil, satu kain sepanjang lebih dari dua meter tetap apik dan cantik dikenakan sebagai rok bawahan tanpa membuang satu helai pun kain batik tulis Kudus ini.
Koleksi busana ready-to-wear Barli diperagakan dalam acara Pesona Batik Kudus yang diadakan Rumah Pesona Kain (RPK) untuk mempopulerkan batik unik multikultur dari Jawa Tengah ini. Khusus untuk peragaan busana Warna-Warni Tembakau Kudus, Barli menggunakan bahan batik hasil perajin Youke Yuliantaries dan Friko Desriandi, perajin binaan RPK.
Kreasi Barli memberikan inspirasi bagi pengoleksi batik otentik untuk tak ragu mengenalkan batik Kudus dalam model busana siap pakai. Ide busana tak hanya berupa kain batik yang dikerut dan menggunakan kait lalu dijadikan rok cantik. Perpaduan warna pesisir seperti biru, ungu, marun, merah, dan pink mempercantik penampilan jika batik Kudus dikenakan sebagai busana harian. Barli memilih model layering dress untuk mempercantik perempuan usia 25-40 tahun dengan batik Kudus.
"Layering bertumpuk pada bagian perut cocok bagi perempuan yang kerapkali tak percaya diri dengan bagian perutnya. Potongan pada pinggang juga semakin membentuk tubuh terutama bagian pinggang," paparnya.
Mengenakan busana batik, apalagi batik Kudus yang kaya corak dan warna, menonjolkan penampilan seseorang. Namun, meski penampilan terkesan penuh, tak ada salahnya menambahkan aksesori pada busana batik. "Aksesori tak berlebihan, hanya kalung tali dengan bunga sebagai liontinnya. Warna bunga juga terinspirasi dari corak bunga tembakau dari kain batik itu sendiri. Kesan cantik lady look identik dengan bunga," jelas Barli.
Selain kalung, Barli juga memberikan inspirasi aksesori untuk busana batik Kudus, dengan memakaikan korsase warna polos di bagian pinggang. "Warna korsase sebaiknya senada dengan warna baju batik," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)